.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 14 December 2012

Topeng manusia


kalian pernah sibuk banget ngerias diri jadi serasa kayak topeng? topeng-super tebel yang nutupin jati diri kalian dari mata orang lain di sekeliling. begini contohnya: sok manis, sok baik, sok patuh, atau sok cantik dan sok asyik? ayo angkat jari? oh, cukup. sudah barang tentu kalian pernah ngerasain hal semacam ini, walaupun hanya mengiyakan dalam hati. sibuk mengendalikan perasaan munafik dalam diri, sibuk menutupi semua aib yang kelihatan dan kalian rasakan sendiri. apa yang ini namanya wajar? atau justru kalian anggap manusiawi?

 Yes, tentu saja kali ini saya akan bilang lagi ini sangat wajar. dilema atau lebih tepatnya konflik batin yang selalu ada di diri masing-masing manusia. darimana coba datengnya? dan kapan kalian ngrasa hal- ini paliiing sering muncul? oke, daripada banyak waktu tersita untuk saya melakukan survey dengan responden yang pasti banyak jawab ngaco, maka bisa saya simpulkan sendiri saja dari beberapa kejadian yang saya alami. 

            kita seringkali menampilkan topeng ketika kita sedang jatuh cinta, butuh kenaikan pangkat, bertemu seseorang yang lebih tinggi jabatannya dan kebalikan dari kondisi ini. yaitu ketika kita sedang sangat-sangat benci sama seseorang. boleh saya sebut topeng, atau kalian lebih nyaman dengan kata munafik? baiklah, topeng saja mungkin lebih enak didengar bersama-sama. setiap dari kita selalu punya topeng, entah sudah bawaan atau dipelajari dari manusia-manusia sekeliling yang secara tidak langsung justru mengajarkan sifat penuh misteri ini. 

            kadangkala kita tidak merasa, kita menjadi pribadi yang sungguh berkebalikan sampai ukuran seratus delapan puluh derajat atau bahkan sampai 360 derajat hanya untuk mendapat satu klaim, hanya untuk mendapat satu cap bahwa kalian itu baik. menampilkan tampilan yang bukan sejujurnya yang kalian miliki. kita berusaha jadi pribadi yang menyenangkan di luar, tapi menyiksa di dalam.  

contohnya saja nih begini ya, kalian lagi getol banget pedekate sama orang, cinta bangeeeet sama tuh cowok atau cewek, dan salah satu jalan biar si target pas kena sasaran hati kamu yang lagi di-obral itu tuh, kalian sengaja banget sok manis. sok bisa apa aja, sok sabar. seandainya ditanya bisa masak apa enggak, eh kalian langsung semangat empat lima deh buat kursus, atau buat yang duitnya tipis minta ajarin aja sama temen atau pake panduan lewat televise yang gratis tis tis, tinggal bayar listrik aja :p. lain lagi di satu cerita, kalian tuh enggak suka sebenernya sama hal itu, tapi si target suka, akhirnya kalian maksa diri buat suka-suka setengah mati gitu aja deh ya. masuk akal nggak sih? memaksakan suatu hal yang nggak kalian suka buat sesuatu yang sementara, atau lebih pasnya ngusahain sekuat tenaga buat hal yang sama sekali nggak nyata, cuman dugaan aja. 

hal yang lebih sering terlihat, di sekolah kita sok manis sama guru killer, ramah menyapa di depannya. eh pas di belakangnya, apalagi abis dimarahin kita nyela abis-abisan, apa aja bisa jadi bahan omongan. di kantor, kalau ketemu sama atasan kita takut, kita iya-iya aja kalau disuruh padahal lagi capek-capeknya. belum lagi kalau dimarahin, kita terus saja memperlihatkan sikap manis seolah tak ada apapun selain kalimat “iya” di kepala, entah kata “tidak” itu melayang kemana. apalagi pas mau kenaikan pangkat, kita heboh banget nyari muka. 

lain lagi ketika kita di sisi lagi benci sama orang, topeng yang ini sama manisnya. tapi bedanya yang lagi jatuh cinta itu tadi nggak sengaja masang topeng dan ikhlasnya minta ampun, tapi kalau yang ini jelas banget rela nggak rela. sudah pasti lah ya? urusan benci dan membenci itu kadang nggak perlu make alasan. pokoknya sebel ya sebel aja, pokoknya benci ya benci aja, dan satu alasan itu udah cukup bikin kalian ngumpulin beribu, bermilyar alasan lagi buat nerusin benci yang awalnya cuman setitik tadi jadi segede gunung. tapi parahnya kalian tetep aja sok manis juga di hadapan mereka, pengen nunjukin kalau kita itu berlapang dada menerima begitu banyaknya perbedaan, kalau kita ini orang yang bijaknya luar biasa besar. prok prok prok! oke tepuk tangan buat kita semua, # toss .

kita takut sama guru karena nilai kita bergantung sama mereka, kita takut sama atasan karena hidup kita serasa di tangan mereka, kita takut sama pacar karena separuh jiwa kita ada disana. tapi kita nggak takut sama yang mbikin kita kalau nggak solat atau kewajiban lainnya, aneh kan ya? sungguh sangat sangat aneh bin ajaib. mari direnungkan bersama. tundukkan kepala sejenak!

            yang kalian nggak sadarin, topeng-topeng ini kalau nggak biasa dihapusin dikit demi sedikit, nggak biasa diilangin akan makin tebel. dan akhirnya kita berubah jadi pribadi yang lebih memuja gengsi tinimbang membenahi situasi. toh apa salahnya jadi diri sendiri? suka sama orang wajar kan? benci dan beda pendapat sama orang biasa juga kan ya? ya tinggal bilang aja. 

whatever kalian itu cewek dan harus bilang duluan, salah? ada dalil dan aturan? suka itu wajar kok, apalagi sama lawan jenis. yang nggak wajar kan kalo sukanya sama sesame jenis, ups! nggak ada aturan yang ngelarang buat cewek sejujurnya ungkapkan perasaan suka, atau benci, atau semua dongkol-dongkol yang disimpan di hati. tapi satu yang harus dipahami, harus dengan cara yang bagaimana kita menyampaikan suara itu. kita punya hak menyampaikan pendapat, tapi kita juga punya kewajiban meeen! dan hak-hak kita dibatasi hak orang lain juga, jadi harus make otak dan hati juga sebelum ngomong ceplas-ceplos seenak jidatnya, dikira kita aja yang bisa kecewa. 

banyak kepala maka banyak suara juga. jadi jangan heran kalau debat itu memang terjadi dimana-mana. seandainya kita hanya punya satu suara, dan diantara beribu manusia hanya satu yang boleh bersuara, maka itu yang harus dikhawatirkan. saya hanya perlu bilang, setiap orang memang berpotensi menyimpan topeng-topeng wajah dalam bentuk yang berbeda. syah-syah saja menurut saya bila topeng ini memang digunakan untuk meminimalisir bentrok di sesame kalangan, antar manusia, dan antara golongan mana saja. tapi yang tidak halal menurut saya, bila topeng ini digunakan dalam banyak situasi untuk menipu. menyembunyikan keburukan yang amat fatal dan itu memang sengaja untuk merugikan atau memperdaya orang lain. 

seperti halnya dalam cinta, ketika pada awal mula yang kalian tampakkan topeng, maka untuk membukanya hanya sama saja membunuh wibawa anda sendiri di mata pasangan. kenapa begitu? kebohongan itu membawa pada kerusakan dan kehancuran. jadi ya jujur aja, males ya males, belum bisa masak ya bilang belum. kalian emosian ya bilang aja. 

kenapa harus begitu? karena sejak awal manusia memang bisa bedakan, mayoritas, tentang mana yang tulus dan mana yang fiktif, alias tipu-tipu saja. cinta itu menerima, dan membuatnya menjadi sedikit sama (meminimalisir beda dengan cara yang mereka punya), jadi ketika sejak awal anda sudah jadi penipu, maka bukan saja percaya mereka yang hilang, tapi cintanya bisa ikut lekang. nah lho? harus gimana dong? entahlah, anda sudah tau sendiri jawabannya. 

gengsi dan munafik hanya akan menyakiti diri sendiri. ada kadar dan batas-batas yang harus kita pahami dan taati. kalau topeng-topeng ini makin merajalela, maka untuk mengenal orang di depan anda pun anda tidak akan mampu menerka sampai ke dalam-dalamnya, karena sejak awal mereka sudah membuat sekat/dinding amat tinggi yang tidak bisa diterobos siapapun. tidak mampu dipanjat pikiran anda. 

begini saja ringkasnya, cinta itu menerima. cinta itu kecewa. dan cinta itu hadir dalam banyak rasa. ini karena dunia memang selalu membawa paket beda. mau dia putih lantas anda hitam, ketika anda saling suka, ketika anda saling percaya dan menjaga komunikasi sebisanya maka no problem, satu masalah sudah di tangan, dan siap-siap enyah dari daftar list kekhawatiran. mau dia sedikit galak dan anda sedikit sabar, maka dengan sedikit komunikasi dan pengertian maka ya solusi lebih cepat didapatkan. saya hanya tidak habis pikir kalau topeng yang semula anda jadikan jagoan malah berbalik menyengsarakan. semua hal di dunia ini bisa berbalik menjadi senjata makan tuan loh! contohnya lidah tuh. 

anda marah kepada pasangan anda, tapi anda tak mau mengutarakan apa yang jadi keluhan dan sebab kemarahan anda. bagaimana bisa ditemukan solusi? bagaimana bisa dia jadi mengerti? emang dia Penentu takdir yang tau apa aja? yang ada akhirnya hanya akan diam-diam menyimpan sebal, disimpan, dan akhirnya malah menggudang. jadi akumulasi sebal yang entah sampai kapan akan meletus, dan doooor! tidak terbendung lagi. 

sudah cukup jadi orang yang bermuka dua. sudah cukup jadi orang yang terlalu banyak menutupi aib dengan tampilkan kesemuan gambaran kesempurnaan. nanti juga hilang perlahan, sama halnya dengan bedak yang lama-lama akan luntur memudar. maka sesuatu hal yang buatan tidak akan lama bertahan.  kalian hanya cukup jadi diri sendiri. pandai menempatkan diri kapan harus menggunakan topeng dan kapan harus tampilkan kesederhanaan pikiran. transparansi kepribadian yang selalu memantul dari orang yang satu ke orang yang lain. 

tidak peduli berbeda, tidak perlu jadi sempurna untuk dianggap istimewa. keistimewaan hadir bukan karena kebohongan, tapi istimewa justru hadir karena kepercayaan dan perbedaan. dan kita semua memang istimewa sejak dilahirkan.

No comments:

Post a Comment