.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 21 May 2013

Ekstra Waspada


40 orang yang menurut PPATK telah diduga menjadi titik-titik peredaran uang AF sekaligus yang menjadi bukti loyalitas AF terhadap makhluk bernama wanita tentu harus siap-siap gigit jari. Karena satu persatu nama-nama itu pasti akan terkuak. Sebelumnya, sefti – yang disini adalah istri syah dari AF sudah habis dikuras semua lumbung penghasilannya, mulai dari uang, rumah, mobil dan sepertinya masih banyak lagi asset AF yang lainnya. 

Setelahnya, vitalia sesha- seorang model majalah dewasa ikut terseret juga dalam kasus ini. kemudian bla, bla, bla …
tentu tidak perlu disebutkan kesemuanya siapa saja yang menjadi tempat aliran dana yang diduga termasuk salah satu cara pencucian uang tersebut. Yang jelas, ini membuktikan – selera AF dalam memilih aliran dana tidak sembarang buang saja. Ada alasan lain di balik pemberian harta mewah kepada beberapa wanita, termasuk adalah menurut saya sebagai jalan unjuk gigi bahwa AF adalah lelaki serba wibawa dengan kantong tebal yang suka  menyedekahkan harta pada seseorang yang diincarnya.

Baiklah, terlepas dari berapapun wanita yang menerima dana untuk pencucian uang ini, saya rasa- pada akhirnya prinsip kehati-hatianlah yang harus kita pegang teguh untuk urusan penerimaan uang, atau model harta apapun yang sebenarnya patut membuat curiga.

Dalam perdebatan Indonesia Lawyers club beberapa hari terakhir, serta menyimak berita-berita di televise, semua wanita tersebut memang sebagian besar tidak ada yang mau mengakui, apalagi disalahkan karena telah menerima uang yang menurut mereka adalah pemberian Cuma-Cuma seorang teman(tapi mesra) - meskipun toh pemberian tersebut sudah digunakan. Dengan dalih ketidaktahuan mereka tidak mau disalahkan. Boleh saja begitu, syah-syah saja, toh tidak semua kalangan rakyat memahami tentang urusan hokum, apalagi perpolitikan. 

Tapi di luar konteks hokum itu sendiri, sejujurnya hal paling mendasar yang dapat dijadikan acuan adalah (kalau dikaitkan dengan uu korupsi atau pasal penadahan, maka kalimat yang patut digunakan adalah “patut diduga” walaupun AF bukanlah seorang kader dari partai politik yang bersangkutan), kenapa tidak ada yang menerapkan prinsip kehati-hatian ini sebelum menerima aliran dana yang tidak bisa dibilang sedikit ini? untuk berhubungan intim AF hanya membayar 10 juta, sedang beberapa wanita lain yang sama sekali tidak ada hubungan hokum apapun justru menerima aliran yang lebih banyak lagi.
Kalaulah ini urusan transaksi seperti yang dilakukan M, di hotel xxx dengan imbal uang 10 juta, maka menurut saya ada hal yang dijadikan obyek, meskipun obyek yang ditransaksikan tidak sesuai dengan moral ketimuran. Lalu kemudian AA, yang juga menerima dana dari AF dengan obyek kampanye partai atau apalah- saya kira itu masih sedikit sinkron dengan urusan transaksi tadi. Ada uang – maka ada obyek yang dipertukarkan. Nah, yang jadi pertanyaan adalah, untuk beberapa wanita yang tidak punya hubungan hokum, tidak ada transaksi apapun, dan tidak ada kaitan apapun dengan AF selain urusan hati maka kenapa bisa dengan mudahnya menerima dana atau sedekah, atau apalah dengan nominal yang besar?

Ini jelas mencurigakan. Sekalipun AF mengaku seorang pengusaha bukan kader politik, maka semuanya patut dipertanyakan. Jika ada prinsip patut diduga dan kehati-hatian, mereka tentu akan lebih berpikir panjang. Sekalipun, dalam beberapa urusan dan keadaan memaksa bisa saja dimanfaatkan oleh AF untuk melancarkan aksi dan beberapa wanita tidak perlu pikir panjang untuk menerima segala macam kemewahan. 

Pasal penadah pun menerapkan prinsip patut diduga juga. Maka yang dianggap pelaku adalah orang yang melakukan sekaligus orang yang membelinya. Patut diduga bukan darimana hasil barang tersebut, kenapa bisa mendapat harga yang jauh dari pasaran| kenapa begitu murah? 

Untuk kasus ini, maka setiap orang haruslah bertanya darimana uang itu berasal? Apa pekerjaannya kok bisa sebegitu baiknya memberikan kemewahan? Hubungan apa? Maksudnya apa? Kalau hanya nominal tidak mencapai ukuran seratus ribu mungkin masih bisa dianggap wajar, ini namanya jelas pemberian, bukan pencucian uang. 

Allah sudah memperingatkan tentang hal itu, tentang sebab darimana rezeki itu didapatkan, dan kemana rezeki itu dialirkan. Semua akan ditanyakan kelak, jadi pertanggungjawaban. Jadi bukan lantas langsung diterima dengan alasan, ini rezeki saya dari Tuhan. Karena menurut saya Pemberian dari seorang lelaki kepada wanita dengan dalih Cuma-Cuma tentulah ada maksud “Dalam rangka”-nya. Dalam rangka mengambil hati, dalam rangka unjuk gigi, atau mungkin dalam rangka mensucikan diri dari korupsi, ya dengan bagi-bagi uang tadi.

Urusan pacaran atau pertemanan-pun, menurut saya haruslah menerapkan prinsip ini. sekalipun saya bukan orang yang mengharamkan sekaligus menghalalkan urusan dua hati antara manusia berlawanan jenis. Pemberian memang wajib diterima, bila jelas akadnya, bila jelas maksud dan niatnya, dan tentu tidak boleh berlebihan. Karena segala macam yang berbau pemberian memang kadangkala membawa dampak buruk. Perseteruan, cekcok di akhir cerita mungkin, atau justru diduga menjadi salah satu pelaku itu sendiri. Seperti yang sekarang terjadi. 

Dalam sebuah hadist pernah dinyatakan bahwa “Tidak akan aku tinggalkan pada manusia godaan yang lebih dahsyat bahayanya bagi kaum pria kecuali godaan wanita” (HR Tirmidzi). Nyatalah, bahwa disini, AF sedang ditelanjangi karena dia terbujuk rayu dua dari keindahan dunia, yakni harta dan wanita karena dia kurang menerapkan prinsip kehati-hatian alias ekstra waspada terhadap rayuan yang timbul daripadanya.

Dan pada akhirnya, doa saya- semoga kita semua dihindarkan dari segala macam bujuk rayu artificial dunia. Karena tanpa prinsip ekstra waspada  yang dipegang teguh dalam setiap keadaan. Menyesal-lah yang mengekor di belakang.
Selalu begitu.



No comments:

Post a Comment