.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 31 December 2012

Tersembunyi


            tadi malam, diam-diam aku bercerita, menggunakan kata ganti ketiga untuk bergantian mendongengkan satu hal yang pernah kulewati, tentang dia; yang entah dimana. meski sejujurnya semua itu tentang perasaanku padanya. seluruh rasa itu kuungkapkan. Tapi kau seperti biasa, tertawa kecil, menganggap semua itu lagi-lagi hanya sebuah lelucon. Sementara aku, membalas tawa-mu itu seperti batu besar yang harus rapat-rapat kusembunyikan.
            “hey, kau selalu pandai membuatku tertawa” matamu membulat, menepuk bahuku-yang kuanggap selalu mesra.
Aku tertegun lama. Kurasa kau hanya mencoba menyembunyikan perasaan saja.
“kalau serius bagaimana?” mataku tetap terpaku pada satu arah, meski tetap menyertakan senyum menggoda untuknya. Lurus memandang , ke matanya. Sedang ia berusaha tak gugup menangkap tatap sorot mataku yang mulai tak biasa. Harapan-harapan itu tak mampu kusembunyikan.
            “Haha, bukankah kau tahu dunia abstrak? Kalau kau tak jujur, mana bisa aku tahu” ia kembali pada rutinitasnya, tertawa sedikit, bersedih sedikit, memperhatikanku sedikit, menanggapiku sedikit, hingga urusan membenciku pun sedikit. Aku tersenyum kecut, dia kembali menepuk-nepuk bahuku. Semua embel-embel ‘sedikit’ yang ia berikan padaku itu nyatanya bisa membuatku terbujur kaku tak berdaya, mendamba cintanya. Dia kira aku memang selalu punya hal untuk dijadikan lelucon di hadapannya, sedang tentang rasa, mungkin aku terlalu naif menemukan cara untuk menyampaikannya.
            “ya, aku memang pura-pura” aku mengalah. Tak ada guna berselisih paham tentang suatu hal yang sama sekali ia tak ketahui. Di dalam sini, jujur, kadang kehilangan ada. Kadang kecewaan memenuhi sudut-sudut kepala dan memerintahkan agar tak usah lagi mau jadi tempat bahagia dan dukanya bersarang. Kecewa yang hadir tanpa realita yang sejujurnya. Kehilangan yang hadir tanpa memilikinya. Seperti hotel-hotel mewah menjulang tinggi, tak saling mengenal dimana dasar dimana ujungnya.  Sedang mereka saling berkaitan untuk menjaga keseimbangan.
Mungkin benar kata gandi, rasa kehilangan tak harus selalu ada setelah memilikinya. Seperti kali ini, meski aku tak pernah bisa merengkuh hatinya meski aku tak pernah bisa memiliki seutuhnya hatinya, aku kerapkali dilanda takut. Takut kehilangan waktu-waktu berharga yang sempat kami nikmati bersama.
Aku mengelus rambut panjangnya, menetralisir ketidakpekaan yang selalu mengekor di watak kekanakannya.
Dia tersenyum, berjalan seperti biasa. Menggamit lenganku manja, berceloteh panjang lebar sementara aku terus saja terbius untuk mendengarkan. Aku menyadari satu hal, setidaknya aku masih bisa menggenggam tangannya, setidaknya aku masih punya waktu menikmati senyumnya.


No comments:

Post a Comment