.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 16 December 2012

Marah


saya tidak tahu darimana muasalnya marah, dari benci yang sudah sejak awal disimpan, Karena ketidakcocokan, Karena mood yang sedang buruk, karena sedang patah hati, atau karena seribu alasan yang berbeda lagi bila didengarkan antara satu orang dengan yang lainnya. yang saya heran adalah, kenapa bisa ada orang-orang yang paling merasa sempurna dan paling merasa benar di dunia? ada juga orang-orang yang sifatnya seperti angin, kalau sedang suka sama si a, bela-belain si a banget walaupun si a melakukan hal yang fatal sekalipun, dan kalau sudah bosan ya dia akan membela orang yang sedang didekatinya, atau orang-orang yang menurutnya bisa dimanfaatkan. huuuh, lagi-lagi maaf saya harus menghela nafas panjang untuk kali ini. 
marah itu berasal dari kata dan bahasa apa ya sebenarnya? saya cuman tahu empat bahasa, itupun tahu mentahnya. tahu jadinya, kalau Indonesia marah, jawa nesu, inggris angry, dan arab godhob. selebihnya urusan muasal dan rincian saya kurang tahu, yang jelas saya tahu dari pengalaman akumulasi marah-marah-marah saya sekian tahun, atau kurang lebih selama 20 tahun ini, marah adalah ketika seseorang merasa ada yang salah dengan dirinya sendiri, atau dengan suatu hal di luar dirinya. nah lho? bingung? sama, saya juga sedikit bingung hendak menerkanya. 
            pernah liat ekspresi orang marah? atau justru anda sering berkaca kalau lagi marah bin betek betek betek sama orang? contohnya saja sama orang tua aja deh yang paling sering, bagaimana ekspresi anda? apakah pupil mata anda akan membesar sedemikian persen seperti ketika anda sedang melihat makhluk Tuhan yang rupawan? atau mata anda akan berkilat merah saking banyak bisikan setan? dan yang terakhir, apakah wajah anda akan terlihat lebih manis dengannya? ah baiklah, ini tadi hanya beberapa ciri yang saya rasakan sendiri. 
jantung berdebar-debar tidak nyaman, di kepala banyak sekali sepertinya suara setan-setan nyari kesalahan, wajah jadi kusam jelek, kalau ngomong ceplas-ceplos tanpa berpikir, pokoknya sebelnya semua dikeluarin. sempurna pedas! senyum hilang seketika, mata yang tadinya penuh keramahan justru jadi menyala kayak gambaran visual iblis yang sering dilihat di televise-televisi itu, dan belum lagi sepertinya di kepala kita ada tanduk merah super panas yang siap nyongkel siapapun yang berani membantah argument kita. benarkah begitu? nah, ini contoh marahnya orang yang wataknya keras. type marah-marah orang yang masih sangat labil menghadapi suatu keributan atau perbedaan pola pikir dalam hal menyikapi orang lain. 
saya seringkali tidak sabaran sama orang yang Subhanallah begitu keras, begitu menganggap diri sendiri paling benar, pokoknya di mata dia orang lain yang salah, dan sejatinya, hanya dialah pemilik argument paling tepat dan masuk akal, tidak terbantahkan. saya selalu mengalah sama- orang-orang seperti ini, bukan dengan maksud untuk membiarkan, tapi maksud saya adalah biarkan saja dia jenuh sendiri bicara. toh seandainya kita tetap banyak bicara kita tetap kalah argument, mereka sejak awal adalah orang yang tidak mau mengalah, hingga argument yang keluar dari mulut kita entah benar atau tidak selalu dicarikan bantahan. jadi cara paling ampuh untuk menangani orang-orang yang lebih keras dari anda adalah, diam. 
            ya, diam memang emas paling mahal dalam kasus seperti ini. 
ya ya ya, saya juga tau diam itu tidak enak. apalagi seandainya kita yang benar, apalagi seandainya dalam hal ini kita dielecehkan dan direndahkan sampai diianjak-injak harga dirinya. pilihan akhir dan hanya pilihan satu-satunya memang diam ketika yang lain sudah mulai tersulut ledakan-ledakan emosi. apa jadinya kalau kita ikut-ikut memberondong si egois itu dengan makian dan cacian yang sama panjang kali lebarnya itu? apa bedanya kita dengan dia? toh setidaknya dengan begitu kita akan lebih merasa menang. 
kalau anda menyadari bahwa marah itu adalah sesuatu yang merusak, sesuatu yang menyakitkan tinimbang sakit gigi ataupun patah hati sekalipun, maka sebisa mungkin kita akan  belajar menahan amarah. atau dengan cara lain, berpikir yang paling rasionalitas adalah bahwa dengan marah membuat wajah kita tidak indah dan sedap dipandang. bukankah begitu? marah membuat kecantikan dan ketampanan minus beberapa derajat, jadi sumpah jelek tidak terkatakan. belum lagi semula sifat kita yang tadinya baik berubah spontan kasar, itu bisa nambah ilfeel orang-orang di sebelah kita. belum lagi bedak luntur karena keringat keluar semua, belum lagi wajah jadi kayak kesengat matahari dari jarak dekeeet banget, alias merah padam. 
nggak percaya? ngaca aja sendiri betapa jeleknya anda ketika marah, dan sungguh, anda akan menemukan betapa lucunya anda ketika menjadi marah. 
setiap orang punya kadar masing-masing tentang kesabaran dan tingkat menahan marahnya tersebut. sama halnya dengan saya, meski dalam kategori pembantah dan pengkritik nomor satu, saya selalu lebih memilih mengalah dengan orang-orang yang tadi sudah saya katakana adalah para penggila kehormatan. karena sekali diladeni, suara mereka tidak akan berhenti. dan kita akan makin benci. 
beberapa orang ada yang mudah tersulut emosinya hanya karena urusan sepele, contohnya saja kaus kaki yang sobek dan si majikan menyalahkan pembantu. padahal kurang baik apa si pembantu? toh kaus kaki juga letaknya di dalam, tak ada yang melihat dan memperhatikan, kecuali memang anda sendiri yang berkoar-koar. contoh lagi, kita meminta bantuan dan tidak dikabulkan atau tidak sesuai harapan. kita marah besar, pantaskah? mungkin tidak pantas, karena secara tidak langsung meminta bantuan adalah meminta secara tidak langsung keikhlasan, kalau mereka tidak mau ya sudah, namanya juga minta tolong. berarti sejak awal kita memang menawarkan dua pilihan, antara dibantu dan ditolak. 
tapi orang-orang yang jarang menggunakan logika dan hati secara bersamaan lebih memilih terus jadi bagian pembantah sekalipun mereka memang salah sejak awal. memperlakukan anak dengan beda, dan alasannya sama sekali tidak masuk akal, beda gender. dia lelaki dan wanita, masih wajarkah di zaman yang mengedepankan rasionalitas seperti ini? menurut saya untuk masalah HAM yang sudah sangat dijunjung tinggi itu sangat tidak layak dilakukan oleh makhluk bernama orang tua, apalagi mereka yang mengaku punya wibawa. 
kadang kita sendiri yang tidak menyadari, kita telah lamma berbuat tidak adil pada bayak orang. kita berbeda mempelakukan sahabat, hingga iri dengki itu muncul, dan ketegangan berbuah pertengkaran. orang tua pilih kasih terhadap anaknya, guru terhadap muridnya, presideng dengan rakyatnya, kakak dengan adiknya, dan segelintir jabatan lain yang didominasi dengan diskriminasi selalu membawa perselisihan. dan kadang alasan yang dimunculkan sama sekali tidak masuk akal. 
            padahal kita bisa saja memilih untuk sejenak diam dan merenungkan, ada gunanya tidak kita bicara. ada gunanya tidak kita membantah habis-habisan suatu hal yang sebenarnya tak ada gunanya. atau kita bisa saja diam sejenak untuk justru meminta maaf atau memperbaiki ketegangan yang sempat terjadi, antisipasi maksud saya. 
kita tidak pernah sadar sudah berapa banyak luka yang kita tabung di banyak hati. mungkin sudah segunung, mungkin sudah sepulau, atau lebih besar lagi. dan saya tidak tahu dampak apa yang akan terjadi kelak pada cucu cicit kita nanti. kemarahan selalu saja membutakan, membutakan kita bahwa mereka adalah saudara, bahwa mereka adalah darah daging kita, bahwa mereka adalah kekasih/pasangan kita, dan berbagai macam hubungan lain. kita hanya perduli, bahwa hanya hati kita yang harus dijaga. 
kalian tahu apa posisi paling tepat untuk marah selain berdiri duduk dan berwudhu? beneran kalian mau tahu?
oke, posisi yang tepat ketika kalian marah adalah diam dan ambil cermin. pantulkan seluruhnya tampilan diri anda. merenunglah sejenak dan refleksikan hati beserta wajah anda. kalian mungkin tidak akan sadar ketika marah siapa saja yang akan beringsut pergi, dan siapa saja yang membuat kalian akan semakin merasa sepi. lihat wajah anda … baguskah anda dengan keadaan marah? atau anda merasa lebih lega? oh tidak, sejujurnya kemarahan hanya menghadirkan ketidakpuasan. hanya dengki dan benci yang hadir disana. 
posisi paling bagus yaitu tersenyum, dan marah itu jujur sangat menghabiskan tenaga. jadi buat apa harus repot-repot marah? walaupun kadang emang sulit ngendaliinnya, hee, memang segala sesuatu yang ditekan itu tidak mengenakkan. 
dan lihat lagi di kaca hati anda! apakah anda memang patut dibenarkan, atau anda lah yang seharusnya menyampaikan kerendah hatian. 
lagi-lagi saya harus bilang, marah bisa anda tekan dalam balutan alasan yang paling rasional. dan pilihlah untuk memantulkan senyuman dibanding tidak jelas mencaci orang. atau diam!


No comments:

Post a Comment