.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 4 December 2012

Ditampar Sempurna


Silau! 
Mataku masih asing untuk tahu dimana kali ini aku berada. ruangan ini benar-benar sangat terang. sedikit mengerjap-ngerjap kubutuhkan waktu beberapa menit untuk mengerti benar dimana kini ragaku berada. kuarahkan pandangan ke sekeliling ruangan. badanku masih terasa begitu lemas, bahkan untuk mengedarkan mata dan mengitari sudut-sudut yang ada lelah begitu cepat mendera. seperti bah berskala besar merubuhkan seisi kota.
mataku lamat-lamat mulai bisa menebak. aku sedang tertidur lemah di atas papan berukuran sedang, dibelit belalai infuse, dengan alat bantu pernafasan. di samping kananku ada alat detector jantung yang berderit naik turun memastikan bahwa jantungku masih bekerja. badanku begitu banyak dibebat perban, dan luka sepertinya memenuhi seluruh kulit badan. hanya ada aku dan seorang wanita yang sedang tertidur pulas di sofa samping dipan kamar ini. iya, dia ibuku.
aku tak sadar sudah berapa lama aku tertidur dalam keadaan seperti ini. seingatku baru kemarin aku masih lepas berbincang dan heboh menertawai lelucon dunia. seingatku, baru kemarin aku berpamitan pada ibu untuk mendaki gunung dan tanpa mendapatkan izin darinya. ia melepasku tanpa sesungging tawa, tanpa ada raut ikhlas yang biasanya bersarang di wajah teduhnya.
kuamati tidurnya, sepertinya ibu-ku lelah. aku merasa sangat haus, ingin sekali memanggil ibu untuk meminta tolong mengambilkan gelas air putih yang berada tak jauh dari dipanku. tapi mengangkat pergelangan tangan saja aku tak mampu. lemas benar-benar sedang membuat ragaku tampak tak berguna. tangan kiriku penuh dengan peralatan rumah sakit. lalu apa gunaku kalau tangan dan kaki saja tak bekerja sempurna?
 dan aku seringkali mengeluh hanya karena hal sepele yang kubuat dan kureka?hey, kau manusia!
dengan sekuat tenaga aku berusaha menggeser lengan, sedikit demi sedikit mengangkat pergelangan tangan yang masih ringkih ditusuk beberapa jarum infuse. tergopoh aku mencoba menggapai gelas, satu demi senti terlewati. tapi aku tetap saja tanganku tak mampu mengangkat beban seringan gelas dan air putih itu. aku menyerah! barangkali memang aku harus bersabar menunggu ibu terbangun dari rehat sejenaknya. urusan sepele seperti ini saja aku tak bisa! besar kepala saat sehat itu meluruh seketika.
aku menghela nafas berat. menahan nyeri yang tiba-tiba menyerang sekujur tubuh. meringis tanpa tahu harus mengeluh dan mengadu pada siapa. hanya bisa pejamkan mata dan menahan sebisanya, tak ingin membangunkan ibu yang terlampau terlihat lelah itu.
ibu mengolat pelan, matanya sedikit demi sedikit terbuka. dari kejauhan ibu terlihat kaget. mungkin heran melihatku sudah bangun. ibu cepat tersadar, menghampiriku dan memastikan apakah benar aku sudah nyata mampu tatap dunia seperti biasanya.
“kau sudah bangun, le?” ibu bertanya halus. membelai rambut pendekku seperti anak kecil yang meminta dinina bobokan sebelum istirahat malamnya. aku mengangguk lemas, menunjukkan padanya bahwa aku begitu haus. “minum bu … “ ibu tersenyum. mengambilkan gelas yang tadi ingin kuraih sedemikian rupa tersebut dan meminumkannya padaku. telaten ia memeganginya, seolah hanya dia yang mampu berikan seluruh hangat dunia. saat ini aku tak punya daya apapun, bahkan untuk lepas menatap cermin dan membanggakan betapa tampan wajah yang kupunya aku tak bisa. hanya bisa terkulai lemas di dipan berukuran sedang dengan harus dibantu seseorang di sampingnya. ah, munafik sekali dunia ini! aku harus menurunkan ego demi menyadari bahwa kali ini aku tak bisa berbuat apapun untuk tunjukkan pada dunia bahwa aku bisa. Baru sakit ringan seperti ini saja aku harus didampingi orang lain.
lagi-lagi aku harus menyadari bahwa aku memang tak punya banyak kuasa. bahkan untuk menggerakkan badan yang selalu kubanggakan di hadapan banyak pasang mata, aku tak bisa apa-apa.
baru saja ibu selesai menyuapiku. hanya dua atau tiga sendok aku sudah merasa lelah mencecap makanan rumah sakit ini. hanya bisa menikmati makanan dengan porsi seadanya, diatur-atur pula. apa enaknya seperti ini? aku hanya bisa menatap langit-langit kamar dan sepenuhnya mengurung diri di dalamnya.
tak sedetikpun ibu pernah meninggalkanku. bahkan untuk urusan hendak mandi saja ibu rela memanggilkan suster untuk menjagaiku sementara waktu. lagi-lagi aku merasa seperti anak umur lima tahun yang selalu harus mendapat penjagaan ketat agar tak berbuat di luar rencana. kata suster yang beberapa kali memerika detak jantungku, sudah hampir seminggu aku disini. lima hari tak sadarkan diri dan ibu selalu bersabar menungguiku, mendoakanku, dan tak pernah sekalipun menghilang dari pandanganku.
pernah waktu itu kata suster tak sengaja aku buang air besar di dipan ini. suster yang saat itu berjaga hendak membersihkan dan tak diizinkan oleh ibu, ibu sendiri yang meminta diri untuk segera membersihkannya. seandainya aku tahu pasti aku akan menolaknya. bukan saja malu dan gengsi yang terbayang di kepala, bukankah jijik sekali harus membersihkan kotoranku yang sudah sebesar ini? aku tertunduk malu tiap kali ibu berada di depanku. seolah batu besar menimpaku karna ego yang selalu kuagung-agungkan.
aku hanya berandai-andai. seandainya saja aku yang disuruh membersihkan kotoran ibu, apakah mungkin dengan berbesar hati aku akan sigap melaksanakannya? tanpa keluhan? tanpa perhitungan? berulang kali aku harus menghela nafas untuk menerka semua ketololan dan kebodohan yang bersarang di kepala. bahwa dia lah satu-satunya orang yang selalu setia menjadikan dirinya abdi pada anak dan suaminya. tanpa banyak bicara dan meminta balasan serupa.
belum lagi ibu yang rela waktu tidurnya berkurang untuk menjagaku, berharap cemas aku akan segera bangun. membacakanku doa-doa untuk menjagaku dari terpejamnya mata. dan lelah badan tuanya tak pernah bisa kupungkiri pasti selalu menerpa usia senjanya.  
ibu selalu setia mendampingiku disini, sedangkan ayah dan kakakku, mereka hanya sesekali menengok. membawakan pakaian ganti untuk ibu dan berbasa-basi mencium keningku seraya berdoa semoga aku lekas membaik. lagi-lagi aku seperti dihadapkan pada wajah-wajah penuh kebohongan di hadapanku. baru beberapa hari lalu aku masih ingat, aku bertengkar hebat dengan ayah, hanya gara-gara urusan sepele. dia yang memaksakanku ingin jadi sepertinya. ego  muda-ku memuncak karena aku tak pernah bisa jadi seperti kendali mobil yang bisa disetir kemana saja sesuka sopir, aku manusia! beda kepala. begitupun dengan kakakku, kakak yang selalu dibanggakan ayah. kakak yang selalu jadi kebanggaan dan tempat pujian yang keluar dari mulut ayah dimana saja, kapan saja. seolah ingin menjatuhkanku dalam kubang nestapa tak berkesudahan. seperti ingin sekali menumpahkan seluruh api neraka di kepalaku. ah, peduli apa dengan harapan ayah. hanya ibu yang selalu mau bersabar membelaku, meski hanya dengan tatapan penuh iba dan diamnya yang makin membuatku sulit bernafas.
masih sangat segar dalam ingatan, ibu yang harus menangis tatkala aku bertengkar hebat dengan ayah. selalu setiap malam tiap kali aku pulang dari bepergian, selalu seperti itu ketika wajahku dan wajahnya harus bertatapan dalam satu ruang. dan tak pernah lepas aku dari jerat ego-nya dan ego-ku yang memang berseberangan, tanpa harus mencari jalan agar mampu dipecahkan. ayah tanpa sengaja menyenggol vas kesayangannya karena hendak menamparku. aku mengeles, ia terdiam lama. sedetik kulihat matanya yang menyorot penuh benci, mungkin setan sedang berkonspirasi hendak mengenyahkan bijaksana dan wibawa seorang ayah darinya. hingga ucapan itu keluar dari mulutnya. aku diusir dari rumahnya!
kulihat ibu menangis dari balik lemari ruang tamu, bersembunyi di balik kaca besar yang memisahkan kamar ibu dan ruang keluarga. aku tetap pada pendirian, aku membanting pintu kamar. membuka paksa lemari pakaian dan memasukkan seluruh pakaian yang sekiranya kubutuhkan. aku kalap! ayahku pun tak juga hendak menahanku agar tetap tinggal di rumah yang membesarkan raga anaknya. kulihat ibu sekali lagi, ia menyeka airmata dari pipi halusnya. tangan renta dan hatinya mungkin ikut terluka karna dua orang yang teramat sangat dicintainya harus bersitegang sedemikian rupa, dan ibu tak tahu hendak membela yang mana.
satu minggu berlalu. aku tetap saja menyatakan ketidakramahanku, ibu berulang kali datang membawakan makanan dan uang saku untukku. bilang dan terus merayu bahwa ayah hanya marah sebentar saja, dan esok pasti ia akan kembali seperti biasa. aku tak mau terima! bagiku penghinaan dan pengrendahan tak layak diterima siapapun dan tak patut dilakukan siapapun. entah karna ras, status, budaya dan segala macam tetek bengek beda dunia. bagiku urusan penghormatan selalu membawa kebaikan, dan aku tak perlu menurunkan harga diri dengan bersujud meminta maaf pada orang yang telah berani menjatuhkan harga diriku sedalam-dalamnya.
dua minggu, ibu masih saja bersabar menemuiku. membawakan pakaian baru dan makanan kesukaanku. aku tak habis pikir, kenapa ibu bisa sebegitu bersabarnya bersanding dengan ayah yang entah berapa dalam keras kepalanya. atau mungkin inilah keistimewaan lain dunia, yang mampu satukan beribu macam beda tanpa tau bagaimana akal dan hati bekerja? ah, lagi-lagi peduli apa aku tentang mereka yang rela mendapat cap bodoh karena sabarnya yang begitu tiada terkira, seperti ibuku.
kali ini sudah satu bulan aku pergi dari rumah, ibu datang tergopoh gapah. tak lagi seperti biasa dengan wajah ramah dan teduhnya menasihatiku agar mau mengalah pada ayah. ibu hanya bilang sakit ayah kumat, dan mau tidak mau aku harus rela menemaninya sebagai wujud bakti seorang anak pada orang tuanya. aku kalah! telak! tanpa perlawanan aku menyerah. lagi-lagi aku dihadapkan pada budaya saling menghormati pada mereka yang lebih tua, dan aku tak bisa mengelak lagi hanya karena alasan harga diri yang kucerna di kepala.
sepertinya aku harus menurunkan ego dan pura-pura bermuka dua di hadapan ayah. inilah yang selalu menjadi pergumulan batin dan kepala. aku yang selalu berkoar-koar di hadapan teman-teman agar tak jadi musang berkepala domba kali ini harus rela pura-pura berwajah manis di hadapan ayah. dunia tak sekalipun membuatku habis berpikir. tentang sabar ibu yang tak pernah kumengerti, tentang perbedaan yang menyatukan dan merobohkan persatuan, tentang adu domba, dan tentang kebohongan dimana-mana. seperti aku yang harus mengalah kali ini demi melihat ayah sembuh dan kembali di tengah kami.
hanya seminggu aku bertahan di rumah, dan kami mulai lagi dengan rutinitas perdebatan itu. sudah mati-matian aku merencanakan kegiatan ini bersama teman-teman. mendaki gunung tertinggi itu dan menaklukkan ketakutan kami sendiri. tapi ayah menolaknya mentah-mentah! bilang tak ada gunanya aku ikut kegiatan semacam itu.
“menaklukkan gunung kau bilang, hah? bahkan menaklukkan ego-mu saja kau masih tak bisa!” ayah menohokku dengan pernyataan seperti itu. aku mati kutu! di sisi lain aku harus mempertahankan ideal di kepalaku yang masih teramat dunia melihat dunia hanyalah kesenangan dan bahagia saja. dan di sisi lain aku harus terima bahwa tak selalu yang kupikirkan benar adanya.
aku pergi lagi untuk sekali lagi mempertahanku ego-ku bahwa hanya aku yang benar. dan ayah, tak pernah benar dalam hal apapun! dan lagi-lagi ibu harus jadi korban keegoisan aku dan ayah yang tak pernah bisa berdamai dengan keras kepala.
hingga akhirnya aku yang terbaring di dipan rumah sakit ini, setelah sebulan yang lalu aku yang meremehkan ayah yang juga merasakan seperti ini. angkuh manusia dalam kuasa, harta, tahta sia-sia saja dan tak berguna ketika Tuhan menakdirkan sakit dan coba lainnya. mereka sama tak berdaya di balik sakitnya. manusia-manusia yang angkuh dan sok jadi Tuhan dalam hidupnya pun akan sama saja akhirnya, di balik liang kubur dan hanya nama yang tertera di nisannya. tak satupun ego dan harta akan menemaninya menjawab Tanya.
tapi setidaknya masih ada ibu yang menjadi peredam ego kami berdua. ibu juga yang ternyata harus rela berbohong agar kami mau seperti layaknya anak dan ayah yang saling bercengkrama. meski harus lagi-lagi berakhir ricuh ricuh dan ricuh nantinya. ibu juga yang terus menemaniku di rumah sakit, meski harus berjuang menengadahkan tangan tiap sujudnya agar anaknya yang tak pernah membanggakannya ini sehat dan bahagia. sekian banyak ia berdoa tapi hanya kalimat penolakan dan ketidakpuasan yang kulayangkan untuknya, seperti dunia yang tak henti-henti menawarkan goda pada manusia.
seharusnya aku sadar, Tuhan begitu baik memberikanku malaikat yang selalu setia jadi perantara doa untukku pada Tuhan di atas sana.




No comments:

Post a Comment