.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Saturday, 30 March 2013

Jangan Karenaku



            “maafkan aku. aku akan berubah, Mel … “wajahmu tertunduk, aku tahu kau malu. aku tahu kau berpikir lebih banyak hanya untuk menyampaikan ini, aku juga tahu kau berusaha menemukan kembali suara teduhku dulu. saat-saat kita masih berdua, menjadi sepasang suami istri yang tampak selalu bahagia. hanya tampak di luarnya saja. sementara di kedalaman hatimu, aku tak pernah tahu bagaimana wajah janji yang pernah dan selalu kau ucapkan padaku.
            apa kau masih mengingat itu, Rud? aku menggumam dalam hati.
            “tak ada yang perlu dimaafkan, Rud. kita sama-sama belajar … “ kudengar suaramu berubah parau. lagu-lagu kenangan yang kudengar tadi seolah berubah latar jadi lagu paling sendu sepanjang masa, abadi membuatku mengenang masalalu.
            “tapi aku menghianatimu, Mel. maafkan aku” dan ini untuk kali kedua aku melihatmu menangis di depanku. yang pertama saat kau gugup takut melamarku, dan kini untuk penghianatan itu. aku bahkan tak tahu seberapa berarti tangismu yang jarang-jarang itu. kesungguhan, atau sama halnya kebohongan.
“jangan karenaku, Rud. aku bukan siapa-siapa … jangan sekali lagi membuatku percaya bahwa keyakinan bisa dikalahkan oleh keraguan. jangan sekali lagi membuatku berubah hanya dengan lebih dulu menyakiti. berubahlah karenamu, bukan aku. karena ketika aku mati di hatimu untuk kesekian kali, perubahan itu tak pernah bernyawa lagi” kurasai kalimatku yang mulai mengambang, tangisku mulai menggenang. sejujurnya ingin sekali aku memelukmu, berkata iya untuk permintaanmu yang selalu tak pernah kuberikan penolakan. aku yang dulu, yang selalu patuh padamu – berharap bahwa surga bisa kutemukan lewat senyummu. aku yang dulu, yang percaya bahwa kaulah jalan kebaikan bagiku. tapi musnah, membuatku kehilangan pegangan.
dan yang membuatku terpuruk, kau menghilang tiba-tiba. meninggalkanku dalam kekecewaan besar, karena hanya kau satu-satunya yang kupercaya akan menuntunku bahagia.
“aku akan membahagiakanmu, Mel. aku tahu kau tak bisa hidup tanpa cintaku” aku tersenyum kecut. ya, aku tahu itu. aku tahu aku masih begitu mencintaimu. aku juga tahu aku tak bisa hidup tanpa cintamu, maka cintamu ini akan tetap kukenang dan kuabadikan. tapi bukan kau, Rud. bukan lagi untuk bersamamu.
“Pergilah, Rud … aku tak mau menangis di hadapanmu … “
aku masih ingat Rud. aku tahu kau lelaki yang baik, sewaktu aku mengenalmu pertama kali.. kau selalu saja bisa membuatku merasa nyaman, merasa istimewa, dan juga membuatku teryakinkan bahwa lelaki baik-baik hanya untuk wanita baik-baik pula – dengan mengatakan bahwa akulah yang terbaik untukmu. aku berusaha memegang teguh kalimat itu, sembari terus meyakini bahwa suatu saat nanti lelaki terbaik itu adalah kau. mungkin juga sedikit memaksakannya sama.
            “kau akan meminta apa dariku, Mel?” kata-kata pertama yang kau ucap sewaktu aku menerima lamaranmu. aku terduduk manis, berpikir. tak ada hal lain terbersit dalam kepala selain bisa bersanding denganmu di pelaminan, dan menjadi nyonya Rudi.
aku menggeleng mantap. tak ada, begitu saja.
            “tak ada? kenapa?”
            “karena memang ikatan tak butuh banyak hal selain keyakinan”. aku mengangguk
“begitukah? sebaik atau se-meyakinkan itukah percayamu padaku?”
bagaimana dengan banyak kasus di luar sana, Mel? kau tetap percaya bahwa kita hanya butuh keyakinan saja? aku tersenyum, entahlah Rud. jangan Tanyakan jawaban itu padaku, tapi tanyakan pada kedalaman hatimu. biar saja kehidupan menawarkan banyak permasalahan, atau banyak cerita dan pilihan, kita tentu selalu bisa memilih jadi bagian mana. dan Rud, ini bukan debat kusir. aku tak akan meminta apapun darimu. aku hanya butuh keyakinan, bahwa kau sebaik yang terus kau kumandangkan untukku dulu.
tapi, janji setan juga sama halnya  sebuah ketegasan.
“maafkan aku. aku berjanji akan berubah Mel … “ kau berlutut pasrah di hadapku. aku beranjak pergi, tak ada kesempatan lagi, Rud. bukan padaku …
***
 tapi seharusnya kau bisa memberinya kesempatan, Mel? kenapa kau bisa berubah setega itu? Tuhan bahkan memberikan banyak kesempatan untuk pertobatan, banyak jalan. ini bukan kau yang dulu, Mel. Qiu mempertanyakan segala hal yang baru saja kubicarakan dengan Rudi. tentang keputusan bulatku, tentang seluruh pernyataanku. aku tak tahu, apakah ini terbaik atau bukan. tapi bukankah Qiu, terbaik atau bukan terbaik pun bukan kita sendiri yang menilai. bagaimana bisa kita memberikan porsi besar untuk nama kita sendiri, itu namanya tidak objektif, Qiu. dia menggeleng cepat, aku tahu, dia sedang menyiapkan jurus balasan yang lebih ampuh. sedang aku masih tak mengerti, mengapa kesalahan harus terus diberi maaf? bukankah kita diberikan pelajaran bahwa kita tak boleh terjatuh pada lubang yang sama?
“lantas? kau pikir ini jalan terbaik?” qiu menatap sinis, seolah semua perbuatanku menolak memberi kesempatan pada Rudi adalah keputusan terbesar sekaligus terbodoh yang pernah kulakukan.
“iya, bagiku sekarang ini adalah yang terbaik”
kulihat Wina tersenyum dari balik majalah yang dibacanya. “kau benar-benar sudah berubah, Mel. kenapa tak dari dulu seperti ini” dia kembali pada rutinitasnya, tanpa perlu memberiku penjelasan lebih lanjut. berubah? apa waktu benar-benar merubah keyakinanku?
aku selalu memegang teguh keyakinan itu, selalu. tak ada yang lebih meyakininya selain aku: bahkan orang-orang di dekatku. sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyimpan keraguan. bahkan setelah sepenuh hati kuyakini bahwa dia lelaki baik yang Tuhan kirimkan, keraguan itu tetap mencari celah untuk hadir. seolah sekrup kendur itu ia temukan setelah sepuluh tahun berjalan … aku tahu ini seperti mimpi, dan tak ada yang suka bermimpi buruk. sepuluh tahun belum juga belum dikaruniai momongan aku tahu dia pun sama halnya menyimpan banyak keraguan. aku tahu dia gusar dengan komentar banyak orang, aku juga merasakan hal yang sama. tapi dia tak pernah mau terbuka, hingga celah itu justru dia berikan pada wanita lain. aku percaya, aku selalu berusaha bersikap baik. berdoa dan melakukan yang terbaik. lalu apakah keyakinanku yang salah, bahwa belum tentu wanita baik-baik akan selalu berjodoh dengan lelaki yang baik pula? atau butuh waktu untuk membaikkannya? tapi sampai kapan?
“tapi setiap orang berhak punya kesempatan, Mel? tidakkah kau ingat itu? qiu berpanjang lebar kata, gemas mendengar jawabanku yang tak bergeming dari semula. –dan kau Qiu, bukankah dulu kau yang menyarankan padaku untuk berpisah saja? menyudahi perselingkuhan, perbuatan kasarnya, juga emosinya yang meledak-ledak? kenapa sekarang jadi kau yang berbalik memprotesku saat aku disadarkan oleh keadaan?”
“tapi, Mel. Rudi sungguh-sungguh ingin minta maaf padamu. Aku tahu .. Rudi bahkan memohon restu dariku.”
aku sudah berubah, Qiu. kau harus menerima itu.
“apa ini negosiasi, Qiu?” dia menoleh, mengerutkan dahi. bertanya balik, apa maksudnya. menggeleng sedetik kemudian. “bukan, ini sama sekali bukan negosiasi. dan seandainya ini sebuah negosiasi, maka akupun sama halnya tak bisa berbuat banyak. jika posisi kita dibalik, apakah kau mau menerima Rudi lagi, Qiu? apakah kau mau memberikan kesempatan di atas hatimu yang telah terluka sedemikian banyaknya? hanya karena meyakini dia-lah yang terbaik untukmu ?
Qiu diam. lama, hingga hanya terdengar suara jangkrik-jangkrik malam bersahutan. hening, kebisingan hati kami masing-masing yang mengendalikan. Menggeleng, tak yakin bahwa dia akan sekuat itu bertahan selama yang pernah kulakukan.
bahkan kau sendiri pun tak punya jawaban untuk itu, Qiu.
“boleh aku bicara, Mel? wina angkat suara, majalah itu kini diletakkannya di meja. bersanding dengan album-album lama yang mulai usang tanpa dibuka. aku mengangguk, membiarkan Wina mendekat sementara Qiu mematung dengan sikapnya sendiri. aku tahu kau bermaksud baik, Qiu.
“janji itu pasti, Mel. jangan kau campur adukkan dengan kesalahan seseorang, meskipun itu seseorang yang amat kau sayang.”
“lalu siapa yang salah, Win? aku yang tak baik? Rudi yang tak baik? atau Keyakinan itu? Wina menggeleng. bukan siapapun, atau apapun. kau baik, Rudi juga baik, keyakinan itupun sama halnya baik. hanya saja, manusia memang makhluk yang bebas memilih. sama halnya Qiu yang bebas memilih untuk menyudutkanmu dalam posisi apapun, dia hanya tak tahu bagaimana cara menyampaikan kekhawatiran. dan untuk itu, Qiu juga tidak salah. kulihat dia meringkuk di ujung ruangan, diam menatap kami berdua. menunggu Wina bicara.
“Mel … dengarlah, kebaikan butuh waktu. dan kau hanya butuh meyakini itu. jangan kau buang keyakinanmu yang bergeser karena satu orang”. aku mengangguk, meresapi kata demi kata yang wina bilang.
lelaki baik hanya untuk wanita baik-baik, dan mungkin aku yang harus lekas memperbaiki kesalahan …

Friday, 29 March 2013

Kita saudara



            sebenarnya apa yang sedang kulakukan kali ini? apa yang kubela? harga diri, kebenaran, kebesaran, atau hanya sekedar aku ingin menunjukkan kebolehan; bahwa aku tak bisa dikalahkan siapapun. bahkan olehnya sekalipun. tapi apa untungnya? aku menggumam dalam hati.
            aku berteman baik dengannya sejak dulu, mengenal baik keluarganya – silsilah itu bahkan kuhafalkan tanpa paksaan. mulai dari ayah, ibu, kakek, nenek, hingga pembantunya sekalipun. aku mengenalnya sangat baik, sama baiknya dengan aku yang mencoba mengenal diri sendiri. hingga status saudara mereka sematkan ke dalam jiwaku. aku senang menerimanya, menempati urutan teratas dan hubungan baik bernama saudara. lima belas tahun menjadi sahabatnya, mendalami wataknya, bahkan hingga urusan separuh kehidupannya aku tahu benar bagaimana runtutnya. tapi kenapa hanya karena masalah sesepele ini kami justru berselisih paham? Urusan ini bahkan sebelumnya tak pernah kami pusingkan.
            bukankah di luar sana masih banyak perdebatan seru yang bisa kami tonton tanpa harus menjadi lakonnya sendiri? bukankah kami bisa jadi penonton yang bertepuk tangan, memaki, dan bebas memberikan opini tanpa harus menjalani? atau memang semua manusia tak bisa berdiam diri hanya jadi penonton, alias pertengkaran ini memang harus kami yang menampilkan. ganti orang lain yang mendapat tontonan gratis, fine, mungkin itu keseimbangan.
setan mana yang waktu itu berhasil mengenyahkan kesadaran kami? penghormatan dan sederet aturan yang kami pegang teguh. aku menelan ludah, gamang dengan perasaan sendiri.
rasa-rasanya; semakin lama aku membuat jarak, hanya kehilangan yang kudapat.
***
“kenapa kau tidak datang waktu natal kemarin ke rumah, Er? Ann datang tergopoh-gopoh ke kost, memarahiku yang sudah lama tak berkunjung ke rumahnya. apa salahku? atau apakah itu kewajibanku? aku tersenyum menyambutnya datang, tak ada yang perlu diributkan. ini hanya soal salah paham.
“bukan waktu yang tepat Ann untuk berkunjung. dalam agamaku tak mengijinkan … “ dia duduk membanting tubuhnya ke sofa. menarik nafas dalam-dalam, menstabilkan aliran nafasnya yang sedikit terengah-engah. Sedang aku hendak ke dapur mengambilkan minum untuknya.
“tapi ayah ibuku nanyain kamu terus, Er. Bukannya waktu lebaran kemarin aku main kesana juga ya? apa salahnya? dan apa yang nggak tepat?” mata Ann melotot tajam, mungkin kelelahannya selepas pulang kerja membuatnya mudah tersulut emosi. aku menanggapinya dingin, mungkin kali ini aku yang harus sedikit bersabar memberi penjelasan.
dalam agamaku memberikan ucapan tak boleh, Ann. apalagi untuk ikut merayakannya, itu benar-benar kesalahan besar. hanya itu saja, tapi kalau untuk mengenalmu, tak ada salahnya. toh kita memang sudah berbeda sejak awal bukan? dia menoleh sigap, beranjak dengan wajah marah.
“oh gitu, jadi agama kamu nganggep agamaku nggak baik? jadi intinya kamu nganggep aku ini juga nggak baik, hah? ini bukan soal agama Er, ini tu murni toleransi. gausah ngeles deh, kalo emang udah males temenan yaudah, nggak usah lebay” aku  terperangah. eh? Ann membanting meja? benarkah itu dia? aku sama sekali tak bermaksud begitu padamu, Ann. sungguh, aku hanya ingin bilang, aku sedang berusaha mematuhi aturan. dan bukankah kau juga mematuhi aturan yang sama-sama tak kumengerti, yang paling utama hanya kita harus saling menghargai bukan? aku menatapnya ragu-ragu, berpikir apakah kalimatku tadi salah atau terlalu memojokkkannya? tapi kurasa tak ada yang berlebihan dari kalimatku tadi.
“oh gitu, jadi kamu pikir aku nggak patuh sama aturan? gitu?” Ya Tuhaaaan! aku menepuk dahi, mendesis dalam hati. aku salah lagi.
“bukan bukan, udah deh Ann. ini cuman masalah sepele, besok aku main deh ke rumah kamu, beres kan? udah jangan marah-marah ya? sensi banget sih gitu aja”. aku mencoba menghiburnya, berharap raut wajahnya akan berubah melunak seperti biasa. marah beberapa menit, dan sudah, pertengkaran dan adu mulut itu akan berganti tawa dan cerita tanpa henti. tapi, hingga bermenit-menit kemudian … wajah itu tetap saja menahan sebal.
jadi, kamu pikir ini sepele? bukannya kamu sendiri yang bilang kalau menjaga silaturahmi itu penting, apalagi kamu yang udah kita anggep sodara. sekarang kamu bilang ini sepele? aku sensi? oh God, jadi gini ajaran agamamu? dateng pas butuh doang.” aku tertegun mendengar kalimat selanjutnya yang makin terdengar melecehkan keyakinan yang lain, dengan membenarkan keyakinannya.
“yaudah deh Ann, aku nggak maksud ngajak ribut. ini ngobrolin apa sih sebenernya? kalau aku salah ngomong maaf, tapi kok kamu jadi mojokin aku? nggak ada kaitannya sama agama tauk! kalo mau ribut balik aja sana, rumah ini bukan buat ribut!” tak kusadari, ternyata aku mulai terpancing kemarahannya.
“oke, aku pulang!” dia berlari keluar, membanting pintu sambil menggumam pelan.
dia pergi membawa kemarahan.
***
apa sih sebenernya yang bikin kalian ribut? Jef menasihatiku lembut. bilang bahwa kemarahan tak seharusnya diberi makan, atau tidak seharusnya aku mudah termakan umpan. kau bukan ikan, atau hewan lain yang mudah ditipu akal bulus. lagipula bukankah kalian sudah bersahabat lama? perbedaan itu awalnya nggak penting kan? terus kenapa sekarang jadi dibikin rumit, sih? ini sama tak pentingnya dengan kalian membahas siapa yang paling cantik, siapa paling pintar, karena jawaban itu tak pernah tepat bagi siapapun. karena setiap diri, menganggap keyakinannya paling benar.
“dia salah paham, Jef.” aku menunduk lesu, aku sebenarnya malas membahas hal ini. tapi sepertinya Jef lebih suka membahas hal ini berulang-ulang saat bertemu denganku, dimanapun, kapanpun. kenapa dia tak bicara soal harga bawang yang melonjak naik, atau paus di vatikan yang baru saja dipilih, atau kasus eyang s yang sedang marak-maraknya di infotainment sana. kurasa hal itu lebih menarik tinimbang harus mengulas lagi cerita pertengkaranku dengan Ann, aku tak suka disalahkan sekaligus memaksa diri sendiri jadi pihak paling benar.
“iya aku tahu, kalian salah paham. tapi tentang apa? kalian bukan berdebat tentangku kan, Er?” wajah Jef menatapku penuh curiga.
“what?” aku melirik tajam padanya. keterlaluan. masih juga dia bisa berpikiran kalau kami berseteru karena laki-laki? Dan itu, dia? Oh No! tak penting, memangnya dunia ini terlalu bodoh hanya diributkan urusan nafsu saja. aku mendengus sebal. ya, aku tahu cerita itu. Ann memang suka pada Jef, bahkan sudah sejak lama. Dan karena aku yang lebih dulu mengenal Jef, maka dia memintaku untuk mengenalkannya pada Jef. tapi siapa yang tahu kalau akhirnya Jef suka padaku? salah siapa? salah cinta? ah, kurasa dia terlalu dewasa kalau hanya sekedar mengurusi tetek bengek urusan berebut lelaki. aku menggeleng,
“bukan Jef. dia hanya salah paham menafsirkan bicaraku soal keyakinan, dan sudah. itu saja, tak ada yang lain”
Jef ikut terdiam, menggumam bahwa setiap manusia memang menganggap suci apa yang dia yakini. dan mungkin saja memang ego kami yang sedang ingin membela diri.
dia bilang, sesama saudara tak pantas berdiam-diaman diri lebih dari tiga hari. –aku tahu itu, bahkan sangat tahu. tapi kemarahan kadangkala membuat kita tak peduli mana yang harusnya dilakukan dan mana yang harusnya tak dilakukan-
itu tidak hanya akan merusak hubungan, tapi itu akan membuat hati keras, luar biasa bebal. harusnya kalau dia marah, kita yang meredakan. atau sebaliknya, Tuhan sudah menjanjikan bahwa setiap permasalahan selalu dengan jalan keluar, dan memang dunia diberikan anugrah perbedaan.
hingga aku menyadari, tak ada gunanya hal ini dibesar-besarkan. tentang hati atau pikiran yang ingin unjuk kebolehan, harusnya kami memberi porsi agar bisa dikendalikan. bukannya malah dipermainkan.
maka malam ini, ingin sekali aku datang ke rumahnya. meminta maaf pada Ann dengan sungguh-sungguh, pada mama papanya karena aku lama tak berkunjung. Dengan menyertakan segala macam konsekwensi yang akan kudapat. diusir, dimaki, dihina, atau apapun. Menjadi pihak yang mengalah atau kalah sesekali tak akan membuatku masuk neraka. toh aku menyadari, mungkin saja aku yang salah tak bisa menghargai perhatian keluarganya, atau mungkin juga dia yang salah karena terlalu sempit menafsirkan kalimatku, tapi itu semua kini tak penting. dunia sudah banyak menyimpan provokasi yang tak berguna untuk disimpan dalam buku catatan harian. dan memang bukan ini yang Tuhan perintahkan pada kami, bukan membuat onar, atau sibuk membuat perbandingan.
selama ini aku hanya sibuk membuat pembenaran, bahwa dia yang lebih dulu memulai perdebatan. bahwa dia yang salah menafsirkan, bahwa dia yang terlalu sensitive, bahwa aku yang begini, dia yang begitu. tapi aku lupa menyadari ; bahwa harusnya ada yang lebih dulu tampil untuk meminta maaf. dan selesai! hanya itu. selebihnya, tinggal bagian lain tampil untuk memaafkan.
mungkin kami yang harus berkaca pada keadaan, bahwa beda itu nyata. nyata sama. Tuhan menciptkan kami dengan satu nama- manusia. Dan urusan keyakinan atau menganut ajaran apapun, itu terserah kami ; toh ada pilihan surge neraka yang jadi kewenangan mutlak Tuhan untukk menentukan.
aku melangkah dengan ragu, kuamati rumah besar dan megah itu. rumah yang sudah lama tak kukunjungi, beserta keluarga baru yang mendaulatku sebagai anak tanpa ikatan darah. mungkin Ann benar, bahwa seharusnya saudara saling mengingatkan. kuamati kanan kiri, berharap pikiran buruk yang sempat mampir di kepala tak ada satupun yang terjadi.
pintu itu kini hanya berjarak satu meter di hadapanku. tanganku ragu hendak memencet bel, mengetuknya pelan dan memulai pembicaraan. Maju atau mundur. memulai atau menundanya. tapi sampai kapan? aku menghela nafas panjang, diam ini harus segera kuakhiri. tak ada yang benar atau yang salah. ini hanya soal siapa yang mau mengakui kelemahan.
aku menekan bel itu gugup. Tanganku berkeringat, bahkan keningku ikut berkeringat meski udara di luar begitu dingin.
Semenit …
Dua menit …
aku memutar badan, memutuskan lebih baik pulang saja. mungkin ini bukan waktu yang paling tepat untuk bertamu.
“Er … “ aku berhenti. Diam. Derit pintu terbuka berbunyi, itu suara Ann. ya, aku tak mungkin salah mengenalinya. dan lebih tak mungkin lagi aku memutuskan  untuk berlari dan meninggalkan rumah ini tanpa berbuat apapun, tanpa meminta maaf dan menyelesaikan salah paham ini. aku berbalik perlahan, menghela nafas panjang sembari membulatkan tekad.
ragu-ragu aku menatap matanya. setelah beberapa bulan kami tak bertegur sapa, tak berkirim pesan, atau apapun. kami sempurna berhenti mengirimkan informasi satu sama lain. padahal kalau boleh jujur, aku begitu rindu padanya. pergi bersama, memasak bersama, bercerita dan tertawa.
“ada apa, Er?” kepalaku mendongak, mensejajari wajahnya. tak kutemui senyum biasa yang selalu ramah menyapaku. tatapan itu sedikit kosong, “aku …
“aku … hanya ingin berkunjung. boleh?” dadaku berdegup sungguh kencang. aku luar biasa gugup, apa yang akan diucapkannya, atau apa yang akan dia perbuat setelah beberapa bulan aku belum juga mendahului untuk meminta maaf padanya. aku menyesal, seharusnya aku meminta maaf sejak dulu. Tidak menunda-nunda dia meminta maaf dan mengaku kalah padaku, mengaku salah. Bukan sekarang, setelah semuanya terasa amat jauh. dia mempersilahkanku masuk, aku tak menyangka dia ramah menyuruhku duduk. “Ann … maafkan aku” tepat sebelum dia masuk ke dalam memanggil mamanya, kalimat itu keluar juga dari mulutku. Ada perasaan lega sekaligus takut menyelimutiku kali ini. dia mengangguk mantap, berjalan mendekat ke arahku. menunda memanggil mamanya dan memutuskan duduk di sampingku.
“aku juga, Er. aku tahu kau tak bermaksud begitu … aku mungkin terlalu lelah waktu itu“
“jadi, kita masih saudara bukan? Ann mengangguk. aku memeluknya hangat, ternyata tak ada hal yang lebih menakutkan selain kekhawatiran yang kita pikirkan.

Ada aku disini, Rey



Aku tak mengerti John, kenapa kau bisa sebegitu menarik-terlihat sempurna-berwibawa dan aku tak lebih dari bayang-bayang senja saja. Aku bahkan selalu bermimpi jadi sepertimu, yang kemana-mana selalu tanpa beban. Senyum mengembang setiap saat, semua orang mengenalmu, dan semua orang ingin dekat-dekat denganmu. Tapi mereka tak memperlakukanku begitu. Atau haruskah aku merubah wujudku sepertimu, John? Kau menghela nafas panjang, sekaligus berat. Aku tahu tak mudah menyampaikan rasa iri sekaligus benci yang kau simpan. Aku tahu semua itu. semua orang pasti pernah mengalaminya, merasa tersisih dari golongan. Merasa nestapa dari kehidupan, juga merasa bahwa hidup hanya menawarkan godaan. Tapi kenapa harus aku yang jadi perbandingan hidupmu, Rey?
Enam tahun kita menjadi teman sebangku, hingga kemudian berjalannya waktu membuat kita terpisah untuk mengukir mimpi masing-masing. Aku ingin jadi pengusaha, dan kau ingin jadi seniman terkenal. Kita sama-sama mengamini cita-cita itu, dan berjanji akan bertemu di tempat yang sama sepuluh tahun kemudian.
Inilah saatnya. Janji itu kami tunaikan, tapi bukan cerita buruk yang ingin kudengar. Ingin sekali aku mendengar kabar bahagia itu dari mulutnya, seperti dulu. Seperti dia yang selalu bercerita bahwa semua orang terlihat sangat peduli padanya, murni karena dia menarik-jujur-ekspresif; bukan uang sebagai alat pancingnya. Saat dia menggebu dan antusias menghampiriku dan berkata bahwa wanita yang dipujanya mau jadi istri sekaligus ibu dari anak-anaknya. Aku tak tahu mengapa dunia bisa merubah orang seceria itu, makhluk yang selalu kurindu.
Bukan dia yang iri padaku dulu, tapi aku yang iri padanya.
Benarkah kini dunia merubah posisi kami berdua? Atau hanya tafsir dunia yang menyesatkan pikirannya?
“kau kenapa, Rey? Bukankah seharusnya kau bahagia, hidupmu bahkan sudah lengkap. Menjadi suami dari istri yang amat sangat kau cintai, jadi ayah dari anak-anak berbakti, dan orang tuamu begitu memperhatikanmu. Aku bahkan dulu sempat memimpikan semua itu terjadi padaku, aku menunduk lesu. Tak ada gunanya mengorek-orek kotoran masa lalu, tak ada guna.
“aku ingin sepertimu, John. Hidup mapan, terkenal, dan bahagia.”
Aku tertawa sinis, apa dia pikir kemapanan ini untuk selamanya? Atau apa dia pikir kemapanan ini kudapat hanya karena wajahku tampan, badanku tinggi proporsional? Ahya, atau lagi dia terlalu sempit mengartikan bahwa semua senyum yang kutampakkan murni kode bahwa aku bahagia. Oh tidak! Aku kesepian, Rey. Aku seringkali harus menelan kekecewaan hanya karena bukan aku yang jujur mereka inginkan, tapi kekayaanku. Aku selalu tersenyum seperti madu yang memanggil sekawanan hewan juga karena inilah yang mereka pedulikan, mereka hanya peduli bahwa aku harus terus bahagia, inilah konsekwensi, Rey. Aku menelan ludah, menggumam dalam hati. Semua ini tak pantas kuceritakan.
“hanya itu, Rey? Bukankah kau sudah mapan, kau ini lelaki sempurna. Aku yang belum sempurna, Rey.” Dia tertawa, menjambak rambutnya kencang. Memelorotkan badan ke sofa, menutup mata lama. “aku berusaha mati-matian menjadi terkenal sepertimu, John. Dengan cara yang kumiliki, jadi seniman; seperti yang pernah kita proklamirkan di atap sekolah waktu itu. tapi ternyata tak semudah itu, John. Aku menyerah menjadi sepertimu. Aku sadar aku bukan John, hidupku sudah tertulis tebal dengan nama Rey. Bukan John.
Kau tersungguk menangis, entah menyesali kepasrahan – atau kelemahan.
  “ya, tapi kau bukan aku, Rey. Kita berbeda, sekalipun sama” dia mengangguk, tak berkomentar. Harusnya kau tahu Rey, tak ada hidup sesempurna yang kau lihat hanya dari senyuman. Aku mungkin terlalu piawai memainkan sandiwara itu di hadapan orang-orang”
Aku tertawa menetralkan kekakuan, menepuk halus bahunya, seolah tangis dan sesal itu akan mereda dengan memberikan sentuhan halus dan tulus. Tapi memang hanya itu yang bisa kuberikan, aku bisa saja memberikannya jalan pintas. Mengenalkannya pada partner bisnisku yang juga seorang kolektor lukisan, yang namanya bahkan melambung jauh di atasku – agar dia cepat jadi seniman terkenal, melebihi popularitasku sekalipun. Atau aku bisa saja memberikannya uang untuk dengan segera membuka museum pribadi, galeri, atau apapun itu – dan dengan segera merekomendasikannya pada banyak orang. Tapi aku tahu, itu tak banyak membantunya. Karena ketika suatu saat nanti dia akan terjatuh lagi, dia akan dengan segera terkulai lemas lebih lemas dari sebelumnya. Aku takut itu terjadi padanya.
Kalau saja dia mau tahu, aku harus berulang kali jatuh bangun, jatuh lagi, jatuh lebih keras, hingga akhirnya bisa jadi demikian. Proses panjang selalu dibutuhkan untuk jadi seseorang, walaupun kita memang terlahir jadi seseorang. Namun ia tak perlu tahu itu. cerita kami berbeda, jalan untuk mencapai suatu kota juga selalu berbeda, dan mungkin saja kami tak bisa menempuh satu jalur yang sama. Aku tak bisa memaksanya percaya bahwa kesulitan memang jalan yang harus kita tempuh sebelum akhirnya bisa naik kelas. Merasa berkecukupan. Aku hanya butuh menguatkannya, bahwa di saat genting atau di saat tersulit apapun – Tuhan selalu memberikan kita teman sejiwa. Yang bahkan melebihi harta dan nama, aku meyakini itu.
Ada aku disini, Rey. Mungkin ini bagianku.
“lalu apa yang bisa kubantu, Rey? Anak dan istrimu masih butuh semangatmu.” Dia menghela nafas lagi, atau mungkin hanya itu satu-satunya yang membuatnya lega. Merasa masih hidup dengan secuil hembusan udara. Ya, aku tahu itu. aku hanya butuh doamu, John. Doakan aku kuat, agar wibawaku sebagai penguat tak musnah begitu saja di hadapan anak istriku.
Aku mengangguk.
Ya, akan selalu kubantu kau Rey. Dan sejak detik itu aku berjanji, apapun yang kau butuhkan; asal bukan ketenaran dan materi limpahan. Aku akan selalu di sampingmu.
Pegang janjiku, Rey …