.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 26 July 2013

Hidup di Desa

Hidup di desa? Uh siapa takut. Siapa bilang saya takut gara-gara jalanan jelek, becek, geronjal, bahkan lobang-lobang doang? Ah enggak. Saya udah biasa begituan sih. 

Hidup jauh dari internet? Uh siapa takut. Saya juga udah biasa nahan yang namanya hal begituan sih, walaupun pada kenyataannya saya masih bisa ngrasain koneksi internet yang –waw- nampar pulsa saya. 

Hidup jauh dari serba fasilitas cukup? Uh. Yang ini saya juga nggak takut. 

Yang saya takutkan adalah, saya takut ke kamar mandi kalo nggak ada penerangan. Well, itu doang. Beruntungnya lagi, teman-teman saya bersedia memberikan jam gantian mengantar ke kamar mandi. Dan, terima kasih untuk itu semua.

KKN, ya KKN, karena mata kuliah wajib itu saya diharuskan hidup di desa. Udah kaya acara tipi ”jika aku menjadi” aja ya. Kita yang dari tempat serba rame, temen-temen rese, dan jam terbang gede buat jajan, tiba-tiba PET! GELAP! Harus tinggal sama keluarga baru dengan jadwal yang kita mau nggak mau harus menyesuaikan dengan mereka. Tempat tinggal seadanya, kamar buat rame-rame, ah- tapi ini jelas bukan jika aku menjadi. Saya- tidak dapat bantuan yang se-bejibun di tipi itu untuk membantu memberikan kambing dan sembako yang gila banget banyaknya itu buat induk semang saya. Saya memang belum bisa memberikan apa-apa selain sapa senyum dan tenaga untuk membantu beberapa kegiatan di dusun sana.                                    

Dan training pertama adalah? 

Sunday, 14 July 2013

Lingkaran kematian

 “Lu boleh gabung sama kita, tapi jangan lupa sandi yang gue bilang. Oke?” aku mengangguk sigap. Takzim mendengarkan seorang lelaki berbadan tegap yang kutahu kini bernama Geri. Dia seniorku kini. Badan penuh tattoo, anting di sisi kiri telinganya, dan rokok sedang menghiasi separuh bibirnya sekarang. 

Tongtongsot! Oke, paham?” aku mengangguk sekali lagi. 

Serasa di persimpangan jalan, hanya ini yang bisa kulakukan. Tak ada siapapun yang mau membantuku, atau lebih tepatnya menawarkan bantuan. Tetangga? Jangan harap mereka peduli dengan kesulitanku. Mereka sudah terlunta mendirikan pondasi hidupnya sendiri.

Aku Terjepit. Satu-satunya jalan hanya aku mau menjadi anak buahnya sementara ini, setelah ibu sembuh, cukup. Aku tidak akan mau bekerja sama lagi dengan mereka. 

“lu beneran yakin mau ngikut kita? Awas lu sampe kabur. Gue bunuh lu kemana aja”. Aku menelan ludah, menghela nafas panjang. 

Dua hari lalu ibu pingsan. Kata dokter ibu kena stroke ringan, tapi itupun butuh biaya banyak. Rumah sakit jelas tak mau menampung ibu hanya dengan alasan miskin, syukur-syukur mau dilayani, kalau tidak- ibu hanya akan dibiarkan terlentang di kasur tipis di ruangan paling kumuh di rumah sakit. Ayah sudah mati, sementara adik-adikku belum pantas kubebani pikiran dengan biaya rumah sakit ibu yang selangit. 

Gue bayar, gue jadiin kelakar. Lucu ya?

Ada yang perlu disampaikan terkait beberapa pergantian tradisi lawakan di Negara kita. Dari lawakan yang semula pyur ingin membuat orang lain bahagia tanpa sedikitpun menyenggol pihak manapun, jadi lawakan yang sedikit berani menyentil dan sampai pada taraf menabrak batas kepentingan banyak pihak. Nyeleweng dari tata kaidah kehidupan. Dengan kata lain, lawakan sekarang jelas berbasis menghina apa yang sudah jadi takdir tuhan. Saya tentu tidak perlu menjelaskan mana bagian yang takdir, mana yang bukan. Mana bagian dan sikap yang merupakan pelecehan atau bukan. Kalian sudah tentu paham yang digarisbawahi disini.

Belum lagi ramadhan kali ini. Ada 3 stasiun televise unggulan yang acara sahur dan berbukanya khusus menghadirkan artis actor lawak paling terkenal di seantero Indonesia. Semua pasti tahu siapa saja. Dari channel nomor 5, 6 dan 7 di televise saya hamper setiap hari menghadirkan mereka, dengan model lawakan yang sama – gaya yang sama – dan penghinaan yang sama. Dan pada akhirnya membuat saya berkesimpulan begini, ada motto yang membuat mereka lupa kepentingan dan kenyamanan banyak pihak.

Penghormatan bagi orang yang selayaknya dianggap lebih tidak berkualitas menjadi minim. Fenomena, “gue bayar – gue jadiin kelakar” sepertinya sudah jadi konsumsi public barangkali. Katanya itulah sebuah profesionalitas kerja. Patut menghina, meremehkan, dan mencela kekurangan fisik orang lain dengan dalih harta yang sudah diberikan, alias upah. Padahal, apa sebenarnya kaitan antara gaji dengan pelecehan fisik rohani ?             

Sunday, 7 July 2013

Sebentuk "hati"

"ada yang memang tidak perlu disampein, Ren". aku tertunduk lesu. semua kesalahan atau ketidakcocokan tingkah laku dia dan aku tentu tidak perlu jadi permasalahan. waktu pasti menyelesaikan segalanya. kalau hanya urusan tidak cocok, toh semua orang memang tidak pernah sama, Ren.

Rena mendesis, sebal. selalu begitu.  waktu memang menyelesaikan, tapi itu toh kalau kita memang berniat menyelesaikan. kalau cuman diem, apa iya bakal selese? 
hening. aku malas menanggapi omelannya, yang katanya wujud perhatian itu. 

katanya aku ini terlalu pemikir, bahkan untuk segala sesuatu yang harusnya jadi masalah tetap kuabaikan.

"Bukan diabaiian, Ren. tunggu sejenak biar tidak membesar. sudah, tidak kurang tidak lebih. lagipula tak ada gunanya membahas ini, diam sudah cukup untuk meredam beberapa saat. biar saja ada konflik. toh ini sudah berulang kali terjadi, manusiawi, wajar kan?

ya, dan adegan itu akan terulang. rena tertunduk malas, menyerah. berhenti untuk berpura-pura jadi manusia dengan segala macam kebijakannya memperlakukan permasalahan orang, tapi kaku untuk masalahnya sendiri. setelahnya ... 

baiklah, Ren. aku tahu, diammu barangkali memang sebuah pilihan. bahasa alam yang kau pilih untuk mendamaikan kalutmu. tapi tanpa dimulai, semua tentu tidak akan selesai. 

rena pergi, geraknya menjauh dari bingkai pintu. "terima kasih, aku tau itu sebentuk kasih sayangmu"

Thursday, 4 July 2013

Nu - Muha

aliran gue ya gue. elo ya elo.
surga neraka gue, surga neraka elo.
eh, siapa bilang? barangkali aja sama. pintunya aja  yang beda. 
tapi kan gue harus ngingetin sesama temen.
iya, gue tau. *mesem kecut*
gue kan pengen lo masuk surga juga, bro.

lah emang lo tau lo bakalan masuk surga?
ya enggak juga sih. tapi kata babeh gue ajaran gue yang bener. yang lo itu lakuin bid'ah
mosok siiiih ? *dahi berkerut. satu point.

kata Rasul, dari banyak golongan islam yang bener cuman aswaja. alias ahlus sunnah wal jamaah.
nah gue yang bener. bukan lo. makanya lo gausah deh qunud-qunud, ziarah, tahlil begono

emang udah pasti ya? tapi gue suka konvensional. nggak respek gue sama yang sok modern-modern gitu. nalar gue cetek lah, ngikut apa kata pak yai aja deh
halah, pak yai lo udah kayak stand up comedy gitu. ngalai. pak yai Muha kan nggak bakal lebay
* diem. mikir. dua point

heh, gue nu.
gue muha. 
jalan gue ya gue aja sih. salah bener bukan urusan gue.
ya gue cuman pingin lo bener.
yaudah sih gausah dimasalahin
gue nggak mau lo kesesat aja. 
sesat? yang nggak sesat gimana sih? *mikir        

Wednesday, 3 July 2013

Bangsa yang lembut

tergelitik dengan pernyataan Prie GS yang menyatakan bahwa negara ini sungguh negara yang lembut. hanya karena satu kalimat yang membuat saya berpikir lantas mengiyakan argumennya tersebut. saya rasa, saya mulai dihipnotis oleh pola pikirnya.
jika mau dilihat kejadian beberapa tahun silam, datangnya masalah silih berganti di indonesia - memang cukup jadi bukti bahwa negeri ini adalah negeri yang benar-benar menjunjung adat ketimuran. ramah sekali pada orang-orang, pemaaf, berbesar hati menerima kekalahan, dan semua hal dianggap sederhana (sangat legowo). bahkan sekalipun itu adalah hal yang membahayakan bagi keselamatan dan kesejahteraan banyak orang.

saya berikan contoh :
"air seni". betapa hebatnya indonesia menyebut dan memberikan wibawa bagi air kencing manusia. sekalipun, ada benarnya, bahwa seni disini bisa saja diartikan sebagai proses alamiah organ manusia yang memproduksi sesuatu. toh nyatanya air kencing memang berguna kan? 

lanjut lagi. kasus pak harto, kasus ariel, kasus sumanto, dan kasus bla-bla-bla yang menyerang kesejahteraan indonesia. bayangkan hujatan yang dilontarkan beberapa tahun lalu dengan sekarang? saya pikir inilah bentuk kelembutan masyarakat indonesia. terlalu mudah menyimpulkan, terlalu mudah menghujat, dan di satu sisi kemudian - kemudian hari, dia menjilat ludahnya sendiri dengan mengelu-elukan mereka. jujur, saya malu. untuk pribadi saya sendiri, bukan lingkup masyarakat luas. ketegasan pola pikir memang menuntut manusia untuk menjadi berbeda. mungkin ada benarnya juga kalimat yang pernah saya dengar, saya lupa sumbernya : bencilah sifatnya, bukan membenci orangnya

dan kemudian saya menjadi tersadar. saya sudah tertarik kuat pada kumparan lingkaran ini. mudah memaafkan dan menganggap biasa hal-hal yang dulu dipegang teguh untuk menjaga wibawa manusia. rasa malu, ewuh pekewuh, kesopanan dalam bicara dan bersikap, kini sudah jarang ada diantara kita. untuk konteks kasus di atas, saya pikir semua manusia memang bisa berubah dan butuh dimaafkan. tapi maaf inilah yang kemudian disalahartikan, ada sekian banyak manusia yang belajar dari kesalahan. dan ada sebagian kecilnya yang justru memanfaatkan keadaan.

jadi, negeri yang penuh dengan seni ini. saya masih bangga, dan masih yakin, masih ada segelintir orang yang bisa dianut dan dipanut. tidak semua kebobrokan membuat mentalitas rakyatnya ikut bobrok. tapi mempertegas jati diri, tak ada salahnya. negeri yang lembut jelas bukan berarti negara yang mudah dimanfaatkan.


Monday, 1 July 2013

Mabuk "Label"

kita terbiasa me"label"i sesuatu dengan apa yang tersedia di kepala kita (kita? oh fine, mungkin hanya saya saja). entah mata, telinga, atau sekedar mengendus-endus bau yang nyampir sekelebat. parahnya, "label" itu sangat berpengaruh dan membudaya seiring dengan perkembangan zaman yang tidak bisa dibendung dengan satu tangan. dunia jadi kebolak-balik dengan persepsi orang. padahal, diantara kita,  tafsir yang kadang menyesatkan itulah yang kadang diyakini, dibudidaya. mau-maunya kita di-remote oleh tafsiran orang? malah, menurut pramoedya ananta toer dalam tetralogi pulau buru - justru tafsir itu lah yang membuat hidup jadi kacau.

kalau begitu, dimana sesungguhnya idealisme kita? tidak adakah satu saja ruang di kepala yang menyaring, yang mempertahankan ideal-ideal tersebut  untuk dianggap sedikit aneh? merelakan diri untuk dianggap gila atau tidak wajar? setidak-tidaknya itu tidak membuat kita menyematkan gelar "munafik" pada diri kita sendiri.

beberapa hal yang tidak penting bahkan diklasifikasikan jadi hal-hal yang wajib, dan hal yang sejatinya wajib justru diabaikan. semua karena "label", atau kasarannya, kita ini seperti hidup di dua dunia. yang satu dunia bertopeng dengan label itu tadi, dan satunya dunia nyata, dunia yang kita rendahkan sendiri hanya gara-gara tidak sesuai dengan tuntutan mayoritas manusia di luar. tangan-tangan ber-rolex yang buntung. atau dasi-dasi mahal yang sejatinya hanya jadi boneka bagi beberapa orang di atasnya. keseret kemana-mana, persis kayak debu. gampang dibawa angin. tidak punya prinsip.

lihat beberapa fenomena di luar, cap yang sudah terlanjur dianggap baik, atau wibawa - entah dia asli baik atau sekedar muka saja akan tetap dianggap baik seandainya dia melakukan hal yang salah. pejabat yang melakukan kesalahan akan tetap mendapati beberapa abdi atau backing-an besar melindunginya, tetapi mereka yang benar dengan hanya beralas sandal jepit belum tentu mendapatkan keistimewaan demikian. ini karena budaya "label". dan sebaliknya, seandainya hal itu dilakukan oleh orang yang tidak se-madzhab atau se aliran akan tetap dianggap salah karena dia sudah tidak punya wibawa dan anggapan benar di kepala kita.ada distorsi kebenaran, seperti korupsi yang sudah terlanjur dianggap budaya. saya rasa, memungkinkan jikalau saya bilang beberapa tahun lagi zina dan perselingkuhan juga jadi hal biasa.

murni. semua jelas tentang persepsi.

calon pacar, pacar, mantan pacar. calon suami, mantan suami. haji, hajjah, pak kyai. islam, non is. kristen, nonkris. dan bla bla bla-nya itu. ah, itu semua hanya embel-embel. saya pikir semua label itu tidak perlu kalau kita melepas semua atribut duniawi dan berkumpul jadi satu bagian, duduk di dalam suatu forum desa mungkin. semua label itu tadi lenyap seketika, omongan-omongan apapun jadi terasa ringan. bahan candaan jadi menyenangkan. toh tidak ada aturan atau kode etik yang mengatur label itu perlu atau tidak dicantumkan dalam sebuah panggilan.

Sugeng ndalu pak Darmo sarjana hukum .. pak Copet Darmo ... Pak Parkir Darmo ...(Tidak bermaksud melecehkan nama darmo. hanya contoh saja)

tidak penting bukan? atau semua akan diklasifikasikan dengan agama atau golongan masing-masing - persis seperti kotak penyimpanan nama di handphone kita yang mewajibkan demikian untuk mempermudah pengklasifikasian? ini kekanak-kanakan. label tadi menyesatkan. sekalipun itu memang perlu untuk membedakan mana yang guru mana yang murid, mana yang harus njaga sikap mana yang harus njaga cacat. itu saja. urusan tafsir kalian tentang tulisan ini? ya sebagaimana kalian saja yang menafsirkannya.

atau semua itu jadi wajib untuk menampilkan seberapa bijak atau seberapa berharganya kita dimata orang-orang? yang doktor lebih bijaksana hanya karena rumahnya bertingkat empat, mobil mahal dan duitnya banyak? atau yang miskin juga lebih legowo karena tingkat penerimaan yang sangat besar?  belum tentu juga yang harganya mahal nggak bikin gatal-gatal di badan. bisa jadi dengan harga biasa kita lebih nyaman. tapi tentu, ini murni bukan hanya tentang strata sosial. dan untuk itu, perlulah bagi kita mengendalikan bicara - tidak seenak perut membagi-bagikan "label" yang seenaknya juga.

masih terlalu segar bukan antrian haji yang segambreng? plagiasi skripsi, tesis, jurnal? atau yang lebih membudidaya adalah contek mencontek diantara kita hanya untuk mendapat predikat baik, bagus - sekalipun bukan murni usaha sendiri. di luar merebaknya semangat beribadah masyarakat kita yang perlu di apresiasi, saya rasa tetap ada satu hal yang melatarbelakangi begitu banyaknya antrian haji. apalagi kalau bukan antri gelar/label haji di belakangnya. toh ini sudah seperti jalan-jalan spiritual, komersil sekali. Belum lagi sederet kelakukan orang-orang sok branded yang suka sekali mendewakan "label". Bagi saya, tidak pernah ada kaitan antara semua itu dengan kepribadian. yang ada - label itu seharusnya membawa kita pada kebaikan. semacam tuntunan .. dan tuntutan ... 

semua label tadi hanya seperti dapur di dalam rumah. seberapa kotor dan bobroknya hanya kita yang tahu.

bagi saya, setiap orang yang baik akan nampak seperti orang muslim. ini terjadi karena sedikit banyak label tadi sudah mempengaruhi alam bawah sadar saya. sehingga apapun yang nampak baik akan terlihat seperti sahabat, segolongan, dan sekeluarga. mungkin begitu pula yang terjadi di benak yang lain. dapur, tidak pernah terlihat. atau sekalipun terlihat, yang akan mereka tampakkan adalah kebersihan dan kenyamanan. bukan dapur sebagaimana aslinya seperti "label" yang sudah kita sematkan. label tadi persis hanya urusan pencapaian, barangkali dari segi keilmuan yang tidak bisa mengukur seberapa bijak atau seberapa baik moral dan ketakwaannya. hanya saja, semua orang berhak memiliki dapur dengan model dan harga seberapapun. asalkan ketika tampil ke depan dan menyuguhkan hidangan, ketika semua layak dan patut untuk dihargai dari segi dan angle manapun, maka saya rasa - itulah manusia sesungguhnya.

Bagi Tuhan, sekalipun saya tidak pernah masuk dalam departemen manapun - label terpenting hanya satu, seberapa bermanfaat dia bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. dan begitulah.