.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 19 December 2012

Senja tak merubah apa-apa


Senja tak merubah apa-apa. Ia hanya berikan warna warni dunia.
usianya telah berlalu dari ulang tahun perak pernikahannya. mungkin enam puluh, atau mungkin lebih, diam itu jadi pilihannya. memutuskan untuk menjadi pribadi yang terus bertransformasi dan berevolusi tanpa siapapun perlu tahu apa yang jadi keluh kesahnya. separuh usianya ia habiskan dengan menggerus penuh semua catatan mimpi yang ada di buku kecil usang yang selalu dibawanya, di dalam tas usang berwarna hitam yang telah bertahun-tahun pula menemaninya.
tak sekalipun ia memilih menggantinya. meski sobek dan bolong-bolong serta warna pudarnya menunjukkan betapa sudah rapuhnya tas yang setia dijinjingnya kemana-mana. ke kantor, ke jamuan makan malam, ke undangan pernikahan teman, atau bahkan sekedar datang pulang pergi ke bumi kelahiran. tak ubahnya istri setia yang tak sekalipun meninggalkannya, atau mungkin belum rela. sama seperti siklus diamnya yang tak pernah berganti meski dunia menawarkan dualitas, ditinggalkan atau terus melangkah ke depan.
            ia bertemu gadis pujaannya dalam balut ketermanguan. kebekuan mungkin saja menjadi bagian paling menyekat diantara hati-hati yang mereka punya. bertemu, saling suka, dan diam lebih ia pilih tinimbang sibuk umbar kata-kata. Sejatinya tindakan dan gerakan tubuhnya cukup untuk tunjukkan betapa dalamnya rasa yang ia punya. Kepekaan seperti apa yang ditampilkan dari tajam sorot matanya,  tapi matanya punya banyak cinta. tapi wajahnya pancarkan aura bahwa janji sehidup semati itu rela ia kumandangkan meski duka harus jadi hambatan.
            gadis itu luluh, dan diamnya jadi salah satu hal yang paling meyakinkannya. bahwa hanya dirinya yang nanti jadi tempatnya membagi buih-riak dunia. hulu hilir rasa itu rasanya hanya ada disana. 
mungkin hanya mulutnya yang terkunci rapat-rapat, seiring kepalanya yang makin keras menguntit, berkomat-kamit sebutkan kalimat-kalimat sukses yang dikumandangkan banyak motivator disana-sini. bergema berulang kali dan jadi stimulus hebat di otaknya. merangsang bagian-bagian sensitive itu untuk dengan tegas menyimpan tanpa harus membuang ingatan lain di kepalanya. ia memilih jadi tunawicara meski di luar sana, bumi, dunia riuh ricuh berdebat kusir tentang ekonomi yang terus berkembang, gerakan peduli bumi, tentang fluktuasi, tentang nikah siri, dan heboh yang makin memekakkan telinga manusia-manusia yang semakin banyak tak mengerti.
dunia berikan banyak pilihan. tapi ia tak tergerak sekalipun untuk mencoba selingkuh dengan begitu banyak godaan. baginya satu hanya satu, dan pilihan yang telah lama ia tegaskan harus ia pegang teguh dalam pikiran. setan sekalipun akan ia enyahkan kalau sengaja menebarkan virus mematikan alias “modern” di kepalanya, juga keluarganya.  
            hidup bersanding dan mencoba mengerti isi kepalanya hanya sama saja mencoba mengerti artefak yang bicara pada zamannya. hanya bisa bercerita lewat relief dan garis-garis peninggalan di sekitarnya. kepalaku sibuk menerka tapi seberkas Tanya makin menumpuk di kepala. sepertinya dunia masih enggan menunjukkan bahwa ia pun punya amarah, ego, wibawa dan cinta yang bisa ia bagi pada satu wanita di sampingnya, Ia ayahku.
tak berbilang detik, mungkin saja milyaran detik kuhabiskan untuk menyaksikannya dalam diam. mungkin akan lebih menyenangkan bisa menatap hasil karya manusia sebagai persembahannya pada modernitas, televise yang penuh gambaran visual, peluk dan ungkapan, atau lewat radio-radio pemancar yang bisa kudengar apa isi kepalanya. apa yang ia rasa, dan sejurus kemudian aku kembali lagi pada sadar, bahwa ia tak bisa disamakan dengan apa-apa. ia ada karena begitulah adanya.
            Ia tak sama dengan apapun.
ayah suka sekali menatap senja, lamat-lamat duduk di kursi luar menghadap lapangan luas itu dan bersikukuh menunggu senja kembali ke peraduannya. Menatap burung-burung itu kembali ke sarang, menikmati semilir angin sebagai tanda matahari yang lelah menunaikan tanggung jawabnya, menghirup lega waktu senggang yang masih bisa ia nikmati berdua, bersama seseorang yang amat dikasihinya.
matanya berkata-kata. seperti banyak sekali suka cita dan cerita bahagia tertuang disana. sesekali aku menemaninya, mencoba sekali lagi mengerti mengapa diam dan keras jadi pilihannya. mungkin ia keras, atau mungkin lewat hadirnya aku belajar menerka. bahwa tak semerta diam membekukan segalanya, toh ibu tetap setia, toh ibu tetap bisa menjadi pendamping dan me-mediasi kami dalam banyak hal.
            pernah aku bergelut dalam ketidakmengertian, namun ia tetap diam. tak ada bedanya aku bicara atau mencacinya. tak ada bedanya aku ada atau tiada. Tak ada bedanya! Tafsir di kepalanya sudah sejak lama mengakar. Dan mencabut pondasi yang telah mengakar itu sama saja merubuhkan pohon yang sedemikian besar seorang diri. Aku hanya pribadi, yang tak akan mau diperbudak obsesi.
Ia sudah merasa cukup, karena baginya ibu selalu mampu jadi apa saja. ia masih memilih bungkam karna kata yang ia punya hanya akan ia simpan pada seseorang yang teramat menggenapi hidupnya.  baginya percaya tak mudah untuk semerta-merta sampaikan apapun masalah yang dia punya.
            pagi muncul berikan sinar, bergerak siang, lantas kembali lagi senja datang menemani lamunannya tentang kehidupan. Masa mudanya yang telah lama lewat, masa bahagianya saat wanita itu menjadi penentram hatinya, dan usia senja yang masih menyimpan kata setia. ditemani ibu di sisinya, ayah masih sempat tertawa, meski beberapa menit lalu ia sempat bersitegang denganku karena aku yang merasa diacuhkan. dunia seolah hanya milik mereka berdua, senja, menikmati semilir angin sore. dan genggam satu sama  lain tangan dengan erat.
            mungkin hanya dengan begitu cerita-cerita itu tersampaikan. lewat genggaman tangan, alirkan hangat dan hormone-tubuh mengalir cepat yang tunjukkan bahwa masih ada cinta disana. senja mungkin tempatnya mengadu rasa, menatap hari yang terus bergerak karena langkahnya seolah terhenti karena pilihannya diam yang sudah separuh waktu ia jalani.
ia mungkin sesekali menyesali waktunya yang terbuang demi jadi patung untuk keegoisannya, diamnya. tapi ia berusaha sampaikan itu lewat gerak tangan, lewat mata, lewat bahasa tubuhnya yang terus berkata bahwa ia teramat ingin mencinta tubuh-tubuh yang di dalamnya mengalir deras darahnya. tubuh-tubuh yang terselip satu atau bahkan berbagian-bagian genetika-nya.  
ia menyerah pada bungkam, pada diam. dan senja, memang tak merubah apa-apa. kadang kita yang harus memaklumi, atas nama pemahaman dan mengerti hati-hati itu tak mudah berbagi. tak ada batas kesamaan yang menyenangkan, mungkin harus dengan berbeda ia merasa tergenapkan.

No comments:

Post a Comment