.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 22 May 2013

Konspirasi




Namaku Ram. Aku tak suka basa-basi. Bagiku kehidupan hanya akan berlangsung dalam dua hal, dimanfaatkan, atau memanfaatkan. Tapi segalanya berubah saat penyakit kekebalan itu berbalik menyerangku. Aku berhenti mempercayai Tuhan bahwa kebaikan akan selalu mendapat jalan berbalas kebaikan. Tidakkah Dia lihat? Aku, Ram, manusia yang tak pernah peduli pada dirinya sendiri, tak pernah berhenti sedetikpun menggunakan waktunya untuk memberikan keajaiban bagi sesamanya, justru harus mendapat kenyataan bahwa ini berbalik menyerangku.
            Bagaimana virus itu bisa menyelinap ke dalam tubuhku?
Apa sebabnya? Kehidupanku hanya berkutat pada laboratorium, apartemen, dan perpustakaan. Tak ada yang lain. Aku tahu apapun yang berkaitan dengannya. Semua data-data itu kumiliki, akses paling mudah sekaligus paling rahasia bisa kutemui karena inilah kehidupanku. Ia menyebar lewat jarum suntik, seks bebas, kondom, atau mungkin lewat tanganku yang tak sengaja membantai chimpanse-chimpanse berpenyakit di afrika sana. Tapi aku tak melakukannya! Aku benar-benar negative dari itu semua. Aku tak pernah bergumul dengan semua hal di atas. Aku bahkan selalu jijik pada virus ini walaupun toh aku sendiri harus terus berkutat dengan mereka.
Siapa lagi yang harus kusalahkan selain Tuhan? Kera hijau? Chimpanse? Dokter? Ilmuwan? Atau penelitian vaksinasi-ku yang tak pernah menemui titik akhir? Omong kosong. Hanya Tuhan yang bisa bertanggung jawab atas kesialanku kali ini.
Dan untuk kali ini, Aku tak mau mengalah …
***
“beristirahatlah, Ram!” Vio menegurku. Membawakan secangkir kopi manis ke meja kerjaku. Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih atas perhatiannya yang tak pernah alfa ia tunjukkan padaku.
“sebentar lagi, Vio. Sebentar lagi aku akan menemukan vaksin untuk virus paling ekslusif sepanjang masa. Dan kau akan bergembira seperti sebelum bisa bermimpi. Aku tertawa renyah, Vio tak bergeming. Menatapku yang sejak subuh tadi bergelut dengan mikroskop, laporan tahunan, data, statistic angka, dan sederet molekul-molekul yang tak ia kenali, ia menggelengkan kepala hampir menyerah. Memaksaku sekali lagi berhenti dan  menghentikan pekerjaan.
“ini sudah jam dua pagi, Ram. Besok Masih banyak waktu, kau tak harus bekerja sepanjang hari demi banyak orang” aku melirik mengedipkan mata padanya. Vio berbalik, mendengus panjang, dan sebelum ia pergi meninggalkanku dengan setumpuk kekecewaan, kutarik lengannya halus. Bibirku mendarat halus di bibirnya, sepertinya aku akan lebih lama lagi duduk di kursi ini. Bibir basahnya refleks memperlebar pupil mataku yang tadi sempat terserang kantuk. “sebentar lagi Vio sayang” ia pergi dengan senyum mengembang, meski lagi-lagi sarannya tak kuhiraukan. Sudah tiga atau empat kali ia berbalik ke ruanganku, membawakan makanan, kopi, menengok, tanpa sekalipun absen mengingatkanku bahwa vaksin ini tak lebih penting daripada tubuhku sendiri. Apa yang harus kukatakan padanya sementara penelitian ini sebentar lagi bisa dinikmati banyak orang, menyembuhkan banyak manusia yang kehilangan asa. Ini keajaiban! Bukankah dia seharusnya bangga mendapati bahwa penyakit se-eksklusif itu akan mendapatkan vaksin dalam waktu kurang dari dua tahun. Dan Aku satu-satunya ahli mikrobiologi yang akan memecahkan rekor untuk itu.
Aku berteriak dalam hati, akhirnya vaksin ini akan segera disebarluaskan. Aku kembali focus pada mikroskop, sebelum akhirnya menyadari bahwa ada gen lain yang tak kukenali.
“sebentar Alf, aku menemukan virus baru yang tak ada kaitannya sama sekali dengan genetic simpanse seperti kata Rob. Aku mengutak-atik sekali lagi hasil akhir penghitungan data, kembali menengok sekilas pada kaca mikroskop. Ada nama baru yang  tak dikenali. Bisakah kau menjelaskan padaku apa ini?” Alf mendekat, meninggalkan meja kerjanya yang sama ditumpuki berlembar-lembar data dan statistic angka penderita aids. “Benarkah? Bukankah epidemi ini murni berkembang dari lompatan spesies simpanse, Ram? Bukankah kau juga meyakini hal ini? Aku menggeleng. Bukan, bukan. Kali ini aku menemukan hal yang sama sekali berbeda di ujung penelitian yang hampir selesai. Ada hal janggal yang mulai kurasakan.
“Benar, aku belum pernah menemukan nama virus ini dalam klasifikasi apapun. Atau kalau tidak, virus ini sama sekali tidak ada pengaruhnya dengan penyebaran aids. Yaya, aku tahu ini. Ini bukan penyebab aids, lalu apa sebenarnya penyebab penyakit ini?” Alf mengernyitkan dahi, memikirkan hal yang sama dengan apa yang ada di kepalaku. Kepalaku tiba-tiba diisi banyak pertanyaan, kami saling berpandangan.  
Aku menutup laptop dengan keras. Mengambil jaket, bergegas berlari secepat yang kubisa.
“kau mau kemana, Ram?” Alf berteriak keras.  
Aku sudah berlari menuju perpustakaan rahasia laborat.
***
Sial! Seluruh aksesku untuk masuk di blokir. Data keanggotaanku bahkan tak bisa kugunakan untuk masuk ke perpustakaan laborat. Aku menelfon Alf, meminta bantuan agar bisa masuk dengan mudah kesana. Tapi Alf juga tak bisa melakukan hal lebih selain memberikanku data-data penelitian yang belakangan ini menguras waktuku.
“ayolah Alf, kau pasti punya cara lain? Ini untuk keselamatan banyak orang!” aku merajuk, seluruh data itu harus kutemukan sekarang juga. Kalau tidak, seluruh dunia akan musnah diselimuti konspirasi.
“apa yang kau maksud, Ram? Sepertinya penyakit itu telah merebut kewarasanmu”. Alf menatapku tak percaya, ingin sekali aku menceritakan seluruh rahasia yang kusimpan tentang penelitian ini. Tetapi aku bahkan tak tahu bagaimana harus melakukannya, bagaimana harus memulainya, aku takut dia justru menganggapku tak waras, atau bahkan dia akan melaporkanku pada badan keamanan bahwa aku telah menyebarkan informasi palsu yang mencemarkan nama baik organisasi. Kali ini aku memilih diam.
Enam bulan hari-hariku sunyi senyap, sejak dokter memvonisku terinfeksi penyakit sialan ini. Kalau kau Tanya dimana rekan se-profesiku, maka aku akan menjawab bahwa mereka adalah musuh terbesar dalam hidupku. Kukira mereka sedang berbahagia atas kepergianku, maka dengan segera mereka akan mengambil alih kewenangan penelitian itu dariku. Data-data itu bahkan belum sempat kusembunyikan rapi-rapi, masih tersimpan dalam computer jinjing di ruang kerja.
Aku bahkan tak pernah tahu bagaimana aku bisa terkena penyakit ini, penyakit yang membuat Ayahku mati karena ketololannya sendiri menyebar benih di sembarang tempat. Bahkan bersenggama pun belum pernah kulakukan. Aku hanya selalu mencuri-curi waktu untuk mencium bibir manis milik Vio, dan hanya itu. Dan cih, apa bisa aids menular lewat ciuman? Dan bukankah Vio juga baik-baik saja? Lalu siapa dalang dari semua ini?
“tolol! Kenapa kau tak gunakan kondom saat berhubungan seks, Ram” Alf mencelaku. Lagi-lagi omong kosong! Siapa yang percaya padaku bahwa aku tak pernah melakukan ini. Ini konspirasi. Dia justru menyarankan padaku menggunakan kondom, apa maksudnya? Bukankah sama saja dia menggiringku perlahan masuk ke seks bebas. Dan pada akhirnya aku hanya akan meringkuk juga menunggu kematian gara-gara penyakit ini. Maka sejak itu, Aku tak pernah lelah mencari fakta-fakta baru tentang penyebaran aids, bahkan hingga ke pelosok Afrika yang hampir jutaan warganya terjangkiti kasus itu.
Hari itu, setelah aku berdiskusi pada Alf, kudatangi perpustakaan rahasia laborat yang sekaligus ruangan pribadi Rob. Kucari Rob di bagian manapun tak kutemui, hingga aku meminta kunci sandi pada petugas jaga dengan berdalih bahwa Rob yang mengijinkanku, dan dia percaya itu. saat aku hendak berbalik diantara tumpukan rak-rak besar itu, mencari dimana saklar lampu. Kutemui justru pintu lain terbuka, di dalamnya ada begitu banyak map-map usang yang belum pernah kubaca. Aku menemukan data-data aneh, mulai dari kasus yang menyerang sekelompok orang berkulit putih di Manhattan, kasus homoseks di Amerika, program perlindungan kera hijau di Afrika, vaksin polio, cacar, dan sederet data lain yang bahkan aku tak pernah sekalipun menerima mentah-mentah hal itu dari Rob.
“sedang apa kau disini, Ram?” Rob tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
Aku menghela nafas panjang, sementara map bertuliskan tahun 1930 itu masih kudekap erat di dada, kusembunyikan sejak tadi di balik kemejaku. Aku tak mau Rob sampai melihatnya dariku.
“aku hanya butuh data penyebaran epidemi ini 5 tahun terakhir, Rob.” Aku menunduk, tak berani menatap mata Rob. Rob mengamatiku dari atas hingga ujung sepatu, lama. “bukan disini tempatnya, Ram. Mari kutunjukkan, tempat ini tak akan memberimu banyak manfaat”. Rob menggiringku keluar, belum menyadari bahwa map ini sudah kucuri dari ruangan tadi.
Aku tak tahu mengapa aku harus menyembunyikan data-data ini pada Rob. Kupikir lebih baik aku tetap menyembunyikannya.
“Rob, kupikir aku menemukan satu virus baru yang bukan berasal dari kera hijau seperti katamu dulu? Atau kau punya penjelasan lain tentang itu?” kulihat Rob tetap tenang, seperti biasa. Aku bahkan tak bisa membedakan kapan dia sedang panic, atau kapan dia sedang bahagia. Raut wajahnya terlalu misterius.
“Semua penyebab epidemi ini tak penting kau ketahui, yang jelas kau hanya harus bersegera menemukan vaksin untuk penyakit mematikan ini”. Aku mengangguk mantap, hendak berpamitan sebelum Rob menyadari bahwa aku telah mencuri map ini dari ruangan kerjanya.
“kenapa kau memegang perut sejak tadi, Ram?” Rob bertanya refleks hanya semeter sebelum aku keluar dari ruangannya. Aku memutar otak, entah kenapa aku justru berusaha membuat kebohongan sejak tadi. Ada kejanggalan-kejanggalan yang justru membuatku makin penasaran, sepertinya memang ada rahasia besar yang Rob sembunyikan dariku.
“aku hanya sakit perut, Rob”. Dan sebelum Rob bertanya banyak tentang keadaanku, aku tergesa-gesa meninggalkan ruangannya.
***
Omong kosong berkas-berkas ini. aku menggebrak meja kasar. Melemparkan map usang pembuka kedok kejahatan terselubung ini. Kenapa baru sekarang berkas rahasia ini kutemukan? Bertahun-tahun aku mengabdi, bertahun-tahun aku jadi bagian dari program kemanusiaan yang dijalankan oleh mereka. Aku begitu percaya bahwa aku-lah salah satu manusia yang mendedikasikan hidupnya bagi sesama. Tapi detik ini, apa yang kudapat? Ini benar-benar pembantaian massal, manipulasi ilmu kedokteran, senjata pembunuh, dan apalah.
Aku memutuskan berhenti mempercayai mereka.
Tidakkah ini seperti adzab kaum luth di jaman purba dulu kala? Aku mendengus sebal. Tapi mengapa hanya kaum putih yang terserang penyakit sialan ini? dahiku mengernyit. Program vaksin polio di Afrika, perlindungan primate kera hijau, program kemanusiaan, semuanya dilakukan organisasi ahli mikrobiologi terbesar ini disana. Bukankah harusnya sejak awal aku bisa menduga bahwa banyak yang salah dari semua yang kulakukan? Semua bisa saja dimanipulasi, di-setir pihak lain. Aku ber-huh sebal.
Awal mula penyebaran terjadi di Amerika, tapi mengapa pada akhirnya semua mengarah dan mendiskreditkan Afrika? Kukira semua mulai membingungkan. Belum lagi sederet alasan depopulasi dunia, overpopulation, penyempitan lahan dunia, ketidakseimbangan natalitas dan mortalitas, politik penstabilan ekonomi. Kurasa virus kekebalan ini memang sengaja dibuat manusia, aku tak menemukan sumber valid bahwa mereka dibawa dan bersumber dari kera hijau afrika. Ini kontaminasi vaksin pembunuh massal, program pengurangan penduduk dunia dengan langkah paling fantastis. Aku meremas kepala, berkas ini membuat kepalaku pusing bukan main. Aku salah telah menimpakan kejahatan ini pada Tuhan.
            “sial!” aku mendesis. Tubuhku semakin kurus kering, mulai kehilangan tenaga. Kalau bukan karena ketololanku terlalu mempercayai mereka, aku tak akan terkena penyakit sialan ini.” Vio membalik badan, menyuruhku menahan emosi yang mulai meradang.
            “ini ujian, Ram”.
            “apa kau bilang? Ujian? Asal kau tau saja, Ini pembunuhan massal, kita semua tertipu mentah-mentah! Tidak hanya aku, tapi kau, semua!” aku mendengus malas. Dan sebelum vio menyadari kalimatku yang terakhir, aku segera menutup mulut. Aku takut akan semakin banyak ketelepasan bicara. Ini belum saatnya aku mengungkapkan fakta-fakta ini pada Vio. Masih banyak data yang harus kutemukan agar penelitian ini lengkap, bukan sekedar dugaanku saja. Aku takut dia justru terkejut hebat menyadari kebaikan sifatnya sudah diselewengkan oleh pihak berkuasa.
            “sudahlah ram, berhenti menyalahkan siapapun. Penyakitmu hanya butuh ketenangan, dan untuk itu kau harus menahan emosimu yang meledak-ledak” Vio bergerak mendekat, mengelus pundakku penuh perhatian.
            “Tapi aku bahkan tak pernah berhubungan badan dengan siapapun, Vio”. Vio terhenyak, menyadari kejujuranku sebagai bagian yang sedikit melukainya, ia bahkan tak percaya kata-kataku. Dia diam, menggeleng. Kode bahwa aku tak perlu melanjutkan lagi kalimat itu padanya. “Vio, bisakah kau membantuku sekali lagi?” Vio menatapku tak percaya. “untuk apa, Ram? Itu hanya akan mempersulitmu”.
            Baiklah, akan kujelaskan semua rahasiaku padamu, dan kau berjanji membantuku sekali ini saja. Vio mengangguk, aku tak punya cara lain selain membuka kedok mereka.
            Aku harus segera bertindak
***
Vio membelalakkan mata. Benarkah semua yang kau bilang itu? aku mengangguk. “ya, dan tak ada yang kumanipulasi. Kukira ada yang sengaja mencemari laborat-ku hingga aku terkena penyakit ini. semua petinggi punya akses masuk ke dalam laboratku, dan mereka bisa saja melakukan apapun. Kurasa Rob mulai curiga padaku sejak aku menyelinap masuk ke ruangannya itu. Maka dari itu aku butuh melengkapi semua data tentang ini, kau sudah berjanji padaku, Vio”. Ia diam, sulit menolak. Aku tak tahu lagi bagaimana caranya membuat dia mempercayaiku tinimbang Rob, atau tom, atau siapapun lebih dari aku.
            Oh Tuhan! Aku menepuk dahi. Kali ini aku ingat mengapa aku bisa tiba-tiba divonis positif mengidap penyakit sialan ini. Semua test menunjukkan positif, dan aku mungkin bisa menyembuhkan penyakit ini dengan vaksin buatanku sendiri.
“kenapa, Ram?” Vio menoleh. Membuyarkan lamunan.
            “Tom, Ya kurasa Tom yang melakukan semua ini padaku”.
Tom selalu menuruti apapun yang diperintah Rob, dia juga orang yang selalu iri atas keberhasilanku dibanding yang lainnya. Bahkan sekalipun itu Alf yang hanya akan jadi asistenku sepanjang hidupnya, aku tak yakin dia akan mengkhianatiku dengan berbuat sekejam ini. Aku mengangguk sekali lagi, memastikan diri bahwa benar-benar Tom yang sengaja membuatku mati sia-sia. Siapa lagi selain dia? Banyak alasan yang akhirnya menuntun kepalaku untuk mencerna bahwa hanya dia yang mampu melakukannya. Dan satu lagi, hanya dia yang begitu membenciku karena Vio lebih memilihku. Bukan dia.
“Ayolah, Ram. Hanya kau yang bisa menolongku kali ini. aku butuh donor darah untuk transfusi ayahku.” Tom memohon-mohon bantuanku di hadapan Vio. Kulihat Vio memberikan kode dari balik mejanya, bahwa aku harus mengiyakan. Tak ada alasan apapun yang mengharuskanku menolak membantu ayah Tom, toh dia temanku sejak dulu. Toh kali ini golongan darahku juga sama dengan milik ayah Tom, tak ada alasan lagi, aku mengangguk mantap. Kulihat Tom menyeringai ganjil.
“ini apa, Tom?” sambil berebahan kulihat dia menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhku di tengah-tengah transfusi darah yang kulakukan. Sambil menahan sakit dan lemas, aku mengamati vaksin apa yang dia berikan padaku. Mataku kabur. Aku tak bisa melihat wajah Tom dengan jelas.
“ini hanya vitamin agar kau lebih kuat, darahmu sedang diambil, Ram. Tenang saja” aku melihat Tom terus menerus memberikanku suntikan tanpa seijinku lebih dulu, aku tak sanggup menolaknya.
“begitulah, Vio. Kukira memang saat itu Tom mencemari gen kekebalanku dengan virus itu” aku menghela nafas panjang, sementara semua sudah terjadi. Seluruh kesombonganku lenyap, ternyata sekarang virus ini bisa mereka tularkan dimana saja-pada siapa saja, dan sialnya aku tak pernah menyadari. Aku terlalu bodoh mengakui bahwa kemampuanku terbatas dibanding kejahatan mereka yang sudah terorganisir sejak lama. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain hanya duduk diam menerima bahwa harapan Tom dan Rob untuk membuatku mati sia-sia berhasil. Aku tertunduk lemas, tepekur menatap lantai. Membayangkan banyak hal.
“aku punya cara lain selain menyelinap ke ruangan Rob! Ya, aku tau, Ram!” Vio berkata penuh binar-binar semangat. Aku terpaksa mengiyakan sarannya, tak ada cara lain yang lebih aman bagi kami untuk membuka seluruh file-file rahasia ini. Vio akan membobol jaringan computer Rob dengan keahliannya menebak sandi-sandi rahasia. Aku mengangguk pasrah, kupercayakan semua padanya.
“Ya Tuhan, Ram! Semua benar! Lihatlah! Kita telah salah masuk pada organisasi ini”. Vio menghela nafas lemas, menelan ludah sembari matanya tetap awas membaca seluruh data ini. Semuanya kamuflase, mereka terlalu rapih menyimpan seluruh kejahatan ini. Virus mematikan ini sengaja dibuat untuk mengurangi separuh bahkan tiga perempat penduduk dunia, dan hebatnya tak ada yang menyadari kebodohan sekaligus kecerdasan mereka. Senjata biologi ini bahkan direkayasa sangat berbeda dan sangat ampuh membunuh system kekebalan, karena campuran gen dan seluruh mikroba super akan bersatu padu. Tubuh kita bahkan tak punya antibody yang mampu melawannya. Aku menepuk dahi, melupakan sesuatu.
“Apa, Ram?” Vio menoleh, ikut panic demi mendengarku berbicara amat keras.
“Data-data di komputerku, Vio”.
Dan sebelum semuanya terlambat, aku berlari menuju gedung laborat, menarik lengan Vio paksa, menerabas semua yang menghalangiku masuk. Aku tak tahu apa salahku hingga semuanya berbalik seratus delapan puluh derajat menolak mentah-mentah kehadiranku, padahal virus ini tak menular lewat kontak mata. Alf mencoba menghalangiku, kutendang lutut kakinya dari belakang, memukul tengkuknya sedikit keras hingga ia terjatuh. Dan sebelum kembali menyadari waktu yang teramat singkat, kuambil ID Card miliknya, aku kembali menerabas masuk ke ruangan. Kurobek seluruh data yang ada di dalam laci, di map, dimanapun. Aku kalap ingin segera mengenyahkan seluruh data-data tentang penelitian yang kulakukan. Segala macam arsip, lembar berisi coret-coretan ikut kujadikan sasaran. Dan yang terakhir, kubuka computer di meja kerjaku. Aku menghela nafas lega, setidaknya Alf tak pernah sekalipun kuberi password untuk data-dataku.
Kutekan delete. Dan klik.
Semuanya musnah.
Semua habis, Aku tak mau ada sedikitpun teori, susunan antivirus, atau bahkan data-data seremeh temeh apapun tentang penyakit berbahaya ini ditemukan siapapun. Apalagi memberikan celah bahwa vaksin ini hanya akan dicemari untuk kesekian kali. Betapapun bencinya, aku menyadari kehebatan mereka, manusia adalah penghuni sekaligus perusak bumi. Dan dalih kemanusiaan justru membuat mereka mati tak berdaya, tanpa ada satupun yang mencurigai bahwa merekalah di balik semua konspirasi ini. Ini lebih dari sekedar serangan fajar, dan kali ini tak ada yang tahu; bahwa virus ini bisa disembuhkan lewat salah satu gen tubuh dalam diri kita sendiri. Hanya aku yang tahu.
            Aku tersenyum penuh kemenangan.



No comments:

Post a Comment