.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Saturday, 29 December 2012

Checkagain


dulu. saya hanya meyakini, bahwa apa yang saya lakukan adalah benar. apa yang saya lakukan selalu benar, dan menyenangkan. terlepas dari hal itu menyakitkan, menyebalkan, atau salah di mata orang. tapi satu saja yang saya yakini, selama saya tidak membuat orang lain tersakiti, maka yang saya lakukan tetaplah benar. tak ada yang bisa merubah pendirian.
harga mati untuk sebuah keyakinan yang tidak dinamis. alias kaku.
tapi seiring waktu berjalan, dengan sedemikian manusia lewat dan lalu lalang masuk ke kehidupan, dengan begitu banyak hal yang saya ikuti dan lewati, rasanya keyakinan itu berbalik menyerang saya dengan sendirinya. senjata makan tuan. saya termakan kata-kata yang saya buat, saya terbebani dengan yakin yang saya pegang selama ini. sama seperti kebenaran manusia, selalu berjalan sebagaimana bila ada rumus baru ditemuinya.  
dan rumus yang kemudian menuntun saya ini adalah kebenaran perasaan, atau insting.
saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang perasaan, benar atau salah. cinta atau benci. nyaman atau tidak nyaman. dan sebagainya. karena semakin banyak kita mencari alasan, maka kita sebenarnya hanya mencari pembenaran.
saya mulai tahu, banyak hal saya abaikan, banyak hal saya lalaikan, padahal ini ketentuan Tuhan. harusnya saya mengikuti saja, tanpa banyak bertanya. perasaan yang merasa selalu benar di masa muda itulah yang ternyata menjerumuskan saya, menjadi orang yang menganggap diri paling netral dan paling toleran pun selalu dilingkupi ketidaksepahaman.
mudah saja, dalam hal berpakaian, saya tau. dalam aturan, yang harus saya hijabi adalah seluruh badan, menutup aurat dengan dispensasi wajah dan telapak tangan. tapi saya tetap kukuh pada pendirian, merasa tak salah karena mengagungkan kenyamanan. begitupun dengan masalah aqidah, hal se-sepele mengucapkan selamat natal pun dulu pernah saya lakukan, karena saya menganggap saya adalah orang yang paling netral, asal tak menyakiti maka sudah. tapi nyatanya saya tahu, saya menyalahi satu aqidah yang dipegang Rasul. toleransi bukan tentang memberi ucapan atau ikut merayakan, toleransi lebih jelas pada saling pengertian dan menghormati. mendoakan pun sudah termasuk toleransi.
kita tahu hal itu salah, tapi perasaan nyaman itu membuat kita malas berpikir.perasaan paling benar itu membuat kita malas berubah. dan malas membenarkannya. kita justru tetap mempertahankan, mungkin itu salah satu hal yang masih menjadi kekurangan.
perasaan nyaman itu kadang membuat gelap mata. bahkan buta. seperti halnya kenyamanan dalam mengeruk harta dengan cara tidak halal. kita tahu, hal itu salah, tapi demi menerima kenyamanan yang diberikan dari harta segudang, mereka lupa dosa yang mengekor di balik kenyamanan itu. mereka lupa, atau mungkin kita sendiri, pura-pura lupa bahwa banyak kebohongan dan kerugian yang kita ciptakan.
lebih tepatnya, kita mencoba lupa. kita hilang ingatan tidak pada tempatnya.
pacaran, seks bebas, korupsi, mabuk-mabukan, dan segudang keburukan lain mungkin hanya diawali dari rasa nyaman, hingga “candu” itu mengakar dan sulit untuk membuatnya lepas, meski kita merasa salah sekalipun, kita membiarkan kesalahan itu tetap terulang.
bukankah selama tak ada yang secara langsung tersakiti maka kita akan selalu benar? nah inilah perasaan itu. ternyata saya salah besar. ternyata saya masih jauh dari benar, hingga saya ragu bisakah saya masuk ke salah satu pintu surge. rasanya malah makin jauh saja. saya teramat munafik dan polos menyikapi ketidaktahuan. sehingga justru dari perasaan inilah muncul banyak ketidak beresan dalam hidup.
terkadang kita memang harus menekan banyak keinginan. menjadi bodoh untuk sejenak hanya untuk membela kebenaran. menjadi tuli untuk suara-suara di kepala yang sudah lama mematri bahwa kenyamanan-lah yang paling utama. proses panjang dan pengetahuan mungkin akan mengantar kita pada tebing kejujuran. yang saya yakin, waktunya tidak sebentar.  
saya hanya tahu, bahwa kenyamanan ini harus segera dirubah. keyakinan dan kebenaran jelas bukan hanya mengurusi kenyamanan satu orang saja. dunia diisi begitu banyak kepala, hingga satu-satunya hal yang menjadi tuntunan kita haruslah yang murni dari tendensi banyak manusia. dan tentu saja, hal itu adalah Al-Qur’an dan sunah rasul.
 keyakinan dan kerukunan selalu mengatasnamakan kebaikan. apa jadinya kalau “kenyamanan” masing-masing yang diutamakan? rusuh. debat. selisih paham. tawuran. demo.? entahlah apa lagi deret kejadian yang akan mengikutinya.
kenyamanan bukan pondasi awal suatu kebenaran. dan kenyamanan, bukan-lah hal yang patut selalu dituruti dalam setiap keadaan.
membaca, mendengar, melihat, memahami dan berpikir membuat kita makin tahu banyak hal, namun sejatinya, kita makin tidak paham dengan jalan yang pernah kita lakukan. semoga kenyamanan itu tidak malah menjerumuskan. kita selalu punya pilihan.
menjadi sadar itu mudah, tapi merubahnya yang susah.

No comments:

Post a Comment