.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 5 December 2012

Menyambangi satu hati


Seperti biasa, aku menungguinya sabar dengan aktifitas kerjanya yang begitu padat. Menunggu dia selesai rapat, selesai bertemu klien, selesai meeting dadakan, dan urusan-urusan lainnya. hingga urusan perut-pun tak sempat aku pikirkan. sempurna bosan di luar menunggu hanya ditemani gadget canggih untuk berselancar di dunia yang tak akan dan tak pernah bisa kupahami seluruhnya. hanya satu jam saja penat itu bisa diusir dari kepala, selebihnya? ah, bahkan duduk santai pun aku mulai tak nyaman.
tak pernah habis pikir, kenapa hanya urusan kerja yang begitu ia acuhkan. tak ada lelah atau penat yang ia rasakan ketika bergelut dengan tumpukan laporan juga semua tulisan di dalamnya. aku mencoba menjadi teman yang baik untuknya, mencoba mengerti seluruh ambisi dan rutinitas hariannya. menjadi siang dan malam untuk harinya, meski jujur kurasakan aku sendiri yang harus merasa kelelahan karena aku tak biasa dengan jam biologis yang begitu menyiksa, bangun ketika orang lain masih harus bermimpi menomorsatukan angannya. Tapi ia tidak, jam tiga pagi ia harus bangun, menyelesaikan seluruh deadline yang diminta kliennya. mulai dari hal paling rumit merancang desain bangunan hotel berbintang enam di kawasan padat dan utama kota, hingga urusan sepele mendesain bangunan masjid yang dibayar sepeser rupiah pun tidak. ia rela mengerjakan itu semua, dan mungkin aku lah yang merasa jadi korbannya.
            Ambisinya untuk selalu jadi nomor satu tak bisa dikesampingkan. bukan bermimpi untuk mengalahkan dunia dan seluruh tantangannya, ia hanya ingin melakukan apapun yang diletakkan di pundaknya secara serius, dan hasil yang diterima sempurna. ia hanya tak mau membuat banyak kekecewaan di wajah banyak orang, terlebih ibunya. Ia bahkan telah merancang jauh-jauh hari kehidupan macam apa yang akan ia jalani, tanpa sedikitpun berprasangka buruk terhadap kemungkinan lain takdir yang ada di depan mata.
Seluruh mimpi dan harapnya sudah rapi tertulis dalam buku agenda tebal yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi, tentang memberangkatkan ibunya ke Makkatul Mukarramah, tentang jadwal kapan ia akan menikah, dan sederat daftar lain yang kurasa masih banyak yang tak bisa kuterka, tertera juga langkah dan hasil yang harus dicapainya dari waktu ke waktu. Hidupnya begitu terencana, tak sepertiku yang lebih suka jalani hidup seperti aliran air dari muara ke hilir. biarkan saja berjalan sesuai takdir menuntunnya.
            sudah lama Aku mengenal ibunya dan tiga saudara perempuannya. keluarga yang penuh kehangatan meski banyak hidangan kehidupan menyakitkan yang mereka lampaui. Sejauh ini aku hanya berpikir, dia mungkin ingin sekali membahagiakan ibunya, mencoba jadi anak sekaligus saudara yang menyenangkan sekaligus mampu dibanggakan meski tanggung jawabnya begitu besar. mungkin ia mencoba alihkan bebannya dengan mencari kesibukan di luar batas kewajaran manusia lain dan hasilkan timbale balik sebanyak-banyaknya untuk terus mensejahterakan keluarganya. tapi lama-lama hal itu tak bisa kujadikan kemungkinan yang mengarah pada satu ketepatan, bahkan menurutku sama sekali tak berdasar. Adik pertamanya sudah cukup menjadi pelajaran berharga dalam hidup ini, ia adalah anak yang cantik meski berbalut kekurangan. Entah akan jadi apa gadis secantik itu tanpa bimbingan ibunya yang teramat sabar. adiknya yang kedua, sama cantik dan menyenangkannya, penuh kesederhanaan dan menyimpan banyak harapan. begitupun adik ketiganya yang masih terlampau kecil, mereka semua keluarga yang begitu menyenangkan.
            kalau hanya dilihat dari sekarang ia yang sudah punya segalanya, punya jabatan wah dan bisa disebut sosialita di kalangannya. punya wajah tampan dan keluarga yang amat hangat dan penyayang, kurasa ia tak perlu bekerja sedemikian rupa. rasa-rasanya hanya dengan mencoret-coret apa gambar yang ada di kepala dan kemudian dituangkan dalam sketsa ia pun sudah bisa mendapatkan uang dengan begitu mudahnya. Tapi dia tetap memilih jadi bagian roda dalam garis hidupnya. yang harus melewati jalan lurus dan berliku, yang harus merasakan halus dan geronjal dalam wajah lain jalanan. dia memaksa diri untuk jadi penggerak kebutuhan, Garis hidup yang menuntunnya jadi seorang lelaki yang amat keras dalam pendirian, dan menghargai seluruh kekurangan. Entah pasal apa dalam tatapnya ia seperti menyimpan lelah dan duka, pancaran kehilangan dan kepuasan yang tak bisa kuterka.
            Ia pernah berjanji, akan selalu jadi lelaki yang paling bertanggung jawab di muka bumi. Mungkin itu juga yang membuatku teramat bersyukur bisa dipertemukan dengan lelaki berhati lurus sepertinya. tak pernah sekalipun ia melalaikan kewajibannya sebagai seorang kakak, sebagai anak ia selalu patuh pada apa yang menjadi titah ibunya. bahkan untuk mencucikan kaki ibunya saja ia akan dengan sigap dan melakukannya dengan takzim. sebagai kakak dengan adik yang berkebutuhan ekstra ia tak pernah sekalipun memperlakukannya kasar, ia tahu bagaimana menempatkan diri agar hidupnya lantas diindahkan. begitupun padaku, tak pernah sekalipun ia mencoba menyakiti dengan kata-kata keras bahkan cacian. Di kantor pun kredibilitasnya sudah diakui, tak ada yang menyangsikan kemampuan dan kinerjanya.
            hanya satu yang pernah kudengar dari ibunya. ia harus melewati banyak ketidaknyamanan dalam hidup, ketika dengan sulitnya ia harus menghidupi ibu dan ketiga adiknya. ketika banyak tatap sinis skeptic yang teramat meremehkan kemampuannya di usia muda dulu. ya, ayahnya lebih dulu meninggalkan mereka di usianya yang masih sangat muda. masa-masa yang harus ditanggungnya dalam permainan dan lelucon harus dilewatinya dengan segenap liku kesakitan dan perbedaan. ia bekerja sekuat tenaga, menerima perlakuan apapun dari mereka yang merendahkannya dengan lapang dada. toh tak ada salahnya bersabar menghadapi begitu banyak cela dunia. ia memilih jadi peredam tinimbang penyulut perkelahian. ia memilih jadi air yang memberangus ego dan amarah yang meluluhlantakkan. dan ia memilih jadi orang yang terus belajar tinimbang harus jadi manusia lemah yang lebih banyak mengutuk Tuhan.
            mungkin langit dan Bumi mengabulkan seluruh keringat dan sabarnya dalam bentuk bahagia dan harta titipan yang sedemikian rupa. dunia membentuk manusia sepertinya agar terus tabah jalani dunia. meski harus dengan pengrendahan, cacian dan berbagai uji coba kehidupan lain. ia tak pernah sekalipun merutuk dan mengeluhkan keadaan, ia hanya yakin masih ada kebahagiaan di balik kekejaman yang pernah ia dapatkan. ia hanya mencoba bersyukur masih dilimpahi bahagia dengan hadirnya ibu dan ketiga adiknya, meski harus dengan tersadar lewat kepergian ayahnya.
mungkin ia salah satu contoh, manusia yang harus mengalami lika-liku kehidupan dan memilih menjalaninya dengan wajar. tanpa banyak keluhan, tanpa mencemooh kesulitan dan caci serta makian. dan ia yang membawakanku sadar, bahwa masih banyak keindahan dibalik kesakitan. bahwa dibalik hujan masih ada pelangi yang menyenangkan. bahwa di balik kematian selalu ada pesan. seperti kalimatnya yang selalu senang kudengarkan, “tak ada siang tanpa malam untuk membuang lelah, yang”. aku seperti harus berkaca, bahwa satu manusia sepertinya memang selalu ditakdirkan membawa pengaruh kebaikan bagi sesamanya. dan kehidupan selalu membawa pemahaman entah kebaikan atau penderitaan.
dan di sisi lain memandang keelokan hati dan rupa-nya, aku teramat bersyukur. dapat membuka mata tanpa harus lebih dulu rasakan kehilangan yang merubah penuh jalan hidupku di dunia.

No comments:

Post a Comment