.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 22 May 2013

Rekahan Senja



Aku berhenti berpikir segala hal tentang aku, aku dan aku, saat Dev mulai putus asa menasihati untuk berhenti dari urusan remeh temeh itu. Dia selalu bilang, sesama saudara tak pantas menyimpan diam  lebih dari tiga hari. Dan kau? Tidakkah kau  merasa bersalah mendiamkannya hampir tiga bulan? 

Aku diam. Ingin berkilah bahwa diam adalah emas daripada berkata menyakitkan. Tapi aku yakin, dia pasti lebih hebat menangkis argumenku yang satu itu. Setiap pertemuan terencana atau tidak, dia selalu mengingatkan itu padaku. Untuk lebih baik memaafkan, untuk lebih baik berhati lapang, dan sebagainya. 

Berulang-ulang. Dan itu sungguh menyebalkan.

Aku tahu dia bermaksud baik, tapi … Aku bosan mendengarnya bicara itu-itu saja. Tak bisakah dia berganti topic tentang harga sembako, atau paus di vatikan yang baru saja diganti, atau hal lain seperti mengapa kentut harus bau, itu jelas lebih menarik dan menyenangkan selain topic perselisihanku dengan Yesa. 

Aku menghela nafas panjang, sebal.  

Harusnya aku menganggapnya lelucon seperti hari-hari sebelumnya, Sejujurnya semua ini hanya hal sepele. Tapi aku gengsi, sekaligus malu untuk meminta maaf lebih dulu. Sekalipun banyak buku habis kubaca, sekalipun banyak dalil kumengerti dan kuhafal di luar kepala bahwa orang yang berbesar hati untuk memaafkan selalu lebih baik tinimbang membesarkan permasalahan. Kulihat di sisi sana Ines memberikan semangat padaku, melempar senyum yang mungkin kode bahwa aku harus bersegera mendekati Yesa. 

Ya, mungkin aku yang harus memulainya.
***

Yesa asyik tertawa melihat acara televise di ruang tengah bersama Ann. Tergelak tak kuasa, hingga matanya tak begitu memperhatikan sekeliling. Seandainya dia tahu aku berada tak jauh dari sisinya, ia pasti akan segera pergi, beranjak masuk ke kamar. 

Aku melirik lagi ke arah Ines, “Lekasl! Ayo!” Ines memberikanku semangat seperti tadi. Mengacungkan ibu jarinya ke arahku. Aku harus segera menyelesaikan ini. Aku bergumam dalam hati, berusaha sebisa mungkin menguatkan keraguan. Aku mengangguk ke arah Ines, doa dalam hati sambil mulai melangkahkan kaki mendekat pada Yesa. Sungguh, kurasa masuk ke kandang macan akan lebih mudah tinimbang memulai berdialog lagi dengan Yesa. 

“bodoh sekali bukan tom si kucing itu? Selalu saja kalah dengan tikus kecil” yesa terpingkal-pingkal di atas sofa. Matanya terarah ke televise. 

“iye, tolol banget tuh tikus”. Ann menimpali,  ikut terpingkal menyaksikan aksi kartun kesayangannya itu. Berlari, jatuh, berlari lagi, jatuh, dan terjepit alat jebakan  tikus yang dipasangnya sendiri di depan lubang persembunyian si tikus jerry. 

Tiba-tiba Yesa berbalik, hendak mengambil air minum ke dapur. Mata kami bertemu, bertubrukan. Aku Menelan liur, refleks aku menunduk. Ingin sekali segera kuucapkan kalimat itu, tapi bibirku urung menyampaikannya. Aku gugup, sekaligus takut menghadapi berbagai macam kenyataan. Kenyataan kalau-kalau Yesa lebih memilih untuk memutuskan persahabatan tinimbang memaafkanku, atau yang lebih parah, dia justru pergi dari rumah ini.

Yesa mendengus keras. Dari jarak sepuluh meter aku bisa mendengar dengan jelas aroma kebencian dan  keengganannya bertemu denganku. Matanya menahan amarah, bibirnya tertarik, dan gelagat tubuhnya yang serba tidak nyaman. Dia Berbalik lagi ke sofa, kukira dia mulai bisa mengurangi ketidaknyamanan untuk berada dekat denganku. Ternyata dia hanya kembali mengambil cangkir gelasnya yang sudah tak berisi kopi. 

Ia keluar, pergi entah kemana. Yesa Membanting pintu keras-keras.
Kami berempat saling bertatapan. Kaget. 

Senyumku terkulum. Berganti perasaan bersalah yang membuatku makin tersengal. Nafasku tertahan mengamati dari ujung ruangan, menyaksikannya pergi tergesa-gesa hanya demi mendapatiku berdiri di dekatnya. 

Mataku  memerah, menahan tangis. Mungkin aku benar, kala itu hendak membela keyakinan, berkeras kepala bahwa akulah yang paling benar dalam urusan ini. Tapi mungkin juga aku telah berbuat salah dengan merendahkan dia, dan bersuara keras karena tak terima. Kepalaku mendadak kosong, semua kata yang hendak kukeluarkan kini lenyap.
Aku sangat menyesal, sunguh teramat menyesal.
***
Tepat hari ini, dua tahun kami mengenal dekat. Dan sudah tiga bulan sejak hari itu kami tak bertegur sapa. Sungguh, bukan karena memperebutkan lelaki yang sedang dia suka yang ternyata justru menyukaiku. Atau menertawakan hal sepele seperti siapa yang paling benar atau siapa yang paling bodoh; seperti biasa. Merasa siapa yang lebih cantik, atau berwajah biasa; rutinitas lelucon yang tidak membuat perdebatan tapi membuat kami tertawa terpingkal-pingkal menyadari ketidaksempurnaan. Kami berselisih hanya karena urusan sepele, yang tak kuduga akan berjalan panjang akhirnya. 

Dua tahun lalu.
Kulihat gadis berambut kepang itu melambaikan tangan ke arahku. Bingung menatap kerumunan orang yang berlalu lalang, mengusap peluh yang membanjir di keningnya. Dia Berteriak- hei dan menatap lurus ke arahku. Aku mendekatinya.

team Api, atau?” dia mengangguk. 

Aku tersenyum puas, akhirnya setelah lima belas menit berkeliling halaman gedung kampus yang dihuni beribu mahasiswa baru aku bisa menemukan satu saja dari kelompok yang akan menjadi teamku hari ini. Aku menghela nafas panjang, bersyukur karena setidaknya, setelah ini aku tak perlu ngos-ngosan sendirian mencari anggota team yang masih berpencar di tempat lain. Sementara itu, panitia ospek sudah berteriak kesana-kemari mengingatkan waktu yang kami punya tinggal tiga puluh menit untuk lekas berkumpul. 

“Ayo ayo! Dua puluh menit lagi! Lekas berkumpul di halaman tengah. Atau kalau tidak kalian akan segera mendapat hukuman. 

“Ayo ayo!” kulihat kakak angkatan itu antusias sekali mengejar-ngejar kami dengan hukuman. Seolah semua orang takut diburu waktu. Aku tertawa sinis, terus focus mencari sebagian orang yang belum kutemukan. 

Sambil berlarian mengangkat papan bertuliskan team api, aku mengulurkan tangan padanya. “namaku Fika.” Dia menyambut uluran tanganku, terengah-engah mengikuti langkah kakiku yang jenjang. “Namaku Yesa. Y-e-s-a”. aku mengangguk, melanjutkan lari. Sambil terus mengedar pandangan, aku berfikir. 

Aku mengajak berbincang Yesa sembari tetap mencari. Berkenalan sepenggal-sepenggal, darimana, tinggal dimana. Mengeluhkan mengapa kami berdua mau-maunya dibodohi seperti ini, mencari satu sama lain orang yang tak dikenal dengan aturan yang tidak benar-benar kami mengerti. Yesa tertawa, menertawakan dirinya sendiri, berkomentar bahwa kita memang selalu diajari dan dilatih tak berdaya. Dan seperti inilah contohnya, aku ikut tertawa menimpali bicaranya. 

Kulihat di seberang taman tiga orang wanita yang berkepang dua menatap ke arah kami. Kami berdua berpandangan, berharap mereka adalah salah satu harta karun kami yang tertinggal. Aih, lagi-lagi aku mengulum senyum. Bagi kami, harta karun ini bisa mengalihkan kami dari segudang alasan senior untuk memelonco kami- dan sejak saat tawa itu tersungging dari mulut kami berdua, kami berjanji tidak akan gentar walau diperlakukan kasar. Ini kewenangan kita menolak. 

Dan benar, mereka bertiga menghampiri kami. Menunjukkan gulungan kertas bertuliskan api. Sontak aku dan yesa mengulurkan tangan bersamaan. 

“Namaku ye-sa. Namaku fika.”
Kami tertawa bersamaan. 

Dan sejak saat itu, inilah keluarga baru kami. Di tengah rantau, di tengah kehidupan baru yang memaksa kami dewasa.
***
Yesa mengirimiku pesan, memberikan ucapan tepat setelah adzan magrib berkumandang. Selamat liburan, itu pesan singkat darinya. Aku tersenyum singkat, Di balik kejam, provokasi dan persaingan mencari perbedaan itu dia tetap bersikukuh bahwa inilah kebijakan langit Tuhan.

“kapan lo balik? Tiba-tiba teleponku berdering, nama Yesa tertera disana. 

“pulang? Bukankah aku sedang di rumah kali ini? aku tertawa. Rindu menggodanya. 

“Maksud gue balik ke Jakarta, Non. Mama papa gue kangen sama lo” 

“Gue nggak cocok kali ikutan acara lo, Yes?” aku tertawa renyah, menimpalinya dengan lelucon.

“Maksud lo?” 

“Y ague kan pake hijab, yang lain pake mini-mini. Nggak lucu juga kali” aku tertawa lagi. Tak perduli di seberang sana, seseorang yang sedang menelponku justru menelan liur karena leluconku yang sama sekali tidak lucu. 

“Oh, jadi gitu. Emang lo pikir yang pake hijab lebih bagus gitu tinimbang sodara gue yang pake mini-mini gitu?” 

Aku diam. Menyumpal mulut. Oh tidak! Bukan begitu maksudku.

“Bukan, Yes. Bukan gitu maksud gue. Maksud gue, gue kan nggak boleh ikut acara begituan. Nggak etis-lah”. 

“Nggak etis? Lo pikir lo yang paling etis? Woi, gue juga kemarin pas acara hari raya lo gue dateng kan? Niat gue cuman silaturahmi, peduli apa gue sama etis nggak etis. Gue nganggep lo sodara, dan cukup. Alesan!”

Semua argumentku ditangkisnya habis-habisan. Aku mungkin salah melempar bahan candaan. Hingga pada akhirnya, telpon diputus. Aku tahu Yesa marah besar padaku. 

Perbincangan itu terbersit di kepala, empat bulan lalu. Saat libur panjang semester genap, Yesa tiba-tiba menelponku. Dan dengan alasan itu pula, keesokan paginya aku datang – menuju rumah Yesa. Mereka sama sekali tak mempermasalahkan perbedaan yang begitu kentara diantara kami. Toh mereka sama ramahnya padaku. Setiap aku datang ke rumahnya, mereka selalu menyiapkan makanan halal untukku. 

Dan untuk perbincangan penuh kesalahpahaman itu, aku tahu – semua hanya bermula dari ketidakpekaanku. 

Aku rindu berbincang dengannya. 

Tapi sudah tiga hari ini Yesa mendapat tugas penelitian di daerah yang  sebenarnya tak begitu jauh dari sini. Kusampaikan hal ini pada Ann, Ines dan Bian. Mereka tak berkomentar banyak. Takut mendapatkan asumsi buruk atau justru menambah keruh suasana.

“Kenapa kau tidak meminta maaf lewat telepon juga? Kau rindu berbincang bukan?”
Aku menghela nafas panjang. Semua ini bukan soal tinggal memencet tombol call pada nomornya. Semua ini soal aku. 

Ya, kurasa semua ini hanya bermula dariku. Dan ditemani rekahan senja sore itu …

Nama yang hampir hilang di phonebook handphone-ku  itu baru saja kutekan.


No comments:

Post a Comment