.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 24 May 2013

Dalam Rangka Pahala



Setiap kali saya berniat sesuatu yang di luar kata wajar menurut orang-orang di sekeliling saya. Saya selalu dianggap sedang meminta imbal atas apa yang hendak saya lakukan, saya diduga sedang jatuh cinta/patah hati, mengharap sesuatu, dan yang paling lucu – saya dikira hampir mati hanya karena mengirim pesan meminta maaf dan keikhlasan untuk khilaf (padahal saya orang yang notabene sering sekali mengirim kata-kata serupa). 

Beberapa hari lalu saya merasa sedang tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, saya pikir bahwasannya setiap hari jumat teman kampus saya selalu datang tanpa sarapan terlebih dahulu, maka saya berinisiatif membawakan mereka makanan ringan (red; gorengan) dalam jumlah yang, ya cukup lah buat mengganjal perut dan menambah konsentrasi pagi hari. 

Tapi, lagi-lagi saya harus dibuat tersenyum dengan pertanyaan semacam ini … 


“eh, kok tumben ya bawa makanan? Dalam rangka apa nih?”

“ kok tumben nraktir? Pajak jadian yaaa?”

“Hayoo, kok senyum-senyum terus e, bahagia banget. Lagi jatuh cinta yaaaa?”

“Kamu kok baik banget e sama dia, jangan-jangan kamu suka?” 


Dan setelah itu, serempak tanpa aba-aba dari konduktor , semua orang di kelas menggoda saya hanya karena kalimat dari satu orang. Terkadang malah gara-gara hal semacam ini saya jadi bahan lelucon seharian. 

Saya spontan mengerutkan dahi. Mereka bertanya “Dalam rangka apa?” Nah lho, bukannya saya biasa melakukan hal-hal yang dalam tanda kutip tiba-tiba seperti ini ya? Apa semua yang kita lakukan harus dengan “dalam rangka” sesuatu terlebih dahulu seperti para calon legislative atau apalah yang suka mendadak baik, atau mendadak perhatian itu? Atau apakah semua kebaikan/perbuatan yang kita lakukan harus menyertakan “dalam rangka” yang semua itu selain hendak mendapat kualitas hidup yang lebih baik dan sebuah ucapan terima kasih tulus? Pahala mungkin? Tidak kan. 

Berbagi itu menyenangkan. Saling mengingatkan itu menyenangkan. Dan memberi perhatian pada seseorang itu bukan berarti kita selalu berharap disayang. Tapi inilah kewajiban yang harus dibiasakan.

Kita seringkali mengkaitkan hal yang satu dengan yang lain berdasar spekulasi. Mungkin saya juga masih sering ketelepasan menuduh mereka macam-macam hanya karena spekulasi saya yang tidak beralasan,  bahkan urusan jerawat pun bisa dikaitkan dengan budaya dalam rangka jatuh cinta, padahal itu murni siklus tubuh yang memproduksi minya berlebih. 

Budaya dalam rangka ini sesungguhnya sangat menyesatkan. Kita dianggap berbuat baik hanya karena punya maksud yang disembunyikan, padahal; tidak ada kata lain yang pantas saya ucapkan selain karena- itu memang suatu kebiasaan.

Barangkali saja, ketika suatu saat nanti di suatu tempat saya melihat seorang teman di jalanan sedang kesulitan/ atau butuh bantuan saya, saya memaksa berhenti tanpa persetujuan mereka dan ngoyo membantunya; bisa jadi kemudian saya akan dituduh membantunya Karena hendak mencari muka. Atau bisa jadi, ketika suatu saat nanti saya tak henti menyunggingkan senyum dan bonus binaran mata indah pada banyak lelaki yang saya kenal, bermanis kata dan beramah tamah pada mereka, saya bisa saja dituntut karena telah menggelapkan perasaan (pasal baru)  atau saya patut diduga telah memberi harapan palsu pada buih-buih perasaan mereka. 

Dan untuk budaya dalam rangka tadi: mungkin saja, setelah ini saya akan digugat banyak orang karena telah diduga hendak mencari citra karena menuliskan ini semua. Padahal semua tidak lebih dari dalam rangka pahala dan surga, itu saja.

No comments:

Post a Comment