.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 22 May 2013

Caramu Mencintaiku


Ibu, satu demi satu tanya menggantung di benakku. Tentang perhatianmu, tentang sabarmu, jam kerjamu yang segudang untukku. Tentang kesediaanmu menjagaku, menuntunku, tanpa menuntutku. 

Barangkali ini yang akan kusesali kalau pertanyaan itu tak pernah muncul dari-nurani. Hari itu, aku mendekatimu, hendak mengutarakan maksud meminta izinmu pergi berkemah bersama teman-teman.

“Tak boleh”, itu katamu. Satu kali kata-katamu itu tak ku-indahkan, aku tak perduli. Yang jelas aku sudah meminta ijinmu sebagai standar procedural rumah ini. Maka setelah gelengan itu, aku justru pergi tanpa sepengetahuanmu.
         
   Dua hari pergi tanpa kabar. Aku bersenang-senang saja tanpa memikirkan bagaimana ibu yang kutinggalkan. Dan lagi, telepon genggam-ku sengaja kumatikan agar kau tak sibuk menganggu kesenanganku dengan teman-teman. Maaf, kadang kuanggap ibu sebagai pengganggu ketenangan.
Selepas mengetuk pintu rumah kembali setelah pergi itu, aku mengendap-endap masuk. Membayangkan ibu dengan muka masam menungguku datang dan bersiap dengan omelan panjangnya.

Tapi, hanya senyuman yang kau ulungkan. Padahal aku sudah bersiap mendengarkan apapun itu yang ada di kepalaku, segala sesuatu yang sudah kuperkirakan, yang selalu kubayangkan. Tapi aku selalu dibuat heran oleh tingkahmu bu. Kau menuntunku masuk; bertanya kabar, mengelus rambutku dan mengeluhkan kenapa badanku jadi sedikit tidak terawat. Bertanya apakah harimu menyenangkan, dan ibu sudah menjerang air untukku menyegarkan badan. Ah, bu, betapa naifnya sayangmu itu.



            Halus tuturmu membuatku sadar, ini kesalahan pertamaku. Tanpa sekalipun kau mengingatkannya padaku. Aku sadar justru karena sikapmu yang memperlakukanku seolah aku yang tak tau diri, atau mungkin lebih tepatnya, tak tau malu. 

Kali kedua, aku melakukannya lagi. Berbohong dengan dalih keperluan sekolah. Uang simpanan yang harusnya untuk ibu menyetor iuran arisan justru kugunakan untuk bermain dan nongkrong-berjam-jam di mall seberang sekolah. Awalnya, ragu-ragu kuutarakan. Dadaku berdegup kencang karena kebohongan ini untuk kali pertama, tapi seterusnya … bahkan aku sengaja lupa bagaimana debar-debar dulu bisa terasa. Kebohongan demi kebohongan semakin terlihat biasa. Dan membohongimu seperti tak pernah habis kulakukan. 

Mungkin sejujurnya kau tau bu, dan kau hanya diam membiarkanku.
Dan berikutnya, makin dewasa aku makin tak punya cara menghentikan kebohongan untuk membungkam pertanyaan demi pertanyaan yang kau ajukan. Pergi pagi, pulang larut malam. Alasanku kali itu bekerja, lembur mengurusi laporan akhir bulan. Berangkat, bermain, mengabaikan pesanmu, mengabaikan makanan yang sudah kau hidangkan. Uang-uang gaji bulanan juga jarang kuberikan, ibu tetap tak pernah sengaja menyinggung-ku dengan pertanyaan semacam itu. bu, sesungguhnya berapa banyak sabarmu itu? 

Tiap kali aku pulang kerja, atau pulang dari bermain seharian sekalipun ibu akan tetap manis menyambutku. Selarut apapun itu, ibu akan tetap membukakan pintu dengan senyum tersungging di bibir yang mulai mengkerut itu.  

Aku tak tahu seberapa besar kasihmu, sayangmu, padaku. Dengan banyak bukti dan sedikit maki yang kau selipkan tiap hari itu nyatanya aku belum sepenuhnya mampu menghargaimu. Aku hanya bisa menangis sesunggukan jika malam renungan datang, senior-senior berteriak menggemakan nama-mu. Ibu, ibu, dan ibu. Berprosa kata panjang lebar, berteriak tak karuan. Dan aku menangis menyadarinya. Hanya pada detik itu, selebihnya?
Itu tangisan kadal. Tak benar-benar membuatku mengingat betapa besar pengorbanan yang kau berikan.
Malah, kadang aku menyesal. Kenapa ibu bukan seorang dokter seperti ibu teman-teman. Pegawai negeri yang bergaji besar, yang bepergian dengan mobil mewah, tas mahal mentereng, lipstick tebal, dan berparas modis menyenangkan. Atau, kenapa ibu bukan seorang pengusaha kaya? Atau sekedar janda yang ditinggali harta tujuh turunan oleh ayah.
Ah, durhaka bukan? kenyataan memang tak sejalan, ibu hanya pedagang biasa. Yang bahkan membelikan pakaian untukku saja harus bergantian. Mengorbankan ibu mengenakan baju lusuh sepanjang tak begitu memalukan. Mengorbankan makanan dan waktumu yang sejujurnya lebih banyak kau habiskan untuk menghasilkan pundi-pundi uang.
            Jika kukatakan aku selalu sayang, aku selalu peduli, bahkan rela mengabdi untuk bahagiamu; mungkin aku sedang berdusta besar. Aku membohongimu diam-diam. Bukankah kau tau itu, bu? Atau kau hanya sedang bersandiwara untuk membuatku pelan-pelan tersadar? 

Aku sering benci padamu, memaki sifatmu yang kadang-kadang tak searus dengan zaman, laranganmu yang kolot, bahkan aku sering mengeluhkan pada teman-teman bahwa kau teramat menyebalkan. Karena cintamu padaku tak sebesar cintaku padamu. Ada pikiran berseberangan yang kadang membuat kita tak sejalan. Aku mau ini, kau justru memilihkan hal lain. Kita memang berbeda bu. 

Tapi bukankah benci dan sayang itu dua hal yang tak bisa dipisahkan bu? Aku menyukai segala macam itu, karena pada nantinya aku pun merindukan semua hal yang menyebalkan itu darimu. Teriakanmu membangunkanku di kala pagi, sindiran pedasmu ketika aku tidak sesuai yang kau harapkan, atau tentang jailmu menggodaku saat aku tersenyum sendiri membaca pesan dari pacarku.

 Bagiku, membenci, mengasihi, atau mencintai adalah satu jalan. Satu jalan agar aku terus mengingat seberapa besar perhatian yang kau limpahkan. Bagiku, membenci dan mencintaimu tetap saja wujud kepedulian. Karena rasa benci dan cinta ada karena rasa istimewa. Kesabaran segudang itu hanya kau yang punya, dan perhatian tanpa pamrih itu-pun hanya di ragamu tersimpan. 

            Mungkin tersebab hanya cara itu yang ibu bisa. Mengasihiku sepanjang usia. Mendoakanku sampai tutup usia. Menggulirkan terus sabar agar tak berbuah menyakitkan. Seperti zainab pada malin kundang. Seperti dayang sumbi pada sangkuriang. Mungkin tersebab hanya demikian cara yang ibu tahu, untuk bersyukur atas limpahan keturunan yang diberikan tuhan. Ibu, dalam benci yang terselip di rasa cintaku yang tak sedemikian besar, lewat rahimmu tuhan mengijinkanku menghirup udara segar. 

            Tapi bu, meski aku tak pernah memilihmu jadi ibuku. Aku bersyukur terlahir lewat rahimmu.


No comments:

Post a Comment