.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Saturday, 22 December 2012

surat untuk ibu


tempat paling hangat di muka bumi, peluk ibu. 
saya seringkali melupakan banyak kejadian, banyak kesakitan, banyak pengorbanan, janji, dan banyak hal yang luput dalam pandangan dan ingatan saya. kadang saya merasa amat terbatas dan terkekang dalam beberapa ingatan yang terkadang bukan saya inginkan untuk hadir. semisal, cerita kanak-kanak dulu. saya hanya ingat beberapa hal saja, sedang di luar sana, mungkin lebih banyak dari kalian yang mengingat banyak cerita dan penggalan-penggalan bahagia waktu kalian tak terlalu terbebani dan tercemari emosi.
          
  ibu. sejak dulu saya memanggilnya begitu. saya menyebutnya selalu begitu. tak pernah berubah sejak dua puluh tahun enam bulan ditambah sepuluh bulan minus saya berada di dalam kandungan. mungkin dulu saya memanggilnya dengan bahasa yang tak pernah dimengerti orang lain. dengan menendang-nendang perutnya dari dalam, dengan bergerak-gerak, dengan tunjukkan denyut nadi kehidupan di dalam perutnya. tentu saja saat itu saya belum bisa tertawa, apalagi berteriak, pun masalah sepele seperti mendesis menyebutkan namanya yang hanya tiga huruf itu.

Sembilan bulan entah lewat berapa hari saya dalam dunia yang tidak saya kenali. sempurna hanya bisa meringkuk, hanya ibu yang tahu bagaimana rasanya. entahlah dulu saya bernafas lewat apa, entah juga dulu saya merasa kenyang lewat apa. yang saya tahu, saya teramat bersyukur masih diberikan sesosok ibu yang sekarang masih menemani saya. meski kerapkali saya lupa, saya menyakitinya, sengaja atau tidak.

mungkin hanya ibu- satu-satunya yang mau jadi perantara. yang mau menahan kesusahan dibalut penantian panjang. penantian yang diiringi dengan doa, dengan kegelisahan, dengan sukacita namun tak luput ketakutan itu pasti selalu ada. ibu yang dengan bahagia-nya berkata meski hanya dengan mengelus perutnya, mendendangkan lagu-lagu yang mungkin kala itu saya tak ingat bagaimana sampai ke telinga saya. sel-sel yang membelah jadi banyak bagian, jadi tangan, jadi jari, jadi hidung, dan apapun. saya benar-benar tak pernah tahu dulu bagaimana perkembangan sekaligus beban itu jadi anugrah yang membahagiakan, pertumbuhan.

Allah sengaja tidak memberikan saya pengetahuan tentang itu,  bu. tentang masa rahim yang pernah ibu alami, mungkin Tuhan menghendaki saya mengalami itu sendiri. dengan keluh kesah dan syukur yang membuat bagian dari kami mematri-nya terus dalam hati. bukan sekedar cerita yang bisa saja direka, tapi mengalaminya secara berkala.

Tuhan tidak memberikan saya ingatan ketika masih dalam kandungan. tapi saya mendengarnya dari cerita yang silih berganti dikumandangkan, dengan ingatan-ingatan kecil tentang bagaimana masa-masa saya terlewati, saya kadang tahu betapa bahagianya ibu menceritakan itu. saat saya mulai bisa merangkak, saat saya baru bisa melafalkan dua huruf saja “ba ba ba” dan berulang-ulang. saat saya mulai bisa memegang biscuit renyah dan memakannya sendiri meski belepotan, meski wajah penuh kotoran.

kalau dipikir-pikir lagi, apa hebatnya merangkak untuk seorang yang sudah dewasa seperti ibu? bukankah akan lebih membahagiakan bisa berlari tanpa harus dipegangi? tanpa harus diawasi di setiap sudut mana kita menempati? apa hebatnya lagi bisa berkata “ba ba”? tapi itu selalu istimewa menurut ibu, karena pendar bahagia itu makin sempurna. mungkin saya harus berterima kasih, karena ihwal perasaan itu memang sudah ditanamkan pada perempuan. untuk memiliki kepekaan.

tapi kepekaan itu membuat ibu teramat senang. melihat tawa-anaknya yang tersungging setiap hari, saat membuka mata disambut geliatnya, saat tangan mungil itu menyentuh wajahnya. ah, mungkin saya mulai bisa merasakan ekstase penuh bahagia itu. hanya bisa dirasa, namun tak bisa diungkap berpanjang lebar kata, karena hanya akan membuat kita tak sampai pada maknanya.
ibu. saya tidak tahu kedalaman hati-mu. mungkin lebih dari sekedar tumpahan isi bumi. saat khawatir, bahagia, dan tumpah ruah rasa itu kau rasa ketika ternyata saya yang membuatnya. memaafkan mungkin anugrah yang diberikan Tuhan untuk ibu, hingga kesalahan sebesar apapun selalu nampak kecil di mata ibu. hingga kalimat se-menyakitkan apapun akan teramat mudah terhapuskan. saya tidak tahu bu, yang saya tahu, saya tak lupa untuk selalu menyebut ibu. meski kadang harus dengan makian, dan kata “ah” yang mungkin menjengkelkan.

            Sembilan bulan pengorbanan, air susu yang sudah berliter-liter kau alirkan, tangis tawa yang sudah kau berikan hanya untuk sebuah kekhawatiran kadang hanya berbalas umpatan yang menyesakkan. maafkan saya bu, saya mungkin sedang lupa, saya mungkin sedang buta, bahwa tak mudah menjadi ibu yang menahan begitu banyak derita itu justru saya lukai lagi hatinya.
tapi sejenak waktu yang terus berjalan ke depan. di tiap tidurmu kadang aku tak henti menatapmu. takut barangkali suatu hari nanti saya tidak akan dapat lagi pelukan itu. takut kalau saya tak bisa mengecup pipi ibu yang teramat menyenangkan itu. takut kalau cerita-cerita itu tak lagi mendapat tempat di hatimu. saya takut … sungguh saya takut kalau ternyata ibu pergi lebih dulu. karena tempat satu-satunya yang selalu hangat hanya di pelukan ibu.

terkadang saya harus menyeka airmata yang belum sempat mengalir, menetap di pelupuk mata saja bu. hanya karena sesak yang datang tiba-tiba kalau ibu tiba-tiba tiada. karena sungguh bu, saya tidak tahu waktu. saya tidak mengenal sama sekali waktu yang terus menunggu mati dan kelahiran itu. Terima kasih untuk kesabarannya menggendong saya dalam perut ibu, terima kasih untuk melahirkan dalam dilema kematian bu, terima kasih untuk menjaga dan memberikan manis hidup untuk saya bu.

semoga ibu tahu, kalau tiap maaf yang ibu beri untuk saya. berbuah sabar dan bahagia, meski kadang masih ada duka yang saya selipkan bersamanya.

selamat hari ibu. untuk ibu, yang tak pernah bosan menggendong beban-nya atas nama-ku.  kalau ada tangis dan sakit yang sempat ada, maaf bu, semoga tak pernah mengurangi rasa sayangmu.  

No comments:

Post a Comment