.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 23 May 2013

Budaya Rela Berbagi



Teman saya A pernah bercerita, katanya sayang sekali pada pacarnya, dan begitupun dengan pacarnya. Hingga dalam masa perkenalan saya dengannya, dia memberikan segala macam hal yang dia punya – yang diminta oleh pacarnya, bahkan barang yang notabene milik saya juga tidak lupa diberikan pada pacarnya, tanpa seizing saya. Dalam benak saya, oh berarti teman saya ini orang baik. Rela berbagi, rela memberi. Tuh, buktinya walaupun Cuma berstatus pacar saja dia rela ngasih apa aja. Duit, barang, bahkan direlain ngutang. 

Lain lagi dengan yang ini, sebut saja B. Dia suka sekali melempar kata-kata pada orang lain, bukan melempar pantun- apalagi membacakan puisi. Tiap dia dibelit permasalahan, tidak pernah lupa dia bagikan semua kata-kata  itu pada teman-temannya, tentunya tidak terkecuali saya. Pernah waktu itu saya tidak sengaja menggodanya (mengejek), lupa situasi kalau dia sensitive (tersinggungan), pada akhirnya. 

“BLAM!” 

“TAI ! Axxxx! Bxxxxx!”


Waduh, saya menelan ludah. Saya sudah salah ngomong ya?

 Dan setelah dia puas memaki dan membagi kotorannya itu, dengan entengnya melenggang pergi begitu saja. 
Dalam benak saya, oh berarti dia juga orang baik. Rela berbagi, rela memberi – walaupun itu, maaf “tai”.

Nah, yang C ini lebih baik lagi orangnya. Lebih rela. Ceritanya dia pernah berhutang sama saya, beberapa digit angka begitu sajalah. Nah, setiap kali diminta untuk membayar dikarenakan saya sedang benar-benar butuh atau kepingin membeli sesuatu, dia pasti menjawab begini … 

“Aduh, sori ya. Lusa deh, minggu depan gimana, bulan depan aja, eh tahun depan deh”. 

Pokoknya banyak alesannya. Mulai dari dia yang juga butuh uang buat ngurus sidang cerai dengan suaminya, minta perpanjangan waktu buat kredit-in anaknya motor. Nah, dalam benak saya juga berpikir lagi akhirnya, ya ampun – kenapa teman saya semuanya orang yang begitu baik. Rela berbagi, rela memberi. Tuh, buktinya dia rela membagi ketidakjelasan kepada saya, dan dia rela memberi janji yang artificial buat saya. Alias omong doang. 

Beberapa kisah lain juga masih ada, yang intinya – semua teman saya itu orang baik. Maka seharusnya saya bersyukur diberi teman yang menjunjung tinggi budaya rela tersebut. Padahal saya tidak memilikinya, rela berbagi kotoran dan diumbar, rela berbagi kesusahan (akibat ngutang), dan rela berbagi sama pacar yang bisa aja lari. 

Tapi tenang saja, karena kalian semua baik – saya doakan kalian tentu yang baik-baik.

No comments:

Post a Comment