.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Saturday, 25 May 2013

Hasrat Segelas Air



Siang itu saya haus sekali. Segala macam bebunyian es dan tulisan di berbagai macam warung dengan menu yang membuat ngiler itu benar-benar membenak di kepala saya. Kepala saya mencerna seluruh tulisan tadi hingga menghasilkan efek haus yang semakin luar biasa. Tapi saya tidak bisa memutuskan langsung berhenti, saya masih harus menunggu pelayan datang membawakan menu makanan dan mencatatnya untuk saya = baru kemudian menghidangkannya di hadapan saya.

Tapi untuk kali ini saya harus menyiapkan amunisi begitu banyak. Sementara pengunjung lain sudah nampak puas meneguk minuman dinginnya di meja, saya masih harus menunggu lama karena antrian  siang ini tidak biasanya begitu ramai. Padat merayap. Walhasil, tiap kali mata saya berwisata ke meja lain dan menyaksikan pemandangan kerongkongan yang meneguk air surge itu, rasanya liur saya ingin sekali menetes saking tidak sabarnya. 

Kabar baik datang.


Dari ujung ruang dapur seorang pelayan datang seperti dewi kwan im yang mengabulkan permohonan seseorang.  Berjalan anggun dengan membawakan es the manis di nampan coklat muda di tangan. 

Wajah saya refleks menyunggingkan senyum. Ah, yang ditunggu akhirnya datang juga.

Glek glek glek! Rasanya segar sekali. Tanpa memberi jeda gelas berisi the manis itu ludes seketika. Segar? Tentu saja. Puas? Belum. Saya masih ingin minum lagi untuk kali kedua, barangkali saja bisa lebih segar. 

Tapi karena siang ini matahari begitu terik.  Segelas es the manis itu nyatanya belum mampu memuaskan dahaga saya, maka sebelum pelayan itu pergi jauh, saya berteriak memesan menu minum yang sama. 

Tapi, hal lain terjadi. Saya salah sangka. Saya pikir gelas kedua akan membuat saya semakin terpuaskan hausnya. Saya pikir gelas kedua itu akan membantu saya menghilangkan rasa panas di dalam, atau sekedar kembali menyegarkan.

Ternyata saya tertipu. Gelas kedua dan seterusnya, malah membuat kenikmatan itu hilang. kenikmatan meneguk air karena benar-benar haus. dan gelas kedua tadi, sejujurnya hanya hasrat untuk membuat kembung saja. Bukan kenyang yang sesungguhnya. Padahal kenikmatan itu terletak di gelas pertama jika kita merasa cukup dengannya.  

No comments:

Post a Comment