.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 23 August 2013

Filsuf Sejati

Sejak bertahun-tahun lalu, bahkan mungkin berabad-abad sudah lewat, anak-anak selalu saja menjadi bahan perbincangan yang paling membingungkan sekaligus menyenangkan. Ada dua hal berkebalikan yang membuat daya tarik pada anak-anak dan sifat yang mereka bawa. Sore tadi, ketika mendengar percakapan antara seorang anak dan ibunya, serta beberapa jam lalu saya melihat seorang ibu tengkurap di lapangan sambil angon sapi dan bercanda dengan anaknya : saya refleks menyunggingkan senyum. Barangkali - mereka lah para filsuf sejati yang diturunkan oleh Tuhan untuk memperkaya akal dan hati kita.

Salah satu ciri seorang filsuf adalah dari banyaknya rasa ingin tahu, pertanyaan-pertanyaan yang tidak terbendung alias keingintahuan. Dan inilah yang mendasari saya berargumen demikian.

Ibu : Mas, anaknya mbak x meninggal wau. Muntaber.

Anak : Lha kenapa kok meninggal buk?

Ibu : Ya, sampun kersane gusti Allah mas. Takdir.

Anak : Lha takdir itu apa, buk? Muntaber?

Ibu : Takdir iku ya jalan hidup mas. Nek muntaber, muntah berak tapi sering. Dadi weteng e kothong mas. 

Anak : Dadi nek muntaber niku mesti mati ya, buk? 

Ibu : Takdir mas. Manut Gusti Allah, mpun wayahe niku. 

Anak : Kok Allah gitu e buk ...                                    

Tuesday, 6 August 2013

Anak Incubus

/1/
Jangan Tanya pada ibuku tentang Kartini, perempuan yang dimiliki kala perjuangan dengan segudang upayanya mengentaskan wanita dari ketidakberdayaan. Atau jangan lagi menggurui ibuku tentang emansipasi. Cih, Makanan apa itu? kata ibu. Ibu mengenali keduanya sejak dulu tanpa harus ulurkan tangan sambut perkenalan, 

Ibu menjadi salah satu penganut Kartini masa kini. Siapa yang bilang bahwa emansipasi menyenangkan? Siapa yang bilang emansipasi menjadi standar kepuasan tingkat kemanusiaan? Persamaan? Ah, itu hanya dalih mereka para perempuan yang sejatinya malas dikungkung aturan, dibatasi suami, diceramahi. Ai, sesungguhnya yang mereka elu-elukan hanya kebebasan, bukan penyamarataan. 

Sudah bertahun-tahun ibu jadi penopang hidup keluarga, tanpa banyak bertanya dan mengeluh bahwa sesungguhnya yang terjadi dalam kewajaran adalah lelaki yang menafkahinya. Bukan ibu, atau aku sekalipun. Pontang-panting ibu mengurusiku sendirian, melakukan urusan lelaki dengan tangannya sendiri- keringat asinnya sendiri. Manjat pohon kelapa, mbenerin genteng, apapun pekerjaan lelaki di desa ibu sudah sejak dulu terlatih melakukannya.  Bapak- yang katanya jadi penurun sperma yang membibit menjadi tubuhku kini, tak tahu dimana rimbanya. Tak tahu menahu aku dimana sekarang tempat tinggalnya. Bahkan wajahnya saja aku tak tahu, di rumah tak ada satupun foto yang memampang wajah bapak. Aku sempurna buta tentangnya. 

Bapak minggat dari rumah kata ibu. Entah itulah kebenaran, atau hanya cerita karangan ibu untuk membuatku diam, menyumpal mulutku yang terus nyinyir bertanya ini itu. Aku tak tahu apa sebenarnya yang terjadi dalam keluarga ini. Toh saat bapak pergi aku belum bisa bertanya bapak mau kemana? Bapak Kenapa? Atau bagaimana? Mungkin waktu kecil dulu, saat bapak terpaksa atau dengan sukarela meninggalkan rumah dan membawa serta hartanya, aku hanya bisa menatapnya nanar dan merengek minta digendong. Tapi apa daya, bapak lebih memilih menenteng tasnya tinimbang membawaku ikut serta.                                    

Hidup Lagi

Surau itu mendadak senyap, Murni. Tak ada suara lantunan ayat suci, seruan adzan, suara anak-anak melafalkan iqro atau bacaan solat dengan suara keras serempak ketika sore beranjak – anak-anak yang mengaji. Tak ada suaramu yang merdu melagukan hafalan juz amma, latian qasidah bersama ustadz Bandi. Atau barangkali kau masih sering bertandang kesana dan melakukan semua itu sendiri? 

Ah, barangkali aku yang tak tahu kamu masih sering melakukan itu tanpa sepengetahuanku. 

Kau ingat beberapa minggu lalu? Surau masih ramai dengan celoteh teman sebaya kita, pak ustadz yang sibuk menenangkan Widodo yang menangis sesunggukan diganggu Roni, dan Jariyah yang suka sekali bersembunyi di balik kamar mandi saat tiba gilirannya setor hafalan ngaji. 

Sore itu pak Bandi meminta tolong padamu untuk membawakan buku-buku  ke gubuk kecilnya di samping surau sepulang mengaji. Kau memintaku menemani, kau bilang hanya sebentar saja. Tapi sayangnya Aku tak bisa menemanimu, aku harus menemani ibu menengok nenek di kampung sebelah, dan itu berarti aku harus bergegas pulang sesegera mungkin. 

Itu terakhir kali aku melihatmu. Aku menyesal tak bisa mengantarmu pulang.  

Kalau biasanya akan kau temui orang-orang berpeci dan mengenakan mukena berderet-deret, memeluk kitab suci di dada mereka, kini hanya belukar semakin tinggi yang akan kau lihat. Sarang laba-laba di ujung ruang, atau tembok surau yang berubah kehitaman. Dan saat kau melihatnya, aku yakin kau akan merasakan kepedihan yang sama. Seperti saat aku tahu surau itu kesepian tersebab pergimu.                                              

Edan

Sebilah pisau dapur itu tergeletak tepat di hadapanku. Seperti menatapku dan menyuruhku untuk segera mengambilnya. Aku menatap pisau itu, barangkali saja benda itu yang Tuhan kirimkan untuk menyelesaikan masalahku. Masalah? Ekonomi keluargaku seret. Tak ada pekerjaan, maka tak ada uang masuk. Dan aku, harus rela disumpal mulutnya dengan hasil keringat istriku. 

Kutekan harga diri dan wibawa sebagai suami yang kehilangan taji hanya gara-gara nafkahnya beberapa bulan mati suri. Siapa sangka kebijakan kenaikan upah justru membuat bos besar mengambil langkah lebih menyengsarakan: PHK? 

Dan setelah seminggu berturut-turut terjadi rapat pemegang saham, pagi itu; dua puluh karyawan dirumahkan dengan pesangon yang begitu minim. Intinya, aku diberhentikan karena perampingan keuangan perusahaan. Katanya aku karyawan tidak kredibel, kurang gesit, dan apalah. Aku shock, ini jelas menyalahi draft perjanjian yang sudah kutandatangani di awal. Ini tidak adil, tapi bisa apa kami semua? Dengan langkah menyumpal mulut kami yang menyertakan amplop tak seberapa dan alasan kemaslahatan, ah- tentu saja aku hanya bisa menghela nafas panjang- dan lebih panjang lagi ketika menjejakkan kaki di rumah. 

Bayangan istriku yang meminta uang belanja, anak-anak minta jajan, belum lagi uang rokok, iuran desa, ibu-ibu arisan. Kepalaku mendadak pusing, ingin sekali kubenturkan kepala ini ke tembok. Biar mati rasa, atau kalau tidak biar saja aku amnesia dan semua orang berubah iba padaku. Tak terkecuali istriku. Daripada harus menyerahkan hidup pada pisau di depanku, mungkin membenturkan kepala ke tembok; kemudian mati, lantas orang-orang akan berspekulasi bahwa aku terpeleset atau tidak sengaja didorong siapapun itu, jelas akan lebih terhormat tinimbang berita kematian karena bunuh diri. 

Aku menghela nafas panjang. Gusar bukan main.                            

Keblinger!

/1/
Heboh kabar burung di televise itu santer terdengar. Seteru antara dua kubu yang sengit jadi tontonan gratis bapak-bapak pengangguran yang sedang main gaple di gardu. Yang satunya kubu besar; dengan penganut bejibun sekaliber artis dan pejabat besar. Dan kubu satunya lagi; berkoar-koar berdasar cerita dan kemarahan yang menggumpal,, mulut-mulut lapar. Mulanya hanya sekedar kata tidak terima, gertak sambal, kini berganti adu domba dimana-mana. Pihak yang mengaku benar sibuk mengumpulkan data, mencari rekan yang sama merasa tertipu, merasa disesatkan, atau bahkan ikut dirugikan dengan keluarga yang katanya dijadikan tumbal. 

Aku duduk takjim menonton televise. Tadinya hanya sepintas lewat setelah mengarit di sawah, tapi kadung tidak enak karena dipanggil mampir oleh bapak-bapak ini. Terpaksa, aku duduk barang semenit dua menit meladeni obrolan ngalur ngidul bapak-bapak di gardu. 

Kuamati perkembangan masalah ini dari hari ke hari, Tampaknya masalah ini kian melebar saja. Belum lagi televise yang seperti kucing mencium bau ikan pindang, siaran ini diulang terus-terusan. Tidak bosan-bosan, bahkan kalau boleh dibilang; berita ini sama sekali tidak mendidik. Lha wong cuman ngurusin orang saling dendam, ngrusak anak-anak. Tapi peduli apa? Yang penting rating naik, berita dilirik. 

Banyak yang ikut memberi opini, banyak yang sok-sok peduli, dan lainnya lagi, lebih banyak yang mencaci. Semakin tak tahu dimana yang benar, dimana yang salah. Semua sedang memainkan lakonnya sendiri-sendiri. Katanya sih lakon terdzolimi. Hingga semua argument terdengar benar bagi semua penikmat layar kaca. Siapa yang tak dibuat bingung? Siapa yang tahu urusan sesat menyesat, sihir menyihir, santet menyantet?                                        

Gara-Gara Akta

Sudah dua jam aku mengantri disini. Duduk manis berbincang dengan ibu-ibu yang juga sedang menemani anaknya mendaftar sekolah dasar. Anakku terlihat begitu bahagia, menemukan teman baru seumuran, berlarian kesana kemari sembari menunggu nomor  antrian kami dipanggil. Hanya kurang beberapa nomor lagi.

“Panji, sini duduk. Sebentar lagi kamu dipanggil, nak” Teriakku memanggil anak sulungku itu.
Dia mendekat, terengah-engah, kemudian meminta air mineral padaku. Matanya berbinar menyampaikan betapa senangnya dia akhirnya akan mencecap bangku sekolah. Setelah setahun ini niatannya tertunda karena aku dan suamiku yang masih mengumpulkan biaya masuk sekolah. Ya, walaupun tidak seberapa yang bisa kami kumpulkan setiap bulan, setidaknya, detik ini kami bisa mengusahakan biaya awal dulu kami pegang untuk sekolah Panji.

Tiba saatnya kami masuk. Bagian tata usaha meminta kami menyerahkan seluruh persyaratan yang dibutuhkan untuk kelengkapan data siswa. Kuberikan stofmap berwarna biru itu padanya, dibaliknya tercatat lengkap data-data anakku- ada beberapa foto baru juga yang diambil beberapa jam sesaat sebelum kami sampai di sekolah.

“Lho Bu, aktenya mana?”
Aku terkesiap. Aku tak sampai pada pikiran sejauh ini. sejak dulu, aku dan suamiku tak pernah dibuatkan akte oleh ibu bapak. Bagaimana bisa kami juga kelupaan membuatkan akte untuk Panji? Lagipula Bukankah semuanya bisa diwakilkan dengan sekedar data yang sudah dituliskan disitu? Aku menggeleng lemas. 

“Tidak ada, pak. Kami belum sempat membuatnya”.

Bapak itu pelan mengembalikan stofmap kami. Menyuruh kami pulang dan kembali setelah akte itu bisa dibawa padanya. Aku tertunduk lesu. Bagaimana bisa secepat itu kami mengupayakan adanya akte kelahiran, sedang karena ketidaktahuan kami; Panji sejak lahir belum punya akte.
“Baiklah, ibu bisa kembali besok. Atau lusa, pendaftaran sekolah masih dibuka sampai tiga hari ke depan, Bu”. 

Semakin lemas aku mendengarnya. Tiga hari? Apa cukup. Lalu, berapa panjer yang harus kubayarkan? Ah, dari uang simpanan kami yang tak seberapa. Masih saja ada keperluan yang tidak kami duga. 

Aku beranjak mengajak pulang Panji. Dia terlihat bingung dengan ajakanku yang tiba-tiba, bahkan sebelum dia sempat di test seperti teman-teman yang lebih dulu masuk.

“Bu, kok pulang? Panji nggak jadi daftar sekolah?” anakku polos bertanya. Aku pura-pura tersenyum di hadapannya.

Baiklah, tiga hari pasti cukup. “Sabar ya, nak. “

Mata Cicak


Ruangan di hadapanku berubah lengang. Luas! 

Mataku mengedar pandang ke seluruh sisi. Dua bayangan samar-samar itu tampak berdiri di kedua sisi mak Inang. Yang satu di sebelah kiri, yang satu di sebelah kanan. Aku melihatnya begitu jelas, dua bayangan itu bergulat hebat, sepertinya yang satu Nampak tenang- dan yang satunya meledak-ledak. Aku tak tahu siapa mereka. Tak ada mata, hidung atau apapun, hanya seberkas cahaya yang Nampak silau. Hanya saja, sepertinya mereka sedang beradu mulut. 

Mak Inang berdiri kaku memegang parang dengan mata menyiratkan amarah. Kepalan tangannya yang kencang bisa kurasakan sebagai emosi yang lama tertahan. Mendidih di ubun-ubun. Di hadapannya kini berdiri anaknya yang sedang mengobrak-abrik isi lemari. 

Mak Inang adalah tetangga rumahku. Hanya selisih beberapa langkah maka akan kau dapati rumahnya yang hampir berdempet dengan tembok rumahku. Aku mengucek-ucek mata. Benar. Itu benar Mak Inang yang sedang membawa parang. Sedang anak bujangnya yang sejak tadi diawasi dari belakang tak menyadari bahwa sejatinya sejak tadi Mak Inang berada di belakangnya. 

Oh! Aku menutup mulut. Parno sedang membuka-buka surat-surat di dalam lemari. Dia mencari sertifikat rupanya. 

Aku diam, berusaha tak mengeluarkan suara. Keadaan Mak Inang yang sedang dilibat kemarahan, dan Parno yang tak menyadari keberadaan emaknya itu sedikit banyak membuatku merinding. Apa yang harus kulakukan? Begitu pikirku. Sementara jika aku menasihati Mak Inang, pasti aku kena tebas parang tajam itu. tidak, aku tidak mau mati di tangan mak Inang.                           

Akal Bulus


/1/
Aku kalang kabut sebangun dari tidur. Mencari-cari dimana istriku berada. Kuabrik-abrik seisi rumah, berteriak kesana kemari memanggil Ijah. Tapi yang kutemui hanya Bariyah yang sedang bermain-main di dapur, bermain masak-masakan dengan teman-sebayanya. Kutanya pada anak semata wayangku itu, kemana ibuknya, dia menggeleng. Kutanya lagi, apa ibuknya pamit sebelum pergi dari rumah, ia menggeleng lebih pelan. Kemudian berbalik badan tidak perduli, melanjutkan mainannya. Sibuk dengan urusannya sendiri. 

Sedang aku? Kuitari seisi kampung, tak juga kutemui batang hidung istriku itu. Aku dibuat bingung bukan kepalang. Berhenti di pinggir lapangan, menyelonjorkan kaki mengawasi sekeliling. Barangkali saja istriku bakal lewat jalan ini, biasanya hanya lewat jalan ini istriku akan lalu lalang, ke pasar, ke rumah bapak ibunya, ke posyandu, kemana saja. Dan tiba-tiba pikiran buruk itu mengendap di kepalaku, jangan-jangan … 

Jangan-jangan dia kecelakaan di jalan, ketabrak truk, terus mati. Atau jangan-jangan dia kesasar?
Duh Gusti! Aku menepuk dahi. Membuang pikiran mengerikan itu dari benak. 

Semalam setelah duduk-duduk ngobrol bersama para pelayat yang kenduri di rumah pak Burhan, aku pulang ke rumah dengan badan begitu lelah. Tadi pagi, tiba-tiba toa masjid berbunyi. Menyampaikan berita lelayu dari tetangga sesama desa. Bu Burhan meninggal mendadak, katanya kepleset di kamar mandi, kepalanya kebentur dan berdarah-darah. Siangnya aku sibuk membantu menggali liang kubur, hingga sorenya mengikuti acara pemakaman, dan sehabis magrib aku ikut kenduri pengajian di rumah pak Burhan. 

Seperti biasa, bapak-bapak akan sibuk membantu bebenah meja kursi sekaligus menggosipkan apa saja. Dan malam itu, topic tentang bagaimana bisa bu Burhan meninggal jadi topic yang paling seru. Berbisik-bisik diantara tetangga, menduga-duga seenaknya, mengarang-cerita yang masuk akal, dan semuanya dilakukan tanpa diketahui pak Burhan. Pak Burhan lebih banyak termenung dan menundukkan kepala, kadang tidak sengaja menitikkan airmata. 

Aku malah sibuk berkhayal bagaimana ekspresi pak Burhan kalau tahu tetangganya yang sedang duduk-duduk di teras rumahnya itu menggunjingkan kematian istrinya, bukan malah mendoakan istrinya.                                   

Mendadak Sakti

Sejak menyebarnya berita bahwa daliman bisa meramal masa depan, mulai dari urusan percintaan, kerja, hingga urusan togel, desaku menjadi sungguh ramai. Seperti tempat wisata yang ditumpahi lautan manusia, maka setiap hari seperti itulah keadaan rumah pak daliman. Tak pernah sepi dari pengunjung. 

Mulanya hanya satu dua orang, sambil membawa hasil panen untuk membayar jasa si daliman. Istri daliman menerima dengan sukacita, tidak mematok biaya; katanya sekalian beramal membantu orang, dengan begitu kebutuhan pokoknya tercukupi tanpa harus sibuk pontang-panting kesana kemari. Tak seperti biasanya yang makan enak pun harus menunggu hasil panen dari sawah yang tak seberapa, itupun kalau tidak diganggu hama. 

Hari-hari kemudian; lebih banyak lagi orang yang datang, dan semakin hari mereka yang percaya bahwa daliman punya kekuatan sakti datang berduyun-duyun meminta bantuan padanya. Tak ubahnya gossip di infotainment yang merebak dari satu televise ke televise lain, pemasaran kesaktian daliman beredar dari mulut ke mulut, desa ke desa, hingga mencapai batas antar pulau jawa.

Daliman yang awalnya tak memasang tarif harga jadi tutup mata, malah turut serta mengajak anak istrinya untuk jadi bagian pendaftaran. Saking panjangnya daftar antrian. 

Aku yang baru tahu berita ini dari istriku mulai menyangsikan keabsahan kesaktian si daliman,. Terang saja, daliman sehari-hari hanya kerja sebagai kuli bangunan panggilan, kok tiba-tiba jadi dukun sakti mandraguna. Punya kesaktian paripurna. Padahal, baru sebulan yang lalu daliman datang padaku meminta pijit karena encoknya kumat. Sakti darimananya!