.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 20 December 2012

Rencana mati


manusia jaman sekarang sepertinya sudah lebih dulu merencanakan mati, tanpa disadari. lewat rokok-rokok yang sedikit demi sedikit dihela-hembuskan tiap waktu, di kantor, sekolah, kampus, rumah, toilet, bahkan di rumah ibadah. menyibak kematian menurut jalan yang mereka anggap begitu menyenangkan diri. membuat angan seolah melayang, beban berhamburan, meski hanya sekelebatan. lantas masalah-masalah itu tetap datang.
lewat makanan cepat saji yang tak perduli bagaimana tubuh akan mencerna, bagaimana lambung akan menyalurkannya secara berkala sampai ke anus, dan keluar dalam bentuk yang sama. tak ada bedanya. memakan-makanan cepat saji, makan di kantin murah, makan di restoran paling mahal dan mewah sekalipun, semuanya akan tetap sama. menjadi satu gambaran bahwa sebetulnya kita sedang mencecap manis dan pahit yang sementara.
sementara bintil-bintil lidah visualisasikan kenikmatan dunia, makanan yang kalian sebut penuh aroma melezatkan, menggugah selera, membuat hidup terasa seperti utopia saking nikmatnya. tapi nyatanya tak ubahnya racun paling mematikan kalau saja kita tak tahu dimana kadar tubuh mampu menerimanya. asap rokok yang dihela dimana-mana, dimana sejatinya nikmat itu berada?
madu dan racun yang sudah bercampur makna. nikotin, tar, karbon monoksida, karsinogen, iritan, itukah kenikmatan yang kalian rasa dari sebatang-dua batang- bahkan berbatang-batang isapnya? sedang mereka yang menghirup hembusan yang kalian keluarkan justru tersiksa tiada terkira. jantung, paru-paru di luar sana ternoda karena sekepul asap yang menggumpal setitik demi setitik. menempel dari ujung sini, ujung sana, ruang itu, ruang sana, orang itu dan orang disana.
kalau saja paru-paru punya suara. mereka akan dengan lantang berkata, “kami juga punya hak hidup lebih lama. tolong, jaga kami sebagaimana layaknya”. tapi mungkin kita sendiri yang menulikan telinga. membutakan mata. menghambarkan rasa.
mereka-anak muda yang hilang arah berkarya lewat narkoba. bahagia lewat pesta. bercanda dengan dusta. dan tertawa karena bully dimana-mana. bunuh diri dan gugurkan janin mereka anggap pahala, tinimbang harus menyembunyikan muka. 
perkelahian hanya dipicu perbedaan yang sudah sejak lama ada, provokasi sejatinya yang paling memberi kontribusi. kepala-kepala yang makin banyak menyimpan tanda tanya, tanya penuh curiga. hingga dendam mereka anggap dewa. apa yang tersisa? apa yang salah dari generasi kita? hingga agama tak lagi dianggap pedoman paling bijaksana. mereka hanya gunakan agama sebagai alat pelengkap nama, tahta, dan wibawa. Ya Allah, ampuni kami yang masih banyak dosa, hingga jalan terang itu belum mampu membukakan mata.
mata-mata kita tertutup dari bahaya dan utopia. hidung kita hanya sibuk membaui keburukan orang lain, sedang telinga kita hanya kita gunakan untuk memperdengarkan lagi keburukan yang merajalela. bukan malah membenarkan, bukan malah mengingatkan. kita justru melenggang pergi, tak peduli. bukankah mereka sama saja merencanakan mati? lewat ucapan yang menyakiti hati. lewat tindakan salah yang terus dibenarkan diri, lewat kebohongan yang menggema disana-sini. disadari mungkin, dan pura-pura sedang dalam kendali orang lain.
belum lagi minuman keras, seks bebas, terorisme dimana-dimana, korupsi, semua sibuk mengadu domba. merasa bisa jadi wakil seluruh umat manusia, beretorika dimana-mana. teori-teori? ah jangan ditanya. mereka bahkan hafal di luar kepala, semua pasal dalam kitab pidana mereka hafal meski mata terpejam. semua hukuman yang ditawarkan mereka simpan rapi dalam ingatan. sedang kesalahan sendiri dikubur dalam-dalam.
apa dampaknya?
stress, sakit jiwa, tekanan batin, dan bayang-bayang kesalahan yang terus menghantui. kita terus menyimpan sendiri potensi mati. memperpendek umur yang memang sudah sejak dulu dipangkas perlahan. bukankah kita tahu? zaman justru mempersembahkan pada kita perpendekan masa kehidupan, atau keabadian yang mereka janjikan? kita semakin tergoda pada kecepatan, pada kemudahan, pada tipuan, hingga merasa segala sesuatunya bisa kita kalahkan. termasuk ketetapan dan Aturan Mutlak Tuhan.
konspirasi menawarkan banyak hal, mati dalam kubang penyesalan tak berkesudahan. atau mati, dengan membawa sejuta penghormatan. setan-kah yang harus disalahkan? tentu saja tidak. salahkan saja kita yang dangkal iman. atau salahkan saja perkembangan zaman. dan mungkin lebih tepat lagi, salahkan saja situasi yang menggenggam kuat dan menjerumuskan pikiran. tapi, tentu saja, itu semua sia-sia. kita sendiri yang tak berguna!
baiklah, saya tidak tahu apa-apa tentang konspirasi dunia, begitupun Tuhan dalam berbagai macam rencana. saya hanya tau apa rencana saya, semoga aku, kamu, kita terus mau berusaha kalahkan penyakit-penyakit itu sebelum kita kalah bahkan sebelum berperang. sebelum kita mati, tanpa membawa bekal diri. tentu saja, kalian tahu apa yang paling baik untuk diri sendiri. selain memilih menyegerakan mati, karena amat sadari konsekwensi dari apa-apa yang telah, dan akan kalian jalani.

No comments:

Post a Comment