.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 20 May 2013

Kualitas Hidup



Sejenek merenung setelah membaca artikel dari asma nadia tentang hidup dan kualitas kehidupan. Memang benar, semua hal yang kita usahakan, pada akhirnya memang paling Nampak di saat akhir kehidupan yang kita jalani. Berapa banyak orang yang menangisi, atau paling mudah, lihat saja seberapa banyak orang yang hadir menyolatkan dan berkata “bahwa kita adalah orang yang baik di mata mereka”. Terlepas dari itu semua, anggapan tentang dia si mayit yang akan masuk surge atau dimudahkan dalam penghisaban malaikat, saya tahu – kalimat kalimat tadi sejujurnya tidak lebih dari kalimat doa yang diaminkan banyak orang.

Masih ingat berita beberapa waktu silam? Tentang meninggalnya ustadz muda kenamaan Indonesia. Uje. Yang meninggal di hari Jumat, disholatkan ribuan orang, ditakziahi serta ditahlilhkan ribuan orang dari penjuru kota, bahkan sampai lingkup tetangga Negara berkenan hadir untuk menitip salam terakhir di makamnya. 


Semua meributkan keabsahan hari Jumat adalah pembawa berkah bagi si mayit, percaya atau tidak percaya, saya ikut mengamini saja. Belum lagi hoax bahwa posisi awan di langit hampir menyerupai orang yang berdoa mendoakan kepergiannya. Karena toh, dengan bukti ribuan orang hadir dan berjejal di antara keranda mayitnya – saya ikut merasakan duka mendalam sama besarnya yang dirasa keluarga. Anak-anak kecilnya, istrinya, ibunya, ah … ditinggal pergi memang urusan yang tidak pernah menyenangkan hati. 

Kembali pada hidup dan kualitas hidup. Bukan tentang kualitas hidup Uje yang akan dibahas disini, tapi tentu saja-  kita sendiri. Saya masih sering bertanya-tanya pada diri sendiri, apalagi sejak kematian Uje tadi. Saya jadi punya pedoman di kepala, bahwa saya juga ingin disholatkan ribuan orang seperti Uje. Saya jadi membayangkan betapa banyak hal yang harus saya kerjakan untuk mengumpulkan kebaikan yang sebegitu besar. 

Tidak perlu risau berpikir tentang dosa lampau. Jujur, menurut saya itu bukan kewenangan kita. Kalau saja kita mau berkaca pada kedalaman diri sendiri, sebenarnya – sudah seberapa berartikah kita untuk orang-orang di sekeliling kita? Orang tua, saudara, tetangga, teman? Dan untuk jawabannya, saya harus menghela nafas panjang. Karena saya tahu persis, saya masih merasa seperti manusia sunnah yang kadang dibutuhkan kadang tidak. Begitu-begitu saja, tidak begitu dianggap dan diindahkan hadirnya. Sekalipun ada, kita mungkin hanya jadi penggenap. Bukan actor utama yang selalu dicari-cari. 

Saya masih sering merasa enggan untuk membagikan rejeki yang saya punya, ilmu, kebahagiaan, dan nikmat dari Tuhan yang lainnya. 

Maka dari itu, mulai dari sekarang – dari lingkup kecil yang bernama keluarga, saya akan meningkatkan kualitas hidup dengan terus memberikan apa yang bisa saya berikan kepada mereka. Mungkin dengan begitu, pelajaran lebih berat akan saya jajaki dengan sendirinya. Karena seperti yang Dee bilang, saya akan kembali pada rumah yang dirindukan. Dan  Rumah itu adalah tempat saya selalu dibutuhkan.

No comments:

Post a Comment