.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 22 April 2013

Biografi Iblis



Biografi iblis

1.      Nama                   : iblis
2.      Gelar                    : setan
3.      Tanggal lahir        : 1-1- tahun perintah sujud kepada Adam
4.      Alamat                 : hati orang-orang lemah
5.      Warga negara       : dunia
6.      Agama                  : kekufuran
7.      Pekerjaan              : pengasuh semua manusia yang sesat dan dimurkai Tuhan.
8.      Pangkat/Golongan : pembangkang utama
9.      Jabatan                 : pemimpin tertinggi kekufuran dan syirik
10.  Masa kerja            : sejak kelahiran adam sampai kiamat
11.  Modal kerja          : penipuan
12.  Cara kerja             : bertahap
13.  Sarana                  : seks, harta, dan semua hiasan dunia.
14.  Sumber rezeki      : semua yang haram
15.  Tempat                 : Night club, pasar (kecurangan), dan tempat-tempat kotor.
16.  Hobi                     : menyesatkan dan menjerumuskan
17.  Cita-cita               : semua manusia masuk neraka
18.  Istri                       : semua yang auratnya terbuka.
19.  Anak sah              : lima orang
20.  Cucu-cucu            : yang durhaka pada orang tua
21.  Yang ditakuti       : zikir dan ayat Al-Quran
22.  Musuh                  : Tuhan dan orang beriman
23.  Teman                  : Semua yang rakus, boros dan ingin kekal.
24.  Kekuasaan            : Nihil
25.  Kemampuan         : Lemah
26.  Wewenang           : merayu
27.  Alat komunikasi   : waswas dan mengumpat
28.  Yang disenangi    : pemutusan hubungan antara Tuhan dan manusia.
29.  Kepribadian         : angkuh. 


Diambil dari buku M. Quraish Shihab : Setan dalam Al-Qur’an.

Pidato Iblis



Suatu pemandangan di tengah neraka diinformaskan oleh al-qur’an: “disana setan berdiri berpidato yang didengar oleh seluruh penghuni neraka. 

“kini, tiba sudah saatnya terpenuhi janji-janji yang disampaikan oleh para nabi. Janji itu antara lain adalah bahwa kiamat pasti datang dan bahwa surga dihuni oleh hamba-hambanya yang taat, sedangkan neraka, dihuni oleh hamba-hambanya yang durhaka. Saya pun pernah menjanjikan kalian bermacam-macam janji, tapi saya mengaku bahwa saya tidak memenuhinya. Tuhan juga telah menyampaikan pada kalian bahwa janji dan harapan-harapan yang saya sampaikan itu adalah bohong.

Ketika itu, saya tidak dapat memaksa kalian karena saya tidak memiliki bukti atas apa yang saya janjikan; saya hanya mengajak kalian dan kalian memenuhi ajakan saya. Karena itu, jangan menyalahkan saya, tapi salahkan diri kalian sendiri. 

Saya tidak dapat menolong atau member manfaat kepada kalian, kalian pun demikian terhadap saya. Saya tidak dapat menolong kalian menghadapi ancaman dan siksa allah. Saya kini sadar sehingga tidak lagi mengakui dan tidak membenarkan bahwa saya adalah sekutu allah.

Demikian pidato iblis yang diinformasikan oleh QS. Ibrahim [14]: 22. 

Diambil dari buku M. Quraish Shihab : Setan dalam Al-Qur’an.
 

Saturday, 13 April 2013

Aku lagi patah hati loh!


pepohonan bergerak mengikuti irama udara, ke kanan, ke kiri, menjatuhkan anak daunnya (dahan dan ranting basah semua)- tepat di atas rambutku. aku mendongak. udara kencang ini nyata, serasa menamparku. dan tetes demi tetes air dari langit terasa menghajarku. semua ini nyata! aku tersenyum, aku tak sedang bermimpi kali ini. walau sedang sakit hati, patah hati, yang kata orang lebih baik sakit gigi – nyatanya hingga detik ini aku masih bisa berdiri dan tersenyum menikmati semilir angin. menyaksikan birunya langit, burung-burung beterbangan, ah – betapa menyenangkan sore ini. sore yang jarang kulewati dengan duduk bertafakur mengheningkan cipta, menyadari keberadaan-Nya. 
betapa buruknya aku yang sedari kemarin hanya mengurung diri di dalam kamar! menangis, tersungguk, mogok makan, berteriak, dan ah. apa gunanya semua itu kulakukan. 

tapi … kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa kembali merasakannya

dia? ahya, aku belum bercerita. aku baru saja patah hati dengan seorang lelaki, sebut saja bernama dia. dia begitu kucintai, kuhormati, kusayangi, sekaligus paling kuharapkan. kalau kau Tanya dimana dan bagaimana bisa aku mengenalnya, akan kuceritakan nanti. 

aku tersenyum lagi, merasa terheran-heran kenapa dengan begitu mudah aku mengingatnya dengan sesungging tawa? padahal sebelumnya aku begitu ingin menghapus memori tentangnya. Memarahinya, menampar, memaki, dan sebagainya. aku tak tahu. hanya saja, biarkan aku membiarkan udara ini berlama-lama menamparku.
             
hei udara! terima kasih sudah menyadarkanku. 
***
             
apa kau serius berhubungan denganku? seperti malam akhir pekan sebelumnya, dia datang menghampiri rumahku. mengetuk pintu takjim dan mengobrol di ruang tamu- setelah berbasa-basi dengan ibu. 

tapi, sejenak setelah ibu pergi. dia malah sibuk dengan kegiatannya sendiri. Hei! Dia bahkan tak menganggapku ada. Aku bicara, dia hanya br-hah-heh seolah itu adalah jawaban. Padahal itu menyebalkan. dia tetap sibuk dengan handphone-nya. senyam-senyum sendiri mengacuhkanku yang baru saja mengajaknya bicara. aku menggoyangkan badannya, dia menoleh. aku ulangi lagi pertanyaan itu, dia hanya mengangguk tipis. tanpa sedikitpun memberi penjelasan, atau lanjutan. kapan akan melamar – kapan tanggal pernikahan – atau sekedar mengajakku berkenalan dengan orang tuanya.

baru beberapa kali saja aku bersalaman dengan orang tuanya, itupun hanya dikenalkan sebagai t-(eman). mulanya aku cemberut, dan dia menenangkanku dengan berkata bahwa ini bukan saat yang tepat. aku mulai mencoba bersabar, mungkin memang benar.
             
dia semakin sering tersenyum sendiri menatap layar handphone-nya. aku mengernyit heran, curiga. kutongokkan kepalaku mendekat, dia menjauhkan handphone-nya dari jangkauanku. kudekati lagi, dia bergeser. kudekati lagi, dia menggeser badan lebih jauh. hingga berulang kali tanpa sahutan.
            
 “yaaaang! dengerin aku nggak sih?” aku mulai jengkel sejak tadi tak dihiraukan olehnya. mulutku manyun, ini malam minggu kesekian dia hanya mengapeliku di ruang depan. tak mengajak kemana-mana, tak juga mengajakku bicara. lalu apa gunanya dia kesini? sekedar meminjam tempat untuk duduk tersenyum dan memainkan handphone barunya? Pamer kebahagiaan? atau hanya ingin memastikan bahwa aku tak sedang kencan dengan lelaki lain. ah, konyol sekali kalau memang benar begitu!
           
 “apa sih!” dia justru membentakku yang mengambil paksa handphone baru-nya,  hoi! ternyata dia ketularan virus autis yang sedang menyerang semua kalangan. tersenyum sendiri di depan handphone, tertawa cekikikan, atau lantas sebal sendiri karena handphone-nya tiba-tiba mati atau lowbat. ternyata aku berhubungan dengan lelaki kekanak-kanakan! kamu serius sama aku nggak sih? umurku udah hampir dua lima, kau masih mau bermain-main dengan umurmu yang sudah merangkak tua itu? atau kau hanya ingin terus menggantungkanku? aku mulai dongkol padanya. dulu dia bilang hanya ingin bertaaruf dan kemudian melamarku ke ayah, tapi bisa kau lihat bukan? sudah dua tahun setengah dia tetap diam saja. tak ada progress yang membuatku bangga memperkenalkannya pada ayah, atau sekedar dia berusaha perlahan menunjukkan kesungguhannya itu padaku.
             
“ya seriuslaaah! tapi nggak buat nikah dulu, aku masih muda.” dan setelah dengan santainya dia menjawab pertanyaanku dengan lelucon yang sama sekali tak lucu itu. dia kembali lagi pada ke-autis-annya, what? Appah? handphone itu lebih penting dari melamarku?
           
 “oke, kita putus!” aku berteriak membalas gertakannya. apa dia pikir aku takut, oh tidak! dia mendongak sebentar. lantas menunduk lagi melanjutkan berkirim pesan pada teman-temannya. yaudah, oke. dia beranjak pergi dari hadapanku.
            
 “MI APPAH?” putus? beneran? aku berteriak dalam hati. sekencang-kencangnya, sekeras-kerasnya. bagaimana bisa dia semudah itu mengiyakan ucapanku? ah, lalu kenapa aku harus mengancamnya dengan bilang putus padanya? sedetik kemudian aku menyesali beberapa menit yang sudah terlewati. kami putus, aku sakit hati, dia pergi, dan tentang masa depan kami? aku menangis sesunggukan. aku tak tahu lagi.
           
 huhuhu … aku bercerita pada yasmin. huhuhu … aku menyalahkan dia yang menerima permintaanku tanpa menatapku, dan yang lebih membuatku lebih sakit hati ; setelah berkata iya, dia kembali lagi senyam-senyum berkutat dengan handphone barunya itu. huhuhu … ternyata aku sedih kehilangannya.
            
 dan sampai dua hari ke depan, aku mengurung diri di kamar. Mungkin memang begini, saat jatuh cinta merasa paling berbahagia. Dan saat patah cinta, merasa paling nestapa. Manusia oh manusia, siapalah kita? Aku sibuk menyalahkan dia, sibuk membodoh-bodohkan diri sendiri. dan sibuk menyalahkan keadaan. kenapa harus ada handphone ituuuuuu! (mulai gila)
***
            
 lelah hanya bisa berdiam diri di kamar, aku keluar. diiringi tatapan lega ibu dan ayah. bertanya kenapa dan kenapa. sedang sejak semalaman aku sudah membulatkan tekad untuk tetap mengontrol hati dan berkata baik-baik saja. Mengambil kaca dan melatih senyum paling paripurna yang aku punya. Berlebihan? Mungkin saja. Dan hampir saja aku semakin gila karena semalaman aku berusaha tampak manis dan berbicara dengan kaca – yang mati.
            
 sementara kak Fadlan yang sedang sarapan di ruang tengah menatapku tak percaya, menelisik dari ujung kepala sampai ujung kaki. mengamatiku curiga! bagaimana bisa adik kesayangan sekaligus satu-satunya begitu betah menurung diri di dalam kamar, sedangkan biasanya aku selalu kelayapan bersama teman-teman. sekedar berkaraoke ria menyalurkan hobi bernyanyiku, atau pergi memancing mengasah kesabaran.
           
 “lo kenapa? patah hati? atau patah tahi? dia tertawa lebar, memperlihatkan gigi-gigi besar sekaligus remahan makanan yang sedang dikunyahnya. aku tersenyum geli melihat mulutnya yang penuh, dengan tetap bicara menggodaku. sementara ayah yang mendengar celetukan itu berkata hush dan menegur kakak untuk tidak berbicara seenaknya. aku tertawa lagi, menjulurkan lidah. “gue? Patah hati? Iya dooong, hebat kan?
             
“Gue lagi bertapa, nyari wangsit”
             
kakakku diam, menyadari mata ayah yang masih mengawasi gerak-gerik ayah. tenang ayah, ibu, kakak, anak perempuanmu ini baik-baik saja. bahkan sudah sangat sangat baik-baik. kemarin aku khilaf saja.
             
dan tiba-tiba, rasanya hatiku menjadi ringan. setelah mandi, berkaca dengan penuh senyuman, dan menganggap semua hanya kerikil-kerikil tak berguna. hatiku berubah ringan seringan-ringannya. dua hari menangis ternyata sedikit membuatku gila. sebenarnya tak penuh dua kali dua puluh empat jam aku menangisinya, buat apa? buat lelaki yang tak serius mengajakku merajut cinta? ah, tak ada guna. setelah kalimat putus itu syah karena ada ijab Kabul malam itu, aku masuk kamar – berpikir, menangis, berpikir lagi, lantas menangis lagi. satu hari pun tidak penuh. buat apa aku menangis? sedang dia malah tertawa genit mengirim pesan dengan banyak orang.
            
 buat apa aku memperbesar mata dan menghabiskan simpanan airmata untuk orang seperti dia? aku sedang patah hati dan berusaha memahatnya? oh mungkin iya, mungkin tidak.
            
 Dan dalam sekejap aku justru disadarkan oleh keheningan itu sendiri. Oh ternyata begini rasanya sakit hati? Oh begini rasanya menghabiskan hari memikirkan seseorang yang membuat sakit hati – memikirkan seseorang yang tak benar-benar peduli – menghabiskan waktu untuk menangisi tragedy yang dibuat-buat sendiri. woi, aku sedang sakit hati loh! aku lagi kena virus gila loh? kemarin aku nangis teriak-teriak sendiri, sekarang aku tertawa-tawa sendiri. Hebat kaaan?
             
 Lalu memangnya kenapa kalau aku sakit hati? Patah hati? Biasa aja kaaaan? Apa lantas esok paginya aku akan mati? Atau hidupku berubah begitu tidak berguna, aku kehabisan udara, aku tak kedapatan mentari, dan blab la bla. Heeei, patah hati nggak bikin mati loh! aku tertawa geli, ternyata sebagaimana pandainya manusia, akhirnya tetap saja berhasil dibuat sakit hati oleh dirinya sendiri. aku menggeleng-gelengkan kepala, dunia ini begitu lucu. hanya dengan menertawai diri sendiri, kau akan merasa begitu bahagia. dan hanya dengan memarahi diri sendiri pula, kau akan merasa begitu nestapa. sebegitu mudahnya? ya, urusan hati memang ternyata mudah sekali. dan patah hati? harusnya aku berterima kasih diberikan kesempatan merasakannya. dan mungkin karenanya aku jadi sadar betapa tidak bergunanya menangisi seseorang yang bahkan tak bisa menikmati keberadaan udara, hanya terpaku pada handphone, handphone dan handphone saja.
dan buat patah hati. makasih banget! sekarang rasanya udah genap loh, pernah jatuh cinta, maka harus pernah sakit hati juga.
            
" lo beneran udah sehat? kak fadlan datang lagi menggangguku. kepalanya menyembul dari balik pintu. dia memaksa duduk, aku mempersilahkannya. dia sebenarnya hanya sedang memastikan bahwa aku baik-baik saja, atau masih separuh gila. aku mengangguk, nyengir lebar. “aku lagi menikmati sakit hati, kak.”  kak fadlan mengerutkan dahi, melipat kening.
            
 “menikmati? sakit hati kok bisa dinikmati? lo gila beneran ya?” sambil mendekat dan duduk di ranjang dia menatap adik kesayangannya ini. aku menggeleng lagi, mengambil paksa tangannya untuk ditempelkan di keningku. suhu tubuhku baik-baik saja, dan aku memang sedang baik-baik saja.
            
 “teruuuus? kenapa kemarin lo dua hari ngumpet di kamar doang? gue panggilin nggak nyahut-nyahut juga?”
            
 sekali lagi, udara semilir itu tiba-tiba menyentuh anak rambutku. membuat poniku sedikit berantakan. aku diam, hening. kak fadlan ikut diam, menikmati keheningan. udara oh udara, nyatanya tanpa dia aku masih tetap bisa menghirupmu seperti yang lainnya. lebih bebas, lebih lepas. mungkin harus dengan patah hati lebih dulu aku menyadari lagi keberadaanmu. Menyadari betapa indahnya menikmati hidup tanpa sok- berharga.
             
aku tersenyum lega, membuka mata setelah menikmati semilir angin di teras belakang rumah. betapa lucunya sakit hati, hanya dengan tersenyum saja – aku bisa menikmati hari lebih berarti.