.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 22 May 2013

Janji


            apa kau mau berjanji, untukku?” itu katamu, beberapa tahun lalu. di garbarata bandara tempat terakhir kali kita bertemu. kau mengantarkanku pergi, berbalut isak tangis yang aku sendiri ragu apa bisa membendungnya untukmu. aku-pun menahan sesak itu. aku tahu dari merah matamu.
ujung-ujung kerudung biru yang membuatmu tampak lebih manis itu basah. kau gunakan untuk menyeka air mata yang tak habis-habis. aku hanya bisa diam, menikmati detik demi detik panggilan keberangkatan dikumandangkan.
di ruangan sebesar ini, dengan beribu orang lalu lalang, rasanya hening sekali. baru saja kau mengumandangkan pertanyaan itu. tepat di sampingku, menahan diam dan banyak pertanyaan agar perpisahan sementara ini tak menyesakkan.
            “janji apa?” 

kita terdiam lama. mencoba menetralkan suasana hati yang sejak tadi, bahkan berhari-hari lalu sudah dirundung sepi. sedih. dan kehilangan yang menyayat hati. perasaan haru yang justru membungkam bibir kita berdua. aku tahu, kau mungkin tak rela, atau beribu kata lain hendak kau ucapkan bersamanya. tapi kau memilh diam, menungguku bicara.
            untuk tak akan lupa, dan akan terus mengingatku”. terbata-bata kau menatap mataku, aku tersenyum kecut. tapi kecamuk di pikiran makin tak karuan. tak kuanggukkan kepala, sementara detik demi detik terus melaju maju. waktu mati yang terus bergerak ke depan, bukan mundur atau berhenti untuk sejenak membuat aku dan kamu lama mencipta sepi.
aku bukan calon presiden, atau calon legislative di luar sana, yang membanjiri dunia dengan ucap dan janji manisnya. aku bukan lelaki seperti itu, yang begitu mudah menebar janji tapi tak mampu kutepati.manusia yang berakal tentu tahu ia tak bisa banyak berjanji, karena dunia begitu banyak terisi hal yang tak pasti. dan akalku cukup berfungsi untuk tak membuatmu tersakiti.
            “aku tak bisa berjanji, maaf”dengan berat hati mulutku meluncurkan kata itu.
jelas kudengar kau menghela nafas lebih berat. aku tau pancaran matamu melemah, suaramu mulai parau. dan wajah itu, tak lagi terlihat syahdu seperti biasanya. aku bisa saja menyetujui mau-mu, dengan berkata “iya”, atau menyanggupi seluruh mau-mu. untuk melamarmu, untuk tak akan lupa padamu, untuk terus mengingatmu, dan menjaga hati ini terus merapal doa dan sebut namamu. tapi aku sungguh tak mau menyakitimu, karena aku mencintaimu.
tapi tiga tahun bukan waktu sebentar, dan aku tak tahu akan terjadi apa esok nanti. denganku, atau sebaliknya. aku bisa saja membanjirimu dengan kata cinta, dengan berkata aku tak akan lupa, tapi akal dan hati-ku ini bahkan aku tak tahu milik siapa. aku hanya dititipi oleh-Nya, dan urusan lupa atau ingat bukan hak-ku lagi seluruhnya. atau, aku bisa saja menggombali kau dengan ribuan kata sakti yang sejatinya justru akan membuatmu terpuruk dalam penantian. dan aku tak mau kau terjatuh dalam lubang ketidakpastian, aku tak mau membuatmu sakit dalam harapan. bukankah menunggu tanpa kepastian itu lebih menyakitkan?
cinta yang menuntunku agar tak mudah melepas janji. karna esok aku tak tahu bagaimana dunia menuliskan takdir untuk kita. mempersatukan, atau mempertemukan kita dengan pengganti wajah teduh yang baru, dan itu mungkin jodohmu, jodohku.
aku hanya bisa berkata dalam hati, semoga Tuhan mengijinkan kita kembali merajut kasih. semoga …
panggilan keberangkatan menggema di seluruh ruangan. memerintahkan padaku, dan penumpang lainnya agar bersegera bersiap diri. kakiku berat, sementara untuk berdiri pun aku merasa tak kuat. mungkin airmata- itu sudah kering untukku, atau mungkin sakit hati itu telah kutambahkan untukmu.
kenangan- datang berkelebat, menguras semua senyum dan tawa yang sempat kita torehkan bersama. sementara bayangmu telah lenyap. kau sudah lebih dulu pergi, sejak aku berkata bahwa aku tak bisa sedikitpun memberi janji. kulangkahkan kaki demi satu keyakinan yang kupastikan dalam hati, aku akan kembali.
***
tiga tahun cepat berlalu. kaki-ini kembali menjejak di bumi yang penuh kenangan dan menyelinap banyak elegy. aku pergi, kau pergi, dan tak pernah bertatap lagi. tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk kulalui. mungkin mudah untuk kulewati karena aku yang memutuskan pergi, tapi … bagaimana dengan kau?
apa kau masih mau mengingatku? atau sekedar menyebut namaku untuk kau sertakan dalam doa seperti dulu? sejak tangisan terakhir yang bahkan tak bisa ku-usap itu aku belum pernah melihat senyum merah merona- yang mengugurkan hatiku. bagaimana kabarmu? bolehkah aku menyimpan rindu yang kau minta itu, untukmu?
kutegakkan kepala, menikmati hela demi hela kembaliku ke tanah yang sudah lama memisahkanku dari bidadari hati.
aku belajar banyak sejak jauh dari-mu. belajar lupa, belajar menahan nestapa, dan belajar untuk tak membuat harapanmu membeku. aku belajar untuk menyisihkan rindu dan menyimpannya abadi. agar meski terlalu banyak kesempatan lain menungguku, aku tetap bertahan pada wajahmu. wajah yang sempat menitikkan airmata hanya untuk melepas kepergianku.
            “jl. Garuda no. 12 pak”. dengan taksi kutinggalkan bandara, menikmati sejenak waktu sebelum aku kembali berkutat dalam keraguan-dan kebimbangan., aku pernah berjanji dalam hati, dan kau tak pernah tahu itu. sakit yang kau rasa mungkin tak sebanding dengan sakitku melihatmu. tapi aku berjanji akan membayarnya lunas untukmu, dengan membahagiakanmu.
            darimana mas, kelihatannya gugup sekali” sopir taksi itu memulai percakapan. berulang kali hanya mampu melihatku dari kaca depan, ia beranikan diri menyapa. mungkin senyap membuat kantuknya datang.
            dari Jepang. tapi maaf, bisa lebih cepat, pak?” entahlah, tapi aku sedang tak ingin berbicara dengan siapapun.  waktu yang sempit ini sungguh ingin kugunakan untuk mengingatmu perlahan, hingga kesiapan itu tak membuat sesak itu kembali tertahan.
sopir itu mengerti, mengangguk dan memacu gas lebih cepat. tak mengulang lagi pertanyaan, atau justru bertanya tak sopan. tanganku berkeringat, begitupun kening. berulang kali kulihat jam, berharap semoga ia ada di rumah. dan segalanya berjalan lancar, tanpa ada lagi perpisahan.
***
            “saya hendak melamar putri, apakah ada yang sudah mendahului saya pak?” aku bertanya ragu. segera saja cemas ikut menm-provokasi, berulang kali kuremas kedua tangan, menyeka keringat yang mengalir di wajah dengan lengan di kemeja yang mulai terlipat tak rapi. senyap. ayahmu diam.  berpikir lama demi melihatku yang sudah sejak lama tak menyambangi rumahmu, untuk bercengkerama dengan kalian semua.
            “sayangnya kau terlambat nak … “
aku tertunduk lemas. seluruh janji dan keyakinan itu meluruh sendiri. tiba-tiba aku bisa merasakan sakit yang putri rasakan dulu. tapi ayahnya justru tersenyum lebar, melihatku menunduk menahan malu dan sedih yang mulai meringsek masuk dalam pikiran.
            “dia tak mau hanya sekedar dilamar. kenapa tak langsung menikah saja nak?”
            Ya Allah, aku mengelus dada saking bahagianya. wajahku refleks terangkat, segera bersimpuh di kakinya. berkata “baik yah, baik, saya akan segera menikahinya. kapanpun ayah mau”. ayah tersenyum lega. bercerita panjang padaku, bahwa tak sedikitpun putri mau melupakanku. ia setia menungguku, meski sedikitpun janji tak pernah kukumandangkan untuknya. sungguh, sungguh aku terharu.
rasanya pengorbana tiga tahun itu tak ada sisanya. yang tersisa hanya luapan bahagia, gembira, haru rasa. aku tak pernah mengerti, Tuhan teramat berbaik hati membuatnya terus menungguku.
            Dia terus menunggumu nak, bahkan ketika berpuluh-puluh pria menyatakan ingin melamarnya. ia tetap yakin kau akan datang kemari, menjadikannya putri, seperti namanya”. lagi-lagi ayah tersenyum, menepuk bahu-ku.
dia keluar dengan baju berwarna sama, tiga tahun lalu. hingga detail cerita saat ia menyeka airmata itu kembali menyeruak di kepala, sedikit aku merasa bersalah. tapi dia keluar dengan senyuman, setelah beberapa menit lalu empat mata aku berbicara panjang lebar pada ayahnya. mengeluarkan seluruh amunisi yang kusimpan sejak bertahun-tahun lalu, sejak aku berjanji akan kembali ke kota ini.
            “aku tahu kau akan datang”. ia tersipu, aku-tersipu. dan ayah yang menyaksikan kami pun ikut tersipu. merasa kilas balik kisahnya bertahun-tahun lalu dengan ibu terulang kembali.
            “kau tahu aku datang hari ini?” ia mengangguk mantap.
            kau tahu juga aku akan melamarmu?” ia mengangguk lagi. tersenyum lebih lebar. sementara aku makin bingung, dahi tertekuk dan keheranan. hanya ayah dan ibu yang tau aku akan pulang. tapi sengaja aku tak ingin dijemput karena aku ingin lebih dulu ke rumah putri, sebelum keinginan ini menelan bulat-bulat harapku dalam penyesalan.
            “ibu dan ayahmu yang bilang padaku, mas
“sejak kapan kau berkomunikasi dengan ayah-ibu?”
sejak mas pergi, dan tak mau berjanji”. ia menyeringai. tawanya makin bungah. dan senyuman cerah itu kutemukan hadir untukku lagi. aku menepuk dahi. senang sekaligus benci karena dipermainkan ayah ibuku, juga ayahnya.
            aku mendekatinya, meski tak sedikitpun membuatnya merasa diperlakukan tidak hormat dengan menyentuh atau mengecup keningnya. “maaf, membuatmu menunggu yang tak pasti”.
            “aku mengerti” lega mendengarnya bicara tanpa sedikitpun dendam disana. lega, karena sekarang aku-lah yang paling merasa berbahagia karena bisa mepersuntingnya. lega, karena kutemui wanita dengan begitu banyak kekuatan di hatinya.
ia lagi-lagi hanya tersenyum, dalam balutan kebahagiaan yang tak terungkapkan. kini janji-yang kupatri dalam hati sudah kutepati, dan Allah-memberiku izin untuk menebus waktu yang sempat mengiringinya dalam keraguan.
semoga wanita-wanita di luar sana, selalu dilindungi dari ketidakpastian. 

No comments:

Post a Comment