.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 18 December 2012

Tuhan dan Doa



dia tersungkur di balik sajadah berwarna gelap itu. menangis tersedu, meraung tanpa suara. hatinya seolah penuh derita, hingga tiap inci sakit yang ia rasa tak mampu lagi ia ungkap ke dalam kata-kata. hanya matanya yang bicara. menatap seseorang di balik terpejamnya mata. membayangkan seseorang dari harapnya. dan terus menuju ke tempatnya.
            “Allah … Allah … Allah
ia terus sebut Nama-Nya, berharap sabar itu ditempakan terus-terusan dalam dirinya. tubuhku merinding, bulu kuduk ini berdiri seiring suaranya yang terus menyebut Surga dan Neraka di depan mata.  
            aku berdiri di sampingnya, dari balik kaca transparan ruangan kecil itu aku begitu jelas melihatnya. wajah sembapnya, tangannya yang mulai mengeriput dimakan senja. bingkai matanya yang lesu, seolah tanpa mimpi lagi yang ia punya. mungkin ia ingin bisa segera melihat matanya terbuka. bukan sekedar dalam mimpi dan balut harapnya seorang. tapi nyatanya dia tak kuasa, dia tetap bersiduduk di balik tasbih dan matanya yang tetap tak mau terbuka.
ditemani butir-butir tasbih itu ia berulang kali menyebut Nama-Nya, namaku pula. aku ingin sekali memanggilnya. mengelus dan mengusap airmata yang tak henti-henti menyeberangi pipinya. namun tanganku tak mampu beradu dengan kulitnya. aku seperti ingin bicara namun pita ini terputus pada tempatnya. seandainya aku bisa melihatpun aku tak lagi punya kuasa untuk beradu pandang dengan matanya.              
“ini apa?”
 aku memanggil berulang kali namun tak ada sahutan. aku menyentuh namun tak ada aduan kulit disana. hampa! benar-benar ruang hampa dan hanya aku sendiri disana.
            ia lagi-lagi tertidur dalam lelahnya. bahkan mukena itu belum ia lepas sejak sekian jam yang lalu. jadi selimut bagi tubuh tuanya. aku masih disini, bahkan semakin dekat di sisinya. menatapnya dari sekian centi tatap betapa rapuhnya dia tanpa siapa-siapa. kucoba terus menggerayangi wajahnya, tak bisa. tak ada apapun yang tersentuh. sejenak kulihat ia mencoba meronta, mungkin dalam mimpi-pun ia masih sangat tersiksa. menyembunyikan derita sejak lama tanpa siapapun tempatnya membagi cerita. ia hanya setia pada tasbihnya.
sosok di sampingnya tetap diam. tanpa gerak, tanpa senyuman. hanya detak jantung yang masih buktikan kalau ia masih ada disini. di dunia!
            “bu, ibu”
            aku menggoyang-goyangkan tubuh ringkihnya. ia tetap pulas. sementara adzan telah menyentak beberapa menit yang lalu. aku tak bisa memejamkan mata, awas memperhatikan ia yang terbujur lemas menyangga tubuhnya sendiri dalam alas sajadah yang menghangatkannya.
bedug masjid sudah berhenti berbunyi, tiap dentuman yang terasa, yang terdengar hanya seperti buaian lagu nina bobo untuknya. ia makin lelap. dan aku makin tak sanggup berbuat apapun.
            “bu, ibu”
aku merintih, halus menyentuh pundaknya. ia tak merespons. biasanya ia akan selalu bangun ketika tangan halusku menyentuhnya. suara-ku yang tak pernah semanis inipun selalu disambutnya, meski kadang harus dengan amarah yang disembunyikan.
            jam terus berdetak. tapi aku tetap di tempat yang sama, tempatku hanya disini. menunggu jawaban dan menyaksikan betapa ia begitu menyayangiku. atau mungkin ia takut kehilangan seseorang yang amat menyesakkan dadanya. menjadi penyebab semua deritanya.
kalau kau ingin tahu, aku tak pernah sekalipun berdoa. ingin mengenal-Nya pun tidak! toh masih ada teman-teman yang selalu baik padaku, yang siap jadi tempat curahan dan meminta bantuan. kalau mereka bilang berdoa hanya dengan menengadahkan tangan, maka benar, aku sama sekali tak pernah berusaha menemuinya. atau sekalipun ingin bersua dengan-Nya.
            “aku bisa bahagia karena di luar sana-pun kebahagiaan tak harus dengan mengenal Tuhan, mungkin saja”.
yang aku tahu, hanya ada gemerlap cahaya di luar. dan selama bisa menikmatinya aku akan kembali kesana. dalam bahagia. aku tak pernah merasa salah, toh dunia selalu punya pembenaran untuk setiap yang kulakukan. teman-teman yang menguatkan, keluarga tempat kembali meski luka-luka yang kau torehkan belum sembuh benar. dan harta! aku masih bisa berbahagia dengan harta.
            ia masih tersungkur di tempat yang sama. kosong menatap seseorang di sampingnya tanpa jeda. kilat-kilat harapan itu masih ada, sedang aku hanya bisa terdiam jadi mata ketiga yang tak terputus menatap pemandangan penuh sia-sia ini. dia yang terbujur kaku disana, wanita tua yang menatapnya, dan aku yang menatap dua tubuh itu sekaligus.
sekali lagi, aku tak punya kuasa lagi untuk bersentuhan meski dulu ia yang membuatku mampu jalani seluruh denyut kehidupan.
            teman-teman yang dulu sempat dibanggakan tak lagi ada di sampingnya. mereka pergi seiring tak ada lagi balasan yang diterima. bukankah ikatan pertemanan hanya soal waktu dan jaminan? mereka yang bersedia mengurangi bahagianya maka mereka juga akan mengorbankannya, meski tak selamanya, dan seterusnya. sayangnya kita sendiri yang tak pernah merasa, mereka sama sementaranya. dunia hanya menganugerahkan mereka untuk satu status peramai cerita. harta? atau ketenaran yang ia buat dari gemerlap dunia sama sekali tak menemaninya? harta yang dulu ia banggakan pun kini meninggalkannya. habis dimakan kejam dunia. siapa yang punya maka dia-pula yang tergerogoti rakus manusia.
ia harus menerima bahwa semua yang ia pilih enggan untuk menyentuhnya. seperti suami- beristrikan empat wanita namun hanya satu sejatinya yang selalu setia menyandingnya. satu wanita yang bahkan tak pernah ia gubris hadirnya. sama seperti ia yang harus terima bahwa ia tak punya lagi hak untuk bisa meraba atau merasa. sepenuhnya ia diam karena belas kasih yang kuasa.
hanya dia yang tersungkur yang tetap setia menjaganya. lantunkan doa-doa penuh harap agar mati-sejenak itu kembali pada nyata. ia menangis sepanjang malam. terus tengadahkan tangan meski ia tahu kesempatan itu hanya sepersekian persen untuk mengembalikannya.
sesal tak ada gunanya mungkin. Tuhan sudah berbaik hati menyisipkan waktu nikmati keramaian, kesepian, dan kebanggaan untuknya.
mesin itu berbunyi melengking. memekakkan telinga, wanita itu tergeragap. bangun masih dengan tasbih erat di jemarinya. ia berlari, tanpa merasa perlu mengenakan alas hingga kaki-kakinya tersentuh dingin. sedingin mata dan hatinya. ia kalap memanggil seluruhnya, satu persatu masuk. ruangan yang tadinya sepi itu kembali sibuk, tak ubahnya pasar malam dengan penuh kebahagiaan, namun sebaliknya, ruang ini pasar malam yang penuh kesesakan. hanya sedikit harapan yang tertinggal.
            “bu, ibu”.
untuk terakhir kalinya aku mencoba memanggil. seberkas kilat muncul dari ujung sana, di balik pintu yang tadi kulihat tempat orang-orang berseragam putih itu masuk. Wanita tua itu terus menggerakkan jemari. Tak habis-habis menyebut pemilik seluruh kehidupan dunia. “Allah … Allah .. Allah
telingaku bergema. Penuh dengan suara itu. “Allah … Allah ..”bulu kudukku meremang, suara-suara itu sepertinya makin tak berjarak.
entahlah, sepertinya aku mulai mengenal kata “doa”. sepertinya aku mulai ingin mengenal “Tuhan” dalam jiwa terdalam. dan jari jemari ini pelan terangkat, harapku, semoga ia tetap kuat meski raga di sampingnya harus diambil sekat. seseorang yang dikerumuni manusia itu diam, tetap diam sepanjang aku menjadi pengamat dari balik kaca.
pada akhirnya, hanya Tuhan tempatku berbagi. setulus-tulusnya tanpa meminta kembali. DIA justru terus memberi, meski aku tak sadari. bukan gelimang harta, bukan pula teman sejati yang pada akhirnya hanya akan berjalan sendiri-sendiri.
            garis mesin itu berubah lurus. tak ada lagi desau nafasnya yang jadi tanda.

No comments:

Post a Comment