.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 6 December 2012

kukirimkan ceritaku, untukmu


dulu ia selalu bilang, bahwa tak ada satupun sekat, jarak, waktu dan dunia mampu pisahkan dan lenyapkan ia dari anganku. tak satupun mampu menghalau rindu dan berbagai macam varian rasa yang terhadir dalam sisi hidup yang berlainan. ia yang datang, ia yang mengobarkan semangat seperti mentari yang tak pernah mengkhianati janji bahwa ia akan selalu memberi kehangatan, atau entah terik yang membuat kami kelelahan. tapi tak sekalipun ia mencoba berkhianat dari takdir Tuhan. jadi kuanggap saja bahwa ia jadi mentari dalam hidupku. memberi terang, tanpa harus sedikitpun meremang.
eits, tunggu dulu. mungkin ia tak tepat bila kukatakan mentari, karna setelah sore menjelang dan menjemput senja di peraduan, ia hilang. ia pergi tanpa kabar, meski hadirnya selalu tepat waktu. ia jelas tak hanya sekedar mentari, ia payung dunia ini, langitku.
sore ini aku terduduk diantara tumpukan berkas laporan dan seluruh arsip yang harus segera kupelajari, waktu bukan mengejar, apalagi kukejar. ia lewat dan pergi sesukanya. seperti udara yang tak pernah bisa kurengkuh, seperti nyeri yang tak pernah bisa seluruhnya kuterjemahkan. hanya sedikit dari bagian yang bisa kukendalikan, tak juga takdir dan masa-ku di dunia.
lelah segera saja membayang. kaki yang teramat lelah, pundak dan punggung yang terserang nyeri berkepanjangan. dan kepala yang rasanya ditimpa batu entah sebesar apa, silih berganti menghadirkan penat dan jengah dalam seberapa menit waktu berjalan. ia puas mempermainkanku dalam ketidakberdayaan.
dalam situasi seperti ini aku selalu teringat olehnya. mana bisa aku lupa padanya! ia tempat makanan dan minuman itu masuk dan mengalir dalam darahku. ia yang menyanyikan lagu-lagu tenang ketika sedihku datang. ia yang sembuhkan dan redakan ragu dalam banyak ketidakpastian. ia malaikat tanpa sayap yang tak pernah bisa retak. meski banyak sekat dan ketidakmampuan harus selalu dekat. ia hangat tanpa harus bertatap, dan ia-lah mata yang terus ada tanpa harus menyiksa.
surat-suratnya hampir setiap bulan sampai di meja kebanggaanku ini. meja yang selalu jadi alasanku untuk tak sempat sekalipun menengoknya. meja yang selalu kujadikan alasan untuk terus mengabaikan memberi perhatian padanya, terus menomorduakan dia hanya karena alasan yang kubuat-buat sendiri. bahkan tumpukan surat-surat itu masih rapi dilekati lem yang begitu kuat, belum satu-pun sempat kusentuh. apalagi kubaca! jangankan membaca, tiap kali office boy datang mengantarkan surat-surat ini padaku, aku hanya perlu sampaikan terima kasih dan meletakkannya di tempat yang sama. di laci meja tanpa perlu sekalipun membalasnya.
barangkali inilah dulu yang kau takutkan. aku melupakanmu, dan terus abaikanmu. melupakan satu hal bahwa kita punya satu ikatan. ikatan yang tak tanggung-tanggung akan terbawa meski aku mati dan hilang sekalipun. mungkin saja ini kacang lupa kulitnya. atau makhluk dunia yang lupa bahwa ada bumi untuk berpijaknya. mereka semua lupa tunduk dan hormat pada sekelumit aturan pasti dunia. bahwa kacang selalu membawa serta kulitnya, dan seandainya ia hadir tanpa kulitpun, itu mungkin keajaiban atau kecacatan takdir untuknya. entahlah, aku hanya lelah seharian penuh bekerja tanpa sedetikpun menikmati waktu-waktu muda dan senggang seperti yang lainnya.
kutarik laci meja, kukebaskan sedikit demi sedikit debu yang menempel di dalamnya. tumpukan surat-surat itu parah berdebu! tertera jelas namaku jadi tujuan dan tulisan  yang selalu kuingat. lengkap alamatku tertera juga disitu, muasal nafas kehidupan yang membawaku bisa se-sukses ini, ia yang mengajariku bagaimana menulis dan sabar mengeja-kan kata demi kata untukku.
sampai aku hampir saja lupa, entah kapan terakhir aku sampaikan rindu dan menatap teduh matanya. sampaikan dan berikan kehangatan yang dulu pernah ia alirkan dalam tubuhku, dalam darahku, dalam hidupku.
hanya tak pernah bisa menghargai, ia rela membeli kertas dan amplop beserta prangko-nya mungkin dengan tak mudah. menggenjot sepeda tua-nya sampai ke pasar kota hanya untuk mendapatkan lembar demi lembar kertas agar bisa mengirimkan kabar dan doakanku lewat jari jemarinya. bagaimana aku akan sempat? di jaman yang serba canggih, serba elektronik ia memilih untuk lebih menggunakan fasilitas pos yang entah berapa hari akan kuterima. ia setia pada tradisional dan sederhana sikapi dunia. ia sama sekali tak tergoda di luar sana orang sudah berkoar-koar tentang dunia maya, meski di ujung lain mengeluh bahwa banyak sekali penipuan, penculikan, bahkan kejahatan terjadi tanpa perlu alat kejam dan bertatap mata. hebat sekali dia!
aku yang mulai berbeda pendirian hanya karena menganggapnya tak sejalan lagi dengan perkembangan. aku mengaku jadi penikmat modernitas, sedang ia tak sekalipun layak menerima kabar hanya karena pandangan lain tentang kelayakan perkembangan dunia. mungkin aku saja yang mempersempit isi kepala, karena menganggap hanya kecanggihan membuat golongan lain menjadi lebih segan. memperuncing perbedaan!
ia hanya bilang, tulisan punya banyak keindahan dan menggambarkan kasih sayang. lengkung demi lengkung rapi tulisannya memang teramat menyenangkan. seperti pahatan candi dengan relief-nya, seperti pelukis dengan coretannya, seperti sastrawan dengan puisi puitisnya, yang gambarkan dan tunjukkan sisi lain cerita. meski tak seluruh dunia mampu terjemahkan kata demi kata dengan sama.
kuambil satu surat yang paling atas, berlembar-lembar kertas dan foto ia sertakan di dalamnya. ia teramat telaten sampaikan ceritanya disana. tentang rindunya padaku, tentang janjiku yang selalu sengaja kuhindari untuk menjenguknya, tentang hatinya yang selalu tak kuasa membayangkanku, hanya tentangku. tentang kerinduannya pada peluk kecup seseorang yang teramat ia kasihi selain Tuhan yang telah berikan ia nafas dunia.
aku terhipnotis. kata demi kata yang kubaca membuatku rindu … ikut tertarik dalam pusaran rasa yang sekian lama kutekan dalam dada. rasa-rasanya mendung dan petir pun ingin sekali sempurnakan apa yang kurasa. hingga tetep airmata sedikit meluruhkan angkuhku sebagai manusia yang teramat agungkan harta dan nama.
aku berhenti sejenak dari urusan berkas dan laporan yang memusingkan itu. kugeser perlahan, aku lelah terus-terusan mencari. tanpa tahu apa yang sebenarnya kuingini. bus sudah datang menjemputku, mengantarkan sampai terminal akhir pemberhentian. tapi aku tak pernah sadar, kubilang ini belum akhir, kubilang ini masih ada jalan di depan. terus saja mengeruk, menimbun dan kumpulkan sesuatu yang semu. tanpa bahagia dan syukur yang mematri kalbu. tanpa sadar bahwa sejujurnya hati-ku kosong, melompong!
surat-surat itu mengantarkanku pada damai. membawa kembali janji- dan kenangan yang sempat tertekan haus-ku akan racun mematikan itu. janji-jani yang pernah kuucap dan sempat pergi, meski tak pernah benar-benar hilang dari catatan malaikat di kanan kiriku.
Ya Tuhan, aku terlampau sering mengacuhkannya. melupakan bahwa terminal itulah tempat berhentiku. tempat istirahat dan tempat paling tepat mengeruk kenikmatan berbalas kasih sayang. keindahan yang abadi bahkan sampai dimensi akan hentikan tatap dan satu. keangkuhanku lenyap, hangatku berganti meluap. debur ombak yang terus menemani langkahku ternyata hanya semu.
kesibukan membuatku melupakan banyak hal, padahal sejatinya ia selalu mengacuhkan-ku yang hampir tak pernah balas rindunya.
aku lupa, kulit ini akan terus mengikutiku kemana saja. tak akan lagi terjadi dua nyawa terhadir satu badan kini harus terpisah karena ego dan dewakan enggan. meski bertubi-tubi lupa alasan dan kecewa ada, nyatanya tak sekalipun ia menepikanku dari bahagia. justru doanya yang terus membuatku terjaga.
            ibu, maaf. sepertinya lagi-lagi aku harus menepikan janjiku untuk menjengukmu. indah dan lelahku akan sampai padamu, semoga cukup menyenangkanmu.

No comments:

Post a Comment