.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 23 October 2013

Manusia : Makhluk Anti Klimaks

Jika kita bertanya pada seseorang, apakah kehidupannya saat ini sudah diujung kesuksesan? Apakah kehidupannya sudah sangat membahagiakan? Sudahkah merasa puas dengan keadaan yang serba - pemberian itu? Saya yakin jawaban dari semua orang di atas adalah. Tidak.

Hampir sebagian dari kita, termasuk saya. Jika ditanyakan hal tersebut, tentu saja yang paling nampak adalah masalah kurang-kurang dan kurang. Saya belum mencapai hal ini, saya belum mencapai hal itu. Saya harus bisa lebih baik dari teman saya, saya harus lebih unggul dari teman sebaya saya. Keinginan untuk menjadi lebih. Atau pertanyaan yang lebih tepat adalah masih adakah cita-cita, keinginan, dan harapannya masih belum terwujud sampai detik ini? Ya pasti ada.

Saya pikir, ketika seseorang sudah di ambang anggapan bahagia menurut orang lain, orang tersebut akan  lantas berkata bahwa hidup saya sudah sangat luar biasa. Cukup. Dan tugas saya selanjutnya hanya  beribadah sembari terus berdoa pada tuhan. Tapi di balik itu semua. Ternyata manusia memang memiliki segudang obsesi yang masih selalu akan berganti.

Obsesi, atau cita-cita, atau  keinginan  tadi tidak ada sama sekali kaitannya dengan  umur, gender, kekayaan, atau apapun. Ini murni sifat bawaan yang diselipkan pada semua orang. Identitas diri.

Baiklah, mari perhatikan hal-hal tersebut untuk membuktikan prasangka saya di atas.

Kita amati masyarakat kelas bawah yang sebagian besar berpenghasilan kurang dari 20 ribu perhari. Mereka bekerja berjam-jam, rela berpeluh dari pagi sampai larut malam hanya untuk memenuhi makan, atau sekedar pakaian layak pakai. Rutinitas yang hanya itu-itu saja, namun mereka sedang mengupayakan kelayakan kehidupannya dan keluarganya. Bagi saya, hal ini terlahir dari sikap yang anti klimaks tadi. Tidak puaaaaas. Tidak stuck. Atau ingin segera move-on dari kehidupan serba kurangnya tadi.

Mereka tidak mau berpangku tangan. Kehidupan yang di bawah standart memang kurang mengenakkan, atau di sisi lain memang dianggap kurang berpotensi menghadirkan setidak-tidaknya "syukur" dari manusia kepada penciptanya.

Itu jika hanya dilihat dari satu sisi yang kurang mengenakkan saja. 

Bandingkan dengan keadaan orang dengan penghasilan di atas 10 juta perhari? Apa yang mereka lakukan selanjutnya? Tetap bekerja ngoyo pagi sampai pagi lagi? Ya, dan itu terjadi. Kita manusia, mau kaya atau miskin – memang memiliki ideal yang terus merangkak  naik dari waktu ke waktu. Kita mengejar sesuatu yang absurd. Kita bersaing dengan waktu dan angka-angka tadi. 

Saya pikir anti klimaks hanya terjadi pada orang-orang yang serba kekurangan. Semisal orang yang  kurang  mancung akhirnya mengoperasi hidung agar lebih mancung, yang merasa kurang cantik harus bermake-up tebal, yang kurang tinggi akhirnya membeli obat tinggi, orang yang kurang pandai belajar lebih banyak dan sebagainya. Hal-hal semacam ini akhirnya banyak dapat ditemui dimanapun. Mulai dari kisah yang anda baca, cerita dari muulut ke mulut yang dialami oleh teman anda, hingga hal itu terjadi pada lingkup bola interaksi kehidupan anda.

Tapi tidak,  keadaan yang serba anti klimaks tadi terjadi pada semua lini kehidupan manusia. Mau yang cantik, yang kaya, yang pandai, yang bohai, yang tepos, yang miskin, yang jomblo, yang in relantionship, yang berstatus menikah, yang kerja, yang nganggur - dan apapun. Hal ini merata terjadi di setiap dari kita. Kita bergerak, dan produk dari anti klimaks tadi adalah perkembangan yang sedemikian rupa memancing kita untuk terus tidak puas, terus tidak puas, dan terus tidak puas.

Teman saya, yang saya pikir sudah cantik dan berkulit putih mulus seperti yang diidamkan banyak orang - ternyata masih juga sering mengeluh dan berkata bahwa dia masih kurang cantik, masih kurang seksi, dan masih kurang bla-bla-bla. Teman yang lainnya lagi, yang saya pikir sudah sangat tinggi dari ukuran manusia indonesia, dia juga masih sering mengeluh kurang dibanding beberapa orang. Bahkan, trend operasi plastik sudah menyebar di sebagian daerah korea untuk mempercantik tampilannya.

Contoh lain lagi adalah dalam hal pendidikan atau pekerjaan. Mereka yang sudah diterima di perguruan tinggi ternama, beberapa ada yang bahkan keluar hanya karena alasan tidak suka setelah berjuta-juta rupiah dikeluarkan oleh orang tuanya. Mereka mengeluh tidak cocok, mereka protes tidak sesuai dengan keinginan. Dalam hal pekerjaan juga akan ditemui orang-orang yang tidak akan pernah merasa puas dengan jabatan-jabatan yang menjanjikan gaji yang lebih tinggi. Karyawan ingin naik jabatan, ingin naik gaji, ingin tambah fasilitas dan masih banyak hal lain lagi.

Dan hal ini terjadi dalam posisi, orang yang mendengarkan tidak lebih tinggi darinya. Pencapaian atas sesuatu memang akan terus bergerak memancing kita mencari pencapaian yang lain. Jika sekarang kita sudah mencapai satu hal, maka tidak munafik bila dikatakan kita akan terus memproduksi keinginan demi keinginan yang lain. Dan tidak akan ada habisnya.

Sedang jika anda terus mengamati perkembangan televisi, bisa anda saksikan artis-artis yang mempermak dirinya sedemikian rupa untuk terus mengikuti cantik ideal di kepala banyak orang. Suami atau istri yang selingkuh, korupsi, diet lebai, kerja overtime,  dendam dan pembunuhan karena persaingan kerja, lupa makan-lupa ibadah-lupa tugas.

So, dengan kehidupan yang anti klimaks tadi – siapa lagi yang bisa membatasi kalau bukan kita sendiri?


Tuesday, 22 October 2013

Dewasa yang tidak "mak bedunduk"

Sering saya bertanya begini pada ibu saya,:

“Bu – kenapa baru sekarang ya saya begini?”

Kenapa nggak dari dulu aja? Begini kan hidup berasa agak bermanfaat (dikit).
Kenapa dulu saya begitu. Dan jawaban yang saya dapat memang benar-benar menunjukkan kebesaran hati seorang ibu menerima kekurangan dan kelemahan sang anak. (saya cukup sadar diri untuk mengakui bahwa saya bukan sepenuhnya anak yang membanggakan)

“Belajar itu butuh proses to. Nggak langsung mak bedunduk” [1]
Saya diam. Berpikir. Masih bertanya. Dan masih terus menyalahkan diri saya sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan semacam : “eh ini udah 21 tahun lho? Baru sadar udah gede? Kok baru sok sibuk? Atau kok baru bisa mikir bahwa anak dilahirkan untuk membantu orang tua dan membantu dirinya sendiri untuk berkembang?

Memang begitu kan? 

Kita memang tidak akan terus-terusan ditetah [2]untuk bisa berjalan ke depan. 

Sejak dulu, barangkali keadaan yang mapan  memang membuat sebagian dari kita berpikir dan berkelakuan standart. Biasa-biasa saja. Tidak wauw. Tidak fantastis – dan cenderung merugikan. Hidup dengan rutinitas yang monoton. Mbosenin[3]. Yang cuman  kuliah, ngerjain tugas, tidur – dan kembali bangun tidur. Berulang-ulang sampai anda tidak merasa, bahwa hampir 18 jam dari hidup anda, anda tidak berbuat apa-apa. Atau tidak menghasilkan  manfaat apapun bahkan bagi diri sendiri. 

Baiklah. Akan saya bahas apa yang menjadi inti pembicaraan kali ini.

Semua orang, semua manusia memiliki waktu yang sama yakni 24 jam dalam sehari. Sama-sama makan nasi (Indonesia), dan sama-sama diberi organ tubuh yang lengkap.

Dan untuk waktu yang sedemikian banyaknya jika diubah dalam skala milidetik, sudah apa saja yang kita lakukan? Sudah apa saja yang kita hasilkan? Setidak-tidaknya untuk cerita di masa depan? 

Kenapa yang lain bisa lebih maju, lebih pandai, lebih berpengalaman dan lebih bla bla bla ; sementara kita hanya tahu jam tidur dan bangun saja? Anda menyesal dan bosan dengan kehidupan yang itu-itu saja? Oke, baik, itu indikasi yang baik bahwa anda sedang merindukan perubahan yang baik bagi diri anda sendiri.

Well yeah, mungkin pertanyaan itu lebih tepat ditujukan pada saya.

Dan jawabannya adalah : “Nothing”

Sia-sia? Saya piker iya jika dipikirkan sekarang. 

Kalau jawaban ini dilontarkan dulu? Tidak ada yang bisa mengejar masa lalu bukan? Tentu menyesali hanya opsi terburuk kesekian yang tidak akan mampu merubah nasib. 

Hingga dalam kurun waktu perenungan dan mengamati sekeliling. Saya tahu, semua orang dengan jam dan waktu yang sama tadi juga punya latar belakang yang berbeda untuk berubah dan memperbaiki kehidupannya. Mereka memiliki alasan untuk berkembang, stuck pada kehidupan nrimonya[4], atau pada level lain – mereka yakin bahwa hidup memang harus diisi dengan nano-nano pengalaman. 

Barangkali, di belahan bumi sana ada yang terpaksa bekerja lebih keras karena ditinggal orang tua dan harus menghidupi dirinya dan adik-adiknya. Atau  mungkin, di belahan bumi sana – ada seseorang yang memang dengan sukarela mengabdikan waktunya untuk menjadi lebih baik – terus lebih baik – dan hanya untuk terus lebih baik. Atau mungkin, ada sebagian orang yang harus kejlungup dulu di lumpur sebelum akhirnya bertemu dengan air jernih. 

Saya tidak tahu  hal apa atau moment apa yang kelak akan merubah perilaku dan pola piker sebagian dari kita. Hanya saja, saya yakin – perubahan  tidak terjadi semerta-merta. Ada dualism yang sedang bekerja beriringan. Proses hidup terjadi dengan sangat misterius. Namun hal itu terjadi. 

Hanya Tuhan dan kita yang punya kontak batin tersebut.  

Dan ketika tuhan telah berbaik hati membukakan sedikit demi sedikit pintu surga dunia bagi saya untuk terus belajar berlatih, belajar membagi ilmu, dan belajar memahami hakikat hidup, saya tahu – saya tidak boleh menyia-nyiakan pintu dari tuhan itu. 

Sambil memejamkan mata, saya bergumam pelan : “Tuhan, Engkau sudah berbaik hati membukakan jalan – dan ini saatnya kami yang bekerja”



[1] Tiba-tiba.
[2] Dipapah
[3] Membosankan.
[4] Menerima.

Monday, 21 October 2013

Robot Angka



Mayoritas manusia terobsesi dengan angka-angka. Satu-dua-tiga, dan bla bla bla. Angka-angka yang dapat terhitung, sampai pada kisaran  tidak terhingga. Bagi sebagian dari mereka, angka-angka tersebut dinilai dapat menaikkan kesejahteraan dan kewibawaan seorang manusia di atas manusia yang lain. Mungkin dalam banyak praktek, hal tersebut dapat dibenarkan. Contoh: angka dalam bentuk rekening di bank. Angka kepemilikan suatu saham, benda tidak bergerak, dan harta segudang.

Bahwa angka yang lebih banyak menjadi jaminan kebahagiaan. Bahwa angka yang banyak menjadi jaminan kesejahteraan.

Hal lain lagi, angka-angka hitungan proporsionalitas atau tingkat keidealan manusia. Dengan indeks tinggi badan dikurangi indeks berat badan yang menghasilkan angka 110, maka berarti orang tersebut dinilai ideal. Dan sempurna.

Hanya 2 macam contoh yang disebutkan berkaitan dengan obsesi angka yang berkebalikan. Namun lihat selanjutnya, apa saja yang dapat disebabkan oleh kedua hal tersebut.

Berita ketua mk yang sedang menjadi trending topic diduga melakukan tindak pidana korupsi. Dapatkah kita masukkan dalam klasifikasi konsekwensi akibat obsesi terhadap angka? Korupsi. Nyatanya mengangkat kebutuhan manusia yang dulu di deskripsikan hanya sekedar sandang - pangan - dan papan kini memanjang sedemikian luas. Sederet daftar kebutuhan para elite dan kalangan sosialita membuat daftar tersendiri bagi kebutuhan "tingkat tinggi" mereka. Sebut saja apartemen, mobil mewah yang diproduksi terbatas, atau rumah besar dengan harga selangiit, dan seabrek gadget serta aksesoris penunjang lainnya.

Obsesi pada angka nyatanya memang menyebabkan tingkat keimanan seseorang memudar. Janji atau amanat diabaikan. Hanya tersebab angka yang dapat tertulis jelas dan hal yang mengekor di belakang seperti nama besar dan kekuasaan.

Oke, kita lari dulu ke bagian proporsionalitas.

Iklan dan trend yang bergeser dari jaman ke jaman bahwa wanita dan lelaki cantik tampan adalah yang berbadan tinggi seksi, ideal, dan six pack berotot (bagi lelaki). Dan konsekwensi dari menjamurnya iklan produk kecantikan, produk pelangsing di jalanan - toko - media cetak atau elektronik adalah, para wanita yang sejatinya memimpikan kecantikan paripurna, menjadi lebih liar, buas dan gila untuk membatasi segala macam perkembangan tubuh yang tidak bisa diprediksi. Dan keluarlah model-model diet yang beragam. Mulai dari diet berkalori, diet makan sehari sekali, diet beras merah, atau yang paling terbaru adalah ocd (obsessive corbuzier diet) yang diperkenalkan oleh salah satu mentalist terkemuka di indonesia. Dengan sistem jendela makan 4,6, 8 jam sehari. Kalau demikian rumus yang digunakan, kenapa tidak menggunakan cara yang sehat sekaligus yang dianjurkan agama? Puasa. 

Sama saja bukan jendela makan tersebut dengan puasa daud yang dilakukan sehari tidak sehari iya. Toh semua cara diet memang tidak mengizinkan pelaku untuk "rakus" ketika waktu makan tiba.
Hingga pada titik terakhir tingkah pola sebagian orang, muncullah penyakit ini - bulimia nervosa (menyiksa diri sendiri agar makanan yang kita makan tidak membuat kita gemuk). Kadang hal ini dilakukan dengan cara memuntahkan makanan, atau dengan obat pencahar. Masuk akal? Mengapa tidak sekalian saja kita tidak usah menelan makanan tersebut jika hanya untuk dimuntahkan dengan sengaja?

Masihkah bisa disebutkan bahwa hal tersebut biasa-biasa saja? Yang menurut saya penyakit di atas juga disebabkan oleh obsesi terhadap deretan angka. 

Mungkinkah saya menjadi sebagian penganut paham gila angka tadi? Yah, mungkin saja. Tidak bisa saya abaikan, atau pura-pura bersikap munafik dengan sekarung angka yang tinggi bernilai miliaran rupiah. Atau tidak sok bijak menganggap bahwa angka ukuran ideal manusia tidak saya pentingkan sama sekali. Saya juga ngiler-ngeces bin mupeng melihat itu semua. Kaya, pandai, dan proporsional. (persis seperti yang kalian inginkan)

Realistis saja, siapa sih yang nggak kepingin keliatan “Waw” diantara yang lain? Lebih cling? Lebih hebat atau lebih cantiik? Manusiawi. 

Tapi untuk menjadi “lebih”. Selalu ada hal yang dikorbankan, dan kadangkala kita tidak lagi acuh pada sederetan aturan, atau tata karma. Padahal, saya masih punya Tuhan, agama, syariat, dan seabrek aturan lain yang harus saya patuhi. 

Oke, semua hal kembali pada diri sendiri. Setidak-tidaknya, bagi saya angka hanyalah sebuah angka. Yang suatu  saat bisa naik dan bisa turun. Jika kita terlalu terpaku pada angka, bisa jadi semua aturan kita terobos tanpa perduli ada sedemikian aturan lain yang harus kita patuhi.

Manusia bukan robot angka bukan?

Saturday, 19 October 2013

Menjadi Tua, ... dan usang!



Keniscayaan. Apa yang tidak akan menjadi tua dan lapuk di dunia? Yang akan terus Nampak abadi dan kuat, hebat? 

Wajah?

Kekayaan?

Kekuasaan?

Pasangan?

Keniscayaan. Dan itulah jawabannya. Semua yang hidup akan mati. Semua yang baru akan menjadi lama. Semua yang muda akan menjadi tua. 

Persis seperti onggokan kayu di gudang atau di kebun belakang rumah yang sudah hamper tak pernah disentuh. Melihatnya saja enggan, mereka – barang-barang usang yang tergeletak itu sudah tidak ada gunanya. Maka reflex insting manusia akan membuang semua perabot yang tidak berguna tersebut. Sepah. Yang tidak bermanfaat untuk apa disimpan? Yang hanya membuat sesak ruangan akan dienyahkan. Dan yang tidak sedap dipandang, untuk apa terus-terusan dipajang?
Fitrah manusia yang akan selalu digantikan dengan manusia selanjutnya. 

Embrio. 

Bayi.

Kanak-kanak.

Remaja.

Dewasa.

Tua.

Dan? …

Apalagi yang akan anda pertahankan ketika mati adalah pilihan mutlak dan anda tetap berkutat pada kesibukan yang artificial[1]? Mengumpulkan baju-baju yang membuat tubuh tua anda yang beranjak “tidak seseksi” dulu? Atau mempermak wajah anda yang akan beranjak “kisut” dan tidak kencang? Atau, sibuk memasang “topeng” hanya untuk mendapat simpati orang yang itu sesungguhnya bukanlah diri anda?

Dalam pergerakan waktu yang masih dan tidak akan pernah terjawab. Kita hanya sedang berproses menuju tua … dan usang.

Tapi tidak sebagaimana kayu almari yang lapuk, kulkas yang ngadat, computer yang heng, atau pulpen yang kehabisan tinta  - yang akan terus digantikan dengan semua yang baru. Semua yang lebih indah. Semua yang lebih cepat. Yang lebih instan dan simple. Seperti obsesi manusia pada kecepatan. Tampilan duniawi yang bergerak menuju kesempurnaan namun tak pernah menemukan kesempurnaan. 

Kita, manusia, bisa memilih untuk tidak akan pernah usang, di hati orang-orang tersayang.


[1] Semu.