.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 23 June 2013

Prinsipku, Prinsipmu


saya katrok, katamu.
nggak punya gacoan, gandengan, pegangan.

biarin saja, itu kata saya.
itu main engklek apa tongkat? kok digaco digandeng.
lha emang kenapa kalau saya katrok? dosa?

iya, tukas kamu.
saya ketawa. saya memang suka berbeda
saya dosa ya biar saja. yang nanggung saya kok

kalian bilang, tidak lumrah.
bagaimana kalau tidak bisa ungkap rasa?

oh tidak, cinta ada dimana-mana.
bahkan tuhan tidak pernah bilang kalau sayang sama saya
ibu bapak saya tidak terlalu banyak memuji saya
teman saya suka mengejek pada tampilan saya

tapi itu semua cinta
itu semua ada, bisa dirasa kan?

tapi punya status jelas beda
iya, memang beda.
pacar, mantan pacar, calon pacar -
saya bisa lebih galau kalau saya dianggap barang bisa diatur kemana-mana

prinsipmu, prinsipku.
dua kepala, ya jelas beda.
suatu saat nanti pasti kita berdebat, lantas ketiwi ketawa.

pacarmu, pacarku.
tidak boleh kan dicoba-coba?
atau boleh enggak dibeda-beda kurang lebihnya?
selera kan beda-beda. tau kan ya?

"goblok!" kata setan
jaman gini nggak punya gacoan? eman-emaaaaaaan.
 "goblok!" kata saya
hari gini nggak punya imaaaaaaaaaaaaaaaaan.

tapi kan kasihan yang kamu gantungin. anak orang loh
lebih kasihan kalo diputusin kan?
kan kasian klo kamu dianggap gak laku. ndeso. gak eksis.
bukannya yang udah laku kalo dilepas namanya bekas ya?
barang bekas kan harganya nggak tinggi

kambing mengembik. anjing menggonggong. kucing mengeong.
kalau hanya untuk bilang sayang sama kucing, saya tidak perlu ikut ngeong juga kan?
kucing kenyang kalau dikasih makan, bukan cuman dipanggil sayang.

perhatian ya perhatian
jelas beda cuman sekedar dikekang
sayang ya sayang
sekalipun tidak diumbar, itu tetap sayang bukan?


tidak perlu sama untuk ungkap | saya sedang jatuh cinta.

Saturday, 22 June 2013

"Tahi" Cantik

“Ya ampuuuun, lalat sering banget ya nemplok di muka kamu?”

Saya mengerutkan kening refleks, bingung. Lalat? Apa ada hubungannya dengan nama saya latifa?

“itu, tahi lo banyak banget.” Dia ketawa mangap. Saya menepuk jidat. Tambah bingung. dia ngomong jorok? ngatain saya juga? * double notes.  

Aduh aduh, sejak kapan itu nama tahi lalat jadi arti sesungguhnya? Itu  kan cuman istilah, dan istilah itu nggak pernah sesuai sama yang namanya kenyataan. Kalau toh iya itu emang asli tahi lalat yang nemplok di muka saya, emang lalat pernah buang “tahi” ya? tapi beneran deh, saya belum pernah lihat “tahi” nya. (sori ngomong jorok, piiiip ****** sensor).

mengalir ke lautan


bagaimana kalau nanti usiamu sudah tidak akan lama lagi?
bisakah hidup akan sebahagia ini, saat bersamamu?
aku tersenyum. bening matamu terbelah.
tapi, tidak ada kupu-kupu tanpa ulat.
yang terbelah, mati, dan muncul indah yang baru

sementara pohon sudah tumbang dan tumbuh berganti ratusan kali
aku akan berada di bawahnya.
mengamatimu bersama dedaunan yang kadang mengintip di sela jendela
aku disana, masih di tempat yang sama.

kembalilah …
disana bunga tak layu
disana terhapus debu resahmu

kembalilah … ke lautan …
seperti air yang terus bergerak
menemui muara, bahagianya 
kembalilah … ke lautan, menemuiku.

Thursday, 20 June 2013

Berbagi "Kasih"


“Terima kasih” Pesan itu tepat sampai di nomor henpon saya. Dan jawaban yang mayoritas akan diberikan adalah, sama-sama. Bukan kenapa-kenapa, tapi saya mulai janggal dengan artinya terima kasih itu sendiri. Apa yang telah berbuat baik itu namanya kasih? Atau barang yang dipindah tangankan tadi namanya kasih?
Ada dua suku kata yang digunakan, yaitu terima, dan kasih.

Itu artinya, ada sesuatu yang diberikan – karena jelas mereka sudah mengucapkan akad “terima” itu tadi. Terima kasih dapat diartikan : si pengucap tadi telah menerima suatu hal. Tetapi kasih disini sangat absurd, abstrak, tidak jelas, blur. Menurut kamus besar bahasa kepala saya, terima itu artinya: nampi, memegang, mendapat. Dan kasih, multi tafsir sebenarnya kalau mau diartikan. Saya rasa semua orang ngerti, bahwa kasih yang paling guedhe, ya kasih dalam arti Rohman Rohim milik Gusti Allah. Yang maha pengasih, dan maha penyayang. Tapi, semua jelas mengarah pada hubungan social, atau lingkup lebih kecil lagi yaitu interaksi antara dua orang.

Kalau bicara soal kasih ibu, jelas, semua sudah hafal … "kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa". Nah, kasih disini harus diartikan bagaimana?                     

Wednesday, 19 June 2013

Duh Gusti, Sepurane

Banyak tulisan tersebar, banyak kata terumbar. Ada yang berguna, ada yang sekadar nafsu belaka. Ada yang membawa berkah, ada yang membawa masalah.

Jangan-jangan … tulisan dan kata yang sudah sempat saya sebar, boleh jadi tak pernah bermakna apa-apa. Hanya tulisan sok keminter[1], sok kemenyik – seperti kata cak nun, atau seperti pepatah yang sering menggema dimana-mana. Saya ini hanya tong kosong yang berbunyi nyaring.

Nyesek sekali mendapati usaha mendisplinkan diri ternyata hanya sekedar tulisan peramai suasana, yang sama sekali tak punya isi apa-apa. Kosong, melompong. “Alias nggak guna”. Terlalu panjang, terlalu bertele-tele namun tidak mengena, atau niatannya memberi saran tetapi malah menjatuhkan, niat menyebar kebaikan tapi justru ditafsir kesombongan. Atau yang lebih parah, ternyata saya hanya sedang mencari popularitas, status, keduniawian.

Duh gusti, sepurane! Kawulo[2] khilaf. 


Tuesday, 18 June 2013

Fatwa Demoooooooooooooo Tuaan!

Tentang kenaikan harga bbm. Saya tidak tahu formula yang tepat atau lebih mutakhir untuk menyelesaikannya. Tapi pak DPR, pak Pejabat, pak Presiden, saya bisa bersabar atau menahan napas menunggu ketuk palu kenaikan bbm yang hanya seribu lima ratus itu …

Kenaikan bahan makanan, harga lain yang ikut melonjak, subsidi yang salah distribusi? Ah, bukankah  kita sudah terbiasa dengan  lonjakan seperti ini? Naik turun harga? Rakyat Indonesia memang kreatif, pandai menggunakan celah sesempit apapun. Lebaran, menimbun barang, dan ekspor illegal itu termasuk ke-kreatifan bukan? Saya rasa banyak orang terlalu lebay menyikapinya, kenaikan semua yang saya sebutkan di atas tentu tidak mereka pedulikan ketika itu suatu konser, gadget baru, dan baju-tas-aksesori mahal. Itu sungguh tipu-tipu tidak beralasan ... 

Demikian salah satu dialog gila :     

Saturday, 15 June 2013

Teror Sarkem


“Kenapa pak? Capek?” Istriku menyambut di depan pintu. Mengambil tas jinjing yang kubawa seharian. Aku menggeleng, “Tidak, mungkin hanya pusing mendengar selentingan berita di luar.” Istriku beranjak ke dapur, membikinkanku segelas kopi panas seperti biasa.

Kurebahkan badan di sofa ruang tengah, sambil mengambil remote televise dan menyalakan salah satu channel. Akhir-akhir ini, berita di televise kerapkali membuatku panas telinga. Koalisi partai tiba-tiba memintaku untuk menjadi salah satu kandidat calon gubernur periode Pemilu tahun depan. Itu semua permintaan hampir tiga perempat suara konvensi partai kontingen kota. Aku tak bisa mengelak, boleh jadi inilah amanat yang harus sebaik mungkin kupanggul. Hanya saja, yang membuatku mengernyitkan kening, setelah  wacana pemilihanku sebagai calon gubernur yang belum final itu, tiba-tiba saja banyak issue merebak. Lebih santer, dan lebih sadis. Aku seperti diserang habis-habisan dari banyak sudut. Hanya satu pertanyaanku, siapa yang membuat issue itu meluas sampai sekarang? Toh itu belum jadi konsumsi public. Ini baru wacana internal partai saja.  

Kutarik perlahan dasi yang masih terpasang rapi di leherku. Kulemaskan otot-otot leher yang mengeras. Meletakkannya sembarangan di kursi. Sambil merebahkan kaki dan punggung, kuabaikan berita di televise. Kuambil Koran hari ini, membacanya sekilas. Mataku membeliak. Di halaman depan Koran daerah itu, terpampang jelas fotoku.

“Berita opo iki?”

Friday, 14 June 2013

Hero-Hero polos

            Suasana padepokan  itu tampak ramai siang ini. Berkumpul para alumni-alumni perguruan yang memiliki ribuan siswa, tumpah ruah bentuk manusia. Dari yang benar-benar manusia sampai manusia jadi-jadian. Robo, yang baru datang beberapa menit lalu, mendarat dengan pesawat jet pribadinya langsung berlari menghampiri gatot. Bersalaman penuh rindu, melepas kangen katanya. Dari jauh nampak Suman melambaikan tangan, sibuk merogoh dompet membayar ongkos taksi di halaman depan. 

            “Hoooi! Gimana kabar, mas bro Tot? Aman-aman saja, to?” Robo bertanya ramah, sambil beberapa kali tersenyum. Diselingi tanya keheranan Robo pada Gatot yang berubah drastic menjadi begitu kekar. Berpenampilan menarik, persis seperti itu .. Atlet angkat beban paling terkenal seantero indonesia. Gatot hanya mringis [1]secukupnya. Membatin, tidak tahu saja itu si Robo, Gatot bisa punya badan six pack gara-gara minum jamu galian singset campuran madu dan telur mentah selama bertahun-tahun. Dia harus menyesuaikan tuntutan profesi, usut punya usut, katanya Gatot sekarang jadi bintang iklan jamu kuat.

Siapa itu? Yaya, Ade Ray. Robo tertawa renyah, Gatot menyikut Robo.

“Kau berubah ganteng sekali, Tot? Aku kalah saing sama kamu, ini”. Dua kawan lama itu sibuk menumpahkan tanya satu demi satu.

“HEI HEI!! Suman, yang nama panjangnya Suparman, hero KW 9 ------ katanya masih saudara sama superman itu menepuk bahu  Robo dan Gatot. Tersenyum puas akhirnya sampai juga di padepokan yang sudah lama dirindukannya. Maklum, sudah beberapa bulan terakhir banyak sekali proyek yang harus dikerjakannya. Sambil mengambil hidangan yang disediakan di ruang utama padepokan, mereka bertiga terus bercanda. nostalgia masa muda, sebelum disibukkan dengan urusan ini itu.


Tuesday, 11 June 2013

Kangen


# Teng. Teng. Teng! Jam di sudut kota berdentang.
Sudah pukul dua belas. Kulihat layar di telpon genggamku, hanya gelap. tak ada kerlip lampu, tak ada getar, tak ada apapun.
Tak ada siapapun yang kuharap datang, sekalipun sekedar lewat kata.
Dia … ?

# Pukul satu malam.
Mataku terus berkedip, menjaganya agar tidak terlelap. Barangkali saja dia ketiduran, kelewatan, atau dia terlalu lelah hanya untuk sekedar mengirim pesan. ayolaaah, sudah hampir sejam kurelakan waktu tidurku untuk sekedar menunggu ada doa darimu.
Kapan muncul namamu di layar henpon-ku?                                    

# Pukul sepuluh malam.
Bahagia, banyak yang berkirim doa. Banyak yang mengirimkan suka.
Tapi, sepi …                                                           
seperti kurang garam, hambar.  

Saturday, 8 June 2013

Rindu Muda

Hari ini. Terhitung beberapa jam lagi, ternyata hampir Sembilan tahun tidak bersua lengkap dengan teman-teman lama, yang bukan bagian dari “sepah” itu. Boleh dibilang saya rindu. Ya, setidak-tidaknya karena ada moment pengulangan hari kelahiran saya, maka saya berniat mengumpulkan mereka – apapun jalannya, berapapun jadinya. 

Tapi ternyata …

Jauh panggang dari api. Saya harus menelan riak sendiri (ya memang harus begitu)

Pemberitahuan itu sudah dikirimkan seminggu yang lalu, mungkin malah lebih. Saya pikir itu sudah lebih dari cukup untuk mengumpulkan separuh masa lalu, bahwa saya ini, atau mereka itu ; masih sama seperti dulu, teman-teman seperguruan waktu sekolah dasar.
Kepingin ketawa. Kepingin marah. Kepingin sebal. Tapi ya mau bagaimana lagi. Untuk banyak masa lalu disana …

            “Bolehkah rindu pada masa muda? Saat berkepang dua, bermain lompat tali meliuk bersama?
            Boleh, boleh, katanya.
Jawaban yang sama juga selalu menjadi keyakinan dalam dada. Ya, tidak apa. Toh rindu memang wujud suasana suka cita.
            Apa salahnya hanya sekedar rindu pada-nya[1]? Tidak, tidak salah  katanya.

            Hanya saja, yang dirindui ternyata tidak mau merasa, sekalipun ada di sisi kita.”
  
Sedetik kemudian saya termenung. Ingin menyepi, belajar menerima. Bahwasannya porous kehidupan bukan hanya terletak di saya. Sekalipun saya special, di luar sana, semua orang juga menganggap dirinya special. Dan itulah poros mereka, orang-orang tersayang.
Untuk teman masa muda …
Semoga tidak menjadi sepah adanya, masa lalu bisa jadi masa depan bukan?




[1] masa muda.

SPP: Sing Penting Putih


“Dibuka, casting Iklan. Pria/Wanita.
Berkulit putih. Tinggi proporsional. Berpenampilan menarik.
Fee : 150.000/jam, plus makan siang.
Berminat? Datang saja ke gedung panembahan Senopati hari Minggu, 09 Juni 2013
Pukul 13.00-17.00"

Semar yang seselesainya jalan-jalan bersama  sanak keluarga, sekaligus anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu tidak sengaja membaca sekelebat pengumuman di tembok pinggir lapangan.

Eh eh eeeeh! STOP!

Mengerem mendadak lah itu si semar ke di depan kertas putih yang sudah sebagian besar dicoret-coret itu. Matanya kethap-kethip[1], setengah tertarik, setengah pesimis.  Lha gimana tidak, itu iklan kok menarik banget. Dengan fee seratus lima puluh ribu per jam, tinggal sem mesem, tinggal pet jepret, nangis ngguyu, Semar bakal kaya mendadak sekaligus terhindar dari omelan yang sepanjang hari diterima Semar. Sudah beberapa minggu ini dia belum dapet panggilan narik. 

Maklum saja, Semar baru saja di PHK dari kantor, soalnya taksi-taksi sekarang sudah ndak laku. Orang-orang kaya lebih suka ngoleksi mobil, yang itungannya berhuhah itu. Berjubel-jubel tidak karuan. Jadi taksi sudah nggak punya fungsi. Belum lagi sopir-sopir yang suka usil njambret, malih rupo dadi hantu[2], bikin orang jadi nggak tertarik naik taksinya semar.

Walhasil,  Semar, di rumah cuman dapat omelan dari istrinya, Dewi Kanastren.
             
“Paaaak! Ayo to, selak surup [3]iki lho.”

Friday, 7 June 2013

Lempar lemparan Tahta

Rama, yang sedang menghabiskan cuti kerja dengan ber-honeymoon di pulau dewata sehabis perjodohan busur panah itu lagi asyik-asyiknya menikmati senja di pantai, berduaan. Ceritanya, Rama yang sedang melakukan perjalanan sehabis berhasil menumpas raksasa bersama Resi wiswamitra diajak ikut sayembara. Tidak perduli eh itu zaman Siti Nurhaliza atau Siti Badriah, Rama selalu menurut apa kata tetuanya. Barangsiapa bisa narik itu busur sakti, maka dikawinkanlah dia dengan Gadis tercantik di negri itu. Ha wes namanya juga pangeran sakti mandraguna, actor utama, urusan busur sakti kecil buat Sri Rama. Dia berhasil. Wes ewes ewes bablas busure. 

Di bawah payung berukuran sedang, sekaligus menyewa beberapa peralatan makan untuk dinner di pinggir pantai. Kata guide paket honeymoon sih biar lebih romantic. Dikira Dewisin, dia akan diajak ke rumah makan super mahal dengan mengenakan gaun beludru warna putih yang bling-bling, sekaligus ditambahi aksesoris tengkorak kayak artis favoritnya. Dia sengaja milih gaun yang agak kebuka, Eh ternyata dia malah diajak ke pinggir pantai semalaman suntuk. Angin was wes was wes malah bikin Dewisin mabuk, meriang dadakan.

            Baru dua hari mereka berdua terbang ke Bali, menggunakan pesawat jet pribadi kerajaan. Langsung, dawuh dari raja Ayodya, Dasarata. Pokoknya seumpamanya ini presiden, maka burung-burung itu harus minggir ngasih jalan buat pesawatnya Sri Rama. Prosedural pengguna jalan udara, VVIP. Di perjalanan hendak pulang ke hotel, tiba-tiba lampu henpon [1]Sri Rama kelap-kelip.

            “Ada whassap gusti, ada whassap[2]”.  

Thursday, 6 June 2013

Surpanaka Lupa Ngaca


Surpanaka gelap mata. Cinta katanya memang bisa bikin akal jadi digelap-gelapkan. Apalagi ini love at first sight, cinta pada pandang pertama. Betapa speechless-nya Surpanaka ketemu lelaki luwaaar biasa. Ditemuinya seorang lelaki gagah perkasa yang bersembunyi di balik pakaian sederhana di dalam hutan. Daerah Kekuasaannya pula, barangkali saja ini mempermudah nafsunya jadi nyata. 

Dilihatnya lelaki di depannya itu sedang mencangkul, nanem padi barangkali, buat persediaan makan. Surpanaka yang tadinya mau keliling ke rumah resi di kampung sebrang jadi lupa muasal. Perintah kakandanya untuk mengganggu resi yang sedang tapabrata diabaikannya. Masa bodo saja lah, ada orang ganteng kok dibiarkan saja keliaran tanpa pendamping. Begitu pikirnya.

Sementara lelaki itu, Sri rama, mulai mencium bau tidak sedap. Kalau tidak salah, bau-bau seperti ini hampir sama dengan tanda bakal ada bencana datang. Sri rama mendongak. Dan sebelum Sri rama sempat melihat tubuh besar hitam nan judesnya …

Cling … cling … cling …!

Ujug-ujug surpanaka yang adik kandung rahwana itu berubah cuaaaantik paripurna. Wah, jangan dibandingkan sama manohara yang tih putih mulus itu. Kalah jauuh. Lha wong ini hampir kayak mannequin[1] yang dijadiin pajangan di toko-toko mall kerajaan sana.    

Semar Blusukan


Lampu BBM Semar kelap-kelip, dilihatnya pesan itu dari Togog di negeri seberang. Togog ndagel yang jadi temannya diam-diam di dunia lain. Togog yang nggak sempat lahir diwakili oleh Semar secara mak bedunduk[1]. Sejak itu Togog dan Semar punya ikatan batiniah yang tidak terpisahkan, ya lewat bbm-an tadi itu. 

            “Gaswat, Sem! Gaswat, Mar!” Broadcast dari BBM si Togog dibuka perlahan oleh si Semar.

“Ati-ati lho. Anakmu dirawat  temenan. Ojo dicedakno karo tipi[2]” Semar kalang kabut. Beberapa menit yang lalu  justru dilihatnya si cepot lagi duduk anteng di depan ruang tengah, nonton tipi sambil ngemil gorengan. Sementara anak-anaknya yang lain ikut duduk manis di sebelah cepot.

            “Lah kepiye tah? Aku sibuk ngurus negoro, Sri karastren lagi ikut masak di dapur kerajaan. Ono opo toh kok gaswat?” Semar mengernyitkan dahi. Panggilan dari Sri Rama diabaikan sejenak, malah sibuk menunggu balasan BBM dari si Togog. Kepala semar mulai diracuni berbagai spekulasi, dikiranya Togog bakalan ngibul lagi seperti biasanya. Seperti minggu lalu saat si Togog tiba-tiba bilang dia mau nyalon jadi legislative. Dia kan sudah jadi artis dadakan sekarang. Semar percaya saja, mendukung sepenuhnya. Lha wong namanya teman itu kan harus saling dukung. Weladalah, ternyata Si Togog cuman mau cari sensasi. 

Wednesday, 5 June 2013

Titisan Raja Majapahit

“Kalau bukan karena udah punya buntut, belum tentu aku masih betah jadi bininya.” Dewi sarunti, yang nekat mengajukan surat pengunduran diri dari hotel tempatnya bekerja malah gerundelan nggak karuan.  Sore hari sepulangnya dari tempat kerja, kelayapan nunggu waktu senja bukannya melihat semua kerjaan beres di rumah, malah ngliat suaminya masih tidur berselimut sarung. Tidak berubah posisi sejak tadi pagi. 

Anaknya dibiarkan saja menangis kelaparan di sampingnya. Ealah, bojo gendeng![1] wes dicariin makan kok yo tetep ngimpi.

Diamatinya lelaki di hadapannya itu, menghela nafas panjang. Sebal bercampur marah. Campur aduk. Dilihatlah gerakan dadanya, bergerak atau tidak. Setelah lima menit mengamati dan tidak berubah posisi juga.
             
“Eh, jangan-jangan mati?”

Kepuasan Yang Maha Kuasa


Beberapa hari memantau berita internasional membuat bergidik rasanya, pernikahan sejenis mulai meramaikan undang-undang di Negara maju. Pengabaian hal-hal penting dan pementingan hal yang tidak penting. Sekalipun itu sama-sama merupakan sebuah hak asasi manusia yang dewasa ini begitu di elu-elukan. (what? Boleh jadi sekarang ham jadi nggak punya dasar. Pokoknya asal kita selalu ngrasa benar, maka orang lain salah. Dan itu termasuk menyalahi ham  buat mengutarakan pendapat, dan kebebasan bersikap. Boleh dong dilaporin? Kata mereka boleh .. Leh … leh .. Leh … luweh[1]

Well. Saya pikir ada baiknya juga Indonesia belum dianggap sebagai Negara maju, karena implikasi terhadap itu semua adalah: segala sesuatu yang dianggap tidak menghasilkan uang atau mengganggu roda perputaran uang bisa dilegalkan. Maju itu berarti = semua bebas. Dan berkembang itu = campur aduk.

Tapi ada hal penting disorot disini. Semua lagi-lagi nyangkut bin nylempit di bagian nafsu. Ini boomerang paling ampuh sepanjang peradaban manusia. Dahsyat. Bombastis. Kata mas tukul sih, “Amazing!". Tidak ada hal lain yang membuat manusia maju sekaligus mundur dalam perkembangan pola pikirannya terkecuali karena hadirnya si nafsu itu sendiri.

Nafsu … adalah …
Kepingin …
Ngoyo
Ngotot …
Gairah …
Hasrat …

 Olokodut, kecirit, … ah dan sebagainya.

Sunday, 2 June 2013

Skripsi : Serangan Fajar Maha Dahsyat


“Eh, udah ngajuin judul?” Saya menggeleng tolol. Bingung.

“Si dia udah di acc lho judulnya, lo kok tumben nggak ikut se-genk?” Muka saya tambah keliatan bloon.  Ditambah keringat dingin.

“Beneran? Sumpeh lo? Susu tumpeh di muke lo?” Ngusep dahi yang penuh keringet. 

“Iya! SUMPAH MATI DEH GUE!” Jleb. 

Saya pingsan di tempat. 

Beberapa hari terakhir tema memuakkan yang sering saya lihat, dan walhasil membuat saya panas kuping adalah ; skripsi. Satu kata ini sukses membuat saya kewalahan, pusing muter-muter seisi kampus, dan parahnya hanya saya yang tahu. Pura-pura cuek, padahal sih mikir. Pura-pura egp, padahal sibuk nyuri celah mereka pas lagi nggak awas. saya seperti disadarkan dari tidur panjang oleh si skripsi tadi. tahu-tahu sudah semester enam, dan yah, itu brarti sebentar lagi kitalah yang akan melanjutkan generasi abadi kalau nggak segera mikir tindak lanjut hal ini.  tau-tahu semester akhir, padahal kayaknya baru kemarin buka kitab undang-undang hukum pidana.

wooooi! baru nyadar udah tua?

Momok hebat bagi para mahasiswa akhir dan nggak punya kerjaan lain, walaupun, yeaah – sejujurnya si momok  ini tidak terlalu menakutkan seperti yang dibilang orang-orang. (kanan kiri sibuk ngeluh judul nggak di acc, kanan kiri sibuk cerita besok sidang, kanan kiri sibuk minta tolong jadi pembahas. Hoaaaaah, ngoap lebar. Saya harus bilang apa?)

Jadi-Manusia-Aneh

Di era yang serba campur aduk seperti sekarang, percampuran adat- budaya- agama, dan solidaritas yang dikedepankan pada akhirnya mengakibatkan degradasi yang semakin beragam. Sekaligus dekadensi, yang, Tidak dapat dideteksi. Hingga salah satu dari kita yang memiliki pendapat berbeda justru seringkali mendapat cap aneh; gila; nyentrik, kurang waras, dan cap miring/negative lainnya. Bisa jadi, inilah yang dampak kewajaran manusia untuk menjadi dirinya sendiri. Tampil apa adanya. 

Berani dimulai dari menjadi berbeda, tidak apa-apa bila pada akhirnya mendapatkan sebutan aneh itu, dan mengekor selama-lamanya. 

Baiklah, hal yang saya sebutkan tadi bisa diamati dari berbagai fenomena orang sukses, orang hampir sukses, dan ditolak menjadi sukses. Sebagian besar mereka yang berani tampil menjadi dirinya sendiri dan BERBEDA, nyatanya mendapat tempat sendiri bagi setiap selera. Ada klasifikasi bagi orang perorang untuk saling tertarik, tarik menarik, dan pada akhirnya terciptalah suatu republic kehidupan di dalam sebuah republic yang lebih besar.

Karena focus yang saya amati adalah kehidupan para penulis, maka yang akan saya paparkan disini adalah keanehan yang dialami dan dianut para penulis. Boleh saya katakan begini, pergeseran dan ketakutan manusia untuk tidak nampak menjadikan kita mudah terbawa arus. Mudah jadi pengikut, tanpa tahu esensinya, alasannya tidak jelas. Kabur.

Kenapa suka boyband? Karena temen-temen suka, takutnya kalau nggak suka dianggep katrok.

Kenapa suka ini? Ya ikut-ikut aja.

Aneh dengan jawaban ini? Tentu saja. Jawaban yang seperti ini, sekalipun dia merupakan jawaban konkrit. Tapi si penjawab akan dengan mudah dicap sebagai orang yang tidak punya pendirian. Dan sebagian besar alasan bagi mereka pengikut modernitas pada akhirnya akan membawa kegalauan tiada akhir. Lha wong tidak punya dasar, tidak punya pedoman.

Menjadi seseorang yang sukses memang selalu dikaitkan dengan perbedaan jalur dan cara tempuh. Entah harus ngesot, lari ngebut, atau harus pakai ontel dengan beribu beban.

Cak Nun, yang baru saja ikuti beberapa waktu terakhir juga menyuguhkan sudut pandang orisinil. Politik campur aduk, tidak murni agama saja walaupun terkenal sebagai dai, atau tidak melulu soal Negara sekalipun tulisannya hampir selalu mengaitkan dengan urusan kesejahteraan rakyat, bahkan bangsa setan pun masuk jadi bahasan. Mungkin juga sama dengan sudut fahd djibran tentang dunia rahim yang bisa bicara, dan setan yang juga senang duduk nongkrong sambil main gitar.