.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 19 December 2012

Selagi kau ada


Cermin. Sudah lama aku mengenalnya, mencoba mencari-cari apa yang tersembunyi di baliknya, selain hanya bingkai kayu, paku, dan sebentuk kaca disana. Pantulan-pantulan sinar, gambar, dan benda-benda di sekeliling kita. Hanya sekadar Mengenal dan meski sama sekali tak tahu apa gunanya kecuali hanya untuk munculkan kepercayaan diri disana. Wajah-wajah yang kadang penuh dengan senyuman ambisi, percaya diri, riasan, atau mungkin wajah-wajah setelah semalaman menangis berkutat dalam penyesalan tak akan luput darinya. Ia bisa dan mampu jadi teman setia yang setiap saat mau jadi pemantul gambaran diri, citra manusia, dari ujung sampai ujung lagi. Dari kaki sampai ujung rambut yang bercabang sekalipun.
Aku berdiri di hadapannya, mematut-matut diri. Pakaian, polesan bedak yang tak teramat tebal, bahkan sama sekali tak terlihat mungkin. Lip gloss berwarna merah muda sedikit memberikan warna dalam aura wajahku, segar mungkin. Kaos polos berkerah berwarna putih, dan celana jeans merk terkenal yang selalu jadi tujuanku ketika memilih model-model pakaian.
            “benarkah aku cantik?” aku tersenyum, sambil mengelus-elus pipiku yang amat sangat halus. Bulu mata yang lentik dan panjang, mungkin ini yang selalu kubanggakan. Mata yang coklat indah, bahu yang membentuk tulang selangka leher, rambut panjang tergerai. Ikal mayangnya yang menjerat banyak lelaki dalam kehidupan. Inikah yang namanya kesempurnaan?
            “aku memang cantik”. Aku meyakininya. Sekali lagi aku tersenyum, berlenggak-lenggok di hadapannya tanpa secuil malu menggerayangi akalku, hatiku. Ya, aku memang tak pernah punya malu untuk bersombong-sombong diri di depan benda satu ini.
Lihatlah! Wanita yang selalu jadi idaman banyak pria ada di hadapanmu sekarang. Aku sibuk mencari-cari alasan untuk membenarkan hatiku bahwa aku-lah salah satu wanita tercantik. Salah satu?
Terlalu banyak wanita di dunia ini. Hingga satu saja yang mengaku cantik tak mampu didefinisikan kata-kata. Tiap kepala sayangnya selalu punya definisi cantik dalam pikirannya. Entah cantik itu yang berkulit putih, pintar, atau cantik itu lagi-lagi hanya sekedar polesan alat kecantikan yang ramai jadi bahan persaingan para pengusaha yang menjadikan wanita sebagai komoditi-nya. Siapa perduli? Toh wanita kini lebih sibuk dengan make-up dan pakaian-pakaian koleksinya, pakaian-tas-sepatu yang lebih banyak dibanding koleksi buku agamanya yang kadang tersentuh pun tidak. Hanya sekali dipakai, ia terlupa. Ia dicinta hanya pada pandang pertama, selebihnya, ia tak ubahnya sepah yang sudah dan tak akan pernah manis lagi.
Wanita kini lebih sibuk membangun citra, entah citra yang seperti bagaimana yang paling patut disandang pribadi-pribadi glamour, atau sosialita, atau kalangan miskin papa sekalipun, aku tak pernah tahu. dibanding dengan memperbaiki segala macam hal yang memang harus dipelajarinya, memasak-? Menjadi ibu yang baik dengan berlatih mengurus bayi-bayi yang terbuang, atau tersisihkan? Atau selamanya duduk diam terkungkung di rumah? Masihkah itu relevan bagi para wanita di luar sana yang teramat mengagungkan kecantikan dunia? Ah, apa perduli-ku.
Aku masih di hadapannya. Terus mematut-matut diri, heranku, jengah, jenuh, bosan dan entah kata apa lagi sebagai sinonim bosan harus kukatakan itu tak pernah ada. Tak pernah ada sejentikpun perasaan aku harus meninggalkannya, sama seperti cinta mungkin. Sekalipun harus terima bahwa ada sisi pahit ketika mencecap manisnya, toh cinta itu bergerak, hidup kita terus bergerak, tak pernah statis atau diam. Dan orang-orang yang memilih duduk diam yang akan tergerus zaman, meski itu prinsip yang mereka pegang. Berulang kali kukatakan bahwa aku cantik, badanku sempurna, proporsional dalam kacamataku, kacamata di kepalaku sendiri tentu. Bagaimana dengan kacamata orang?
Apakah orang lain suka? Perduli apa? Yang jelas aku sudah berusaha semaksimal mungkin tampilkan kesempurnaan disana. Hingga kata sempurna itu janggal sendiri untuk kumaknai. Hambar. Tanpa rasa. Kucari-cari sedemikian rupa namun sempurna itu tak pernah ada. Bukan lagi merasa cantik kini yang ada, ketika kata “sempurna” itu kembali menelanjangi isi kepalaku, mengeruk-ngeruk apa esensi dari kata sempurna yang bertahun-tahun kusimpan di benak. Apa?
            Sama sekali aku tak menemukan definisi konkritnya.
Dia sama absurdnya ketika aku harus menjelaskan bagaimana damai ketika menengadahkan Tangan pada Tuhan atas nama agama? Hanya dalam hati bisa kuterka, tapi kata demi kata tak sampai pada suatu maksud yang ingin kusampaikan. Nir-puas!
            Ah cinta, ah cantik, kini kalian punya teman baru, sempurna. Aku benar-benar tak tahu bagaimana definisi yang paling tepat untuk menggambarkan haru biru di dalamnya. Kalau saja cinta, cantik dan sempurna ini punya cermin seperti di hadapanku, apa mereka bisa merasa? Lagi-lagi aku harus menyimpan Tanya dalam Tanya. Makin menggunung. Tingkatan ini semakin sulit, bagai langit tujuh lapis yang tak kutahu darimana dan sampai dimana ia berada. Absurd, dan aku mulai lelah mencernanya. Mencecap satu nyata tanpa tau realitasnya.
Seperti halnya aku hidup di dunia, tanpa tau artinya. Lagi-lagi kosong.  
Lalu kini aku harus berkutat dalam cermin yang beberapa menit lalu menganggapku cantik. Atau aku sendiri yang menyimpannya? Dia yang dulu mengakui sangat mencintaiku, ternyata pergi, demi mencari definisi cantik yang sempurna yang ada di kepalanya. Apa yang harus kulakukan? Selain ternyata di luar sana, masih banyak cermin yang memantulkan banyak cantik rupa milik wanita-wanita lain di dunia. Berapa jumlahnya? Dua  berbanding satu? Atau sepuluh berbanding satu? Dan laki-laki akhirnya punya hak untuk memilih lebih dari satu. Dengan kata lain, setia itu tak harus monogamy.
Bukankah itu yang namanya keseimbangan? Dualitas yang mereka agung-agungkan, wanita dengan pedulinya pada cantik rupa tanpa tahu di dalam sana ada keelokan jiwa. Dan laki-laki, sibuk menyimpan “kaya” untuk menyejahterakan masa depannya. Tak perduli jalan mana yang mereka runut, tak perduli cara apa yang mereka anut. Sama saja! Lelaki dan wanita sibuk mengeruk sesuatu yang selalu bisa hilang dimakan masa. Sementara, dan mungkin akan tanpa sisa.
Masih bergunakah cermin itu untuk membiaskan cantik yang kupunya? Atau sekaligus luka-luka itu disertakan bersama wajah-wajah penuh dosa, penuh luka?  
            Aku tak menemukan lagi jawabnya.
Sebenarnya apa yang kucari di depan sana? Kesempurnaan yang tadi sempat merobohkan percaya-ku? Atau kecantikan yang sempat diagungkan jaman? Bukankah tiap jaman selalu menyimpan keemaasan, kecantikan, keelokan. ratu cleopatra, boko, siti zulaikha, ratu kidul, siapa lagi? atau akankah aku masuk dalam daftarnya? entahlah. Maka begitu, bukankah tiap rupa selalu menyimpan indah yang mampu tertangkap mata. Atau aku yang berbeda hingga mendeskripsikan cantik hanya soal pakaian mewah, citra atas nama tahta, dan senyuman penuh pura-pura? Entahlah, rasa-rasanya, semakin aku bercermin, semakin banyak kekalahan yang kuterima.
Di hadapan cermin itu berbagai macam make-up menghiasi rak-raknya, bedak, lip gloss, mascara, blush on, eye liner, apalagi? Berapa uang yang kuhabiskan untuk menemukan kata sempurna itu? Lalu apa yang kudapat? Bukankah sama saja. Wajahku tetap saja seperti anugrah yang sejak dulu diberikanNYA. Tanpa cacat pun sudah luar biasa, dengan kulit bersih, dengan tinggi yang cukup, dan lagi sehat. Bukankah itu harusnya sempurna? Citra macam apa yang kuinginkan lagi dari tubuhku yang lambat laun akan menua. Lagipula cermin-cermin itu tak pernah berdusta. Selagi aku tersenyum, maka dia –pun mungkin tampilkan keindahan dari sudut berbeda yang kupunya, dan orang lain tentu tak pernah sama.
Aku tak tahu mengejar apa, jika yang kucari kecantikan,  bukankah di luar sana mereka kenal baik beragam nama cantik? Bukankah di luar sana berbeda itu justru makin di rekayasa? Dengan adanya salon-salon yang penuh tampilan manis meski sebenarnya hanya mengeruk untung dari mereka-mereka yang termakan modernitas zaman, tak terkecuali aku mungkin. Aku tertawa, dan cermin itu ikut menertawakanku.
Selagi aku marah, cemberut, manyun, menangis, berteriak, cermin itu ikut meniru gerakku. Aku marah ia ikut marah. Aku menangis, ia justru lebih lantang biaskan tangisan. Karna dua keyakinan sekaligus kudapat. Dari dalam cermin itu, dan di hati, tubuhku.
Citra itu sesungguhnya tak benar-benar kudapat. Karena tiap cermin memang dengan indahnya masing-masing. Dan aku? Tak perlu jadi sempurna untuk menerka apa kata cantik, dan cinta. Nikmati saja indah yang kau punya, mungkin dengan begitu, selagi kau ada. Kau akan tetap berharga, di hadapan dunia, atau di hadapannya. Cermin.
 Dunia sudah penuh sandiwara. Dan kau, tak perlu lagi reka-reka. 

No comments:

Post a Comment