.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 22 May 2013

harusnya tak begitu



            Kutatap wajah bulatnya yang sedang tertidur pulas, kelelahan. Ada sebulir dua bulir keringat yang menempel di dahinya. Rambutnya berantakan di anak kursi. Tetap saja ia terlihat cantik, bahkan lebih cantik dari sebelumnya. Wajah teduh penuh dengan kehangatan, wajah yang sama kali kedua yang selalu kurindukan, setelah ibu yang dua tahun lalu lebih dulu berpulang. Dia mengolat pelan, menggeliat meringkukkan badan. Matanya tertutup, bibirnya terbuka sedikit; seperti hendak menyampaikan sesuatu bila dia sedang terjaga. Banyak bicara, banyak cerita. Rambutnya yang rontok satu demi satu di sofa ruang depan, naik turun alis matanya, bergerak-gerak seperti menyadari ada aku yang sedang memperhatikan di depannya. Aku tahu dia sudah terlalu lama menungguku, hingga tertidur masih dalam balutan baju panjang.
            Lima menit aku berdiam diri. Setelah berjalan merangkak berjinjit-jinjit agar derap langkah sepatuku tak terdengar olehnya. Sengaja menutup pintu hingga tak bersuara, dan kemudian berhenti menyaksikan wajah ayunya.
            Dia mengoap lagi, bibirnya menyunggingkan senyuman termanis yang pernah kudapatkan. Ah yang, senyummu itu yang selalu kurindukan, yang selalu membuatku ingin kembali pulang. Aku beranjak melepas sepatu, meletakkannya di rak lantas mengangkatnya hati-hati agar dia tak terbangun.
“HATSING!” Ah, aku ketelepasan bersin.


Kulihat matanya mengerjap-ngerjap halus ... pelan matanya membuka, sedetik kemudian wajah teduhnya berubah panik. Bergegas meminta diturunkan. Memaksa untukku meregangkan tangan.
            “eh mas?” air mukanya berubah gelagapan.
“udah pulang? udah lama ya? Kok nggak bangunin, Dinda? Udah makan?” pertanyaanmu seolah tak memilik ujung untuk berhenti dan berganti mendapat jawaban.
ini yang kutakutkan, menganggumu kembali dengan sederet kewajiban yang kau buat sendiri. Aku tahu kau hanya hendak menyenangkanku, mengabdi padaku agar aku tetap merasa bahagia memilikimu jadi pendamping hidupmu. Tapi itu semua tak harus kau lakukan, yang. Sekalipun itu memang kau butuhkan, atau jadi rutinitas harian. Aku sudah cukup bahagia, bahkan begitu bahagia mendapatimu tetap menungguku hingga aku kembali hadir di hadapmu. Harusnya kau tak usah menungguku pulang, yang. Tidur saja, aku justru takut kalau kau kelelahan dan kemudian jatuh sakit. Aku menggumam sambil mendengar desisan yang terus menerus kau keluarkan.  
Aku terdiam lama, membiarkannya menatapku sambil terus bertanya. Pulang jam berapa dari kantor, mas? Tadi sibuk banget ya? Wajahnya kok capek banget? Dinda bikinin air hangat ya buat mandi, mau? Atau kopi, dipijitin, atau minuman yang lain? Biar Dinda bikinin.
Aku menggeleng, sekali ... dua kali, bertahan untuk tidak merepotkanmu sekalipun badanku memang terasa begitu letih. Laporan-laporan di kantor setiap akhir bulan selalu memaksaku bekerja keras, belum lagi deadline yang tak sesuai, karyawan yang malas-malasan, tagihan macet, ah yang; semua masalah kantor itu tak akan ada yang mampu mengalihkanmu dariku sesampainya di rumah. Aku masih berdiri di tempat yang sama sambil terus menatapnya hangat. Sudahlah yang, istirahat saja. Kau pasti lelah seharian menungguku pulang. Dan aku sudah makan, aku baru saja lima belas menit yang lalu sampai di depan rumah. Hingga masuk dan melihatmu tertidur di sofa, aku juga tak ingin minum apapun, dipijit olehmu. Yang terakhir, aku tidak ingin mandi yang. Sudah malam, nanti justru aku tak sempat berbincang denganmu.
Anak-anak sudah tidur? Kau mengangguk menyembunyikan kantuk. Maaf sudah membangunkanmu. Aku tersenyum genit padanya, mengedipkan mata ke arahnya yang sedikit merasa bersalah karena baginya tertidur lebih dulu dibanding suami adalah tak lazim bagi kebiasaannya.
            “benar mas sudah makan? Bener nggak pingin apa-apa?”
Aku mengangguk mengiyakan, “iya sayang, menatapmu saja sudah lebih dari cukup mengenyangkanku”. Dia tersipu malu, kugandeng tangannya masuk ke kamar.
***
Ambillah cuti barang sebentar, mas. Kau butuh rehat sejenak. Jalan-jalan, bersenang-senang, atau sekedar bersantai di rumah. Aku takut kau sakit, mas. Aku tak melarangmu bekerja, hanya saja dua puluh empat jam penuh kau gunakan di kantor, kantor dan hanya urusan kantor. Lantas bagaimana dengan anak-anak, tidakkah kau merasa perlu memberikan perhatian untuk mereka? Sudah berulang kali janji yang mas buat diingkari sendiri, dan anak-anak mulai tak perduli dengan keberadaan mas. Aku hanya tak mau mereka lebih dekat dengan orang lain tinimbang kita sebagai orang tuanya sendiri.
Aku menoleh menatapnya, membiarkan layar laptopku mati setelah beberapa menit dianggurkan begitu saja. Akhirnya momentum ini datang juga. Semua unek-unek itu akhirnya kau keluarkan. Aku sudah tahu  hal ini cepat atau lambat pasti akan terjadi, tapi aku tak menduga bakal secepat ini, dan akupun tak punya antisipasi untuk ini, sama seklai belum mempersiapkan trik andalan untuk membuat visi misi yang baru. Seperti halnya proses pemilihan calon legislatif atau pemimpin yang baru – dan kini mungkin aku sudah mulai tertular virus bibir manis penuh janji-janji. –Tuhan, maafkan aku-
 Kau yang memprotes gaya kerjaku- kesibukanku serejak bangun tidur hingga tertidur lagi. Tanpa sekalipun bisa bertemu dengan anak-anak, bercengkrama, bahkan bertegur sapa. Tiap kali aku bangun, mereka sudah lebih dulu pergi, dan waktuku pulang kerja – mereka sudah lebih dulu terlelap. Dan yang bisa kulakukan hanya masuk ke kamarnya, sembari menghadiahkan kecupan selamat malam. Mungkin itu semua tak akan pernah cukup bagi mereka, mungkin juga bagimu, yang.
 Anak-anak mulai kritis, terus bertanya ayah dimana, ayah kemana, ayah kenapa, ayah bagaimana atau ayah mengapa. Dan sialnya kebohonganku sudah pada titik nadhir, aku tak punya cara lagi menyumpal mulut mereka dengan kebohongan-kebohongan yang dengan tanpa sengaja justru kurencanakan. Mereka Meminta janjiku yang mengajak berjalan-jalan tiap liburan, bersantai di akhir pekan, dan semuanya murni kuabaikan. Tak ada yang lebih kunomorsatukan selain dari pekerjaan. Mungkin itulah jawabannya. Bagi istriku, aku telah selingkuh dengan keluarga baru. –laporan-laporan bulanan itu-
“tapi aku bekerja untuk kalian semua, yang. Ini buat masa depan anak kita, keluarga kita. Biar Rifky bisa sekolah tinggi, biar kelak masa tua kita lebih terjaga dan tak merepotkan siapa-siapa.”
Kau tak bergeming sama sekali mendengar jawabanku, sementara itu, laptop di hadapanku memaksa untuk segera disentuh – menyelesaikan laporan yang tertunda hanya gara-gara karyawan yang lamban bekerja. Dan pada akhirnya, tanggung jawab terakhir aku yang menanggungnya. Konsekwensi atasan, bawahan dari atasan yang lebih atasan lagi. Tatapan matamu seolah hanya ingin menyimpannya sendiri, hingga akhirnya pelan kau membuka suara. Membiarkanku tahu apa maksud dari tatap matamu sebelumnya.
Kau bertanya, benarkah aku bekerja demi dan untuk keluarga? Atas nama keluarga? Aku tentu saja mengangguk cepat. Kalau bukan untuk mereka, mana mungkin aku mau berusaha giat hingga bisa mencapai tingkat sebegininya. Semua menginginkan posisi ini tentunya, gaji besar, promosi kemana-mana, relasi luas, dan tentu saja tunjangan bisa kugunakan untuk membahagiakan kalian semua. Ini semua berkata upayaku, yang. Bukankah kau juga ikut menikmati hasilnya? Kau mengangguk, mengiyakan tanpa mau menatapku.
Kau bertanya lagi, benarkah kau ingin membahagiakan kami dengan semua usaha itu? Aku mengangguk lagi, lebih keras. Lebih mantap, hingga sepertinya tak ada keraguan disana. Tentu saja, yang. Semua ini untuk kita bersama. Bahagia karena kehadiranmu yang bernyawa atau uangmu yang kau beri nyawa? Aku tertohok seketika. Kata-kata itu halus, tapi begitu keras menyentil prinsip juga kesadaranku.
Mas, dengarlah. Semua benar karena usahamu, semua juga benar karena kerja kerasmu. Tapi kalau Tuhan tak punya kehendak untuk itu, tentu saja kau tak akan bisa mendapatinya. Semua berkat Tuhan, dan usahamu. Jangan pernah lupakan itu. Dan untuk jawabanmu yang senantiasa ingin membahagiakan kami dengan upayamu yang berlebihan itu, sekarang kutanyakan; benarkah kau benar-benar mengenali anak-anakmu? Apa saja yang mereka sukai? Apa saja yang mereka ingini? Atau benarkah mereka benar-benar merasa bahagia mendapati ayah yang  sepertimu? Aku terdiam, lebih miris mendengar kalimatnya yang terdengar seperti ingin memojokkanku, atau menyadarkanku.
Semua keluarga tentu saja ingin bahagia, punya ayah dan ibu yang bisa mencukupi kebutuhan, sekaligus perhatian. Dan bukankah mas tahu anak itu adalah titipan? Dulu kita mati-matian mengusahakan agar cepat punya momongan, katamua agar kita lebih bahagia, katamu agar keluarga kita lebih ramai nantinya. Tapi apa nyatanya sekarang yang kita dapat? Kau lebih sibuk dengan urusan duniawi saja mas. Anak itu tanggung jawab bersama, dan untuk itu, rehatlah sebentar; bekerja samalah denganku untuk menuju surga. Dengan mendidik mereka, bersama.
Uang tak pernah punya nyawa, mas. Jangan biarkan dia mengambil nyawamu dari orang-orang tersayangmu. Mungkin kata-katamu benar, yang. Dan untuk kali ini, terima kasih untuk kesekian kali … telah jadi istri, sekaligus penyambung lidahku pada anak-anak. Mungkin itulah hikmah hadirmu bagiku.
Aku berlari ke lantai atas, membuka pelan pintu kamar mereka. Kulihat dua badan mungil yang tertidur lepas, puas. Ada perasaan bersalah muncul tiba-tiba. Ah, harusnya sudah sejak dulu tak kubiarkan uang mengambil alih kasih sayangmu padaku, nak.  

No comments:

Post a Comment