.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 5 December 2012

Rintik Hujan


aku berlari-lari kecil membasahi badan. hujan tak kuduga datang di sela matahari yang masih bersinar terik dalam pandangan. kututup kepala dengan jaket yang kubawa tadi, berlari- terseok sama halnya seperti pejalan kaki lain. mencari tempat berlindung agar badan tak perlu kuyup untuk melakukan aktifitas seperti biasanya. ia berlari mensejajari langkahku, menyeret-nyeret kakinya untuk lebih kecil melangkah karena kakiku yang badanku yang lebih mungil darinya. dari sekelebatan kulihat ia sedikit terengah, aku-pun begitu. ini baru jam setengah delapan pagi, kami berdua hendak masuk kerja, dan beruntung kami bertemu di depan halte seberang kantor tepat setelah hujan membagikan rintiknya di atas kepala kami. ia tersenyum, melihatku yang tetap tersenyum meski perlahan baju kami harus ternodai air dari langit.
ia melepaskan jas hitam kebesarannya, melingkupkannya untuk kami berdua. atau lebih tepatnya aku saja. “eh tidak usah, terima kasih” . aku menolak perlahan, ia tetap saja berlari di sampingku sambil tetap pada posisi yang sama. kedua tangan menghalau air dengan jas-nya.
tak seperti biasanya, ia nampak tak nyaman sendiri dengan hatinya. ia yang berusaha memulai percakapan, lantas menunduk kembali karena aku yang ditunggu untuk membuka lebih dulu tak mampu merespons maunya. bagaimana aku tahu kalau dia saja diam sempurna? tangannya terus saja keluar masuk dari saku, entah sedang melindungi apa. dia benar-benar telak membuatku tak bisa menduga apa yang dia rasa.
hujan memang menyenangkan. ia seperti sepaket makanan cepat saji yang begitu kuharap datang langsung terhidang dalam pandangan. atau ia seperti titah Tuhan yang membawa satu pesan? ah, entahlah. hanya saja aku selalu menyukai hujan. tak sedikitpun perlu mengeluh karena hujan memberiku kedamaian. tetes demi tetes air yang mengalir pelan, lantas membuat dingin sekujur badan yang menyentuhnya dengan ujung-ujung syaraf perasa.  seperti kali ini, meski harus menghalau agar baju kerja ku tak perlu kuyup, aku menikmatinya. entah karena langkah kakiku yang terlampau kecil, entah karena aku yang menginginkan berlama-lama menikmati tetesan air kehidupan, atau karena aku yang begitu nyaman berada di bawah payung teduh seorang lelaki di sampingku.
kebetulan ini hadir entah yang keberapa kalinya. dan aku percaya ini memang kebetulan yang teramat membahagiakan. kebetulan yang selalu kubenarkan bahwa ia memang pemilik rusuk yang Tuhan ambilkan untuk menciptaku.
sudah sering sekali kualami, ia yang tiba-tiba ada di depan mata ketika aku begitu membutuhkan pertolongan orang lain. entah harus kuberi sebutan pahlawan kesiangan atau apapun, yang jelas aku tak pernah peduli seperti kali ini. pagi yang tepat ketika hujan yang selalu kunantikan membawa serta dia untuk kunikmati berdua. ah, betapa sejuk rasanya. mencintai dan mencipta bahagia dalam kepala.
tak pernah tahu bagaimana ini bermula, mengenal namanya saja aku belum terlampau lama. hanya tahu dimana ia bekerja, tentu saja karena ia sekantor denganku. hanya tahu dengan siapa saja ia sering bercengkrama, menikmati makan siang di kantin kantor dengan aku yang tak lepas memperhatikannya dalam diamku yang semakin tak terkira. tak ada yang tahu bagaimana bisa orang sepertiku mampu simpan dalam-dalam segala kecamuk rasa, apalagi tentang cinta yang sejatinya selalu orang agung-agungkan hadirnya.
ia mungkin menyadari, atau mungkin dia juga berlaku bodoh sama seperti yang kulakukan tiap kali ada bening bola mata miliknya yang bersitatap denganku. dia duduk di ujung dekat meja kasir, dan aku di ujung lain bersama teman-temanku. kami asyik berbincang, menikmati makan yang kami pesan seadanya dengan khidmat, dan tentu saja mencuri-curi pandang ke arahnya, kurasa dia-pun sama halnya.
ia teramat pemalu, atau mungkin lebih tepat kukatakan ia tak berani memberikan jaminan bahwa apa yang dirasa hati lainnya tak akan sama. Tapi hujan ini membawa masing-masing lamunan kami berdua, ingin sekali memperlambat langkah kaki agar tak secepat ini sampai di depan gedung mewah bertingkat ini. tapi nyatanya hanya butuh berapa detik kami sudah akan sampai dan memulai bekerja seperti biasa. ia diam, tentu saja diam. tak menyapa dan tak juga mengajukan Tanya. jantungku ikut berdebar, demi menikmati kebersamaan yang hanya ramai dalam pikiran.
ia seperti kopi setengah manis yang jadi teman kala dingin mencumbu, diam dan angkuhnya justru membuat ragu menjadi candu. membawa butir-butir syahdu ke dalam hadirnya di setiap waktu. tanpa jengah sekalipun meski kelak bumi tak mengizinkan kami satu.
 hujan makin deras, dan aku  terpaksa harus memaksa kaki melangkah sedikit lebih kencang menuju kantor. samar-samar kulihat matanya berkilat. mungkin saja ia pun menikmati sepenggal bersama dalam rintik hujan ini. potongan-potongan rasa yang disimpan dan di sampaikan lewat diam yang kami punya. sejenak sebelum sampai tepat memasuki gedung perkantoran, kusibakkan tangannya. mencoba berani menatap matanya, lantas berikan senyuman yang teramat manis pada pria yang telah merebut setengah waras ini dari tempatnya. ingin sekali sampaikan banyak kata, terima kasih lebih tepatnya. tapi kurasa ia cukup mengerti dengan senyum yang kuulungkan untuknya.
kunikmati hujan tanpa payung dan penghalau tangan. ia diam, ikut membiarkan jas-nya jatuh dan hujan membasahi kepala kami. aku terhenyak, dia hendak berbuat apa? dengan ragu-ragu ia keluarkan satu kotak hitam kecil, keluar masuk ia memainkannya. dan sejenak aku tergeragap. ia menyuntingku dengan teramat meyakinkan.
di bawah guyur rintik hujan, di balik seluruh angkuh dan diamnya, ia berani sampaikan kata-kata. “a a-ku punya sepasang cincin. ma ma-u-kah ka ka-u menyimpannya satu untuk-ku?”
ia bersimpuh meski hujan makin deras menerpa kami berdua. beberapa pasang mata yang baru saja datang dan hendak masuk terpaksa diam dan menahan langkah kakinya untuk masuk demi melihat adegan penuh kelucuan ini. dia yang gugup dan berkaca-kaca –meski tertutup hujan dan basah yang menerpa- aku yang melongo karena benar-benar tak sadar ia akan sedemikian cepat ungkapkan rasa, atau mungkin aku memang tak pernah yakin dengan rasa yang dia punya.
aku mengangguk, mengulurkan tangan padanya. tapi kisah romantic ini hanya bertahan beberapa detik saja, cincin yang dibawanya tak muat dengan ukuran jariku. ia tertawa, gugupnya meluruh saat itu juga ketika melihat tawaku tersungging dengan dan tanpa pamrih adanya.
hujan sepertinya sedang memberiku kesempatan agar sampaikan rasa dengan kata dan tawa, dan diam ini sepertinya tersudahi karenanya. rintik hujan makin ramai bermain di balik wajahku, rasanya dingin tak hanya menyentuh tubuh ini saja. tapi meresap hingga akar-akarnya.

No comments:

Post a Comment