.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 20 December 2012

Pelangi di matanya

Semalam erik melamarku. Entah harus senang, sedih, gundah, atau diam yang balas kusampaikan. Bergema banyak kekhawatiran, badai-badai kehidupan yang melanda kisah cinta kedua orang tuaku. Hingga tumbang! menyisakan aku yang menjadi satu-satunya jembatan kisah baru mereka yang sudah punya orbit sendiri-sendiri. Menyisakan aku, dengan trauma masa lalu.
Mungkin harus bersyukur, atau harus kecurigaan yang kutampakkan, karena perpisahan memang tak pernah menyenangkan. Dan aku tak mau berpisah dalam ketuk palu pengadilan, apalagi menghadiahkan padanya penghianatan.
Karena dia salah satu harapan, setelah lama aku bergelut dalam ketidakpastian. Dia terang yang Tuhan berikan, sebagai ganti dan janji teman terbaik yang akan selalu diberikan. Dia jadi pemandu untuk satu jalan yang membawaku pada banyak keraguan. Khayalan. Impian, bukan kenyataan.
Dia satu-satunya, ya, hanya satu-satunya lelaki yang mengajarkanku tulus menerima. Karena hanya sekadar menerima yang mampu membuat hati kita lega. Menghela nafas bersamanya, mengelilingi waktu demi waktu bersama. Gelap itu ia terangi dengan aku yang merasa ingin berbagi. Menggenggam tangan berdua, meski hanya sepiring nasi yang mengenyangkannya.
            Aku melangkah dengan pasti, menerimanya.
Sama seperti ia yang menerima-ku apa adanya. Meski terbayang-bayang gagal cerita lalu. Ia setia menuntunku
Kalau ada awal untuk memulainya, semoga tak ada akhir untuk mengenangnya. Karna aku, mencintainya <3 seperti pelangi yang selalu terbias di mata teduhnya. 


No comments:

Post a Comment