.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 13 December 2012

Tak perlu jadi siapapun untuk cinta




Pertemuan ganjil itu mengharuskan kami berkenalan. Ganjil? Tentu saja. Siapa yang tahu esok akan membawa dan mengenalkan kita pada siapa. Dan siapa yang tahu esok mengenalkanku padanya. Berjabat tangan dan bermanis-manis dalam sambut hangat pertama. sebutkan nama, lantas segalanya berjalan seperti biasa. berdiri sambut uluran tangan, duduk, basa-basi bertanya, kikuk melempar senyuman dan tak terasa waktu mempercepat jalannya rasa. jalinan cerita dua orang yang sedang bertemu, berpisah, lantas dipertemukan lagi oleh sang Kuasa.
Aku tak pernah duga akan menyimpan dan menyebut ini cinta. Perbedaan cara pandang membuatku sejak awal tak pernah menyimpan sedikitpun simpati untuknya. Tapi dunia syah-syah saja merubah jalan cerita, begitupun rasa yang kupunya. Begitu mudahnya membolak-balikkan angan yang sempat bertengger di kepala.
kalau dunia memang memberikan sebab akibat dalam suatu pertemuan, haruskah untuk kesekian kalinya kupertanyakan untuk dan hikmah apa yang dibawanya? wanita cantik dengan segudang prestasi yang ia miliki. mungkin saja ia terperangkap dalam kepala dan tubuh yang salah, hingga kata sempurna selalu melekat di benaknya. hingga satu noda di balik lemahnya manusia bisa seluruhnya ia tangkap dan membias di matanya.
perdebatan banyak membumbui jalan cerita, ketika aku yang bersikukuh pada prinsipku dibantah keras olehnya. dua kepala bersitegang mempertahankan prinsipnya, yang pada akhirnya kami hanya akan terdiam; saling menatap, dan terbahak sepuasnya menertawakan betapa bodohnya kami memaksakan beda yang sudah sejak awal tak pernah sama. Atau kami yang memperbanyak beda meski manusia diciptakan identik sama? kami memang dua orang yang berbeda. wanita dan pria, dia putih dan aku sedikit gelap, rambutnya panjang dan rambutku cepak dan segudang alasan lain lagi yang bisa kami temukan untuk mencairkan suasana. Hebatnya, kami selalu punya jurus ampuh menetralisir suasana panas yang kami ciptakan sendiri. dan untuk itulah mungkin aku ada bersamanya.
ganjil, genap, ganjil lagi, genap lagi, dan seterusnya. pertemuan pertama menjanjikan kami untuk bertemu kedua, ketiga, dan untuk kesekian kalinya. lagi-lagi kami dipaksa berjabat tangan dan beramah tamah dalam situasi yang mungkin tidak saling kami inginkan. hanya dengan alasan mengenal, kami terjebak dalam situasi hangat yang harus kami ciptakan.
tak ada yang salah, siapapun, atau apapun. hanya saja waktu mungkin sedang berencana lain terhadap pertemuan ini. cerita mengalir satu persatu. senyum dan tawa itu tersungging bergantian, dia tertawa dalam balutan senyum mempesonanya, dan aku tertawa dalam jerat pesonanya. meski ia sampaikan dengan teramat yakin bahwa dunia tak akan bisa mengalahkan pandainya, dan aku yang yakin bahwa dunia tak selamanya seperti dongeng-dongeng yang bisa seenak hati di-reka pengarangnya. namun cerita itu tetap ada, janji-janji untuk bertemu membanjir seperti aliran air yang tak pernah habis meski selalu dalam siklus pasang surut. selalu ada, meski kemarau kadang menyurutkan cerita.
dia amat mendambakan segala sesuatunya berjalan seperti apa yang diharapkan. gadis yang begitu keras bekerja demi bermilyar-milyar mimpi di kepalanya, menguras isi kepalanya habis-habisan demi apapun yang ia inginkan.
sedang aku? aku hanya lelaki biasa yang amat percaya bahwa takdir akan berjalan sesuai kaki melangkah, mengalir dan jalani saja. tak ada yang perlu dikhawatirkan, kita hanya perlu merasa, lantas menerima. tapi dia tidak, benaknya selalu menyimpan rapi kata sempurna, meletakkannya dalam ruang paling tembus pandang hingga seluruhnya tahu apa yang ada di kepanya. sehingga apapun yang ada di luar rencana jadi masalah besar untuknya. tentang sikap orang yang menerimanya, tentang karirnya, tentang jalan cintanya, tentang masa depannya, dan apapun dalam hidupnya selalu ingin tak jauh dari sempurna, tanpa cela.
beda itu justru membuatku merasa lebih ada, berguna dalam situasi tak terduga untuk redakan emosi pasang surutnya yang tak pernah bisa ia kendalikan sendiri.
terkadang tanpa sadar ia tertawa bahagia, bercerita dengan begitu menggebu kalau seluruh hal yang ia rencanakan berjalan sesuai rencana. tentang bahagianya yang ia tanggapi dengan kadar luar biasa, padahal mungkin aku harus jujur dan berkata itu teramat biasa. hingga di sisi lain ia harus bendung sendiri kecewa saat aku tak ada ketika rencana itu gagal dengan sempurna pula.
aku yang meredakan sedihnya. atau dia yang jadi penyempurna mengertiku pada cerita dunia.
posisi ini membuatku dilema, aku harus selalu jadi karang yang amat sangat terlihat tegar dalam pandangannya. harus selalu bisa jadi tumpahan unek-unek rasa yang disimpannya, meski ia abaikan bahwa aku-pun punya rasa, bahwa mungkin sabar ini tak menjulang tinggi, tak berujung, tak berbatas jelas. aku tentu saja bukan karang, atau batu besar yang harus bertahun-tahun ia tetesi air hingga perlahan melunak dan musnah terkikis hikmah. Di dalam sini, hatiku sendiri, kadang seperti ada awan mendung yang datang saat langit masih begitu cerah di ujung sana, keterikatan ini memaksaku ada di sisi ia yang teramat berbeda dalam cara dan pandang dunia.
pada awalnya kuanggap ini istimewa, perbedaan yang teramat menyenangkan meski aku harus begelut dalam emosi dan ketidakmenentuan rasa. aku memaksanya terus agar sabar ini ada, dan mengelilingiku seterusnya. tapi kadang lelah menderaku jua, saat keras kepalanya memaksaku untuk sejenak berhenti jadi tong sampahnya. berhenti menyamakan seluruh beda yang dulu kuanggap begitu istimewa, atau aku yang terlampau terima?
keistimewaan yang ia berikan padaku berkebalikan dengan tatap mata dunia yang bilang bahwa aku hanya sempurna ia jadikan tempat sampah semua keluh kesahnya. sama sekali bukan istimewa menurut mereka, apa aku harus perduli? dunia memang simpan begitu banyak suara. hingga ricuhkan suara yang kita sendiri pun tak begitu rasa. suara-suara malaikat dan iblis yang berteriakan menggema isi dunia dalam binar dosa dan pahala. hingga satu waktu menuntunku kembali pada jurang jengah yang tiada terkira. perbedaan ini seratus delapan puluh derajat memaksaku untuk menghentikannya, mungkin saja kami memang sudah tak mampu bersama. tapi aku ingat satu alasan, aku dulu yang memaksa sama, dan tak akan kuingkari satu alasan yang dulu sempat dan amat membuatku merasa sempurna, seperti stimulus di kepalanya.
satu alasan yang dulu pernah kusampaikan, satu alasan yang dulu sempat membuat kami bertahan, dan satu alasan yang membuatku untuk tetap menjadi satu bagian.
pada akhirnya aku tak perlu mencari-cari alasan untuk pergi darinya. nyatanya satu alasan pun cukup untuk terus mendulang bahagia dan cerita bersamanya. satu alasan yang sejatinya datang dari hati dan berjanji untuk terus kuyakinkan dan kupatri.
aku tak perlu jadi siapapun untuk bahagia. tak perlu jadi  apapun untuk bisa dengarkan ceritanya. cerita yang bagai gerombolan air yang nantinya akan menguap sama seperti air yang lenyap ke atas jadi awan dan turun lagi dalam bentuk beda. meski harus jenuh, meski harus diisi debat-ricuh jalani rasa. ceritanya memang pergi entah kemana, berganti senyum dan hikmah yang bisa ia dapat ketika sejenak emosinya mereda. aku hanya perlu jadi peredam suasana, tak perlu jadi gema yang membuat dunia seolah tau apa yang dia rasa. tak perlu juga jadi pelangi yang selalu elok di matanya.
aku hanya perlu jadi diri sendiri, nikmati alur dan cerita dalam lintasan berbeda yang dulu san sekarang berhasil kami lalui bersama. dunia tak perlu awan yang menyerupai wajahnya, atau tak cukup bintang saja terangi malam.  langit selalu butuh banyak pilihan, seperti halnya bulan, bintang, awan dan gelap yang setia bersama meski dalam bentuk berbeda. kami sama saja, beda kami hanya akan genapi cerita.
kami hanya satu jiwa bernama manusia, yang sudah sempurna tanpa harus jadi apa dan siapa. 








No comments:

Post a Comment