.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 6 December 2012

Secangkir kopi untuk masa lalu


aku terseok berjalan. terus berjalan, tak tau arah. tak tau harus kemana melabuhkan lelah. hanya sandarkan segala insting pada dua kaki yang masih sadar bekerja. kakiku terus melangkah, selangkah demi selangkah, aku tak tau hendak kemana, menyusuri kota atau sekedar menyusuri jejaknya yang mulai menghilang karna ada hias lain lebih menyilaukan mata. tak sadar kakiku menuntunku kemari. di tempat yang entah sudah ingin sekali kuenyahkan, kulenyapkan dari apapun siklus bumi berotasi. berhari-hari aku mengurung diri, menyembunyikan desah nafas kecewaku di balik kesendirian. menyembunyikan segala carut marut dan kecamuk rasa yang hampir saja merenggut warasku. dua minggu berkutat dalam ketidakpastian, aku beranikan diri keluar. sempat berkaca, tampang tak terurus, jenggot dan brewok yang sudah semakin panjang tak beraturan, dan bau badan yang sama sekali tak pernah kubayangkan akan melekat dalam badanku ini.
aku duduk di kursi paling pojok, di tempat biasa aku dan dia menghabiskan malam-malam penuh janji setia. malam-malam penuh kehangatan dan kemesraan yang lama kupupuk dan aku sendiri yang menyemai benihnya.
kupesan secangkir kopi, kopi yang sama, dengan dua sendok kecil gula. cukup! pelayan itu mengangguk, mungkin sungkan hendak bertanya lagi apa yang kupesan. ya, hanya secangkir kopi. tanpa perlu memandangnya, tanpa perlu mengacuhkan dia yang tertegun menatap bagaimana keadaanku.
wajahku sedang begitu tak bersahabat, atau dia ketakutan aku adalah preman yang hendak menerkam. ah, aku tak perduli. aku hanya ingin menikmati suasana di tempat ini terakhir kali. dengan mata terbuka, dan hadirkan kembali luka yang berhari-hari lalu memberangus bahagiaku bersamanya.
aku terdiam lama, kutahan sebisanya agar luka itu tak merembet kemana-mana. agar aku tak perlu berteriak gila di tempat yang dulu pernah membuatku teramat merasa sempurna. tapi dia berkelebatan sendiri di kepala. dia hadir dalam tawa, dia hadir dalam vas yang berada tepat di sampingku. teringat ingatan masa silam saat dia ada di depanku dan menyuapiku mesra makanan favoritku. dia hadir dalam kebasku menatap dunia. aku menghela nafas panjang, tak menyadari pelayan itu sekarang berada tepat di sampingku. menyuguhkan secangkir kopi yang selalu kupesan bersamanya, kopi favorit yang dulu tak pernah absen kupesan untuk terus menatap senyumnya.
tanpa perlu berucap terima kasih, pelayan itu telah lebih dulu pergi meninggalkanku. lagi-lagi aku sendiri. kuamati terus secangkir kopi itu, secangkir kopi yang dulu menemani malam-malamku ketika seluruh kreatifitas dan tenagaku harus kutuang habis-habisan untuk memuaskan keinginan pelanggan, dan sebagai balasnya pundi pundi tabunganku bertambah tebal untuk merencanakan pernikahanku dengannya.
kuseruput kopi itu untuk pertama kalinya. pertama kali dengan wajah dan tatap yang berbeda. ada sedikit sesak yang ikut terhirup dalam aromanya, aroma segar yang ternyata justru menghadirkan beribu-ribu kesakitan. hangatnya menjalar pelan lewat kerongkongan, badanku ikut hangat. namun kurasa hati-ku tak ikut serta. aku masih ingat, dia yang mengenalkanku pada kafe ini. kafe ternyaman dan kopi ter-enak yang pernah dia rasa. aku bertemu dengannya di tempat ini, dia langganan kafe ini. sedang aku baru sekali datang dan ikut mengagumi rasa kopi yang mereka suguhkan. tanpa tipuan, tanpa pemanis buatan.
entah bagaimana aku dan dia bisa sedekat itu. hanya saja kami memang selalu bertemu di sela aku yang sibuk dengan rutinitas bertemu pelanggan yang kulakukan di kafe ini, selalu. sejak aku meneguhkan tempat ini jadi tempat favoritku. semua berlanjut, dua orang yang berbeda, dengan situasi yang sama, dan satu alasan pun cukup untuk membuat kami merasa layak menawarkan persahabatan. tak lagi berbeda tempat, kini kami duduk berdua di satu meja. hanya bersekar meja dan tatap kami tak terhalang apapun. hanya ceritaku dan ceritanya. hanya mataku dan matanya yang ada. dan riuh ramai kafe menulikan telinga. dia yang lagi-lagi berkelebat dalam baju anggunnya, senyum dan lucunya membuatku abai seluruh badai yang terhalang di depan mata.
lagi-lagi aku menghela nafas, makin sesak, dan makin berat. tatapku masih di tempat yang sama, mengamati secangkir kopi yang sedikit demi sedikit mulai habis untuk seisap dua isap masa lalu yang kupunya. semua harus kuselesaikan malam ini! aku lelaki! bukan sekedar penikmat dunia dan limbung karna wanita.
kuseruput kopi untuk kedua kalinya. meresapi hangat, manis dan aromanya yang melambungkan kepala. memadukan segala keindahan dalam kepedihan. ada segumpal pahit yang menelusup dan ingin segera kubuang. tapi tak bisa, pahit itu akan tetap terasa. dan akan selalu menempel di lidahku untuk selamanya.
dia hadir lagi di kepala, bersama kopi yang selesai kuteguk dan mengalir menuju lambungku. malam itu dengan segenap keberanian dan kekuatan yang terus kucoba dihadirkan, aku melamarnya. di tempat ini, ditemani iringan music jazz yang selalu ia pesan tiap kali aku dan dia duduk di pojok ruangan ini. ia yang mengangguk-angguk pelan, matanya terpejam, dan mulutnya yang merapal lirik lagu kesukaan. dan saat matanya terbuka, di depannya ada seuntai kalung dan setangkai mawar tanpa duri yang kuberikan untuknya.
angan dalam balutan music kesayangannnya buyar seketika.
ia terhenyak, matanya bicara dan hanya kelebat kilat hebat merasuk dalam tubuhnya. aku ikut diam, hening. music jazz tetap mengiringi pelan, menemani seluruh penghuni kafe ini. bukan untukku dan dia saja yang terpanah asmara. masih hening. dia tetap tak berkata apa-apa, sedang aku makin gugup membawa seuntai kalung dan mawar tanpa duri itu di tanganku. kakiku mulai digerayangi semut-semut tak kasat mata. ingin berdiri dan segera memakaikan kalung ini padanya, tapi dia sama sekali tak bergerak. ia tetap dalam posisi yang sama. sejenak kemudian ia beranjak, dan berlari meninggalkanku tanpa sepatah kata. pun!
            untuk kali kedua harus kunetralisir seluruh sakit yang datang dan menyeruak dalam dada. ia seperti singa yang siap menerkam mangsanya. membuatku ikut terhenyak demi melihat lagi bayangan simpul-simpul rasa yang entah dimana pangkal dan ujungnya. hanya tersisa ia yang berlari meninggalkanku, bersama tatap pengunjung lain dan aku yang masih bersimpuh menahan rasa malu tak tertahankan.
kulihat lagi secangkir kopi yang hanya sendiri di atas meja di hadapku. secangkir kopi yang tinggal menyisakan seperempat isi. atau secangkir kopi yang sudah kuminum dan hadirkan tiga perempat kenangan yang lalu. mungkin bisa saja malam ini kupesan sebotol bir paling mahal untuk sejenak membuatku lupa masalah- dan hiruk pikuk perasaan. atau mungkin bisa saja aku lebih memilih mengalihkan sakit ini dengan kembali mencari pelarian di hati wanita lain, sebagai balas ia yang meninggalkanku, dan tak pernah lagi muncul di hadapanku. tapi tak adil! mungkin saja ia memang tak bahagia bersamaku, dan aku tak bisa merebut bahagia orang lain hanya untuk keegoisan dan kekecewaanku.
            baiklah, ini untuk yang terakhir kalinya. seperempat isi yang harus kuhabiskan dan menghabiskan pula sakit dalam kenangan.
kuseruput secangkir kopi biasa ini untuk terakhir kalinya. tetes demi tetes menjalar pelan di kerongkongan, membasahi inchi demi inchi saluran di balik leherku. kuhela nafas panjang, membuangnya perlahan. terus dan makin panjang. sehari setelah tragedy penolakan tanpa ucapan itu aku datang kembali kemari, yang aku ingat jadwal kedatanganku kemari hanya tiap rabu dan sabtu karena itulah jadwal sela-ku. kulihat meja pojok yang selalu kupakai itu sudah  tak lagi kosong. ada sepasang lelaki wanita yang duduk bercengkrama bahagia. aku berbalik, hendak pergi dan memilih untuk menyepi.
            tapi sejenak aku tersadar, ya itu dia. itu memang dia. wanita yang kukira bahagia bersamaku, tetapi mala mini ia duduk mesra dan tampilkan seolah-olah tak ada apa-apa. meski kurang dari 24 jam lalu ia telah dengan sadar menimpaku dengan batu besar yang entah sampai kapan akan berhenti menyesakkan. aku berjalan mendekat, makin dekat dan makin jelas kutatap kalau memang dia yang duduk disitu. sampai aku persis tiba di dekatnya ia masih saja tak menyadari ada aku yang tak lepas memperhatikan raut wajahnya sejak berada di pintu.
            ia menoleh, ikut tergagap melihat kehadiranku. ingin sekali bertanya kenapa, tapi bibirku tak kuasa melafalkannya. ia terlampau cantik untuk kusiksa dengan pertanyaan tak rela. ia terlampau cantik untuk menerima bertubi-tubi kecewa yang tak sengaja ia hadirkan untukku. ya, dia terlampau cantik. hingga aku seperti terhipnotis candu di balik cantiknya.
            hanya maaf yang dia sertakan bersama perginya.
            cangkir kopi-ku habis. tak ada sedikitpun tetesan yang bertengger di cangkir itu.
selesai! semua telah usai! dia telah pergi, aku terzolimi, dan secangkir kopi ini yang menemani.
aku beranjak, meninggalkan kenangan dan kopi kenyamanan. kopi itu tetap manis, meski hatiku berubah pahit pun, ia tetap akan selipkan manis di lidahku. seperti dunia, yang meski telah tega renggut dia dari mimpiku, masih ada manis lain menungguku.  



No comments:

Post a Comment