.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Saturday, 25 May 2013

Budidaya Bangkai



“Eh, dia tuh punya utang sama Bu Je 150 rebon, sama gue 200 rebon, terus terus sama si Bu A juga punya dia. Itu baru dikit, katanya sih dia juga ngutang sama tetangga sebelah gitu Bu. Coba deh ditambah-tambahin, jadi berapa coba?”

“mmh, kayaknya hampir 500 rebonan. Belum lagi katanya dia juga punya utang sama yang ini … yang itu juga belum dibayar …”

“Yaampun, banyak banget?”. Wanita bernama W malah menepuk jidatnya kaget.


“Iya, dia kan emang hobi gitu. Tukang gossip lagi”

“Ah masa jeng?” Wanita di sebelahnya lagi antusias bertanya.

“Lhoh, jeng belum tau berita terbaru? Dia kemarin abis dilabrak Bu Darso gara-gara gosipin pak Darso korupsi.” 

“Apa iya to mbak S? Saya baru tahu lho, sampean tetangganya to?”

JLEB!


Saya kena bagian juga akhirnya setelah sejak tadi mencoba diam tidak ikut berkomentar.
Dari sisi yang berlainan saya menghela nafas panjang. Aduh, kenapa panjang banget ini buka aibnya orang. Yang hutang kan dia to ya? Kenapa mereka yang repot, sekalipun mereka juga merasa dirugikan akibat dihutangi sama si x tadi. Bukannya saya mau bersikap sombong dengan pura-pura acuh pada perbincangan tadi, tapi jujur, saya takut. Bisa –bisa nanti gentian saya yang digunjingkan seperti ini … dari yang awalnya hanya seputaran masalah a, justru melebar ke masalah b, c , d, dan seterusnya. Dan bukannya mereka yang sudah nuduh ibu x tadi gossip juga lagi gossip ya?

“Aduh, saya kurang tahu bu. Saya jarang ketemu Bu Darso. Saya sih jarang ketemu”. Ibu-ibu tadi kemudian melanjutkan bisik-bisiknya, dan saya mencoba memilih opsi diam. Kembali sok-sok memperhatikan Bu Rt yang sedang sibuk mengocok arisan.

Perbincangan begini sering sekali terjadi diantara kami, tidak saja dari kalangan ibu-ibu, anak muda saja sekarang hobinya ngegosip seperti ini. Dan hebatnya perbincangan ini seperti diskusi hebat, professional, mengalir lancar. Tidak ada deh yang namanya seret-seret untuk mencari tema, pokoknya mah haajar saja! Di tukang sayur keliling, di masjid, dib alai serbaguna desa, ah dimana saja tempatnya sih oke-oke saja.

Bukannya saya mau sok bersih ibu-ibu, tapi saya sedang belajar memilih opsi diam. Padahal, dengan diam saja saya sudah merasa cukup berdosa. Bayangkan saja, ada sepuluh orang di ruangan ini, dan saya berada tepat di sebelah mereka. Maka saya ikut mendengar perbicangan mereka dari awal sampai akhir, tidak ada yang kelewatan. Kadang-kadang saya juga malah ikutan ketelepasan menambahkan daftar keburukan orang lain tanpa sadar. Mulut saya lemes sekali ternyata! Dan setelah dimulai, menghentikannya memang susah nyatanya.

Maka kali ini saya memilih diam, tidak berusaha memulai karena takut tidak bisa berhenti. Tapi ternyata – diam juga masih punya resiko. Saya mendengar, tapi saya juga membenarkannya dalam hati jika ada kata-kata atau gossip yang menimpa mereka. Karena saya kadang dirugikan juga. Nah, bukannya dengan saya membenarkan dalam hati lantas mengutuk perbuatan itu saya jadi kena dosa ghibah juga? belum lagi saya sok merasa paling benar, itu sudah nambah dosa lagi buat saya. Kata pak ustadz kan semua orang pernah salah, pernah khilaf; seharusnya saya maklum dong ya. wong saya juga nggak bener-bener amat.

Akhirnya karena takut terpancing saya nekat memilih pamitan. Menitip pesan pada Bu Rt nanti dihubungi saja kalau saya yang kebetulan dapat kocokan arisan.

Di jalan saya akhirnya berpikir. Aduh, saya ini ternyata peternak paling ahli sedunia.

Dan kalau ditanya peternak dengan budidaya apa, dengan lantang akan saya jawab; Budidaya bangkai mas, mbak!

No comments:

Post a Comment