.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 23 May 2013

Hitam Manis, Oh Hitam Manis



Beberapa orang dari teman saya selalu sibuk urusan warna. Bukan bukan, bukan warna baju- celana – atau hijab yang tidak match warnanya. Tapi warna kulit. Titik.
Setiap kali saya tempelkan tangan saya di sebelah tangan teman saya secara tidak sengaja, dia refleks menarik tangannya dan bilang. 

“Oh tidak! Kenapa tanganku item bangeet!” Sambil terus mencocokkan kulit tangannya dengan kulit saya.  Dalam hati saya hanya bisa membatin, apa sih pentingnya. Namanya juga bagian dari sononya. Sedang  mulut saya tetap menyunggingkan senyum, walaupun beberapa teman malah ada yang sengaja mengejeknya dari sisi kulit tadi. 

Saudara saya, yang berbeda sedikit warna kulitnya dengan saya juga sering berlaku begitu. Pada saat saya dan dia sedang bercermin bersama di sebuah cermin besar, tiba-tiba dia mesem lebar. Bergeser menjauh dan mencari cermin lain untuk membenahi tatanan hijabnya sembari menggerutu, 

“Ih, mau pamer ya kalo putih”. 


Aduh, saya cuman ngaca lho . tidak bermaksud apa-apa.padahal, kalau boleh jujur - kadang saya juga iri sama mereka. yang kulitnya tidak gampang ngambekan. kulit putih identik dengan kepekaan tinggi. mudah merah, mudah alergi, mudah berjerawat. tentu saja dalam hal ini tidak ada yang perduli, karena yang tampak pada mereka hanya tampak luarnya saja.

Permasalahan warna kulit sebenarnya memang sudah ada sejak dulu. Dan itu sudah diusahakan penghapusannya oleh nelson Mandela dengan politik apartheidnya. Belum lagi, sekarang presiden amerika juga berkulit gelap. Jadi, bukankah tidak ada jaminan bahwa yang lebih putih lebih mulia daripada yang sedikit gelap daripadanya? 

pengen bukti? beneraaaan?
itu tuh si bilal bin rabah, dia item banget kan? apa dia nggak dapet jaminan surga tuh gara-gara akhlaknya baik. udah gitu suaranya bagus, deket sama Rasulullah, terkenal lagi sampe jaman sekarang. *ouch! iri sekaleeeee saya*

Pernah dengar kalimat atau nyanyian yang seperti ini “Hitam itu manis, hitam itu lebih menarik”. Pasti pernah dengar dong ya? Nah, ini sungguh kalimat pujian yang sangat membanggakan bagi setiap orang berkulit seperti itu. Apalagi, sekarang banyak orang yang lebih suka tanning kulit agar kulitnya sedikit gelap daripada aslinya, itu juga salah satu bukti bahwa gelap bukan berarti tidak menyenangkan – malahan sekarang sedang dibudidayakan (red; trend setter).

 Tidak ada kan yang merubah  lagunya menjadibegini, “Putih manis putih manis, yang putih manis … “ (Aduh, lagunya jadi kacau balau deh.)

Intinya, saya rasa penghargaan lagu itu hanya diberikan bukan kepada orang putih, atau kuning seperti saya (yang notabene lebih sensitive dibanding kulit gelap yang lebih alami mungkin). Untuk orang yang berpikiran positif, maka hitam manis akan menjadi kalimat yang amat menyenangkan “hitam manis. Kalau tua hilang hitamnya, yang tertinggal manisnya.”

Dan untuk orang-orang yang terlanjur dimakan industry artificial dan produk-produk pemutih itu, satu-satunya yang terbenak di kepala mereka adalah “oh hitam manis, kalau tua manisnya hilang, yang tinggal hitamnya”.
Demikian.

No comments:

Post a Comment