.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 22 May 2013

istimewa vs indra



Kulihat Ram mendekat, aku sudah hendak berbalik merapikan buku-buku di kursi kemudian menyingkir dari pandangannya. Tapi sedetik sebelum kemudian aku berlari, ia sudah melambaikan tangan sambil berteriak.
“Tom!, tunggu!” aku mendengus sebal. Benar-benar hari buruk. Aku menghentikan langkah tanpa perlu membalikkan badan menyambut panggilan Ram. Seharusnya dia tahu aku malas berbincang dengannya, bagaimanapun, dan sesederhana apapun. Tidak tahukah dia kalau aku menyimpan sebal? Dia selalu suka berkomentar tanpa berpikir lebih dulu, bahkan sebelum orang lain selesai berbicara ia merasa pantas untuk menyanggah semua perkataan orang lain. Cih, memang menurut dia hanya dia yang benar? Aku menghela nafas panjang, berusaha menetralisir perasaan.
“Tom! Tunggu sebentar!” aku terpaksa membalik badan.

“aku ingin bertanya padamu, Tom. Bukankah kau suka membaca, barangkali kau bisa menjawab kebingunganku. Aku mengangguk malas, “ya, tapi aku sedang tak ingin berdebat”. Ram tertawa menepuk bahu-ku, dia kira semua hal ini lucu.
Minggu lalu dia sengaja mengajakku berdebat tentang manfaat kehadiran setan, ya, aku tahu itu. tapi dia tetap tak terima kalau setan punya sederet prestasi bagus bahkan mencengangkan bagi beberapa manusia. Lanjut lagi, baru saja dua hari yang lalu, ia sengaja membuatku geram dengan argumennya bahwa Tuhan memang punya banyak nama. Sekuat, bahkan hingga kering aliran air liurku, ia tak mau sekalipun mengakui bahwa hitungan Tuhan tetap saja satu, untuk satu manusia.
“Ayolah Tom, jangan terlalu serius padaku. Kita berteman baik, bukan?” aku terpaksa mengiyakan, kalau bukan karena prinsip hidup bahwa belajar memaafkan lebih baik tinimbang terlalu mencari kesalahan, maka tidak mungkin kali ini aku mau berdialog lagi dengannya.
Aku ingin meneruskan pernyataanmu kemarin, Tom. Kemarilah.
“sudah kuduga .. “ aku menggumam sambil berhuh pelan.
***
Bulshit. jawabanmu sama tak memuaskannya dengan yang lain, bagaimana kita harus percaya pada sesuatu yang bahkan kita tak tahu. ia mendengus tak terima. sementara aku mulai lelah, perdebatan ini sama sekali tak ada gunanya menurutku.
Seminggu lalu aku mencoba menjawab pertanyaannya tentang keyakinan dengan pendapat dari beberapa pakar, bahwa kita kadangkala memang harus percaya pada hal yang tak kita tahu. Mempercayainya dalam hati- tanpa ragu- tanpa pertanyaan lagi. Tapi dia bahkan menyela bicaraku sebelum aku selesai memberikan pengertian padanya. Dan parahnya lagi, setelah sibuk mencercaku dengan kalimat tidak terimanya, tanpa pamit ia meninggalkanku. Siapa yang tak dongkol diperlakukan begitu?
“apa yang membuatmu harus tidak percaya, Ram?” aku mencoba sabar, berulang kali menarik nafas dan mengeluarkannya lebih teratur. Berucap istighfar berulang kali dalam hati. “semuanya, Tom! Kita jelas lebih sempurna dibanding makhluk sebelumnya, Tuhan sendiri bukan yang bilang begitu dalam kitab suci? Harusnya kita diberi kesempatan untuk tahu segalanya.”
"Bukan sekedar tidak tahu, Ram. tapi kita hanya perlu meyakininya." aku mengalihkan pandang darinya.
"aih, lalu apa gunanya kita punya mata? indra untuk melihat, hah? lagi-lagi kau mendebatku tanpa banyak berpikir lebih dulu. aku tersenyum sinis. "berarti kali ini kau yang harus banyak membaca. perbedaan manusia dengan makhluk ciptaan lainnya adalah hati, nafsu, akal. Kalau kau bilang bahwa kita manusia paling sempurna, kau salah besar! Semua jelas butuh pengecualian.
“pengecualian? Coba sebutkan padaku!” kau menatapku sinis, menganggap aku tak akan mampu memuaskan hasrat berdebatmu kali ini. biarlah, aku tak perduli. Kalau harus dengan berkelahi, aku tak akan piker panjang. Akan kuselesaikan emosi yang sudah kusimpan berhari-hari ini secara jantan, kalau perlu kurontokkan gigimu yang bergemeretak tiap kali mengartikan sepenggal demi sepenggal ayat Al-Quran yang kau baca.  
“tentu saja semua punya pengecualian. Kalau kau bilang kita sempurna, mungkin saja benar. Dengan keterangan bahwa kau gunakan seluruh anugerah yang diberikan Tuhan, akal hati dan nafsu pada tempatnya. Menahan sebisanya, dan bahagia secukupnya. Dan lantas, kalau semua tak pernah kau gunakan, apa bedanya kau dengan anjing? Menggonggong seenaknya, menjilat lidah sembarangan.” Matanya melotot tak terima. Aku tertawa sinis, dia kira dia bisa membuatku bungkam lagi kali ini. tidak! Setelah dua kali diskusi dan dia membuatku jengkel, maka kali ini tak akan kubiarkan ia mengambil kesempatan ketiga kalinya.
“lalu apa gunanya kita punya mata? indra untuk melihat, hah??” sekali lagi aku tertawa puas. “Ram … Ram … kau ini sungguh keterlaluan. Kau hendak mencari jawaban atau mencari musuh, hah? Ini jelas pertanyaan jebakan. Kalau kau hendak berbincang baik, kau tentu tak akan banyak menyanggah kalimat orang lain, kau harusnya bersikap manis; bukan malah meninggalkan mereka seenaknya.”
“kau Tanya apa gunanya indra? Mata? Sudah jelas bukan, mata kita untuk melihat. Sialnya kita hanya bisa melihat dengan kewenangan Tuhan, perlu syaraf otak untuk menggerakkan ia ke kanan kiri depan belakang. Sama seperti hewan yang punya mata dan tumbuhan dengan stomata. Bahkan malaikat dan setan punya mata-mata lebih banyak dibanding yang bisa kau bayangkan.” Aku menelan ludah, menelan bulat-bulat kalimatku yang bernada sok paling pintar.  
“Tetap saja kita ini paling sempurna, dan aku butuh sesuatu yang bisa terlihat mata. Bukan dikarang-dikarang, apalagi hanya khayalan, tidak jelas. “ aku menggebrak meja. Kali ini kau tak hanya sekedar keterlaluan, dimana kau gunakan pikiran dan perasaanmu itu, hah? Keistimewaan selalu butuh perjuangan. Dan Kalau kau tetap bersikukuh ingin bisa melihat segala misteri kehidupan dengan kedua matamu itu, tumbuhan, hewan juga punya mata. silahkan saja kau berdiskusi dengan mereka, sudah jelas?"
Aku beranjak, tak ada gunanya berdebat dengan orang keras kepala.

No comments:

Post a Comment