.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 22 May 2013

Reality Show: Belajar Miskin



Jam Sembilan pagi ini saya harus segera bersiap, ada salah satu stasiun televise yang akan merekam saya untuk syuting sebuah acara. Semula saya menolaknya, buat apa pikir saya. Tapi istri dan anak saya ngotot ingin masuk televise, maka mereka menghalalkan segala cara untuk bisa pamer ke ibu-ibu tetangga dan teman-temannya di sekolah. Maka terpaksa dua hari saya harus mengambil cuti dari kantor, dan ikut acara tidak penting ini. 

Dua mobil bak sudah menunggu saya di depan rumah. Kru-kru televise sudah stand by sejak jam enam tadi malah. Sebagian mengecek sound system, sebagian mengecek kebersihan rumah, dan yang terakhir – sebelum saya diberangkatkan ke tempat tujuan saya harus berganti pakaian yang lebih pantas dan pas katanya. Padahal, menurut saya, ini tidak lebih dari kain bekas untuk mengelap kompor di dapur. 

Dan tanpa berceloteh panjang lebar, syuting dimulai. Istri saya heboh, anak saya apalagi, mereka berdua melambaikan  tangan, tersenyum dengan bibir dilebarkan dan bergaya tiga jari seperti model-model majalah yang pernah saya lihat di beberapa baliho jalan besar, bak permaisuri dan putri raja dari kerajaan mana entahlah. 


Sementara itu, rumah yang baru saja saya kunci dari luar itu, harus saya relakan untuk dititipkan pada orang.  Kami berangkat dengan bak terbuka tadi, duduk di belakang bersamaan barang-barang segambreng yang istri dan anak saya bawa. Koper besar, sepeda fixie terbaru, dengan baju lusuh yang sangat tidak match dengan itu semua. Sedang disini, hanya saya yang tampaknya tidak rela dengan perjalanan untuk adegan penuh kekonyolan ini. Puh

Kurang lebih dua seperempat jam saya dan keluarga sampai di rumah tujuan. Setelah perjalanan panjang, jalanan rusak dan asap menempel dimana-mana. Untuk kali pertama yang harus saya katakan adalah, ini apa? Untuk masuk di televise saya harus melakukan hal yang tidak bermutu ini? Benak saya langsung memproduksi berondongan keinginan untuk kabur, dan segera pulang, kembali ke istana megah yang saya peras dari keringat sendiri. Saya tidak bisa membayangkan saya harus masuk dan berjejalan tidur seperti ikan pindang yang dijemur di bawah terik siang seperti pemandangan yang tersaji di hadapan saya sekarang.

Istri dan anak saya langsung pasang wajah ramah di depan kamera. Bicaranya tampak luwes, katanya ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain, ingin merasakan kesusahan mereka. Kabar yang harus saya terima selanjutnya adalah? Ternyata lawan saya adalah tukang gali kubur, dan istrinya – adalah penjual gorengan keliling dengan medan yang rusak parah seperti ini. Saya berteriak gila dalam hati. Gali kubur? Saya harus menguras keringat untuk mengaduk-aduk tanah? Oh tidak? Acara apa ini!

Sedang istri saya yang tidak pernah masak di istana megahnya harus bergumul dengan kompor minyak yang kehitaman. 

Sungguh, kali ini saya hanya ingin menelan liur perlahan-lahan. Mencerna ketololan yang saya sanggupi dari istri dan anak saya sendiri. 

***

kru-kru televise sudah mengingatkan istri saya berulang kali untuk sabar. tinggal satu hari saja semua selesai. lagipula istri saya yang mengirimkan kesanggupan, dan mereka menyanggupi. kami masuk televise seperti yang kami ingini, toh ini juga sudah masuk dapur produser – diterima dan harus rampung sesegera mungkin, tidak ada alasan mengelak. kami sudah tanda tangan surat perjanjian. saya tentu tahu prosedur ini. 

dan pada saat istri saya mengeluh pada saya di sela waktu menjelang tidur? saya harus berkata apa? saya sudah mengambil cuti dari rutinitas, meninggalkan istana kebanggaan saya, satu-satunya cara mengembalikan wibawa ya hanya dengan mengikuti hal ini sampai selesai. dan sudah.  

semalam tadi, istri saya mengeluh capek. harus berkeliling kampung yang tidak ada seorangpun yang dikenalnya, dengan membawa tampah yang berisi gorengan gosong hasil eksperimennya pertama kali. tentu saja tidak ada yang beli. maka siaran siang tadi, hanya berisi beberapa orang bayaran untuk pura-pura membeli gorengan yang istri saya buat. selebihnya, hanya caci dan maki ibu-ibu karena gorengan yang dibuat istri saya sungguh tidak punya citarasa. yah, dimaklumi saja.
berbeda lagi dengan anak saya. sebenarnya dia lebih sabar tinimbang istri saya, walaupun toh tetap mengeluh juga karena tidak doyan makanan yang isinya mirip seperti makanan yang diberikannya pada kelinci dan hamster peliharaannya di rumah. katanya dia tidak bisa makan hijau-hijauan yang tidak ada rasanya, lebih sering pahit. maka malam harinya sebelum tidur istri saya tidak bisa tidur karena digigit nyamuk ganas, sedang anak saya harus menahan buang air besar karena tidak biasa di kamar mandi jorok dan terbuka seperti yang ada di rumah ini. 

saya? bukan berarti dengan saya diam berarti saya menikmati pengalaman ini. bayangkan saja saya yang harus mengeruk tanah keras sedalam dua kali empat meter harus berulang kali diteriaki hanya gara-gara tidak sesuai dengan keinginan keluarga si mayit. malah tanah untuk pekuburan itu melebar kemana-mana, justru lebih mirip kolam ikan kata mereka. walhasil, saya tidak diberi upah walaupun sudah seharian saya mengupayakan lubang kuburan itu.  tapi, demi kepentingan acara televise sesuai yang menjadi kesepakatan – maka saya dan keluarga harus tetap menunjukkan wajah ramah, penuh senyum, dan sabar. tidak apa walaupun sekedar tipu-tipu saja. 

padahal … ingin sekali saya sampaikan pada mereka, ayo kabur saja. mumpung kru-kru televise jauh dari jangkauan, mumpung hari sudah malam dan pasti mereka sedang tertidur pulas di balai yang lebih layak dari ini semua. tapi, kalau saya keluar dari desa ini, saya dan keluarga mau ke kota naik apa? jalan kaki? tidak mungkin. itu sama saja kami harus melemparkan diri ke kandang macan. sama saja menyiksa diri sendiri. dan belum lagi, tidak ada seorangpun dari kami yang paham seluk beluk kampung. 

jam dua malam baru suara-suara keluh beruntun itu hilang. kami tertidur menahan kesal karena membayangkan jauh disana ada yang sedang tertidur pulas di atas spring bed baru, dengan air conditioner yang membuat lelap badan. sudah pasti mereka bahagia melakukan ini semua.
malam itu, saya hanya bisa berharap esok segera datang.

***

seperti rentetan kejadian berulang. maka pagi itu, harapan saya menemui titik akhir. bak gayung bersambut, mobil bak yang kemarin menjemput saya akhirnya datang, untuk mengantarkan saya pulang ke istana. tak sabar rasanya saya sampai ke tempat peristirahatan favorit. tapi lagi-lagi demi kepentingan televise, saya harus bersabar beberapa jam menahan lemas dan capai untuk tetap unjuk gigi.
dalam waktu dua jam yang terasa panjang itu saya harus berpamitan dengan warga sekitar, menyatakan bagaimana pendapat saya setelah dua hari bertukar tempat di tempat yang jujur belum pernah saya bayangkan untuk dihuni. kesekian kali, saya harus pura-pura bersikap manis di depan kamera. bilang kalau saya begitu bersyukur bisa mengalami semua tahapan ini, padahal … aduh aduh, siapa lagi yang suka disiksa begini. 

dua jam berakhir.

lega sekali rasanya, istana itu kini ada di hadapan saya. menatapnya dari luar, rasanya haru biru di dada. sesak kepingin menangis. terharu, mata memerah refleks tanpa diduga.
itu sungguh acara yang paling konyol sekaligus tidak realistis di dunia. amit-amit saya harus kembali lagi ikut acara itu. istri dan anak saya juga sudah kapok. kapok mejeng di televise kalau harus acting bahagia hidup miskin seperti itu. 

Hikmah yang saya ambil dari acara ini?
Jadi orang miskin itu susah.



1 comment:

  1. belajar menjadi miskin bisa membuat kita lebih bersyukur :)

    ReplyDelete