.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 17 December 2012

# maaf


maaf, aku belum sempat membalas. hari ini entah sudah hari ke berapa, menit dan detik ke berapa aku harus mengingat lagi untuk kesekian kalinya. kau dan aku mulai membuat sekat. kita berjarak, dan mungkin saja menjauh dengan cara yang sedemikian rupa. aku tak sesalkan caramu yang diam seketika, pun juga aku yang mengikuti caramu untuk dia pula. kau teramat jelas menjaga jarak dan pandangmu yang dulunya selalu ada. aku juga tak salahkan dan tanyakan lagi mengapa, hanya saja hati terasa gamblang nyatakan ada sisa disana. ada ruang-ruang yang kembali lagi kosong untuk status saudara yang dulu seringkali kusampaikan padanya.
kalau saja hati boleh bicara, atau ketika satu dari hatiku punya suara. mungkin ia serak tanpa nada. karna satu susunan not-nya hilang entah kemana. pincang karena satu bagian saja tak bisa genapi kumpulan keharmonisan suara.   
            benarkah aku merasa kehilangan? atau hanya kesepian? karena nyatanya satu tempat bercanda, satu tempat untuk curahkan cerita satu persatu mundur dengan sendirinya. apa kau menyimpan rasa? baiklah, aku tak akan membahas satu hal itu. biarkan  kepala kita menyimpan alasan-alasan tersebut untuk diterka.
aku hanya ingat beberapa jasamu padaku. kau yang selalu siap membantu, kau yang selalu ada dan berkata iya untuk permintaanku mesti kadang aku merasa sama sekali tak ada gunanya. kau yang berlapang dada menerima diam-ku tanpa Tanya, dan ada dua boneka tersimpan rapi di lemari kamar, satu kaos juga buku-buku yang sempat kau hadiahkan untukku. dan semua itu cukup untuk mengingatkan wajahmu, ceritamu, dan diam-mu padaku.
tiap kali kau pergi dan kembali kau merasa perlu untuk berbagi, mengirimkan satu pesan singkat tentang dimana ragamu berada. pergimu selalu membawa buah tangan untukku. aku yang duduk manis membonceng di belakangmu dan kau yang mencoba  bermain api dengan kecepatan dan bermain gas, aku yang pura-pura marah dan memukul pelan helm-mu dari belakang. kau tertawa senang, dan aku sebal karena takut kecepatan itu akan mengambil sadarku perlahan.
tapi kenangan selalu di belakang bukan? kau mungkin mulai enggan membuat cerita lagi bersamaku, atau mungkin kau enggan lagi menyimpan duka dalam cerita yang sama seperti sebelumnya? hanya saja kau tak sadari, Tanya-tanya itu justru makin berjejal di kepala. meski kutahan sekuat tenaga agar tak mentah-mentah kucerna. katamu kau bahagia dengan status saudara? harusnya alasan itu kau jaga sebagaimana aku yang menjaga-nya agar tetap menyala. atau kau tak suka kata “harus”?
kenapa harus mencari-cari alasan untuk menyembunyikan rasa? toh aku tak menyalahkannya, toh aku tak mencerca-nya pula. kau hanya tinggal berkata dan beres. aku tahu rasamu, dan semua mungkin kembali baik-baik saja. atau justru makin jauh adanya. tapi kecanggungan memilih untuk kau jadikan topeng dunia, meski kau mengaku tak ada apa-apa. tapi dunia tau faktanya, toh nanti mereka juga akan tau segalanya yang kita sembunyikan lewat tundukan wajah kala berpapas di satu hal nyata.
ada beberapa cerita silih berganti di kepala. dan aku harus mencoba sertakan senyuman bersamanya, bukan lagi Tanya dan keengganan untuk sebut nama. aku terlampau sulit untuk mencoba rela, karena nyatanya diam-mu meninggalkan banyak hela. dekatmu dan dekatku mungkin saja kuartikan saudara, atau mungkin aku yang keterlaluan tak bisa tangkap apa yang kau rasa? atau mungkin, kau bosan jadi tempat terbaikku untuk menyampaikan mimpi di kepala? atau lagi, kau bosan menjadikan aku sebagai tempat keisenganmu setelah sekian lama? banyak. amat banyak pertanyaan yang harusnya kusimpan sendiri di kepala. namun nyatanya aku tak bisa hanya sendiri menyimpannya. ketika orang lain ikut merasa kejanggalan yang sudah lama tersebersit di kepala aku ingat lagi, semakin heran rasanya.
yang tersisa hanya baikmu saja. yang tersisa hanya kenangan yang kau simpan dalam boneka, buku, dan baju yang kau berikan. tak ada niatan melupakan. tak ada niatan menyalahkan. hanya satu kalimat yang mungkin ingin sekali kusampaikan, “maaf, aku belum sempat membalas semua kebaikan yang sempat kau lakukan”. mungkin nanti saat kulihat lagi tak ada enggan, akhirnya aku harus merasa berkubang pada cerita yang itu-itu saja.
aneh, ketika dua orang yang saling alirkan tawa kini harus enggan menyapa.

No comments:

Post a Comment