.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 22 May 2013

Bercabang-cabang



            aku mencintaimu tak seberapa besar, mungkin hanya sepersekian bagian. tapi dalam beberapa kesempatan, hal itu selalu kukatakan berlebihan saat kau tanyakan pertanyaan itu berulang-ulang.
“apa kau sayang padaku?”
“ya, tentu”
“seberapa besar?”
“tentu saja besar, dalam, jauuuh sekali kalau diukur dalam hitungan”
“beneran?”
aku mengangguk, tak yakin.
“cuman aku aja yang kamu sayang?”


aku mengangguk lagi, lebih tak yakin. bahkan sekalipun hanya untuk menyenangkanmu.   
aku tak bisa menjanjikan hatiku yang sudah lama bercabang dalam banyaknya orang-orang yang berlalu lalang dalam scenario kehidupan yang kujalani. hatiku mungkin memang hanya sekepal tangan, bisa dengan mudahnya kau genggam saat keberadaannya bisa kau raba dan tampak di luar. tapi hatiku sempurna tak pernah kulihat yang, dia tersembunyi. ada yang datang dan pergi. sewajarnya kehidupan bahwa setelah ada yang lahir, maka esok berganti kita yang akan mati.
tapi aku selalu saja berpuas diri menggombalimu dengan kata yang bahkan tak kumengerti darimana muasalnya. darimana datangnya.
            dalam hati yang hanya sekepalan tangan itu, mungkin kuyakini ada banyak ruang-ruang yang terisi dan pernah berlubang. ada ruang yang terisi penuh dalam kebahagiaan, ada ruang yang penuh dengan kepastian dan harapan, tapi kuyakini pula bukan hanya namamu yang ada disana.
sejak dulu aku diajari dan dididik untuk terus mencintai banyak orang. maka bukan berarti aku telah menduakan cintamu yang katanya sedemikian besar. kurasa, hatimu juga punya banyak cabang.
sejak dulu aku juga selalu diajarkan untuk terus merindukan banyak orang, mencintai banyak hati, dan menghargai semua yang punya hati. maka apakah aku telah menyakitimu dengan berbohong bahwa bukan hanya kamu yang ada di sini? maaf, ada ibu yang selalu kucintai. ada saudara yang harus kulindungi, ada ayah yang harus selalu kuhormati, ada teman-teman, dan semua orang butuh kuberi porsi penting di dalam sini. Maka kasih dan sayang itu memang bertebaran disana-sini. Mungkin hatiku seperti ranting-ranting pohon yang bila tertiup angin mudah berguguran, dan sekaigus dahan-dahan itu akan terus bermunculan. Atau mungkin, hatiku seperti remahan kaca yang jatuh berserakan di lantai, hingga sekalipun kau mau dan mampu memperbaiki; baretan cacat dan luka itu terlihat pasti.
            dalam kepalaku tak hanya namamu. kau pasti tahu, aku menyimpan banyak nama yang datang silih berganti. yang pernah kusayangi lalu pergi. yang pernah kucintai lalu mati, atau sekarang. kau yang kucintai dan tetap disini, bertahan merajut helai demi helai benang kepercayaan.
            aku tak punya guru khusus untuk belajar menggombalimu dengan rayuan-rayuan. sungguh, ini murni kepandaian, dan mungkin pula suatu kebetulan.
kemampuan membuatmu bahagia dengan kata-kata dan perhatian kumiliki secara alamiah. semacam ilmu laduni yang kumiliki sejak aku mengenal kata cinta dengan sendirinya. aku tak perlu mengetikkan kata demi kata cinta di mesin pencari paling akurat sana. aku juga tak perlu mengeja namamu tiap malamnya, karena kau sudah berbahagia dalam tiap kata-kata yang kupunya.
            kalau dengan berbohong kau tak perlu merasa terluka tersebab ada banyak kepala memenuhi rongga dada, kalau ternyata ada banyak nama silih berganti memenuhi kepala. maka yang kulakukan selanjutnya adalah, biar terus kusembunyikan fakta bahwa memang beginilah adanya. hatiku tak hanya memuat kau seorang.
seperti kebohongan demi kebohongan yang mampu kulakukan tanpa lebih dulu belajar, mencintaimu … adalah hal termudah sekaligus tersulit yang pernah diberikan Tuhan.

No comments:

Post a Comment