.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 24 December 2012

Surat untuk ayah


            kadang, cara terbaik untuk memaafkan adalah terus memikirkan.
tidak. tidak semua yang ada di dalam dirinya hanya keburukan. sungguh, bukan pula hanya keras dan ucapnya yang seringkali menyakitkan. bukan hanya sifatnya yang kekanakan dan marahnya yang menyebalkan. dan bukan saja tentang terlampau khawatir dan akhirnya keluarlah penolakan yang tidak pada tempatnya. sungguh, dalam dirinya sesungguhnya banyak berisi kebaikan. kasih sayang dan perhatian yang mungkin kadang kita kira hanya salah penyampaian.
sudah jelas, kita memang berbeda masa, hingga cara penyampaian dan penerimaan pun teramat berbeda. dia mungkin terbebani banyak hal, hingga ia merasa semua yang ia lakukan harus semerta-merta diiyakan. dan kita? yang bahkan tak suka makhluk yang gila hormat, menganggapnya bagai batu yang tak punya perasaan.

bisakah kita terima kalau kita yang diabaikan hak-nya? untuk dimengerti, untuk diperhatikan, untuk mendapat pelukan sama halnya ibu yang mendapatkan semua itu? mungkin kita yang sesekali harus menurunkan ego. dengan memilih diam ketika lelahnya sudah tak terkatakan, hingga tak perlu perdebatan dan perselisihan  yang membuat retak hubungan. hingga dendam dan benci itu tidak perlu lagi terulang.

bahkan saya pun masih sulit menjalankan, watak yang serupa seringkali membuat saya melontarkan kalimat tidak terima. mulai dari membantah apa yang diperintahkan, mencecar dan mencercanya, mogok bicara, dan penolakan lain yang saya lakukan dengan tidak wajar pula bagi sebagian orang.

tapi tidak untuk hari ini, jam ini, dan detik ini. saya ingin sekali membuka hati, menyadari bahwa yang ada di hati dan kepalanya hanya tentang bentuk perhatian yang susah sekali diungkapkan. semua yang jadi larangan, kekhawatiran dan penolakannya adalah ungkapan dan memang cara yang dia bisa untuk tunjukkan kalau dia teramat peduli pada kita. darah dagingnya. dia hanya punya satu cara, dan kalau tak pernah ada saling rela, mana mungkin komunikasi bisa terjaga?
kalau boleh saya berkata, mungkin selama ini hanya kebencian yang saya tampakkan. atau  hanya keisengan, atau bahkan ketidaksukaan yang akan tampak sekali ketika harus berdua berhadap-hadapan, ketika harus ditempatkan pada situasi panas dan kami harus saling bersitegang, mempertahankan argument masing-masing kepala yang sama kerasnya.

tentang saya yang tidak suka caranya menegur, tentang caranya yang tidak saya suka ketika memberi nasihat dan melarang saya ketika saya meminta izin untuk bepergian, ketika dia merokok dan saya terganggu dengan asap yang dia keluarkan bersama karbondioksida yang teramat merusak pernafasan kita. tentang banyak hal, yang sejatinya, mulai detik ini saya sadari, semua itu hanya karena benci yang sudah lama ada disini, di hati.

bukankah benci memang seringkali membuat kita tak lagi peka untuk merasa? dan bukankah benci menutup segala kebaikan yang bahkan sudah tampak di depan mata? kita buta untuk menangkap segala macam perhatian dan kebaikan, kalau kita memang memilih tanamkan kebencian.  

            maaf, setelah sekian harta kau keluarkan, setelah bermilyar bulir keringat kau usahakan, justru harus ini yang kuberikan sebagai balasan.

aku mungkin bagian yang tak pernah mengerti bagaimana hati lelaki keras sepertimu bisa rela memberikan harta dan membaginya agar kami bahagia, menjaga kami dengan tidak ikut menangis ketika kesedihan menerpa, menenangkan kami dengan tidak ikut terprovokasi ketika amarah jadi dewa. meski dengan beribu kalimat menggurui yang berulang kali keluar dari mulutnya. dia rela mengantar jemput meski lelah memenjara, dia rela memijat badan lelah kami meski dia-pun lelah  pula, dan dia rela, sungguh dia rela berbagi ibu-alias istrinya sendiri, untuk memeluk kami, walaupun sesungguhnya dia juga lebih berhak mendekap istrinya.

            lagi-lagi maaf, kadang kami egois untuk milik yang hanya sementara. kami terjebak dalam keegoisan dan setan-setan yang berbisik di telinga.

harusnya kami menyadari, sudah beribu-bermilyar-bertriliun jam ia sisihkan, meski entah seperti apa harus ia tunjukkan. saya  tau ia begitu sayang pada kami, dengan melihat ia begitu sabar dan menyukai anak-anak, saya rasa dia pun sama halnya begitu menyayangi kami semasa kami masih bisa digendongnya, semasa kami masih selalu digandengnya, semasa kami masih bisa dengan leluasa dikecupnya, meski sekarang, dipeluk, dikecup, bahkan didekati pun kami masih enggan untuk merasa nyaman bersamanya.

maaf, kami terlalu sibuk mempertahankan luka. padahal sejatinya, kita sama-sama punya rasa.

padahal apa salahnya dia? apa salah ketika dia lebih keras pada kita dengan pengorbanan yang sudah sedemikian besarnya? masih kurang-kah tatap mata teduhnya, masih kurang-kah seluruh pengorbanan keringatnya agar kita senantiasa bisa memenuhi kebutuhan kita yang tiada duanya. bahkan meski ia harus menjadi orang terakhir yang merasakan kebahagiaan bila bahagia memang terhadir dalam ke-baru-an.

seperti ibu, yang selalu setia mendampingi dan mendoakan kami.  kami tahu, ia juga sama berharganya. ia sama menyimpan bermilyar rasa sayang itu di dalam dada. tapi dia tidak semerta-merta peka, karna sejak awal rasa yang Tuhan titipkan padanya sudah berbeda. tapi, nomor satu tetap ibu, semoga kau tahu.

bukan karena merasa benar yah, sungguh, bukan karena menganggap kami adalah anak yang paling mengerti kesulitan yang kau rasa. bukan pula karena meminta balas agar kau selalu menjadi sempurna di mata kami. tapi saya menuliskan ini dengan harap, semoga, ketika suatu saat nanti saya dibutakan kembali oleh keegoisan dan kemarahan, saya akan ingat lagi betapa menyejukkan dan membahagiakan masih memilikimu sebagai imam dan penenang.

terima kasih, untuk marah dan  nasihat yang kau berikan. semoga membuat kami terus paham, bahwa semuanya hanya sebentuk perhatian. yang luput dari pandangan.semoga kau tak perlu iri, karna ibu yang selalu mendapat pelukan :p



No comments:

Post a Comment