.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 23 December 2012

Konsekwensi


            kenalkan, namaku Daendi
dia mengulurkan tangan padaku, tentu saja dengan bonus senyuman manis yang entah tulus atau tidak. dia teramat ramah, tak jarang kutemui orang-orang sepertinya, yang sebegitu mudahnya membuat jalinan pertemanan baru dengan sigap mengulurkan tangan. sebutkan nama, dan berbicara apa adanya, sekenanya.
            “aku, Dianda”
aku amat paham apa konsekwensi dari menyambut balas uluran tangannya. hal apa saja yang sejak awal sudah harus kupikirkan sebelum aku mengukuhkan diri menjadi orang yang dikenalnya.
mungkin kalian pikir aku bagai jalur kereta api yang panjang dan tak berhenti di satu tempat, saling menyambung dan bergabung. dan-memang begitu, otakku selalu bekerja di dalam kendali yang lebih rumit, terlalu banyak berpikir hingga kadang aku dianggap sebagai kepala batu, pengkritik nomor satu. aku selalu memikirkan sebab akibat dari suatu hal. darimana dan akan sampai mana suatu hal yang kita lakukan, yang kita pilih jadi jalan masa depan.
itu percakapan kami setahun yang lalu, kalimat pertama yang diucap “dadi” padaku. iya, aku memanggilnya dengan panggilan “dadi”. dengan intonasi pelafalan mirip bahasa inggris yang berarti ayah. awalnya ia risih, tapi lama-pama panggilan itu justru membuatnya merasa istimewa. itu panggilan khusus-ku untuknya, dan kurasa dia mulai menyukainya.
entah dia masih mengingat detail hari ini atau tidak, kali pertama aku berani bertatap muka dan lafalkan namaku untuknya. tapi sejak hari itu, aku selalu percaya. bahwa ketika kita menerima satu perkenalan, maka kita harus selalu membuka diri untuk dikenal. seperti halnya kita yang sibuk mengeruk cerita, maka kita harus mau pula dikeruk-seluk beluk cerita yang kita punya.
mungkin saja tentang bahagia, benci, duka, dan beragam perasaan lain harus selalu kujaga dan siap kubagi untuk mereka yang sudah kusambut uluran tangannya, untuk mereka yang sudah balas kuberikan nama, dan untuk mereka yang kusebut sebagai belahan jiwa “sahabat dan saudara”.
“lagi mikirin aku yaaaa?”
aku manyun. pura-pura terganggu dengan suaranya yang tiba-tiba mengagetkanku. Dadi datang seperti biasa. menggodaku, mericuhi lamunanku, dan urusan-urusan mengganggu yang kadang remeh temeh itu. tapi aku sadar … se-sadar sadarnya, bahwa urusan pertemanan, persaudaraan, bahkan percintaan selalu melibatkan banyak orang. dan aku paham, mungkin saja perkenalan inilah sabab musababnya. lingkaran kehidupan yang rumit itu terjalin satu persatu, terpintal bagai benang yang akan makin membesar, dan kalau kau takut dengan konsekwensi- ini, maka lebih baik jangan pernah menyambut uluran  tangannya.
            rasa-rasanya banyak dari kita yang melupakan satu hal se-sepele ini, kita ingin jadi bagian yang selalu tahu. menambah teman, jadi manusia paling dikenal. tapi lupakan bahwa mereka berhak mendapat jaminan. mungkin sekedar senyuman, sapaan, atau bahkan perhatian. kita tak pernah berhak bergelut dalam kemauan sendiri, kalau nyatanya itu menyakiti banyak hati.
karna tidak, sungguh tidak semua orang perduli. tidak semua orang mengerti. meski sebagian dari kita masih banyak yang peduli, kalau soal jalinan bukan saja lingkupi hati, tapi pengertian yang memunculkan pengertian diri. dua orang yang saling berpegangan selalu membutuhkan celah untuk melengkapi sela-sela jari, dan dalam sapa silih berganti, ada hai dan hello, aku dan kamu.
            “ya iyalah, di kepalaku kan cuman ada kamu”.
aku balas menggodanya, mengedipkan sebelah mata. untuknya, untuk siapapun juga yang dulu sempat kusambut uluran tangannya, ataupun sebaliknya. sahabat adalah kaca, dan bila kau tak siap ditelanjangi satu cerita, maka jangan coba-coba bermain dengan dunia.
  

No comments:

Post a Comment