.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 26 February 2013

Demokrasi orang gila


semua orang sibuk mengurusi kepentingannya sendiri. tak ada yang tulus, dunia ini murni kompetisi. para petinggi organisasi, kampus, elite parpol, bahkan orang nomor satu pun ikut-ikut turun demi mengurusi ekor sapi. aku terbahak. menertawai kalimatmu yang tak punya rem otomatis. kau mengerutkan dahi, aku berkomentar; inilah demokratis tara. ya beginilah, harus kau terima konsekwensi dari pilihan demokrasi yang kita pilih.
kau makin dibuat tak mengerti. demokrasi? apa sebenarnya definisi konkrit demokrasi? kebebasan? mutlak? aih, munafik sekali mereka ini. menggaungkan kebebasan disana-sini. demokrasi itu tak ada yang mutlak, bara! bukankah kau lihat sendiri. demokrasi nyatanya malah membuat mereka yang tak mengerti kebingungan. yang tidak mengerti makin dibodohi.
konsekwensi kau bilang? yang benar adalah; demokrasi itu kutukan. hidup kita tak punya opsi atau pilihan demokrasi mutlak. cih, kau lihat? hidup kita saja diatur kepala banyak orang. mau teriak-teriak di jalan dianggap gila, mau berkata benar dianggap hilang akal, katanya bebas beragama? mana? yang beriman saja mudah sekali di-provokasi? beda satu ajaran saja sudah ngotot paling benar. paling wah dan satu-satunya yang akan masuk surge. cabang-cabang keyakinan merasa paling benar. dan kadang yang paling ekstrem malah saling membakar golongan. satu agama tapi saling jijik memandangnya? itu yang kau maksud demokrasi, hah?
lihat saja besok, masih bisa bebas berkeliarankah orang yang mendirikan agama sendiri? dan bukankah sudah banyak bukti bahwa banyak yang dimakzulkan kewenangannya gara-gara makhluk itu? berapi-api kau meyakinkan argument itu padaku.
            “bukankah ini demokrasi konyol? aturan kok setengah-setengah” itu katamu. aku hanya diam, namun demokrasi tak pernah kuartikan seluas ini. demokrasi-pun punya aturan kawan. kau benar-benar tergila-gila pada demokrasi seluruhnya; segala-galanya, seluas-luasnya.  
 “tapi tetap saja, demokrasi punya opsi positif yang berulang kali lebih banyak jika kau mau menemukan. contohnya saja pers, komentar dan kebebasan berpendapat lumayan mendapat ruang; dan kita punya kewenangan menjadi pengawal tertinggi kebijakan bukan? kau diam, tak menjawab. justru asik dengan catatan-catatan pendek di note yang kau bawa selalu dimanapun dan kemanapun.
“maaf, aku harus pergi. ada urusan”.
dengan wajah masam, perbincangan ini tertunda tanpa kesimpulan.
***
bisa kita lanjutkan lagi bincang-bincang siang tadi? kau menoleh ke belakang. menyadari kehadiranku yang tiba-tiba di kafe tempat biasa kau menghabiskan waktu senja bergerak malam. kau mengangguk, mempersilahkanku duduk. sambil menenggak perlahan teh manis hangat yang terlanjur mengalir di kerongkonganmu. “ya, silahkan. maaf, siang tadi aku terburu-buru mengikuti kajian elite ormawa, dan aku terpaksa meninggalkanmu.”
            aku mengangguk, tak jadi masalah.
            “oke, no problem. kita semua punya kesibukan”.
baiklah, lalu solusi apa yang kau tawarkan? kau langsung pada pokok bahasan. tak memberiku waktu sejenak untuk berbasa-basi meminta hidangan minuman, menghirup udara segar sore hari, atau sekedar ber-say hello bertanya kabarmu. ternyata selain kerasa kepala; kau juga suka memberi kejutan. aku tersenyum kecut. pandai sekali dia membuatku berpikir keras, tak mau rugi waktu sedikitpun.
            “mungkin demokrasional. yang bisa diterima akal saja. ini sudah dua ribu tiga belas, dan semakin lama kau akan melihat mana yang benar dan mana yang dusta tak terlihat mata. jadi, kupikir kita gunakan saja rasio. aku tak akan bicara tentang siapa sengkuni dan siapa pandawa. aku tak bisa memprediksi siapa jadi apa, atau apa akan jadi siapa nantinya. tunggu saja berita selanjutnya … "
hey, tapi bukankah kau tahu, sejak dulu, sejak zaman filosof yunani dan generasi selanjutnya sudah merumuskan; indra kita tak sempurna bekerja. ada dunia ide, dan sekaligus dunia indra. kalau ada ayam, tentu ada telur. jadi semua ini pasti bermula dari suatu hal. jadi kalau rasional saja kurasa tak cukup" kau menyela argumenku. aku berhenti sejenak, berpikir sekaligus mengiyakan.
tapi... baiklah, begini saja. demokrasional; kau pasti tahu bukan apa maksudku dengan demokrasional?” kau mengangguk, tanpa menatapku. sedikit meremehkan. demokrasional negara akan tetap tumpang tindih kalau begini. kalau kutawarkan pilihan pemberantasan partai, atau penyederhanaan jumlah partai seperti wacana redenominasi rupiah beberapa waktu lalu kurasa tak mungkin.
redenominasi kurasa hanya mengejar status yang akan dan mereka ingini untuk diberikan dari Negara lain. agar kelihatan keren; dan sedikit mampu. toh kalau memang belum mampu, kenapa harus sok mampu? atau ada bedanya dengan mimpi? impian? kurasa hanya berbeda tipis. dan dampaknya akan sangat buruk, atau mungkin juga bisa sangat efektif. aku tak bisa seratus persen benar atau seratus persen salah memprediksi resiko dari itu semua; penyederhanaan partai seperti jaman orde baru mungkin hanya akan membuat yang kuat semakin kuat. dan kurasa akan jadi perkumpulan besar yang sulit ditelisik dimana benang merahnya. aku tak mau itu terjadi,
bisakah kau bayangkan, dari 30 elite partai hanya akan jadi tiga atau dua partai saja? aku menggelengkan kepala, sedikit jirih. bisa kubayangkan yang hukum rimba akan memakan siapapun yang tak bisa survive disana- harta, kekuasaan, dan pengabdian hebat-hebatan.
membayangkan saja aku tak mau.
“lalu?” matamu masih tak focus. mendengarkanku sejenak, tapi lebih banyak berkutat pada gadget mainan- barumu itu.
“identitas kita kurasa harus dibangun lebih kuat lagi. pondasi yang lebih ampuh, tahan banting.” kau mengerutkan kening, “maksudmu? identitas tukang korupsi? yang mudah menjiplak, jadi tukang ikut-ikut; atau yang bagaimana?”
aku tertawa geli. kau terlalu memandang sebelah mata negeri sendiri, kawan! ayolah, kalau bukan kita siapa lagi yang punya mau menanggung beban ini? kita jelas tak sesuai dengan pancasila yang berdiri tegak di depan sana.” aku menunjuk papan bergambar burung garuda di atas kepalamu.
“alah, itu hanya symbol. tak ada hebatnya. kurasa demokrasi di Negara manapun tak pernah sesuai dengan teorinya. kau masih ingat yang kukatakan siang tadi?” aku mengangguk, mencoba mengingat sediikit demi sedikit bagian yang hilang. “ya, orang gila maksudmu?”
“tepat!” demokrasi hanya milik orang gila, dan berani gila”.
kurasa aku mulai sedikit pesimis dan memberi kesimpulan apatis untuknya. “demokrasi terlalu banyak membuat rumit pikiran. demokrasi hanya akan terus memunculkan tumbal-tumbal putih tak terdeteksi mesin kejujuran. alias kambing hitam. oke baiklah akan kuterima dan kuiyakan beberapa dampak baiknya, bahwa list pekerjaan kini berjentrengan ada dimana-mana. kau mau jadi penjahat yang bermuka manis, atau wajah bengis tapi hati bencis. pilihan itu bisa kau temui dimana saja.
atau, kini aku bisa mendapatkan buku judul apapun; dalam tema serumit dan se-njlimet apapun. sekalipun itu mengolok-olok kaum borjuis Negara, atau jadi pahlawan kesiangan bagi kaum proletar di bawah kolong jembatan sana. dan itu salah satu dari efek positif demokrasi. tapi tetap saja, kebebasan membuat kaum berpunya semakin semena-semena. ini kejahatan terencana. rancangan kebijakan kurasa hanya suatu legal yang banyak dimainkan; diberi celah sebanyak apapun yang mereka bisa.
“mereka kau bilang?” kau mengada-ada kawan. itu hanya oknum. kejahatan pribadi, individual. tak bisa kau generalisir dengan semua anggota- atau semua kadernya. justru kurasa kau yang sedang membuat opini masal, dan itu membahayakan.” aku mulai merinding.
“kesimpulanku tetap sama. demokrasi hanya milik orang gila! bisa kau buktikan ucapanku, hidup mereka merdeka. kita? cih, mau bicara benar saja sudah disumpal mulut kita. mau makan enak; diperas dulu kita. mereka bebas berkata sesuka hatinya. toh kalau mereka berani menghina dan menyalahkan pemerintahan yang begini begitu; siapa yang perduli?  mereka hanya orang gila. tetap saja dibiarkan berkeliaran. tak akan pernah mereka ditangkap; diasingkan; dipenjarakan. atau bahkan ditembak mati dijadikan kambing hitam.
mereka mau bergantungan di monas; berteriak kesana kemari tentang kebenaran; siapa yang perduli? mereka hanya orang gila. dan seandainya mereka mau telanjang sambil bermabuk ria- menggoda wanita- atau sekalipun ber-indehoy dengan ayam kampus di hotel paling mewah; siapa perduli? mereka hanya orang gila. paling-paling mereka hanya akan diusir dari keramaian, digiring keluar dari interaksi wajar, dan mereka akan kembali berkicau tentang kebenaran. tapi lagi-lagi siapa yang mau perduli? mereka suara minoritas orang yang paling waras sekaligus tak waras menghadapi liciknya dunia.
 “demokrasi itu milik orang gila, dan berani gila.” kau tertawa puas.
lagi-lagi meninggalkanku dengan alasan kesibukan. kurasa sejak awal kau sudah membuat kesimpulan tak terbantahkan.

Sunday, 24 February 2013

Persetan



“sebenarnya apa yang kau inginkan?” aku bergidik melihatnya. membayangkan diikuti saja tak pernah, apalagi harus berhadap-hadapan seperti ini. Bahkan Secara langsung. sejak tadi bayangan merah kehitaman, besar dan berjubah gelap itu mengikutiku. seolah awan gelap tak henti-henti menutupi arah langkahku. linglung. tanpa kedipan. kuperhatikan lagi sosok itu. aku tak tahu harus menyebutnya apa; aku benar tak mengenalnya. atau memang klasifikasi pengetahuanku tak sampai bisa mencernanya? wajahnya terlalu absurd, dan aku tak punya klasifikasi untuknya.
aku menoleh, ia hilang. lenyap. tapi sepertinya ia terus menerus mengikutiku berjalan. saat aku berbelok, ia seperti nyata berjalan di belakangku. hingga bulu kudukku meremang seiring hatiku yang membenarkan ada sesosok makhluk tak dikenal ikut mengantarku menikmati malam.
ia tersenyum, tapi tak mengurangi wajah garangnya sedikitpun.
“siapa kau? apa yang kau inginkan? kenapa terus mengikutiku?” aku berhenti sejenak. mencoba melawan seluruh ketakutan dengan berdiri tegak di atas kaki yang gemetaran. gigi yang merutuk menahan kecamuk pikiran. namun berani atau takut hal ini harus kulakukan.
“ah, itu hanya perasaanmu. aku baru saja datang, dan ini karena panggilan yang kau sebutkan, beberapa detik lalu. benarkah kau tak mengenaliku? setiap doa pembuka aku selalu kau sebutkan, bahkan setiap kesalahan selalu aku yang tak pernah luput kau limpahi tanggung jawab itu”. aku semakin bergidik. dia tertawa lebar, wajahnya terlihat sedikit bersahabat. “selalu kusebutkan?” ketakutan itu meracuni kewarasanku. aku mulai dibayangi bayang-bayang lebih besar dan lebih menyeramkan, sungguh, ini di luar yang kubayangkan.
“benarkah itu kau?” 
“kau- ka-ka-ka-u be-be-nar setan?” bayangan hitam itu mengangguk mantap. lagi-lagi melempariku dengan senyuman yang tetap saja tampak garang. “lalu, apa yang kau inginkan?“ aku tergagap. kemampuan bicaraku seolah lenyap. himpunan kata-prosa-dan ritual penuh keyakinan itu sedikit menjauh dari kepalaku.
“duduklah, berbincanglah sejenak denganku. tanyakan apapun yang kau mau, semasih aku mau menjawab pertanyaanmu itu. tak ada salahnya bukan berbincang dan melebur benteng perbedaan?” lagi-lagi dia tertawa lebar. tak usah takut, kali ini kutawarkan persahabatan; dan sesi keluh kesah singkat untukmu.” Suaranya terdengar semakin berat;
aku justru semakin gusar, bagaimana bisa ia kupercaya. sementara aku tak tahu apa maksud sebenarnya, meracuniku- atau benar-benar ingin berbincang denganku. tapi matanya tak bisa kutebak apa isinya – hanya merah.
aku sedikit menunduk, meringkuk. ketakutan itu jelas tampak di wajahku. ingin sekali aku berlari, tapi kakiku lemas tak berdaya. seperti tulang penyangga itu tak lagi mau berdiri tegak seperti saat otakku memerintahkannya. lidahku kelu. dan sialnya; jantungku seperti berkonfrontir membuatku makin takut dengan bayangan absurd di depan. aku takut, sekaligus penasaran.
dia menepuk-nepuk bahuku. mencoba meyakinkanku bahwa ia tak seburuk yang ada di kepalaku- atau sejahat yang orang-orang ceritakan. “ apa yang mau kau tanyakan?”
 aku memutar otak, ketakutan ini sedikit bergeser demi mendapatkan peluang besar mendapat jawaban dari makhluk sepertinya. makhluk yang selalu dijadikan kambing hitam; makhluk yang selalu dijadikan biang kesalahan, kelalaian. aku tak tahu harus bertanya apa, atau darimana. semua seolah milik dia, perhatian dan perasaanku digenggam erat olehnya. keragu-raguan, kesesatan, ketidakkhusyukan, pembangkangan, kemarahan, semua keburukan seolah hanya dari dia bermuasal.
semua dari dia, dan itu kuyakini hingga detik ini.
dia mengedipkan matanya, seolah berusaha tampak ramah dan bersahabat denganku. “kenapa kau harus selalu menggodaku? apa salahku?” pertanyaan pertama.
            dia terbahak. pertanyaan remeh; itu katanya. aku ini sama seperti pikiranmu, tidakkah kau tahu itu? kebiasaanmu, kebahagiaanmu, ketidaksukaanmu, kebencian, atau kemalasanmu, atau seluruh mind set yang ada di kepalamu. aku hadir sebagai suatu keniscayaan kehidupan. tidakkah kau menyadari? aku ini bawaan Tuhan, seperti malaikat, dan beserta kau manusia, juga hewan. atau bisa jadi kau mengenaliku karena pengetahuan yang kau dapatkan. tapi aku tak hanya berwujud ini saja.
dia tertawa lagi, lebih lebar. dan kali ini ia berubah wujud menjadi sosok yang lebih tinggi, lebih tinggi, dan lebih tinggi lagi. aku semakin terlihat kerdil di sampingnya.
            “belum bisakah kau mengerti?” dia kembali pada bentuk semula. sedikit lebih menyerupai manusia.
            “aku tak pernah sengaja mengikutimu. kalau kau mengundangku, menyuruhku menetap. maka aku akan selalu berada disitu, bersama seluruh pikiran burukmu tentang kehidupan dunia, atau tentang kenikmatan yang justru Tuhan larang-larang. tidakkah kau menyadari kau sendiri yang memberiku celah untuk bergerak? ragu-ragu? kau pikir kalau kau yakin aku bisa semudah itu menyelinap merusuhi keteguhan prinsipmu?
Kau memberiku kesempatan, maka sebisa mungkin itu kugunakan. Seluruh perintahmu kubenarkan dan kuaminkan. Tak beruntungkah kau memiliki teman sepertiku?” dia berdiri. ber-uh keras membanting kursi di sampingku.
            aku menggeleng ragu. Aku tak mau sekalipun berkompromi dengannya.
            “lantas, mengapa setelah semua hal kuturuti. semua hal kukabulkan, kenikmatan, kebebasan, kepuasan, dan semua hal yang kau inginkan itu terjadi; kenapa justru aku lagi yang kau salahkan? kau jadikan lagi kambing hitam?
hey, kau juga yang selalu membodoh-bodohkanku, mempersetan-setankanku. berkata bahwa aku tak pantas berada lebih baik di atasmu, atau boleh jadi setara dengan kedudukanmu. bukankah kau mengerti inilah tugasku. Inilah kehidupanku.
            lalu kenapa kau harus mau melakukan itu? bukankah kau tahu ini buruk?” pertanyaan kedua.
dia tertawa lagi. dia berkata pertanyaanku ini sungguh konyol. selalu ada kaitan antara pertanyaan pertanyaan yang berkesinambungan. dan ini terjadi pula pada pertanyaanku berikutnya.
            “kau tahu apa tugasku? setelah gara-gara nenek moyangmu itu berhasil membuatku diturunkan ke bumi dan mendapat tempat abadi; neraka?
            aku mengangguk lagi. “ya, mengganggu manusia.”
lalu, tak bisakah kau simpulkan sendiri pertanyaan remeh temeh ini hai manusia? bukankah Tuhan berbaik hati memberimu akal, nafsu, untukmu? dan untukku, untuk malaikat, sama sekali; tidak! tak ada pilihan untuk itu semua. kami harus cukup bersyukur dan berbahagia diberi kesempatan mengabdi pada-Nya.
“Tugasku memang mengganggumu, hei manusia!” Tugasku memang seperti itu. dan bukankah berarti selama ini aku yang berusaha taat pada perintah Tuhan-Ku? menjaga dan meramaikan neraka. mengganggu kalian para manusia? dia tertawa lebar. semakin lebar. mata merahnya menyala-nyala. aku tak berani menyimpulkan apakah itu cermin panas neraka, atau hanya sebagian kecil saja.
aku diam. mengiyakan. meski tak mau tegas membenarkan.
aku ini makhluk taat, pada Tuhan-Mu, TuhanKu juga bukan? lihatlah! kalau bukan kau yang memberiku celah, mana mungkin aku bisa meracunimu. membiasakanmu dengan perbandingan-perbandingan semu yang menyesatkan. kau yang bergelut pada penundaan, hingga akhirnya ibadah kau lalaikan. Kau yang mau dikendalikan kemarahan, hingga akhirnya luluh lantak persaudaraan, dan kau yang terus mau dibodohi kesemuan; harta dan tahta. Hingga habis seluruh imanmu.
Aku hanya menjadi pembenar dari tiap kalimatmu. Bukankah kau sendiri yang mencari celah dari aturan Tuhan-Mu? Menganggap wajar yang salah dan me-nabu-kan yang pantas? Aku yang telah menguatkan keyakinkanmu. Bukankah kali ini harusnya kau berterima kasih padaku atas kesediaanmu membela tingkah polah-mu?
 “lihatlah! aku hanya mencoba berbakti dengan mau menjadi kaki tangan-Nya, meski menebus satu kesalahan kecil saja aku harus tinggal selamanya di neraka. lihatlah! tak sedikitpun aku melenceng dari perintahnya. Kau saja yang serakah hai manusia.”
“mengganggumu! membayangimu! Tuhan tahu semua itu. Itu tugasku!”
tapi kami tetap saja makhluk paling sempurna, kau tak bisa menyalahkan kami juga untuk kesialanmu itu.” permintaan ketiga.
“sempurna? Sempurna serakah? Sempurna bodoh? Atau sempurna mau di-adu domba? HA-HA-HA” bayangan hitam itu tampak samar. tapi suaranya masih jelas kudengar.
kesempurnaanmu hanya sebatas akal dan nafsu. itu saja, dan dalam hal ini. aku jelas lebih beruntung tinimbang kau hai manusia. aku tak punya pilihan, maka boleh jadi aku harus bersyukur atau semakin membantahmu. kau diberi akal, bukankah harusnya kau tahu mana yang benar mana yang salah? kenapa harus aku yang kau salahkan? atau kau punya nafsu, kau tahu mana yang bejat mana yang tidak? kenapa lagi-lagi harus kau seret aku menanggung kesalahanmu. Dan hebatnya lagi, seluruh pembangkangan golonganku, dan kebejatan nafsu hewan kau tiru juga. Mana mau aku mengakuimu paling sempurna.
            “dan yang terakhir, kau menyalahkan makhluk tak sempurna dan tak punya pilihan sepertiku? hebat!” bayangan hitam itu bertepuk tangan diantara kedua tangannya yang hitam legam, besar. suaranya menggema. seolah dua gunung menggemakan tepukan tangan lebarnya.
            “siapa yang paling cerdik kalau seperti ini? aku yang memanfaatkan lengahmu, atau kau yang termakan bujuk rayu-ku? Kurasa sama saja. Kita sedang berkompetisi memenangkan ketaatan teman. Kita sedang berkompetisi mencari nama.
            “sudah jelas bukan? dia tertawa lagi. mulutnya menganga lebar, matanya merah menyala. seperti hendak menerkamku bulat-bulat”
dan sebelum aku menyadari seluruh rentetan jawaban itu, bayangan hitam itu menghilang.



Wednesday, 20 February 2013

percayalah, aku hanya butuh waktu.



Sejak semalaman kau terus bertanya aku kenapa. beribu kali pertanyaan kau ajukan dalam situasi yang sama; saat aku sedang tersungguk menangis dari seberang sana. aku berkata baik-baik saja, bersama suara serak selepas mencicil sesak yang lama ada. dari ujung telepon aku menahan isak tangis, berusaha terlihat baik-baik saja di hadapanmu. aku hanya tak ingin merepotkanmu, atau menambah berat beban pikiranmu. kau pasti tahu itu …
kau bilang, tidak apa. ceritakan saja; dan aku akan terus mendengarmu bicara. apa saja, selama apapun itu aku akan tetap menyimak. dan kapanpun kau mau aku akan selalu ada disana; tapi bisakah kau katakan sekarang saja? aku ingin tahu perasaanmu, ingin tahu segala macam yang terjadi padamu. ingin jadi orang pertama yang tahu kegelisahanmu sekaligus keberanianmu. kebahagiaan sekaligus kesedihanmu, kesakitan serta kesehatanmu. baik atau buruk, cantik atau jelek keadaanmu, muda atau tua umurmu. apapun itu, aku hanya takut kau kenapa-kenapa.”
Dan dalam gelisah yang belum menemui ketenangan disana. aku hanya bisa diam ikut merasa bersalah telah membuatmu teraliri perasaan yang sama anehnya.
“aku baik-baik saja, bisakah kau tutup telponnya? aku sedang ingin sendiri”
kau bilang lagi kenapa? aku tak tahu bagaimana harus memulai itu semua. Membuka percakapan, aau sekedar agar kau tahu maksud dari yang kusampaikan. kadang aku tak tahu sendiri bagaimana harus menjelaskannya. dalam satu waktu, dalam satu hati, tiba-tiba aku mulai merasa sangat berhasrat terhadap sesuatu. tapi di lain waktu, aku ingin sekali mengenyahkan itu dari pikiranku. tapi bagaimana bisa dalam satu waktu, dalam rentang waktu yang tak begitu jauh, hatiku mudah sekali berubah. begitu mudah goyah.
seperti; sedetik ini aku benar-benar seperti mencintaimu beserta semua kekurangan dan kelebihan yang kau miliki. bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan yang telah menganugerahkan seseorang sepertimu dalam hidupku. tapi, di detik berikutnya aku begitu sangat membencimu, benar-benar tak ingin tahu apapun tentangmu meski sekedar mendengar suaramu, dan berakhir penyesalan mengapa takdir harus mempertemukanmu denganku. ada satu waktu aku menganggapmu sebagai malaikat, dan lain waktu, aku menganggapmu sebagai setan pengikat.
entahlah, maafkan aku. kadang aku tak menyadari kekhilafan atau kesalahan yang kubuat padamu.  
Aku hanya ingin menangis. Percayalah, ini bukan tentang kau. sama sekali bukan tentang perasaanku yang sedang menyesali kehadiranmu. bukan juga tentang aku yang menyesal telah mencintaimu; atau mulai tak mempercayaimu.
Ini murni tentang sesak yang lama terus bernafas, menghirup oksigen, menghembuskan karbondioksida lantas mengeluarkan feses dari perutnya, tapi tak ada bakteri pemusnah di dalamnya. Aku hanya ingin menangis, itu saja. dan airmata ini mungkin memang sudah saatnya kukeluarkan. tidak terus kusembunyikan dalam lumbung- ketidakpastian. airmata memang tempatku untuk sedikit mengekspresikan nada- rasa …
 maka bolehkah aku meminta sedikit jeda untuk kita diam? Tak banyak bicara, apalagi bertanya. hanya diam. Menikmati belenggu-belenggu perasaan? menikmati ketidaksempurnaanku atas tangisan-tangisan konyol yang pernah kukeluarkan. atau tentang ketololanku saat hadir kekhawatiran tak beralasan.
percayalah, nanti aku pasti akan menceritakannya padamu. Segalanya, semua yang ingin kau tahu. Semua yang sempat kau khawatirkan. Semua yang sempat kau risaukan. Percayalah, tanpa sedikitpun kau harus memaksa aku akan tetap membaginya. menceritakannya seperti biasa dan kau akan duduk takjim mendengarku tanpa sedikitpun menyanggah. percayalah, aku akan selalu menceritakan apa yang kurasa …
Seperti aku yang terus mencintaimu tanpa kau minta. Seperti aku yang terus mengkhawatirkanmu tanpa kau beri aba.
aku hanya butuh waktu untuk terus mencintaimu. membagi cerita-ceritaku. menumpahkan segala cemburu- yang berkerak di hatiku. mempercayaimu … percayalah …
aku hanya butuh waktu …