.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 26 December 2012

Dua Suara


            “sudahlah, pergi saja. sekali-kali tak apa tak dengarkan orang tua”.
suara tanpa rupa itu kembali muncul. terngiang-ngiang banyak alasan, seluruh pembenaran itu keluar, masuk, dan mencoba meracuni isi kepala. dara mengajakku pergi, menginap ke pantai yang jarak tempuhnya cukup rumit. jalan terjal, naik turun, dan kami hanya berempat saja. sepasang lelaki dan perempuan. dara bilang hanya sebentar saja, menginap sesekali, lagipula ini kan malam minggu. hari libur.
tapi aku bergeming. bagaimana aku harus meminta ijin pada ibu? pada ayah? belum lagi alasan yang harus kubuat. berbohong lagi? untuk kesekian kali? aku menolaknya tegas. sudah banyak hal kulakukan dengan dan atasnama kebohongan. aku menggeleng-kan kepala tanpa gerak.
tidak, tidak! berulang kali suara yang satu lagi menyuruhku untuk tidak melanggar aturan ibu. beberapa hari lalu aku sudah sempat menyinggung masalah ini pada ibu, saat ibu sedang bersantai sambil menonton televise di ruang tengah. aku bilang pada ibu, akan diadakan malam keakraban di kampus, dan itu mengharuskan-ku ikut.
ibu diam, lama tak bersuara. hingga hanya suara televise yang berbalik menonton keheningan yang kami cipta.
            “musim hujan nak, … “ belum selesai ibu bicara memberikan argumentasinya, aku sudah tahu apa yang dimaksud ibu. ibu melarangku ikut serta. dan percakapan yang bermula penuh tawa itu berakhir aku yang menyimpan dongkol hingga di ubun-ubun. seluruh kalimat yang kupersiapkan menguap. seluruh alasan yang kurencanakan lenyap.
harusnya bukankah aku mencoba melapangkan dada menerima? permintaan memang selalu dengan dua kemungkinan, diterima atau penolakan.
dan malam keakraban itu tetap berjalan tanpa kehadiranku. oke, setelah semua kemarahan dan sesak itu habis, nyatanya tak ada satupun teman yang turut bersimpati atas ketidakhadiranku. bertanya pun tidak, tega! mereka bahagia dalam beberapa waktu yang membuatku tersiksa.
            “jangan, sudah turuti saja apa kata orang tua. nanti kau kena tulah”
suara di telinga itu kembali datang. terngiang-ngiang dan makin merusuhi kepala. hati dan kepala yang tak bisa diajak berkompromi. satu sisi ada yang berkata bahwa tak ada salahnya, toh aku  tak berbohong kelewat batas. toh hanya sesekali saja, bukan setiap hari. hanya menginap di pantai satu malam saja, cukup. hanya menikmati kesenangan setelah sekian lama aku merasa dalam kungkungan aturan, yang menurutku, sama sekali tak longgar. untuk keluar malam saja, aku harus berdalih mengerjakan tugas. dan kadang aku merasa tak bebas.
lihatlah! teman-teman sebayaku di luar sana bebas kemana saja. mau minta uang, dengan sekali bilang maka uang di tangan. mereka mau bepergian kemana saja, dengan siapa saja, tak ada masalah. semua aman-aman saja. mau berpakaian apa dan bagaimanapun, tak ada yang menegur. terserah! asal nyaman, maka lakukan.
lalu aku? harus bercermin dimana aku kalau semua teman yang kudekati seperti itu? harus berkaca dimana aku kalau yang kubuat Patokan hanya menampilkan diriku yang jauh dari jangkauan mereka. aku seperti makhluk zaman batu yang hanya bisa berkata “u-u a-a sedang yang lain sudah punya 27 kosakata dan huruf di kepala”. harus berkata apa kepada cermin yang menampilkan tampilan rupa, kalau aku sungguh jauh berbeda isi kepala dan kebiasaan mereka.
cermin-cermin itu hanya membuatku makin terkungkung dalam penjara rasa. seringkali aku merasa diabaikan, atau mungkin aku sendiri yang membuat diriku sendiri merasa terabaikan? dengan membuat perbandingan dan membuatnya teramat meyakinkan. bahwa bahagia itu ketika bebas dan tak ada yang membuat hati kita kebas. bahwa bahagia itu bisa kemana saja, elok rupa, dan berharta. dan itu membuat dada terasa penuh dengan prasangka, sesak menyimpannya.  
tapi di sisi lain aku takut. benar-benar takut kalau ibu tau, kalau ibu berkata dan berdoa macam-macam dan justru menjadi tulah untukku. aku takut kutukan seperti malin kundang yang berubah jadi batu? ya, harus kukatakan iya. di jaman yang serba tekhnologi dan mengedepankan rasio ini tak sedikitpun aku melupakan kisah itu. Tuhan dan lingkungan yang membuatku bercermin pada ibu, untuk senantiasa menjadi anak yang patuh dan tak menyakiti hatinya.
tidak, tidak. benar kata suara kedua, aku tak  boleh lagi membohongi ibu. karena sudah berpuluh, beratus, bahkan beribu kebohongan itu kuberikan pada ibu. sebagai balasan seluruh kasih sayangnya untukku, apa pantas? lagi-lagi suara itu menegurku.
            “jangan, jangan! bukankah kau ingat kejadian dulu. cukup sekali saja.”
            “sudah, tak apa. pergi saja! bukankah kau ingin bebas? ini saatnya. ibumu tak akan tahu, ibumu akan ke luar kota selama dua hari bukan?”
            “jangan! sudah cukup daftar dosa-mu. kau tak mau tembok-tembok itu menghakimimu bukan?”
            “ini saatnya rinta. jangan kau sia-siakan”
suara-suara berseberangan itu bersahut-sahutan. kepalaku makin pening, perutku mual, aku mulai muak mendengar perdebatan dua suara di kepala.
aku ingat setahun yang lalu. kebohongan itu membawa petaka untukku sendiri. bukan untuk ibu! aku berbohong demi kebebasan yang kuagungkan. masa remaja menyita suara teman-teman sebaya yang ternyata lebih perduli pada dunia. aku membohongi ibu, dan teguran keras menimpaku. aku merasa berdosa, sakit, sekaligus menyesal. melihat ibu yang sudah berulang kali kubohongi tetap membuatku merasa dunia masih teramat berbaik hati menganugerahkan dia untuk menjagaku. dia sama sekali tak memarahiku, hanya tangisannya yang membuat hati makin menyesal.
suara-suara itu makin keras. dualitas yang selalu ada dalam diri. perdebatan datang silih berganti. pergulatan batin yang kadang membuat diri tersiksa, dikekang emosi, kebebasan yang tercemar, perilaku yang penuh kontradiksi, pilihan-pilihan rumit. ah, segala sesuatunya seperti tak berujung. persimpangan rasa yang selalu dirasa tiap manusia.
layar handphone-ku menyala. satu pesan diterima. ada nama dara disana, “besok jadi ikut nggak, ta?”
ah, aku menghela nafas panjang. menjatuhkan badan ke ranjang. sial! aku harus memilih lagi dua hal. mana yang harus kuberi makan? suara menyesatkan, atau suara yang memberiku ulang peringatan. mana yang kali ini harus kudengarkan? kuturuti? nafsu atau pekerti?
kuambil handphone itu. mengetikkan kata demi kata dengan tegas. dan pesan itu terkirim.
sepandai apapun aku menyimpan bangkai. bau-nya pasti akan berbalik menghilangkan wangi. dan dua suara itu, biarlah, biar saja tetap ada, aku malas menumpuk lagi dosa dengan membohongi makhluk Tuhan yang terus menerus mengirimkan doa lewat halus katanya. 
 kini biarkan aku terus berjalan. melepas seluruh pakaian keduniawian. pergulatan, perdebatan, perhelatan.  hingga pilihan itu kuputuskan. menjemput kebahagiaan, sendirian.



No comments:

Post a Comment