.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 29 September 2013

Followers


Tenang saja, ketika sesuatu yang kita anggap baik berakhir, ketika kita kehilangan seseorang yang kita nilai spesial, ketika sebuah kesempatan emas hilang maka, tenang saja,
Akan datang sesuatu pengganti yang lebih baik, seseorang yang lebih istimewa,
Pun kesempatan emas lainnya. Pastikan saja syaratnya dipenuhi: bersabar.
Bagi orang2 bersabar, selalu datang hal-hal baik sebagai pengganti hal-hal sebelumnya.[1][1]



Pernah membaca kalimat ini? Saya rasa sebagian besar orang yang sudah lama mengikuti page darwis tere liye sudah hafal di luar kepala kalimat-kalimat seperti ini. Dari mulai kalimat yang bernada sindiran halus, agak kasar, dan ekstrem soal rokok, pacaran yang kayak babi *ngik ngok ngik ngok*, dan ngarep yang nggak jelas sama yang namanya hubungan dua insane laki-laki dan perempuan. 

Pertanyaan saya hanya, apa yang akan terjadi di kepala anda setelah membaca dan mendengarkan suara hati anda mengulang-ulang kalimat yang serupa? Bosen, sebel, atau malah unlike page ini? 

Kalian tahu apa yang sedang diajarkan oleh darwis dari kalimat ini? Yess. Kerelaan. Keikhlasan. Dan kesabaran. Sudah kesekian kalinya darwis mengajarkan pada kita bahwa kesabaran itu lebih baik tinimbang menganggap semua yang kita inginkan adalah apa yang kita butuhkan. It means, kita nggak bisa hidup tanpa itu. Saya rasa, kalimat dari darwis tadi hanya ungkapan lain dari Al-Quran yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs Al Baqarah : 153)

Dan aplikasi dari sabar tadi adalah :

Saturday, 28 September 2013

Morat-Marit



/1/
Remang-remang kuamati wajah anakku yang tertidur lelah di dipan kayu kamar gubuk ini. Bibirnya yang pasi, mengguratkan betapa banyak masa kanaknya yang belum mampu kupenuhi. Uang masuk taman kanak-kanak, susu bergizi dan bukan sekedar tajin, pakaian layak, atau mainan-mainan seperti milik Jujun anak tetangga depan rumah. Di sampingnya tidur meliuk mas Warso, keringat mengalir dari dahi-dahi lebarnya. Aku tepekur menatap mereka berdua, sayup-sayup perbincangan itu menggema di ujung-ujung gendang telingaku. 

Seharusnya kau berangkat dari dulu, nok! Itu si Minah, Woro, sama Uun udah bisa bangun rumah. Mbokyo kamu ikut-ikutan mereka juga, mbantu-mbantu aku nyari duit”  Ucap mas Warso seminggu yang lalu. 

“Tapi nanti Ipul siapa yang jagain, mas? Dia kan masih butuh aku” sembari melihat Ipul yang masih asyik berlarian kesana kemari bermain gobak sodor di depan rumah. Kubayangkan banyak hal, Ipul yang masih menyusu. Ipul yang tak bisa tidur tanpa mencium bau ketekku, Ipul yang tiap dinakali temannya selalu berlari ke rumah meneriakkan namaku dan aku akan tergopoh mengelap tanganku yang basah di daster lusuh turun temurun dari simbok sembari menenangkan Ipul. 

Urusan Ipul biar aku yang nanggung, aku kan bapaknya. Wes, kamu nggak usah khawatir. Yang penting kamu mau berangkat apa ndak? Kalau ndak biar aku nyari bini yang kayak mereka, yang bisa bantuin bikinin rumah” . 

Tomat dan Cabai Busuk

Sesampainya aku di rumah, tak kutemui bapak dan ibu yang biasanya sedang asyik bercengkerama di ruang tamu. Sepi, dan itu menambah kemarahanku karena bertengkar dengan Dino di sekolah tadi. Aku benci pada mereka semua; pak Dodi, Bu Dian, teman-teman sekelas, semua. Mereka bukan malah membelaku, tapi justru menyalahkanku karena Dino. 

Padahal aku yang benar, Dino mengejekku lebih dulu. 
 
Karena terpancing emosi, aku refleks mendorongnya keras, Dino jatuh. Kepalanya terbentur meja. Dino dibawa ke UKS, sementara aku dibiarkan sendirian di ruang kelas dengan tatap sebal. Dan untuk pertama kalinya; tak ada yang peduli padaku. 

Bu guru memarahiku, katanya tidak seharusnya aku berbuat hal seperti itu. kalaupun iya, harusnya ejekan dibalas dengan ejekan. Teriakan dibalas teriakan, dan yang lebih baik lagi adalah tidak memberinya balasan. Bukan dengan mencelakai Dino dengan mendorongnya. 

“Tapi Dino yang salah Bu!” Aku bersikeras membenarkan perbuatanku, lagipula ini sudah sering terjadi. biasanya aku hanya akan diam mendengar ejekan Dino.

Friday, 27 September 2013

Karma - karam, makar. Sodaraan ya?


Mari bermain dengan kata karma : 
marka, karam, makar?

Entah beberapa tahun lalu tepatnya, boleh jadi enam – atau mungkin lebih dari itu. Dulu saya tinggal jauh dari orang tua untuk beberapa waktu, untuk kemudian ketika liburan saya akan kembali ke rumah. Istilah kerennya saya ini anak boarding school. Padahal sih nyantri

Sifat kanak-kanak yang dulu masih mengekor dan mengakar kuat di benak saya membuat watak saya tidak jauh dengan anak mudah kebanyakan. Labil. Gampang marah. Dan moody. Ngeyel, dan tidak suka diatur. (sama kan? Semoga tidak hanya saya. Amin)

Tapi karma mengenalkan saya pada satu situasi yang berbeda. Bahkan sangat berbeda. Seperti ada tameng super besar dan luas yang siap menampung apapun yang pernah saya katakana. Ya, persisnya boomerang mungkin. Satu pertanyaan saya pada kalian, kalian percaya karma?

Oke, saya dulu juga biasa saja sama yang namanya karma. Nggak peduli-peduli banget. Bodo amat gitu sama yang namanya “karma”, yang penting saya bahagia – dan yang penting saya bisa ngelakuin apa yang saya suka. Tapi ternyata, TIDAK! TERNYATA ITU FAKTA. Karma itu ada.        

Monday, 23 September 2013

Kita dan Pekerja Rumah Tangga (bagian dua)



Versi Pemerintah Kota Yogyakarta dan Propinsi DKI Jakarta dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Libur Mingguan Bagi Pekerja Rumah Tangga, menggunakan definisi, yang dimaksud dengan PRT adalah, “orang yang tidak termasuk  anggota keluarga yang bekerja pada seseorang atau beberapa orang dalam rumah tangga untuk melakukan pekerjaan kerumahtanggan dengan memperoleh upah”.

Sedangkan pengertian lainnya, PRT  adalah “orang yang bekerja pada seorang atau beberapa orang dalam rumah tangga untuk melakukan pekerjaan kerumahtanggaan dengan memperoleh upah”[1]

Berdasarkan kedua definisi di atas setidaknya ada 4 elemen pokok yang terdapat dalam pengertian PRT. 

Pertama, adalah orang yang bekerja, dalam hal ini adalah PRT.
Kedua, orang yang mempekerjakan atau yang kemudian disebut sebagai majikan.
Ketiga, melakukan pekerjaan kerumahtanggan.
Keempat, mendapatkan upah. [2]

Atau kepanjangan dari istilah PRT , Pembantu rumah tangga, atau  pekerja rumah tangga. Dapat kita bandingkan kedua pengertian di atas, jika indonesia – atau lingkup yang lebih kecil lagi, kita sebagai manusia yang beradab dan mengerti hak asasi satu sama lain, mana pengertian yang lebih cocok dan manusiawi diantara kedua hal tersebut?

PRT : adalah pekerja rumah  tangga, bukan lagi sebuah singkatan yang mendiskriminasikan kehadiran atau pekerjaan mereka dengan menyebut pembantu rumah tangga. Ada perbedaan signifikan dari kata “pekerja” dan “pembantu” disini. Sudah jelas dong yaa?                     

Kita dan Pekerja Rumah Tangga

Pembantu rumah tangga dekat sekali dengan kehidupan wanita, dan kita. Pekerjaan yang nampak sepele namun sesungguhnya membutuhkan stamina dan tenaga yang tidak sedikit. Waktu yang panjang, dan keikhlasan. Misalkan saja, mencuci baju, mengepel, menyetrika, membersihkan segala macam  rumah dan segala macam perabotnya, berbelanja kebutuhan sekaligus memasak, hal ini masih dapat ditambah dengan aktifitas mengurus anak majikan, mengurus orang tua si majikan yg sudah tua renta bahkan sampai pada taraf disuruh melayani tamunya majikan. Wwaw!

Seharusnya, pekerjaan yang sangat rumit bin rempong ini mendapatkan perhatian lebih banyak tinimbang pekerjaan lain yang jamnya lebih jelas dan gaji yang jelas juga. 

Indonesia merupakan pemasok “tenaga kerja” dalam tanda kutip pembantu terbesar di asia, dan sebagai penyumbang devisa terbesar akibat pengabdian mereka ini - mereka sama sekali belum diberi jaminan untuk dapat bernafas lega bekerja di rantau sana. Seminim-minimalnya adalah gaji yang dua arah dalam pembuatan kesepakatan yang diesuaikan dengan beratnya tanggungan dan jam kerja.

Belum lagi hal ini juga berlaku di negeri sendiri, tidak adanya penghargaan dan penghormatan bagi mereka yang sesungguhnya sudah meringankan pekerjaan kita. (Lumayan kan kita jadi nggak perlu ngepel, nguras, dan bla bla bla setelah capek kuliah, maen atau kerja?) harusnya kita memberikan apresiasi semacam hari libur, tambahan gaji, atau seminim-minimalnya adalah keramahtamahan kita menjadikan mereka bagian dari keluarga. Atau mungkin dengan kata lain “kehangatan”. Ouch! Kata ini sungguh sangat tidak seksi.
  

Wednesday, 18 September 2013

Mereka yang "menang"


Menakjubkan, menemukan kata “menang” dalam menangis.
Boleh saya minta trophy-nya?

Lagi-lagi film korea. Film korea lagi. Korea film lagi. Ah saya pusing. Tiap kali melihat siapa pemainnya, bagaimana lucunya wajah mereka saya selalu tersihir untuk mengabaikan kegiatan lain yang berujung pada: saya hanya akan berdiam diri berjam-jam di depan laptop untuk menonton mereka. Ibu saya teriak, adik saya teriak, dan saya terisak-isak (ouch!) 

Tidak bermanfaat bukan? Yeah, barangkali saja memang begitu kalau dikatakan.

Zaman sekarang orang sudah tidak lagi peduli dengan anggapan orang tentang selera mereka masing-masing. Fashion amburadul kek, gaya hidup, makanan mentah-mateng-atau bahkan bangke sekalipun. Mau disukai ya sudah, enggak ya bukan masalah gue. Masalah lu, kan? 
 
baru saja saya memulai menonton jalan cerita tentang si anak yang deket banget sama si ibu (saya lupa judulnya), saya sudah dibuat termehek-mehek gara-gara si anak ketahuan mau mati. Gara-gara si emak nangis saya jadi ikut nangis juga. Saya memang mudah sekali menangis (sekarang, dulu saya tegar) tersebab nonton film atau televise. Apalagi film india dan korea. Saya piker ini hanya karena jalan cerita yang benar-benar mengharukan (saya belum mau mengakui kalau saya memang sudah berubah jadi wanita yang melankolis. Eh, sentimental ya?) 

Sunday, 15 September 2013

Ah Biasa Sajah



Saya pikir, semakin dewasa usia kita - harusnya semakin berjejerlah daftar kenyamanan dan kebahagiaan kita menjadi diri sendiri. Menjadi seseorang yang menyandang suatu nama. Menyadari kekurangan yang banyak namun setara dengan menyadari nikmat yang sama banyaknya. Jadi fifty-fifty. Imbang. Semacam rasa syukur menjadi manusia. Seperti : bangga menyandang nama robert, andi, nur, roro dan sebagainya. Bangga hidup di daerah xxx, bangga terlahir dari keluarga ini dan bla bla bla. Atau hal yang lebih konkrit lagi adalah, setelah anda menyadari ada hal yang kurang beruntung dalam kehidupan anda, anda selanjutnya secepat kilat menemukan keberuntungan dalam hidup yang menguntungkan. 

Simple. Cari-cari saja sendiri untuk membuat kita menjadi orang yang pandai bersyukur. 

Tinimbang membaca orang lain yang kadang sulit ditebak, walaupun kadang keceplosan juga, saya lebih suka membaca diri sendiri. Kalau saya ini keras kepala, kalau saya ini begindang, saya begintang ... Tapi fine, akui saja kalau diri kita tidak sempurna. Daripada sibuk menyempurnakan anggapan kita di mata orang lain yang sampai kiamatpun tidak akan bisa.  

Seperti yang sama-sama kita tahu, hidup itu nano-nano. Banyak warna. Banyak yang keluar masuk. Namun dari itu semua, selalu ada sisi dominan yang melekat pada diri kita. Kekhasan - ciri khas maksud saya.

Dari kesemua itu, dari mata sipit yang tuhan berikan, dari kulit kuning, tinggi dan berat yang alhamdulillah menyenangkan. Saya suka semua itu. Walaupun terkadang dijadikan bahan olokan, bagi saya, inilah saya. Lo suka syukur, enggak yaudah. Kalau ada suka, ya pasangannya brarti ada yang benci. Gitu aja. Ini kelebihan sekaligus kekurangan saya di mata mereka. Padahal, dari itu semua; bayangkan, walaupun saya bukan seorang cina, saya selalu mendapat predikat itu. Betapa bahagianya selalu dianggap berkecukupan di mata orang lain, dianggap pandai, dianggap terhormat, dianggap mampu dalam banyak hal, dan itulah yang harusnya kita wujudkan. Diamini saja doa-doa mereka. Secara tidak langsung itu adalah motivasi terselip diantara kata-kata iri yang mereka sampaikan. 

Kebahagiaan dari anggapan itu adalah:

Eh, pasti kamu banyak duit ya, cik?                           

Saturday, 14 September 2013

Cermin Manusia

Dunia itu cermin bagi satu dan yang lainnya, mungkin bisa jadi dikatakan seperti itu. Melihat setiap permasalahan yang terjadi di sekeliling kita lebih banyak merupakan timbale balik atas apa yang kita lakukan. Karma. Tumbal. Balasan. Dengan kata lain setiap perbuatan kita memang menuntut pertanggungjawaban, entah itu secara langsung atau nanti di kehidupan selanjutnya. Lemparan batu dari Tuhan untuk mengingatkan kita terhadap kelalaian manusia.  

Masih beruntung kita diberi akal, buat mikir. Dikasih hati, buat lebih peka. 

Banyak hal yang kadangkala memancing kemarahan saya, kegelian tawa, atau yang lebih dari itu adalah tangis haru atau jengkel. Tetapi ketika berkaca pada diri sendiri, saya menemukan lagi satu fakta: semua yang saya benci tadi ada dalam diri saya. Semua yang menyebabkan kemarahan saya tadi, adalah sifat yang juga saya memilikinya. Maka nihil bagi saya untuk berteriak lantang menyalahkan orang lain, menghujat dan mencerca mereka dengan kata-kata kasar sementara diri saya ini juga tidak kalah menyebalkan daripada mereka.

Maka apa yang bisa saya perbuat? Tetap bersikukuh marah?

Oh No! Pasti kalian juga berpikiran hal yang sama dengan saya. Saya hanya bisa diam, termenung. Lantas merenungi banyak kata-kata yang keluar masuk di telinga saya. Pelajaran hidup yang diterima lewat banyak akses. Orang tua, saudara, teman, tetangga, buku bacaan, bahkan televise pun bisa jadi memiliki peran penting untuk merubah pola pikir kita.

Bayangkan ketika anda dalam satu kondisi yang sangat menyebalkan, orang lain menghina anda karena kekurangan fisik yang anda miliki – dan mereka seolah tertawa puas menertawakan kekurangan yang sama sekali tidak kita minta. Untuk beberapa waktu kalian mungkin akan bersabar, lantas beberapa waktu kemudian, muka anda akan berubah warna ; dan pada saat itulah saya yakin kemarahan mulai menguasai anda. Atau kejadian lain yang menurut anda lebih menyebalkan dari ini. Dibohongi, diselingkuhi, disindir, ditertawakan, dll.

Airmata.

Persoalan kehidupan memang menyuguhkan banyak opsi. Termasuk soal airmata yang tidak pernah jauh dari kaum  hawa, wanita. Tidak ada yang menyangkal bahwa dugaan airmata yang lebih banyak dianugerahkan pada kaum satu ini. Hingga anggapan Cengeng rapuh, labil mengekor terus untuk mereka. Boleh jadi inilah salah satu senjata mutakhir yang dimiliki sebagian dari para wanita, menangis, dan merengek. Walaupun toh airmata mutlak sifatnya universal, untuk semua – bahkan hewan atau alam sekalipun.

Saya kerapkali bertanya, untuk apa hanya disuguhi airmata. Bukankah tidak ada timbale balik dari itu? Semacam solusi, atau permasalahan selesai?

Atau Apakah ada kaitan antara akal dan hati yang dingin dengan tumpahan airmata? Dan jawaban dari pertanyaan itu: Tidak perlu alasan, atau tidak perlu argument untuk menjawab semua pertanyaan. Cukup dinikmati saja. Tidak banyak bertanya.

Airmata.

Bukan soal siapa yang mengeluarkannya, tak jadi masalah dia lelaki atau perempuan.  Tapi yang digaris bawahi adalah  mengapa harus ada. Soal air dalam tubuh yang kadang luber kadang surut ini, tentu tidak ada yang tahu apa yang ada di baliknya. Latar belakang, dan beribu alasan yang mendorong manusia untuk menangis.

Bagi saya sendiri, tangisan  hanya sebuah  luapan – gambaran – bukan guyonan … bahwa ada hati di dalam sini yang kadang ngilu, kadang sakit, kadang perih … 

Airmata itu lambang kehadiran.                              

Bukan Timun Mas


Tengah malam itu kudengar sayup-sayup tangis bayi dari teras depan. Tak ada siapapun di rumah, hanya aku dan bunyi televise sembari menunggu mas Rinto pulang. Berulang kali kuintip dari balik jendela kamar tamu, tak ada siapapun yang sedang menggendong bayi di depan, di jalanan utama yang persis ada di hadapan rumahku, hanya suara jangkrik dan samar-samar bayi menangis.
Aku dililit cemas, sementara suara tangis itu makin lama terdengar makin keras.

Ah tidak tidak! Tidak mungkin suara hantu atau apapun yang ghaib sedemikian kerasnya berbunyi. 

Kuberanikan diri membuka pintu depan, berjalan mengendap-endap, memastikan dimana bunyi itu berasal. Semakin melangkah ke depan, semakin suara itu terdengar jelas. Suara itu  pasti berasal dari samping semak, di bawah pohon mangga yang ditanam mas Rinto beberapa tahun lalu.

Hembusan angin yang meliukkan ranting-ranting pohon itu membuatku sedikit jirih. Dan sedetik kemudian aku hanya bisa tertegun memandang bungkusan kardus mie instan dengan kain kusam di hadapanku. 

Bayi mungil lelaki yang menangis kedinginan. 

***

Mas Rinto mengetuk pintu sambil berucap salam. Di tanganku masih kunina-bobokan bayi itu dengan alunan lagu timang-timang. Mas Rinto masuk dengan tatap heran. Dahinya yang berkerut menyiratkan banyak pertanyaan, ia duduk merebahkan badan di hadapanku.

“Siapa, Rin?”

“Tadi aku denger suara bayi dari depan, pas tak cek ke depan ada bayi beneran mas dibungkus kardus. Aku bawa aja masuk, kasihan masih kecil.”

Mas Rinto hanya mengangguk-angguk mengiyakan. Sambil melepas dasi dari kemejanya, kurasai matanya yang terus mengawasi kami. Aku tahu, mungkin dia berpikiran kalau dia seperti timun mas yang tiba-tiba saja terdengar menangis di dalam buah besar. Dan Kalau benar, berarti bayi ini membawa konsekuensi besar dalam kehidupan kami. Entah dikejar raksasa, atau pengganggu lainnya.

Walau masih sedikit kebingungan dengan kehadiran bayi yang tiba-tiba ada di depan rumah, walau masih sibuk bertanya siapa ibu dari anak ini, tetap saja aku merasa bahagia bisa menimang-nimang bayi. Lihatlah! Betapa menyenangkan memiliki keturunan, penerus. Harapan yang sudah lama kusimpan dalam hati, harapan yang hampir musnah tersebab ibu mas Rinto yang terus-terusan bertanya kapan bisa punya anak.

Sudah hampir lima tahun kami menikah. Tinggal terpisah dengan orang tua mas Rinto. Namun dalam kurun waktu yang tak bisa dihitung sebentar itu, kami belum juga dikaruniai seorang anak. Setahun dua tahun, orang tua mas Rinto masih memaklumi; mungkin kami memang belum berniat direpotkan urusan anak karena kesibukan kami di kantor. Tapi, bergerak tiga tahun; ibu mas Rinto mulai ikut campur urusan apapun yang kami konsumsi. Mulai dari makanan, kegiatan, hingga cara-cara yang dulu pernah diberitahukan oleh nenek moyangnya disampaikan juga pada kami.

Dari praktek tradisional, datang ke dokter kandungan professional, sampai urusan mengikuti tanggal dan hari baik yang dianjurkan tetua di desa ibu. Sudah kulakukan rutin penanggalan ovulasi[1]-ku seperti yang dibilang dokter kemarin. Katanya aku dan mas Rinto harus menyesuaikan tanggalan masa subur rahimku. Dan untuk itu, tak pernah lepas almanac [2]di kamar dari hitungan-hitungan yang diajarkan dokter. 

Mas Rinto beranjak dari duduk. Mendekat padaku yang masih menggendong bayi lelaki itu. Sejenak kuamati, mata itu mirip mata mas Rinto. Atau, ah segera kubuang bayangan itu- barangkali hanya kebetulan saja. Tuhan memang menciptakan banyak kemiripan diantara manusia.
Mas Rinto menatap wajah bayi lelaki itu, memintaku untuk mengajarkan cara menggendong bayi. Kuberikan bayi mungil yang tertidur itu di lengannya. Tiba-tiba lelah yang tadi tersirat di wajahnya menyurut. Mungkin semua tersebab bayi itu. 

“Lucu ya, Rin. Bikin capeknya ilang” Tukas mas Rinto padaku. Wajahnya berubah sumringah, mengajak bayi di hadapannya bicara. 

Aku mengangguk lemah. Ya, bayi itu memang lucu- sekaligus tidak sengaja melukaiku bahwa aku belum bisa memberikan keturunan baginya. Aku menunduk lemas, menjatuhkan badan di sofa.
“Lho, kenapa gantian kamu yang cemberut, Rin? Apa mas salah ngomong?”

Aku menggeleng. Diam. Menyembunyikan mata. 

***