.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 24 December 2012

Kunci kita beda


            bagiku yakinku, dan bagimu yakinmu. 

dia memandangiku heran, tak lepas sejak sepuluh menit yang lalu. sejak aku mulai menanggalkan seluruh atribut keduniawian. barang-barang yang menempel di badanku kulepas satu persatu, jam tangan, gelang yang entah sejak kapan jadi barang wajib untuk kupakai di samping jam untuk menemaninya, menggulung lengan baju dan celana.
dia hanya diam, lebih sibuk memperhatikan tinimbang banyak ajukan pertanyaan yang mungkin saja justru menggangguku.
            “kau mengingat semua urutan tadi?”
raut wajahnya masih menyimpan banyak keheranan, tapi sebisa mungkin ia sembunyikan. meski tetap saja pertanyaan itu membuatku tahu, dia masih menyimpan sedikit takjub di kepalanya. aku mengangguk, mantap.
            “sekaligus doa tiap berpindah prosesi-nya”.
ia semakin melongo,
 “doa? doa apa saja?”
            “doa, ya doa. tiap kali berpindah urutan untuk membasuhnya, ada doa yang harus kusertakan. sama sepertimu, yang terus lantunkan nyanyian-nyanyian Ke-Esa-an.”
aku masih dalam posisi melipat mukena. dan dia duduk tepat di samping mushola kampus kami, gedung besar nan menjulang tinggi yang mempertemukan kami, dalam keadaan yang lagi-lagi menyimpan banyak beda. ini jadwal makan siang, tapi dia merelakan waktunya sejenak untuk menemani dan menungguku melaksanakan waktu istimewa dari Tuhan.
kuletakkan kembali mukena di rak mushola, rapi. seperti pertama kali aku mengambilnya tadi. ia masih belum puas dengan jawabanku.
            “kau tidak bosan?”
            “bosan? untuk apa?”
            “untuk seluruh prosesi panjang yang kau lakukan? dan lima kali?”
ah, sepertinya ia teramat tidak menyadari. ia pun sama halnya denganku, menjalankan seluruh prosesi yang mungkin saja terlihat aneh bagi yang lain. setiap hari minggu mereka berkumpul, bernyanyi bersama-sama, dipandu seorang Bapa di satu ruangan besar. duduk takjim berjam-jam mendengarkan khotbah, berdiri berlama-lama pula untuk menyanyikan lagu yang secuil-pun aku tak pernah tau apa saja artinya. kukira sama saja, mungkin hanya berisi puji-pujian untuk Tuhan-Nya di atas sana.
            “kau juga sama saja” aku berdiri, membenahi kerah yang tertekuk, lengan baju yang tadi sempat kusingsingkan. mulai berkaca merapikan diri, memoleskan sedikit bedak agar wajah kembali segar.
“sama? apanya yang sama?”
“duduk .. berdiri .. dan bernyanyi berjam-jam, apa kau tak bosan?”
dia menyeringai lebar
“Hey, tak ada pertanyaan dibalas pertanyaan”
senyumnya sudah cukup membuat jawaban, bahwa pertanyaan serupa memang kita simpan. apalagi untuk semua perbedaan.
            “tapi bukankah sama saja intinya? kita berdoa?”
ia diam, mungkin sedang berfikir. aku menatapnya penuh perhatian, menangkap kilat matanya yang sepertinya masih belum menemukan jawaban.
            “entahlah, tapi dalam keyakinanku. tak se-rumit itu sepertinya”
kini berbalik aku yang menyeringai. duduk menyandingnya di ruang tunggu mushola, entahlah bagaimana aku harus menjelaskannya. tapi rasa-rasanya, rumit dan tidak rumit hanya soal memandangnya. rumit dan tidak rumit hanya soal penerimaannya. dan rumit dan tidak rumit hanya soal terbiasa.
aku menggeleng, lebih pelan, namun tak sedikitpun menunjukkan kalau aku tersinggung dengan ucapannya yang mungkin saja bagi orang lain bisa memicu perdebatan. tapi kupilih cara lain untuk menjelaskan padanya.
            “apa kebutuhan dan kenyamanan itu bisa kau deskripsikan?”
dia masih mengelak, berkata bahwa tak ada pertanyaan boleh dibalas pertanyaan. aku mengerti, mengangguk-angguk menerima argument bodohnya yang membuat dia terlihat makin tidak peka.
            “rumit karena bukan kau yang mengalaminya, tan. rumit karena bukan kau yang membutuhkan, dan rumit karena bukan kau yang merasa nyaman”.
            “maksudnya apa, fa?”
begini tan, urusan keyakinan memang sulit dimengerti. ia ada, namun tak pernah terlihat. ia bisa dirasa, namun tak teraba. sejauh apapun kamu mencari arti damai dan tenang yang diberi satu agama, kalau kau tak pernah meyakininya, maka itu tak akan pernah ada. sama halnya pungguk merindukan bulan. tak ada yang kau dapat selain kekecewaan. sama halnya denganku, mungkin saja aku bisa mempertanyakan kenapa kalian sibuk beritual dengan bernyanyi, di luar sana mereka mensucikan diri dengan bertapa, atau bahkan meditasi. tapi aku memilih merenungkan saja apa arti nyaman yang sudah ada, dan sempat kita rasa.
mungkin memang rumit menurutmu, tapi aku tidak. lima waktu yang diberi Tuhanku untuk berdoa, sama saja istirahat sejenak dari urusan dunia. dan aku tak pernah takut berbeda, karena semua mengenakan atribut yang sama. menutup jabatan dan strata sosial, kami sama di mata-Nya. wudhu dan caraku berdoa mungkin membingungkan, berdiri, rukuk, sujud, dan bangun lagi, berkali-kali, tapi bukankah lebih menjenuhkan hanya duduk diam?
bahkan kurasa sepertinya kau tak akan bisa melaksanakannya. karena semua prosesi itu selalu membuatmu diingatkan oleh waktu, waktu yang sejatinya selalu bergerak dan tidak pernah diam menunggu kita mau berhenti sejenak. subuh saat aku masih diijinkan membuka mata lagi, dzuhur untuk merehatkan sejenak lelahku, ashar agar aku kembali menyadari waktu yang bergerak senja, dan magrib isya, ia mengingatkanku untuk terus berdoa sebelum lelap menutup mata. dan terus seperti itu.
            “nyaman maksudmu, fa?”
aku mengangguk. yakinku, yakinmu. hanya bisa dirasa. dan sejauh dan sedalam apapun kau bertanya, kalau kau tak mengalaminya, maka semua sia-sia. itu cara kita merasa ada.  
            “ya, seperti kau yang nyaman terus bernyanyi dan berdiri menyatukan tangan untuk berserah diri
mungkin aku-pun belum tentu bisa menghafalnya. karna hatiku tidak bertempat di gereja. hatiku bertempat di masjid dan Doa”.
ia diam, mungkin sedikit Tanya masih meringkuk di benaknya. terlilit kata yang membingungkan di otaknya. tapi biarlah, toh nanti ia akan mengerti. kalau keyakinan tak pernah bisa dideskripsikan, kami hanya menjalankan apa yang diperintahkan, sama seperti ia yang sibuk dengan rutinitas mingguan.
tak perlu perdebatan, tak perlu provokasi, kita sama. 
                                                 kunci kita mungkin memang berbeda 

No comments:

Post a Comment