.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 30 May 2013

Silahkan tanggung sendiri



"Pengen amnesia, pengen mati rasa; atau kalau enggak. Bunuh aja aku sekalian, diam-diam pake obat dosis tinggi. Mau ya, pliss?" wajahmu Nampak acak-acakan. Kusut. Jambangmu  tak beraturan, matamu lelah; seperti sudah berhari-hari hanya ada kemalangan dan sial yang bertempat tinggal disana.
"kau tak tahu bagaimana rasanya jadi aku.” Aku mengerutkan dahi. Nah loh, hidup memang tentang perasaan sendiri. Tidak ada siapa yang bisa jadi apa, atau apa mendadak jadi siapa, sekalipun televise sudah membuat reality show jika aku menjadi.
“Udah miskin, disiksa lahir batin, dihina kesana-kemari, pontang-panting cuman buat hidup yang makin lama makin kejem. Aku udah nggak tahan. Sial banget nasibku, nggak ada dari kalian yang sanggup kalau jadi aku!

Saturday, 25 May 2013

Budidaya Bangkai



“Eh, dia tuh punya utang sama Bu Je 150 rebon, sama gue 200 rebon, terus terus sama si Bu A juga punya dia. Itu baru dikit, katanya sih dia juga ngutang sama tetangga sebelah gitu Bu. Coba deh ditambah-tambahin, jadi berapa coba?”

“mmh, kayaknya hampir 500 rebonan. Belum lagi katanya dia juga punya utang sama yang ini … yang itu juga belum dibayar …”

“Yaampun, banyak banget?”. Wanita bernama W malah menepuk jidatnya kaget.


Hasrat Segelas Air



Siang itu saya haus sekali. Segala macam bebunyian es dan tulisan di berbagai macam warung dengan menu yang membuat ngiler itu benar-benar membenak di kepala saya. Kepala saya mencerna seluruh tulisan tadi hingga menghasilkan efek haus yang semakin luar biasa. Tapi saya tidak bisa memutuskan langsung berhenti, saya masih harus menunggu pelayan datang membawakan menu makanan dan mencatatnya untuk saya = baru kemudian menghidangkannya di hadapan saya.

Tapi untuk kali ini saya harus menyiapkan amunisi begitu banyak. Sementara pengunjung lain sudah nampak puas meneguk minuman dinginnya di meja, saya masih harus menunggu lama karena antrian  siang ini tidak biasanya begitu ramai. Padat merayap. Walhasil, tiap kali mata saya berwisata ke meja lain dan menyaksikan pemandangan kerongkongan yang meneguk air surge itu, rasanya liur saya ingin sekali menetes saking tidak sabarnya. 

Kabar baik datang.


Friday, 24 May 2013

Dalam Rangka Pahala



Setiap kali saya berniat sesuatu yang di luar kata wajar menurut orang-orang di sekeliling saya. Saya selalu dianggap sedang meminta imbal atas apa yang hendak saya lakukan, saya diduga sedang jatuh cinta/patah hati, mengharap sesuatu, dan yang paling lucu – saya dikira hampir mati hanya karena mengirim pesan meminta maaf dan keikhlasan untuk khilaf (padahal saya orang yang notabene sering sekali mengirim kata-kata serupa). 

Beberapa hari lalu saya merasa sedang tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, saya pikir bahwasannya setiap hari jumat teman kampus saya selalu datang tanpa sarapan terlebih dahulu, maka saya berinisiatif membawakan mereka makanan ringan (red; gorengan) dalam jumlah yang, ya cukup lah buat mengganjal perut dan menambah konsentrasi pagi hari. 

Tapi, lagi-lagi saya harus dibuat tersenyum dengan pertanyaan semacam ini … 

Perkenalkan diri anda - di banyak kepala.


“Woi! Lo kok vocal banget sih! Cerewet, udah gitu rempong lagi.” Si Raihan berteriak mengejek Wendi. 

“Yeey, Lo juga! Ngapain peduliin Wendi? Dia ya dia, elo ya elo. Ngapain ngurusin idup orang”. Teman di sebelahnya membela Wendi habis-habisan.

Sementara wendi hanya tersenyum dan mengangguk pada temannya yang sudah berbaik hati membagi kalimat sinis tadi padanya. 

“Udah! Ngapain sih ditanggepin. Nggak penting”. Timpal Wendi halus, tenang. 


Thursday, 23 May 2013

Hitam Manis, Oh Hitam Manis



Beberapa orang dari teman saya selalu sibuk urusan warna. Bukan bukan, bukan warna baju- celana – atau hijab yang tidak match warnanya. Tapi warna kulit. Titik.
Setiap kali saya tempelkan tangan saya di sebelah tangan teman saya secara tidak sengaja, dia refleks menarik tangannya dan bilang. 

“Oh tidak! Kenapa tanganku item bangeet!” Sambil terus mencocokkan kulit tangannya dengan kulit saya.  Dalam hati saya hanya bisa membatin, apa sih pentingnya. Namanya juga bagian dari sononya. Sedang  mulut saya tetap menyunggingkan senyum, walaupun beberapa teman malah ada yang sengaja mengejeknya dari sisi kulit tadi. 

Saudara saya, yang berbeda sedikit warna kulitnya dengan saya juga sering berlaku begitu. Pada saat saya dan dia sedang bercermin bersama di sebuah cermin besar, tiba-tiba dia mesem lebar. Bergeser menjauh dan mencari cermin lain untuk membenahi tatanan hijabnya sembari menggerutu, 

“Ih, mau pamer ya kalo putih”. 


Budaya Rela Berbagi



Teman saya A pernah bercerita, katanya sayang sekali pada pacarnya, dan begitupun dengan pacarnya. Hingga dalam masa perkenalan saya dengannya, dia memberikan segala macam hal yang dia punya – yang diminta oleh pacarnya, bahkan barang yang notabene milik saya juga tidak lupa diberikan pada pacarnya, tanpa seizing saya. Dalam benak saya, oh berarti teman saya ini orang baik. Rela berbagi, rela memberi. Tuh, buktinya walaupun Cuma berstatus pacar saja dia rela ngasih apa aja. Duit, barang, bahkan direlain ngutang. 

Lain lagi dengan yang ini, sebut saja B. Dia suka sekali melempar kata-kata pada orang lain, bukan melempar pantun- apalagi membacakan puisi. Tiap dia dibelit permasalahan, tidak pernah lupa dia bagikan semua kata-kata  itu pada teman-temannya, tentunya tidak terkecuali saya. Pernah waktu itu saya tidak sengaja menggodanya (mengejek), lupa situasi kalau dia sensitive (tersinggungan), pada akhirnya. 

“BLAM!” 

“TAI ! Axxxx! Bxxxxx!”


Wednesday, 22 May 2013

Caramu Mencintaiku


Ibu, satu demi satu tanya menggantung di benakku. Tentang perhatianmu, tentang sabarmu, jam kerjamu yang segudang untukku. Tentang kesediaanmu menjagaku, menuntunku, tanpa menuntutku. 

Barangkali ini yang akan kusesali kalau pertanyaan itu tak pernah muncul dari-nurani. Hari itu, aku mendekatimu, hendak mengutarakan maksud meminta izinmu pergi berkemah bersama teman-teman.

“Tak boleh”, itu katamu. Satu kali kata-katamu itu tak ku-indahkan, aku tak perduli. Yang jelas aku sudah meminta ijinmu sebagai standar procedural rumah ini. Maka setelah gelengan itu, aku justru pergi tanpa sepengetahuanmu.
         
   Dua hari pergi tanpa kabar. Aku bersenang-senang saja tanpa memikirkan bagaimana ibu yang kutinggalkan. Dan lagi, telepon genggam-ku sengaja kumatikan agar kau tak sibuk menganggu kesenanganku dengan teman-teman. Maaf, kadang kuanggap ibu sebagai pengganggu ketenangan.
Selepas mengetuk pintu rumah kembali setelah pergi itu, aku mengendap-endap masuk. Membayangkan ibu dengan muka masam menungguku datang dan bersiap dengan omelan panjangnya.

Tapi, hanya senyuman yang kau ulungkan. Padahal aku sudah bersiap mendengarkan apapun itu yang ada di kepalaku, segala sesuatu yang sudah kuperkirakan, yang selalu kubayangkan. Tapi aku selalu dibuat heran oleh tingkahmu bu. Kau menuntunku masuk; bertanya kabar, mengelus rambutku dan mengeluhkan kenapa badanku jadi sedikit tidak terawat. Bertanya apakah harimu menyenangkan, dan ibu sudah menjerang air untukku menyegarkan badan. Ah, bu, betapa naifnya sayangmu itu.



            Halus tuturmu membuatku sadar, ini kesalahan pertamaku. Tanpa sekalipun kau mengingatkannya padaku. Aku sadar justru karena sikapmu yang memperlakukanku seolah aku yang tak tau diri, atau mungkin lebih tepatnya, tak tau malu. 

Kali kedua, aku melakukannya lagi. Berbohong dengan dalih keperluan sekolah. Uang simpanan yang harusnya untuk ibu menyetor iuran arisan justru kugunakan untuk bermain dan nongkrong-berjam-jam di mall seberang sekolah. Awalnya, ragu-ragu kuutarakan. Dadaku berdegup kencang karena kebohongan ini untuk kali pertama, tapi seterusnya … bahkan aku sengaja lupa bagaimana debar-debar dulu bisa terasa. Kebohongan demi kebohongan semakin terlihat biasa. Dan membohongimu seperti tak pernah habis kulakukan. 

Mungkin sejujurnya kau tau bu, dan kau hanya diam membiarkanku.
Dan berikutnya, makin dewasa aku makin tak punya cara menghentikan kebohongan untuk membungkam pertanyaan demi pertanyaan yang kau ajukan. Pergi pagi, pulang larut malam. Alasanku kali itu bekerja, lembur mengurusi laporan akhir bulan. Berangkat, bermain, mengabaikan pesanmu, mengabaikan makanan yang sudah kau hidangkan. Uang-uang gaji bulanan juga jarang kuberikan, ibu tetap tak pernah sengaja menyinggung-ku dengan pertanyaan semacam itu. bu, sesungguhnya berapa banyak sabarmu itu? 

Tiap kali aku pulang kerja, atau pulang dari bermain seharian sekalipun ibu akan tetap manis menyambutku. Selarut apapun itu, ibu akan tetap membukakan pintu dengan senyum tersungging di bibir yang mulai mengkerut itu.  

Aku tak tahu seberapa besar kasihmu, sayangmu, padaku. Dengan banyak bukti dan sedikit maki yang kau selipkan tiap hari itu nyatanya aku belum sepenuhnya mampu menghargaimu. Aku hanya bisa menangis sesunggukan jika malam renungan datang, senior-senior berteriak menggemakan nama-mu. Ibu, ibu, dan ibu. Berprosa kata panjang lebar, berteriak tak karuan. Dan aku menangis menyadarinya. Hanya pada detik itu, selebihnya?
Itu tangisan kadal. Tak benar-benar membuatku mengingat betapa besar pengorbanan yang kau berikan.
Malah, kadang aku menyesal. Kenapa ibu bukan seorang dokter seperti ibu teman-teman. Pegawai negeri yang bergaji besar, yang bepergian dengan mobil mewah, tas mahal mentereng, lipstick tebal, dan berparas modis menyenangkan. Atau, kenapa ibu bukan seorang pengusaha kaya? Atau sekedar janda yang ditinggali harta tujuh turunan oleh ayah.
Ah, durhaka bukan? kenyataan memang tak sejalan, ibu hanya pedagang biasa. Yang bahkan membelikan pakaian untukku saja harus bergantian. Mengorbankan ibu mengenakan baju lusuh sepanjang tak begitu memalukan. Mengorbankan makanan dan waktumu yang sejujurnya lebih banyak kau habiskan untuk menghasilkan pundi-pundi uang.
            Jika kukatakan aku selalu sayang, aku selalu peduli, bahkan rela mengabdi untuk bahagiamu; mungkin aku sedang berdusta besar. Aku membohongimu diam-diam. Bukankah kau tau itu, bu? Atau kau hanya sedang bersandiwara untuk membuatku pelan-pelan tersadar? 

Aku sering benci padamu, memaki sifatmu yang kadang-kadang tak searus dengan zaman, laranganmu yang kolot, bahkan aku sering mengeluhkan pada teman-teman bahwa kau teramat menyebalkan. Karena cintamu padaku tak sebesar cintaku padamu. Ada pikiran berseberangan yang kadang membuat kita tak sejalan. Aku mau ini, kau justru memilihkan hal lain. Kita memang berbeda bu. 

Tapi bukankah benci dan sayang itu dua hal yang tak bisa dipisahkan bu? Aku menyukai segala macam itu, karena pada nantinya aku pun merindukan semua hal yang menyebalkan itu darimu. Teriakanmu membangunkanku di kala pagi, sindiran pedasmu ketika aku tidak sesuai yang kau harapkan, atau tentang jailmu menggodaku saat aku tersenyum sendiri membaca pesan dari pacarku.

 Bagiku, membenci, mengasihi, atau mencintai adalah satu jalan. Satu jalan agar aku terus mengingat seberapa besar perhatian yang kau limpahkan. Bagiku, membenci dan mencintaimu tetap saja wujud kepedulian. Karena rasa benci dan cinta ada karena rasa istimewa. Kesabaran segudang itu hanya kau yang punya, dan perhatian tanpa pamrih itu-pun hanya di ragamu tersimpan. 

            Mungkin tersebab hanya cara itu yang ibu bisa. Mengasihiku sepanjang usia. Mendoakanku sampai tutup usia. Menggulirkan terus sabar agar tak berbuah menyakitkan. Seperti zainab pada malin kundang. Seperti dayang sumbi pada sangkuriang. Mungkin tersebab hanya demikian cara yang ibu tahu, untuk bersyukur atas limpahan keturunan yang diberikan tuhan. Ibu, dalam benci yang terselip di rasa cintaku yang tak sedemikian besar, lewat rahimmu tuhan mengijinkanku menghirup udara segar. 

            Tapi bu, meski aku tak pernah memilihmu jadi ibuku. Aku bersyukur terlahir lewat rahimmu.


harusnya tak begitu



            Kutatap wajah bulatnya yang sedang tertidur pulas, kelelahan. Ada sebulir dua bulir keringat yang menempel di dahinya. Rambutnya berantakan di anak kursi. Tetap saja ia terlihat cantik, bahkan lebih cantik dari sebelumnya. Wajah teduh penuh dengan kehangatan, wajah yang sama kali kedua yang selalu kurindukan, setelah ibu yang dua tahun lalu lebih dulu berpulang. Dia mengolat pelan, menggeliat meringkukkan badan. Matanya tertutup, bibirnya terbuka sedikit; seperti hendak menyampaikan sesuatu bila dia sedang terjaga. Banyak bicara, banyak cerita. Rambutnya yang rontok satu demi satu di sofa ruang depan, naik turun alis matanya, bergerak-gerak seperti menyadari ada aku yang sedang memperhatikan di depannya. Aku tahu dia sudah terlalu lama menungguku, hingga tertidur masih dalam balutan baju panjang.
            Lima menit aku berdiam diri. Setelah berjalan merangkak berjinjit-jinjit agar derap langkah sepatuku tak terdengar olehnya. Sengaja menutup pintu hingga tak bersuara, dan kemudian berhenti menyaksikan wajah ayunya.
            Dia mengoap lagi, bibirnya menyunggingkan senyuman termanis yang pernah kudapatkan. Ah yang, senyummu itu yang selalu kurindukan, yang selalu membuatku ingin kembali pulang. Aku beranjak melepas sepatu, meletakkannya di rak lantas mengangkatnya hati-hati agar dia tak terbangun.
“HATSING!” Ah, aku ketelepasan bersin.


Bercabang-cabang



            aku mencintaimu tak seberapa besar, mungkin hanya sepersekian bagian. tapi dalam beberapa kesempatan, hal itu selalu kukatakan berlebihan saat kau tanyakan pertanyaan itu berulang-ulang.
“apa kau sayang padaku?”
“ya, tentu”
“seberapa besar?”
“tentu saja besar, dalam, jauuuh sekali kalau diukur dalam hitungan”
“beneran?”
aku mengangguk, tak yakin.
“cuman aku aja yang kamu sayang?”


istimewa vs indra



Kulihat Ram mendekat, aku sudah hendak berbalik merapikan buku-buku di kursi kemudian menyingkir dari pandangannya. Tapi sedetik sebelum kemudian aku berlari, ia sudah melambaikan tangan sambil berteriak.
“Tom!, tunggu!” aku mendengus sebal. Benar-benar hari buruk. Aku menghentikan langkah tanpa perlu membalikkan badan menyambut panggilan Ram. Seharusnya dia tahu aku malas berbincang dengannya, bagaimanapun, dan sesederhana apapun. Tidak tahukah dia kalau aku menyimpan sebal? Dia selalu suka berkomentar tanpa berpikir lebih dulu, bahkan sebelum orang lain selesai berbicara ia merasa pantas untuk menyanggah semua perkataan orang lain. Cih, memang menurut dia hanya dia yang benar? Aku menghela nafas panjang, berusaha menetralisir perasaan.
“Tom! Tunggu sebentar!” aku terpaksa membalik badan.

Biarkan ada jarak


“dia minta waktu buat introspeksi dan, aku nggak tau musti bilang apa”.
aku menangis sesunggukan di sampingnya, Danita. sahabat terbaik yang masih setia jadi tempat keluhan ini tersampir di kepalanya. dia mengelus-elus pundakku, mencoba alirkan tenang lewat tatapnya yang sudah lama tak berubah untukku.
            aku nggak tahu apa maksudnya. mungkin dia udah bosen sama aku, dan”. tangisku makin pecah. membanjir. sepertinya gerombolan airmata yang lama tersimpan itu ingin meluapkan dendam, keluar dari tempat persembunyiannya.
            “emang dia bilang apa, liv?”
           

Janji


            apa kau mau berjanji, untukku?” itu katamu, beberapa tahun lalu. di garbarata bandara tempat terakhir kali kita bertemu. kau mengantarkanku pergi, berbalut isak tangis yang aku sendiri ragu apa bisa membendungnya untukmu. aku-pun menahan sesak itu. aku tahu dari merah matamu.
ujung-ujung kerudung biru yang membuatmu tampak lebih manis itu basah. kau gunakan untuk menyeka air mata yang tak habis-habis. aku hanya bisa diam, menikmati detik demi detik panggilan keberangkatan dikumandangkan.
di ruangan sebesar ini, dengan beribu orang lalu lalang, rasanya hening sekali. baru saja kau mengumandangkan pertanyaan itu. tepat di sampingku, menahan diam dan banyak pertanyaan agar perpisahan sementara ini tak menyesakkan.
            “janji apa?” 

Konspirasi




Namaku Ram. Aku tak suka basa-basi. Bagiku kehidupan hanya akan berlangsung dalam dua hal, dimanfaatkan, atau memanfaatkan. Tapi segalanya berubah saat penyakit kekebalan itu berbalik menyerangku. Aku berhenti mempercayai Tuhan bahwa kebaikan akan selalu mendapat jalan berbalas kebaikan. Tidakkah Dia lihat? Aku, Ram, manusia yang tak pernah peduli pada dirinya sendiri, tak pernah berhenti sedetikpun menggunakan waktunya untuk memberikan keajaiban bagi sesamanya, justru harus mendapat kenyataan bahwa ini berbalik menyerangku.
            Bagaimana virus itu bisa menyelinap ke dalam tubuhku?

Reality Show: Belajar Miskin



Jam Sembilan pagi ini saya harus segera bersiap, ada salah satu stasiun televise yang akan merekam saya untuk syuting sebuah acara. Semula saya menolaknya, buat apa pikir saya. Tapi istri dan anak saya ngotot ingin masuk televise, maka mereka menghalalkan segala cara untuk bisa pamer ke ibu-ibu tetangga dan teman-temannya di sekolah. Maka terpaksa dua hari saya harus mengambil cuti dari kantor, dan ikut acara tidak penting ini. 

Dua mobil bak sudah menunggu saya di depan rumah. Kru-kru televise sudah stand by sejak jam enam tadi malah. Sebagian mengecek sound system, sebagian mengecek kebersihan rumah, dan yang terakhir – sebelum saya diberangkatkan ke tempat tujuan saya harus berganti pakaian yang lebih pantas dan pas katanya. Padahal, menurut saya, ini tidak lebih dari kain bekas untuk mengelap kompor di dapur. 

Dan tanpa berceloteh panjang lebar, syuting dimulai. Istri saya heboh, anak saya apalagi, mereka berdua melambaikan  tangan, tersenyum dengan bibir dilebarkan dan bergaya tiga jari seperti model-model majalah yang pernah saya lihat di beberapa baliho jalan besar, bak permaisuri dan putri raja dari kerajaan mana entahlah. 


Rekahan Senja



Aku berhenti berpikir segala hal tentang aku, aku dan aku, saat Dev mulai putus asa menasihati untuk berhenti dari urusan remeh temeh itu. Dia selalu bilang, sesama saudara tak pantas menyimpan diam  lebih dari tiga hari. Dan kau? Tidakkah kau  merasa bersalah mendiamkannya hampir tiga bulan? 

Aku diam. Ingin berkilah bahwa diam adalah emas daripada berkata menyakitkan. Tapi aku yakin, dia pasti lebih hebat menangkis argumenku yang satu itu. Setiap pertemuan terencana atau tidak, dia selalu mengingatkan itu padaku. Untuk lebih baik memaafkan, untuk lebih baik berhati lapang, dan sebagainya. 

Berulang-ulang. Dan itu sungguh menyebalkan.

Aku tahu dia bermaksud baik, tapi … Aku bosan mendengarnya bicara itu-itu saja. Tak bisakah dia berganti topic tentang harga sembako, atau paus di vatikan yang baru saja diganti, atau hal lain seperti mengapa kentut harus bau, itu jelas lebih menarik dan menyenangkan selain topic perselisihanku dengan Yesa. 

Aku menghela nafas panjang, sebal.  

Harusnya aku menganggapnya lelucon seperti hari-hari sebelumnya, Sejujurnya semua ini hanya hal sepele. Tapi aku gengsi, sekaligus malu untuk meminta maaf lebih dulu. Sekalipun banyak buku habis kubaca, sekalipun banyak dalil kumengerti dan kuhafal di luar kepala bahwa orang yang berbesar hati untuk memaafkan selalu lebih baik tinimbang membesarkan permasalahan. Kulihat di sisi sana Ines memberikan semangat padaku, melempar senyum yang mungkin kode bahwa aku harus bersegera mendekati Yesa. 

Ya, mungkin aku yang harus memulainya.
***

Yesa asyik tertawa melihat acara televise di ruang tengah bersama Ann. Tergelak tak kuasa, hingga matanya tak begitu memperhatikan sekeliling. Seandainya dia tahu aku berada tak jauh dari sisinya, ia pasti akan segera pergi, beranjak masuk ke kamar. 

Aku melirik lagi ke arah Ines, “Lekasl! Ayo!” Ines memberikanku semangat seperti tadi. Mengacungkan ibu jarinya ke arahku. Aku harus segera menyelesaikan ini. Aku bergumam dalam hati, berusaha sebisa mungkin menguatkan keraguan. Aku mengangguk ke arah Ines, doa dalam hati sambil mulai melangkahkan kaki mendekat pada Yesa. Sungguh, kurasa masuk ke kandang macan akan lebih mudah tinimbang memulai berdialog lagi dengan Yesa. 

“bodoh sekali bukan tom si kucing itu? Selalu saja kalah dengan tikus kecil” yesa terpingkal-pingkal di atas sofa. Matanya terarah ke televise. 

“iye, tolol banget tuh tikus”. Ann menimpali,  ikut terpingkal menyaksikan aksi kartun kesayangannya itu. Berlari, jatuh, berlari lagi, jatuh, dan terjepit alat jebakan  tikus yang dipasangnya sendiri di depan lubang persembunyian si tikus jerry. 

Tiba-tiba Yesa berbalik, hendak mengambil air minum ke dapur. Mata kami bertemu, bertubrukan. Aku Menelan liur, refleks aku menunduk. Ingin sekali segera kuucapkan kalimat itu, tapi bibirku urung menyampaikannya. Aku gugup, sekaligus takut menghadapi berbagai macam kenyataan. Kenyataan kalau-kalau Yesa lebih memilih untuk memutuskan persahabatan tinimbang memaafkanku, atau yang lebih parah, dia justru pergi dari rumah ini.

Yesa mendengus keras. Dari jarak sepuluh meter aku bisa mendengar dengan jelas aroma kebencian dan  keengganannya bertemu denganku. Matanya menahan amarah, bibirnya tertarik, dan gelagat tubuhnya yang serba tidak nyaman. Dia Berbalik lagi ke sofa, kukira dia mulai bisa mengurangi ketidaknyamanan untuk berada dekat denganku. Ternyata dia hanya kembali mengambil cangkir gelasnya yang sudah tak berisi kopi. 

Ia keluar, pergi entah kemana. Yesa Membanting pintu keras-keras.
Kami berempat saling bertatapan. Kaget. 

Senyumku terkulum. Berganti perasaan bersalah yang membuatku makin tersengal. Nafasku tertahan mengamati dari ujung ruangan, menyaksikannya pergi tergesa-gesa hanya demi mendapatiku berdiri di dekatnya. 

Mataku  memerah, menahan tangis. Mungkin aku benar, kala itu hendak membela keyakinan, berkeras kepala bahwa akulah yang paling benar dalam urusan ini. Tapi mungkin juga aku telah berbuat salah dengan merendahkan dia, dan bersuara keras karena tak terima. Kepalaku mendadak kosong, semua kata yang hendak kukeluarkan kini lenyap.
Aku sangat menyesal, sunguh teramat menyesal.
***
Tepat hari ini, dua tahun kami mengenal dekat. Dan sudah tiga bulan sejak hari itu kami tak bertegur sapa. Sungguh, bukan karena memperebutkan lelaki yang sedang dia suka yang ternyata justru menyukaiku. Atau menertawakan hal sepele seperti siapa yang paling benar atau siapa yang paling bodoh; seperti biasa. Merasa siapa yang lebih cantik, atau berwajah biasa; rutinitas lelucon yang tidak membuat perdebatan tapi membuat kami tertawa terpingkal-pingkal menyadari ketidaksempurnaan. Kami berselisih hanya karena urusan sepele, yang tak kuduga akan berjalan panjang akhirnya. 

Dua tahun lalu.
Kulihat gadis berambut kepang itu melambaikan tangan ke arahku. Bingung menatap kerumunan orang yang berlalu lalang, mengusap peluh yang membanjir di keningnya. Dia Berteriak- hei dan menatap lurus ke arahku. Aku mendekatinya.

team Api, atau?” dia mengangguk. 

Aku tersenyum puas, akhirnya setelah lima belas menit berkeliling halaman gedung kampus yang dihuni beribu mahasiswa baru aku bisa menemukan satu saja dari kelompok yang akan menjadi teamku hari ini. Aku menghela nafas panjang, bersyukur karena setidaknya, setelah ini aku tak perlu ngos-ngosan sendirian mencari anggota team yang masih berpencar di tempat lain. Sementara itu, panitia ospek sudah berteriak kesana-kemari mengingatkan waktu yang kami punya tinggal tiga puluh menit untuk lekas berkumpul. 

“Ayo ayo! Dua puluh menit lagi! Lekas berkumpul di halaman tengah. Atau kalau tidak kalian akan segera mendapat hukuman. 

“Ayo ayo!” kulihat kakak angkatan itu antusias sekali mengejar-ngejar kami dengan hukuman. Seolah semua orang takut diburu waktu. Aku tertawa sinis, terus focus mencari sebagian orang yang belum kutemukan. 

Sambil berlarian mengangkat papan bertuliskan team api, aku mengulurkan tangan padanya. “namaku Fika.” Dia menyambut uluran tanganku, terengah-engah mengikuti langkah kakiku yang jenjang. “Namaku Yesa. Y-e-s-a”. aku mengangguk, melanjutkan lari. Sambil terus mengedar pandangan, aku berfikir. 

Aku mengajak berbincang Yesa sembari tetap mencari. Berkenalan sepenggal-sepenggal, darimana, tinggal dimana. Mengeluhkan mengapa kami berdua mau-maunya dibodohi seperti ini, mencari satu sama lain orang yang tak dikenal dengan aturan yang tidak benar-benar kami mengerti. Yesa tertawa, menertawakan dirinya sendiri, berkomentar bahwa kita memang selalu diajari dan dilatih tak berdaya. Dan seperti inilah contohnya, aku ikut tertawa menimpali bicaranya. 

Kulihat di seberang taman tiga orang wanita yang berkepang dua menatap ke arah kami. Kami berdua berpandangan, berharap mereka adalah salah satu harta karun kami yang tertinggal. Aih, lagi-lagi aku mengulum senyum. Bagi kami, harta karun ini bisa mengalihkan kami dari segudang alasan senior untuk memelonco kami- dan sejak saat tawa itu tersungging dari mulut kami berdua, kami berjanji tidak akan gentar walau diperlakukan kasar. Ini kewenangan kita menolak. 

Dan benar, mereka bertiga menghampiri kami. Menunjukkan gulungan kertas bertuliskan api. Sontak aku dan yesa mengulurkan tangan bersamaan. 

“Namaku ye-sa. Namaku fika.”
Kami tertawa bersamaan. 

Dan sejak saat itu, inilah keluarga baru kami. Di tengah rantau, di tengah kehidupan baru yang memaksa kami dewasa.
***
Yesa mengirimiku pesan, memberikan ucapan tepat setelah adzan magrib berkumandang. Selamat liburan, itu pesan singkat darinya. Aku tersenyum singkat, Di balik kejam, provokasi dan persaingan mencari perbedaan itu dia tetap bersikukuh bahwa inilah kebijakan langit Tuhan.

“kapan lo balik? Tiba-tiba teleponku berdering, nama Yesa tertera disana. 

“pulang? Bukankah aku sedang di rumah kali ini? aku tertawa. Rindu menggodanya. 

“Maksud gue balik ke Jakarta, Non. Mama papa gue kangen sama lo” 

“Gue nggak cocok kali ikutan acara lo, Yes?” aku tertawa renyah, menimpalinya dengan lelucon.

“Maksud lo?” 

“Y ague kan pake hijab, yang lain pake mini-mini. Nggak lucu juga kali” aku tertawa lagi. Tak perduli di seberang sana, seseorang yang sedang menelponku justru menelan liur karena leluconku yang sama sekali tidak lucu. 

“Oh, jadi gitu. Emang lo pikir yang pake hijab lebih bagus gitu tinimbang sodara gue yang pake mini-mini gitu?” 

Aku diam. Menyumpal mulut. Oh tidak! Bukan begitu maksudku.

“Bukan, Yes. Bukan gitu maksud gue. Maksud gue, gue kan nggak boleh ikut acara begituan. Nggak etis-lah”. 

“Nggak etis? Lo pikir lo yang paling etis? Woi, gue juga kemarin pas acara hari raya lo gue dateng kan? Niat gue cuman silaturahmi, peduli apa gue sama etis nggak etis. Gue nganggep lo sodara, dan cukup. Alesan!”

Semua argumentku ditangkisnya habis-habisan. Aku mungkin salah melempar bahan candaan. Hingga pada akhirnya, telpon diputus. Aku tahu Yesa marah besar padaku. 

Perbincangan itu terbersit di kepala, empat bulan lalu. Saat libur panjang semester genap, Yesa tiba-tiba menelponku. Dan dengan alasan itu pula, keesokan paginya aku datang – menuju rumah Yesa. Mereka sama sekali tak mempermasalahkan perbedaan yang begitu kentara diantara kami. Toh mereka sama ramahnya padaku. Setiap aku datang ke rumahnya, mereka selalu menyiapkan makanan halal untukku. 

Dan untuk perbincangan penuh kesalahpahaman itu, aku tahu – semua hanya bermula dari ketidakpekaanku. 

Aku rindu berbincang dengannya. 

Tapi sudah tiga hari ini Yesa mendapat tugas penelitian di daerah yang  sebenarnya tak begitu jauh dari sini. Kusampaikan hal ini pada Ann, Ines dan Bian. Mereka tak berkomentar banyak. Takut mendapatkan asumsi buruk atau justru menambah keruh suasana.

“Kenapa kau tidak meminta maaf lewat telepon juga? Kau rindu berbincang bukan?”
Aku menghela nafas panjang. Semua ini bukan soal tinggal memencet tombol call pada nomornya. Semua ini soal aku. 

Ya, kurasa semua ini hanya bermula dariku. Dan ditemani rekahan senja sore itu …

Nama yang hampir hilang di phonebook handphone-ku  itu baru saja kutekan.