.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 21 December 2012

# Dea


foto-foto itu seperti berbicara. bicara dalam masanya, dalam warna dan lukisan yang tertoreh bersamanya. menyembulkan banyak cerita romansa remaja, romansa cinta ketika mungkin saja kami masih bergelut dalam rasa yang sungguh tidak tahu apa yang membuat kami bahagia. saat aku dan masa labil-ku berteriak-berteriak merasa bahwa bersama sahabat adalah anugrah tiada terkira.
aku seperti domba-domba yang digiring masuk ke dalam kandang. foto itu-lah yang membimbingku, mengingat betapa bodohnya aku, mengingat betapa lucu dan polosnya aku, meski waktu kini mengubahku jadi lebih kaku. ada aku yang masih berbalut kaos dalam dan berlarian kesana kemari, aku yang berfoto wisuda saat kelulusan sekolah dasar, foto penuh kehangatan. dan dia …  
dia tertawa, mengenakan baju seragam kekecilannya yang selalu membuatku tersenyum geli melihatnya. di sampingnya ada aku, dan itu dea. kami bertiga berfoto dalam gaya yang sungguh, mungkin aku akan mencoba menyembunyikan ini jika bukan bersama mereka. rupa kami sungguh sangat tidak rupawan, bahkan tampak seperti makhluk lain yang bukan datang dari planet bumi.
            “ah, kamu berbicara dengan foto itu lagi, yang” suamiku menepuk bahu- ikut tertawa melihatku bertahun-tahun yang lalu,
            “kau tetap cantik, yang.” suamiku duduk tepat di hadapku. mengambil selembar kertas usang yang menyimpan banyak kenangan cerita-ku, di masa lalu. mengalihkan konsentrasi yang membuatku sejenak melayang bukan di kamar ini. ada roh yang seketika pergi, menyusuri banyak tempat yang setiap saat membuatku pernah berarti.
            aku menggeleng pelan. membalas senyumnya, membiarkan dia ikut larut dalam rasa rindu-ku. lantas membuka lembar foto lainnya, masih tentang aku, dan kisahku. aku tak tahu, hendak berterima kasih atau justru sedih melihat begitu banyak kenangan bisa mereka visualisasi-kan hanya dengan lembar demi lembar kertas yang bodohnya selalu kusimpan. kujauhkan dari air, kujauhkan dari api. aku menjaganya seperti aku mengingat mereka. dan aku mengingatnya, untuk kembali memunculkan mereka.
            “lidiaaaaaaa, tunggguuuuuuuuuuu. jangan buru-buru! aku capek nih”. tiba-tiba suara dea bergema di telingaku. dia memanggilku, dia tersenyum ke arahku, aku berlari mendahuluinya saat pesta kelulusan itu selesai dirayakan. kami berlomba lari, siapa yang lebih dulu sampai ke rumah, maka dia yang menang. aku tak percaya, dia yang terengah-engah lari kukira hanya mempermainkanku agar memperlambat gerak. aku semakin cepat berlari, meninggalkan dia sambil tertawa, berteriak penuh kemenangan. melemparkan toga dan bergaya seolah aku-lah yang paling bahagia.
            “kau rindu dea, yang? apa perlu kuantar kesana?” suamiku memutus lamunan itu. menepikan bayangan dea dan suaranya yang datang tiba-tiba di pikiranku.
“tidak, terima kasih”. aku menggeleng beserta senyuman. tampaknya ia heran, mengapa rindu yang kusimpan tak ingin kusalurkan. dengan bertemu mungkin, atau sekedar membayar ingatan itu dengan mendengarkan suaranya yang mungkin sudah berganti lebih berat, atau lebih kuat.
            “tidak yang, biar foto itu jadi penggenap kenangan”.
aku menutup album yang beberapa menit lalu kujelajahi bersama gambar-gambar yang tertera disitu. ada ibu, ada dea, ada banyak cerita disana. dan hanya foto ini yang menggiring dea kembali.  

No comments:

Post a Comment