.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 11 December 2012

Pertama, kedua, dan seterusnya

tak sengaja kulihat lalu lalang anak kecil berlarian. kecil besar, muda tua, lebih tepatnya remaja mendominasi. berebutan bola saling tunjukkan kelihaian menggiringnya. melebarkan tawa, saling sikut menyikut, dorong mendorong, namun tanpa ego menggebu ingin kuasai seluruhnya. mereka sunggingkan bahagia, tatap-tatap yang hadirkan cemburu menghunjam dada. enam lelaki kecil dengan kaki tanpa alas, kaos seadanya berwarna putih polos penuh aliran keringat, di sisi kanan enam anak lelaki dengan sepatu yang entah sudah tambal sana-sini, berkaos warna sama yang dilipas di bagian pusarnya, mungkin ini pembedaan yang sengaja mereka buat.

terus berlari. tak perduli terjangan, tak perduli kaki-kaki lain mencoba menghadang. di pinggir taman berukuran sedang itu beberapa gadis kecil bertepuk tangan, memberikan semangat untuk mereka yang sedang riuh ramai menggiring bola. tendang kanan kiri, berbalik lagi, sundul, dan kembali mundur, sejenak maju. pergi lagi dari pandangan. aku mendekat, tertarik dengan banyaknya tawa yang terhadir di balik papan nama yang kulihat di depan pintu tepat di belakang taman penuh kehangatan itu.

aku duduk tepat menyanding gadis kecil itu, bertemankan batu yang berukuran cukup besar ikut menyaksikan kedamaian dan kebahagiaan yang mereka tularkan hanya dengan melihat tawa mereka dari kejauhan. menyenangkan, tanpa beban. mungkin saja itu yang dapat kuartikan, selebihnya misteri tatap mereka membuatku tertarik untuk mengenal lebih dalam. seperti gua yang penuh dengan stalagtit stalagmite yang siklusnya tak pernah tau seberapa kekar, seberapa besar, dan seberapa tahan.

sekilas hanya bisa mengamati, cukup puas meski baru bisa jadi arca yang harus puas melihat mereka tetap bersemangat dalam diam, dalam keheningan, meski telah enam puluh menit kaki mereka tak henti berebut bola. semangat muda mereka sedikit banyak menular padaku. aku tersenyum, gadis kecil di sebelahku ini menoleh. ikut lempar senyum pada seorang asing yang tak lain aku sendiri. aku mencoba menyapa, telat! sedetik sebelum kuulungkan Tanya ia lebih dulu kembalikan tatap pada mereka disana. aku mengalah, tak ada gunanya memaksa.

“GOOOOOOOOL!”

aku berteriak, ikut berdiri bersorak-sorak. refleks mengikuti kerumunan anak-anak yang riang berjoget-joget di depan sana. gadis di sebelahku sama saja. ikut manatapku heran, menoleh untuk yang kedua kalinya. aku tersenyum lagi untuknya. kali ini aku tak boleh kalah dengan waktu, tepat sebelum ia hendak memalingkan wajah, kuulurkan tangan dan kugenggam erat tangannya. ia mengangguk, hanya tersenyum. meski begitu amat manis, hingga kalimat sapaan dan  perkenalanku berhenti di kerongkongan, tersedak senyumnya yang kurasa mencukupkan segalanya.

aku kembali esok sore harinya. mereka masih sama, dengan formasi yang tak jauh berbeda. enam anak lelaki di sisi kanan, dan enam lagi di kiri. memainkan bola dengan riang. tak ubahnya alat music yang dimainkan penuh hati-hati, penuh gairah dan memacunya hangat beserta kendali. aku kembali duduk menjadi penonton, menyaksikan riuh ramai untuk kali kedua dengan tatap yang lebih hangat dibanding untuk kali pertama.

gadis kecil itu masih duduk disana. menjadi penonton setia yang tak pernah henti-henti menyumbangkan tepuk tangan dan kerlingan mata bahagia. ia menoleh tanpa kuulungkan tangan lebih dulu, mengangguk, dan tersenyum lagi untukku.

“nama kakak, desiree. panggil saja ire” aku memperkenalkan diri, ia lagi-lagi hanya mengangguk. tak tahu apakah dia menolak berbicara dengan orang asing, atau aku memang tak begitu menyenangkan untuk dikenalnya. aku mencoba berbesar hati. mungkin memang cukup menjadi satu bagian penuh yang bisa bahagia dengan menatap wajahnya, atau mungkin hanya sekedar tawanya.

bangunan ini selalu kulewati tiap kali pulang bekerja. bangunan tua bergaya belanda yang masih tertinggal salah satunya di kota-ku. bangunan yang entah sejak kapan tak pernah kuhiraukan ini mulai menarik perhatian, hanya karena melihat tawa penuh dan tanpa dosa yang sekelebat membias dalam tatap mata. sejak saat itu aku memutuskan untuk jadi bagian rumah ini, jadi bagian anak-anak penuh riang dan bahagia ini meski sekelumit Tanya mereka simpan sendiri di kepala. seperti tembok yang hanya bisa simpan semua suara, tanpa bisa sampaikan siapapun yang menyandarkan punggung di badan kokohnya. seperti karang-karang yang harus terima bahwa ombak akan terus menerjangnya, karena itulah teman mereka. hidup dan Tanya.

tak perlu berbulan-bulan untuk mengukuhkan diri bahwa aku merasa berbeda dikelilingi mereka. hangat itu ada, seperti telur ayam yang terus merasa aman ketika induk mengeraminya, tumbuh sesuai takdir memberikan waktunya hadir dan menetas ke dunia. berkokok-kokok mengikuti induk, mencari cacing berkejaran, dan kehidupan baru memaksanya terus jadi bagian yang harus kuat jalani panas dingin udara luar, tanpa dierami lagi si ibu.

mengenal mereka mungkin jadi anugrah tiada terkira yang Tuhan pilihkan untukku. menjadi dekat, lantas rasa-rasanya aku seperti benang yang mereka tali kuat-kuat, sangat erat. hingga untuk meninggalkan dan tak memikirkan mereka sejenak pun aku tak mampu menyekat. dunia yang menarikku dalam kutub-kutub sayang, entah cinta, entah damai atau apalah, ke dalam satu kumpulan penuh misteri. yang aku-pun tak mampu terjemahkan makna seluruhnya.
hatiku seperti dibebat magnet, berlawanan. dan jauh dari mereka aku seperti ditarik kembali kesini untuk merekatkan kutub-kutub yang saling merindukan. nyatanya kehidupan semakin tak memberikanku pilihan. semakin lama aku berkubang dalam ketidaktahuan, maka semakin besar pula cinta yang kuhadirkan. kusampaikan. kusalurkan. 

ada dua balita disana, sembilan anak tanggung, dan selebihnya sudah lumayan dewasa. ada beberapa kepala yang mendiami rumah itu. wajah-wajah yang kini amat kuhafal di luar kepala. aku mengenalnya dengan baik. mengenal mereka karena ketertarikan luar biasa di balik riang yang mereka punya. satu hal yang tak pernah kumengerti, seluruh riang itu menyembunyikan segala Tanya mereka tentang kekurangan yang dianugerahkan pada mereka.

anugerah kubilang? ya, mereka bilang itu anugrah. pemberian Tuhan dalam wujud mata makhluk lain yang dirasa kurang. padahal menurut mereka ini satu keistimewaan. satu bibir yang tak mampu keluarkan suara, namun telinga mereka penuh bekerja. dengarkan seluruh suka duka dunia. bekerja tanpa harus mencacat manusia lain dengan bijak mereka.

ya, gadis itu. dia bisu, dan seluruh teman yang berada disini memang memiliki keistimewaan. bayi lelaki yang baru saja dibuang itu-pun teramat menyenangkan, meski nasibnya tak begitu menggembirakan. ia bayi tampan, hanya jari tangannya saja yang tak lengkap. toh apa salahnya? ia tetap saja bayi yang tampan, dengan senyum menawan. bukankah itu suatu keistimewaan? bagiku iya. seperti hadiah Tuhan yang khusus diberikan untukku, memberikan sadar agar terus bersyukur bahwa kami harusnya tak keluhkan apapun yang ada.

setidaknya aku pantas berbahagia. aku sempurna, dalam wujud, dalam rupa.
aku memang jatuh cinta. sejak kali pertama, kedua, dan mungkin makin jatuh untuk yang kesekian kalinya. aku menikmati jatuh ini. jatuh yang teramat berbeda. entah terpesona, kagum sementara, atau cinta yang abadi adanya. jatuh yang tanpa degup jantung tak beraturan, tanpa jantung berdebar kencang, dan tanpa perlu kusembunyikan. aku teramat jatuh cinta sejak pertama melihat senyum-senyumnya. hingga seluruh tenaga dan waktu ingin sekali kupersembahkan untuknya. bermain bersama, berbincang bersama meski selalu saja lewat perantara, atau sekedar duduk bersandingan saksikan pertandingan tiap sore di taman depan rumah.

aku amat sangat menikmatinya. waktu-waktu yang hanya sejenak namun mampu berikan arti lebih banyak.

kalau cinta memang melulu soal ingatan. tentu saja, untuk memusnahkan mereka dari pikiran sangat mustahil kulakukan. bagiku, rasa selalu jadi bagian terapik kehidupan. yang silih berganti menemukan pengganti. dan kurasa, ini cukup abadi.

tak butuh lama mengambil hati mereka. hanya dengan tunjukkan bahwa hati benar-benar simpati dan tulus berbagi, maka sejatinya mereka akan kembali lagi merasa memiliki. tak jarang aku dan mereka salah terka, tak paham maksud apa yang mereka sampaikan dengan isyarat kata. mungkin aku yang belum sepenuhnya paham dengannya. seperti halnya dalam cinta, mungkin aku harus terus menjadi bagian yang terus belajar memahami dan sampaikan seberapa hebat dan kuat rasa yang kami punya. meski kapan nantinya. 

satu persatu Tanya itu sampai juga di telingaku. cerita-tanya polos yang mereka sampaikan tanpa airmata, tanpa kenal kata merutuk dan mencerca. lewat tulisan kadang mereka bercerita, berikan sepenggal sepenggal keluhan yang mereka punya, tapi mereka tetap bahagia. tak sekalipun merasa Tuhan telah rebut bahagia yang ada.

bagi mereka, mampu tarik ulur udara yang tak kasat mata sudah merupakan syukur tiada terkira. bagi mereka, mengeluh dan banyak bertanya hanya akan membuat rotasi bumi berhenti bekerja, di luar arena. dan mereka terus menekan diri agar tak jadi manusia pembangkang hanya karena satu hal yang membuat mereka beda, atau istimewa. 

rasa-rasanya …. telingaku sudah jadi bagian dari mereka, jadi telinga mereka. karena cerita-cerita itu setidaknya mampu membuka mata agar terus berkarya, bukan saja keluar masuk karbondioksida tanpa secuil tanggung jawab ditanya. mata-ku jadi mata yang kadang ikut tumpahkan sedih dan bahagia rasa yang mereka punya. mulut ini pun selalu jadi perantara, sampaikan bahasa dengan isyarat yang mampu mereka terka. hingga tak perlu kesalahpahaman menutup semua cerita.
kurasa, aku benar-benar jatuh cinta. jatuh cinta pada pandangan pertama, dari tawanya. pada kali kedua, tentang ramahnya. untuk kali ketiga, ke-empat, dan seterusnya, tentang segala yang mereka punya.  seterusnya, sejatuh-jatuhnya.

No comments:

Post a Comment