.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 31 December 2012

Jalur bebas :)


Di kanan kiri jalan spanduk selamat natal dan tahun baru ramai menghiasi jalanan. Di samping kanan, dengan baliho besar dan tulisan sedemikian rupa. Di samping kiri, dengan spanduk kecil bergambar artis dengan pajangan senyum dan gigi mempesona. Semua sibuk lalu lalang masuk toko-toko besar, swalayan, supermarket, mall besar untuk berburu diskon. Ya, selain baliho, pamflet, spanduk, poster yang menjamur sedemikian rupa, diskon dan banting harga besar-besaran terjadi tiap tahun. Dan kita? Selalu saja ikut buta demi melihat huruf dan angka yang tersaji dimana-mana. Lima persen, sepuluh persen, lima puluh persen. Bahkan mereka tak tahu kalau itu hanya akal-akalan kapitalis saja untuk menjual produknya, selebihnya tak ada banting harga disana. Hanya rekayasa angka saja.
Lihat saja di setiap sudut kota, semua sibuk menawarkan barang dagangan. Semua sibuk mengumpulkan kenangan.
Di depan mobil yang sedang kukendarai, penjual terompet dengan sepeda bututnya berkeliling, dagangannya masih banyak. Terompet berbagai macam bentuk, berbagai macam warna, juga rupa yang sekian tahun selalu bertambah referensi saja. Angry bird, saxophone, gitar,senapan laras panjang, seruling, entahlah tahun berikutnya akan berbentuk apa, mungkin ular piton berukuran besar sedang melilit ayam bisa juga dijadikan model terompet sebagai tanda pergantian tahun.
Hanya tinggal beberapa jam lagi, pergantian tahun terjadi. Dan sudah jadi rutinitas seperti biasa, jalanan utama kota ditutup, tak ada satupun kendaraan boleh masuk. Dan akan dipadati manusia-manusia berbagai macam rupa. Dari daerah mana saja datang ke kota-ku, berkumpul jadi satu dan melepas seluruh atribut jabatan yang dibebankan. Kota yang tadinya macet, bahkan malah jadi sepi demi mereka yang sibuk mencari oase di tempat lain. Meniup terompet, makan dan berkumpul di cottage termahal, memesan kafe paling romantis, hotel-hotel dengan view paling indah dengan latar langit kota yang sama. Langit kota jogja dan jakarta sama saja. Hanya dari sisi mana saja kita memandangnya.
            “gila! Macet banget nih kota! Orang yang liburan cepetan suruh balik gih. Bikin keki aja nih” si andre merutuk.
Sudah sejam yang lalu ia hanya bisa maju dua menit, berhenti sepuluh menit, maju tiga menit, berhenti sebelas menit. Hanya seperti ini dalam kurun waktu hampir satu jam. Sementara agenda dan janjinya tak bisa diundur lagi. Kaset yang hanya satu-satunya berada di mobil sport terbarunya itu sudah tiga kali diputar otomatis, hingga aku yang tadinya tak hafal jadi ikut hafal secara mendadak.
            “udah sih, nikmatin aja. Namanya juga liburan, bro!”
Aku menepuk-nepuk bahunya. Dia masih saja cemberut, mukanya ditekuk sedemikian rupa. Walau AC di mobil sport-mahalnya ini cukup ciamik untuk kunikmati, rasa-rasanya, dia tak begitu menikmati perjalanan weekend kali ini. Antrian panjang kali ini sepertinya cukup mengganggu mood-berliburnya.
            “nikmatin darimananya, gila aja lo! Gue udah bayar pajak mahal-mahal buat nih mobil. Sama aja antri, dapet macet juga bebeknya”. Mulutku sibuk mengikuti lyric lagu yang jedak-jeduk di sound mobil andre. Dia masih saja ngedumel sepanjang jalan, sementara siapa yang patut disalahkan? Jalanan? Mana bisa. Ia bukan makhluk yang bisa dimintai pertanggung jawaban. Turis domestik? Tentu saja tidak. Toh aku dan andre juga seringkali menikmati liburan di luar kota, membuat daftar macet jalanan semakin panjang pula. Atau kantor perpajakan? Menteri transportasi? Demi alasan membayar pajak lebih mahal? Ah, itu lebih tidak masuk akal. Dia membayar mahal karena memang dia yang membeli mobil merk luar, merk terkenal. Belum urusan ekspor, dan tetek bengek surat-surat yang harus diurus bagian pajak memang mengharuskan ia membayar lebih beban pajak. Dan satu hal lagi, ia mampu.
            “lo tau wacana sistem ganjil genap itu kan?” dia masih terus mencari bahan pembenaran. Kaset itu, sempurna empat kali terputar secara otomatis. Dan aku belum bosan untuk mendengar. Aku mengangguk-angguk bersama iringan musik yang disajikan, dua pulau terlampaui.
            “penting gak sih menurut lo? Duit-duit gue sendiri, mobil-mobil gue sendiri, kenapa harus diatur coba?
“Gak efisien kan?”
Aku fikir, adil-adil saja, toh memang akan seperti itu hukum di dunia. Kalau tak berdasar keadilan, pasti kemanfaatan. Tak bisa kedua-duanya disatukan, maka dari itu harus ada salah satu yang dikorbankan. Dan yang satu tadi, tentu saja tentang kemanfaatan, mengurangi macet kota yang sudah teramat parah menghabisi waktu senggang. Hitung saja berapa banyak waktu yang dihabiskan di jalanan? Atau lebih tepatnya ini hanya urusan kebijakan yang sedang diuji coba. Kalau tak diuji kelayakannya, mana bisa jadi panutan atau pedoman selanjutnya. Lagipula ini masih sekedar wacana, tak perlu sibuk mengurus kepentingan pemerintah.
Dia masih berkutat seputar mobil dan jalanan kota. Berdebat panjang lebar denganku, Sementara di luar sana, motor-motor yang semakin mengular itu sibuk saling meringsek. Maju merayap satu persatu. Bunyi klakson dimana-mana. Merasa paling ingin didahulukan. Aku menggeleng-geleng kepala, dua hal berlawanan sedang mengapitku.
 Aku jadi ingat percakapan dua hari lalu dengan pengendara ojek. Terpaksa, bukan karena sok kaya, atau sok mampu karena aku menggunakan kata terpaksa disini. Tapi lebih tepat karena biasanya aku yang mengenakan transportasi umum harus dipaksa berkejaran dengan waktu. Kemacetan menculikku, hanya untuk sekedar duduk diam di halte, sementara klien sudah menungguku. Jalanan? Masih saja sibuk dengan macetnya. Jadi, lebih baik meringkas waktu dengan mengebut bersama pengendara ojek itu.
            Pengendara ojek itu ber “puh” keras, mencaci pengendara mobil yang tak sengaja menyenggol kakinya baru saja, untung aku tak kena sedikitpun. Hanya saja cipratan airnya memang sedikit mengotori jas kerjaku.
            “begitu tuh, sok kaya. Baru punya mobil aja belagu”. Aku miris mendengarnya, sungguh. Sedang ia terus saja mengebut, menekan gas sebisanya, tak perduli jalanan makin mengular panjang. Tak perduli mobil-mobil itu sama bosannya menunggu antrian untuk lewat.
“eh, kenapa pak?” kuberanikan diri bertanya, berdalih menghormati keluhannnya tentang ramai kota, padahal sejujurnya aku hanya ingin tahu apa muasal umpatan yang baru saja ia keluarkan. “tidak apa-apa pak, kami ini orang kecil bisanya ya cuman beli motor bebek. Itu aja masih ngos-ngosan bayar kreditnya, lah mereka, udah punya mobil seenaknya aja ciprat sana-sini. Ya saya ngebut nggak papa toh, namanya juga orang kecil. Harus gesit, kalau nggak gesit nggak dapat banyak penumpang” bapak itu panjang lebar memberi penjelasan.
Aku justru menahan tawa. Benar-benar di luar yang bisa kupikirkan. Sementara andre sibuk mengumpat karena alasan pajak yang berlebihan, wacana ganjil genap, pajak yang akan dinaikkan, dan tukang ojek itu, merasa tak mampu lantas seenaknya membelah jalan. Mengebut seenaknya, menyalip, zig zag sana sini mirip pembalap terkenal se-dunia saja.
            “heh, lo denger gue nggak sih?” andre menempeleng kepala kananku.
Aku tersadar dari lamunan. Meringis agak lebar, lantas ber ha-ha-he-he karena tak sekalipun membalas obrolannya. “iye, gue denger”
Ah, dunia dunia. Semua sibuk mencari benar, benar salah jadi tak kelihatan. Marah dan marah yang kudengar, lebih baik aku kembali menikmati lantunan musik jalanan. Riuh klakson motor mobil, sopir sopir mengumpat, keringat dan asap yang bergumul bercampur, dan wajah-wajah penuh peluh. Sepertinya lebih nikmat tinimbang mengingat suara Andre dan tukang ojek tadi.

No comments:

Post a Comment