.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Saturday, 29 December 2012

Bollywood Bollydut


belum selesai saya menonton film india siang ini, film yang sebenarnya merupakan salah satu cerminan kehidupan manusia di banyak belah dunia. tapi kali ini saya bukan akan membahas tentang isi dan pesan yang dikandung di dalamnya. saya hanya berpikir sejenak tentang perbedaan bollywood dan bollydut (kalau anda mencari di google, atau Wikipedia, jelas tak ada arti yang tersedia disana. ini karangan saya saja :p )
bollywood, tentu kalian sudah begitu mengenal. untuk kalangan yang menyukai sekadarnya, untuk kalangan yang menggilainya, untuk kalangan yang biasa saja, bahkan untuk kalangan yang il-feel dengan film-film atau artis atau adegan yang ditampilkan di dalamnya. pelafalan kata bollywood sendiri sudah tidak asing lagi, karena menyerupai kata Hollywood, atau salah satu industry terkenal di dunia. yang tentu saja sudah banyak mengeluarkan film-film hebat dan film-film yang paling tidak mutu sekalipun.
bollywood itu sendiri sekarang terkenal dengan kategori sinema hindi. dengan percampuran banyak bahasa, dan tentu saja, lagu-lagu, kebudayaan dan tarian india. (Acha acha). dan actor=aktris sekarang yang paling terkenal tentu kalian tahu sendiri. artis yang beberapa hari lalu mampir di Jakarta dengan menyanyikan lagu secara lypsinc itu.
kembali lagi ke masalah bollywood, zaman sekarang, jarang sekali saya lihat anak muda yang secara frontal, atau tegas menyukai lagu-lagu india. karena yang saya perhatikan sejauh ini, mereka latah sama yang namanya k-pop. boyband, girlband. sok ngerock, sok nge-jazz. (kok nggak ada yang sok ngeroncong ya? k-cong :p) hehe
tapi eits, jangan salah sangka, penggemar bollywood hampir sama dengan penggemar film Hollywood atau bahkan drama korea yang mulai menjamur di anak muda Indonesia. mulai dari alasan pemainnya ganteng, mancung, cantik, lucu unyu-unyu, isi filmnya bagus, visualisasinya keren, lagu-lagunya bikin nyesek, bahkan sampai ke alasan paling lucu sekalipun, biar bisa joget sambil keliatan pusarnya. he he :p
tapi, di luar itu semua, agaknya saya paling peduli dengan keseluruhan isi cerita, meskipun pemain ikut saya pertimbangkan juga. banyak sekali fim india yang memberi nasihat tentang kehidupan, nggak sekedar kecelakaan, hilang ingatan, anak tiri ibu tiri, beda agama, bahkan hal nggak mutu seperti apa yaa? ah, saya rasa yang ini tidak perlu dibahas. komposisi backsound-nya juga pas, suaranya juga merdu enak, lyric-nya juga bagus. dan sebenarnya, karena saya sejak dulu memang menyukai dan hafal lyric lagu-nya :D
nah, yang mau saya bandingin dengan si bollywood adalah, mas/mbak bollydut. pasti sedikit banyak kalian udah tau apa pengertian bollydut. yap, betul sekali. bollydut itu singkatan yang berakhiran kata dangdut. dan lebih lengkapnya adalah bergoyang lidah ala dangdut. ahaaai ngaco :p
kalau kalian pernah liat film channel dua atau model-model film bergaya rhoma irama itu tuh? yang isinya dikit-dikit nyanyi, joget, galau, nangis, maka kalian sudah tau jawabannya. obyek yang kali ini dibandingkan adalah film itu. saya kurang tahu apa saja judulnya, tapi yang jelas, saya menemukan kejanggalan di kepala kita semua.
kenapa eh kenapa?
baiklah, yang pertama, sebenarnya akar dan instrument lagunya hampir sama antara india dengan dangdut Indonesia. ada tabuhan-tabuhan yang bikin pantat bergoyang. tapi sekali lagi, di Indonesia tidak ada budaya menari dengan menyanyi seperti di india sana, sehingga film-film yang ada di channel nomor dua di televise saya itu menjadi acara terbawah yang harus jadi daftar pilihan bagaimana bisa?
yah, bukan munafik untuk mengakui bahwa film itu memang bukan genre film yang saya suka. tapi terlebih karena anggapan kalangan muda seperti saya, bahwa film itu alay, lebay. mereka lebih suka dianggap keren dengan suka genre action, romantic, atau apalah yang temennya banyak. sehingga mereka yang suka jadi tidak bebas mengungkapkan, suka dalam diam-aseeek, alias menyembunyikan kebenaran perasaan. hee
berbeda dengan film india yang latar untuk bernyanyi-nya selalu indah, bagus, dan sedap dipandang, bahkan sampai dibela-belain nyari view bagus di luar negeri. nah, di film channel nomor dua saya, latarnya selalu rumah besar bergaya klasik dan pepohonan atau taman yang sungguh yang ditampilkan hanya mayoritas berwarna hijau.
cerita pun bisa ditebak, kalau nggak anak durhaka, anak tiri disiksa ibu tiri (berarti ibu durhaka), ketimpangan strata sosial dan bikin cinta jadi nestapa, kaya miskin. susah gampang. alamak! saya jadi kadang tidak bisa menikmati jalan cerita, bahkan mungkin jadi banyak ketawanya yang ada. bukan dengan niat merendahkan, meremehkan, atau bahkan melecehkan. saya hanya menyampaikan apa yang ada di kepala.
kalau dilihat dari pemain-nya, mereka juga berbakat, ganteng? jangan dikira. mereka cukup tampan jika dinilai secara keseluruhan. cantik? menurut saya tidak jelek juga. jadi kurang apa dengan film bollywood yang sebenarnya konteksnya sama. film dengan lagu-lagu di dalamnya. dan jangan dikira, penikmat mereka banyak juga loh!
kalau tidak percaya silahkan baca data statistic penonton televise kita. dank arena itu film itu jadi awet bertahan entah sudah berapa lama. salah satu alasan yang paling masuk akal yang bisa saya kemukakan adalah, karena film berbentuk drama seperti itu hanya satu-satunya di channel nomor dua. sedang channel lain, sibuk menampilkan cinta, horror Indonesia, dan berita. jadi inilah warna perfilm-an kita.
ah, terlepas dari itu semua. seharusnya bollywood dan bollydut boleh saja jadi saudara akrab, bahkan kandung-pun boleh. jadi, syah-syah saja kita mau menyukai atau menikmatinya, itu tergantung selera kita.   

No comments:

Post a Comment