.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 22 May 2013

Biarkan ada jarak


“dia minta waktu buat introspeksi dan, aku nggak tau musti bilang apa”.
aku menangis sesunggukan di sampingnya, Danita. sahabat terbaik yang masih setia jadi tempat keluhan ini tersampir di kepalanya. dia mengelus-elus pundakku, mencoba alirkan tenang lewat tatapnya yang sudah lama tak berubah untukku.
            aku nggak tahu apa maksudnya. mungkin dia udah bosen sama aku, dan”. tangisku makin pecah. membanjir. sepertinya gerombolan airmata yang lama tersimpan itu ingin meluapkan dendam, keluar dari tempat persembunyiannya.
            “emang dia bilang apa, liv?”
           

 aku masih sesunggukan di sampingnya. menyeka airmata yang entah sudah berapa tissue untuk mengelap sisa-sisa merah yang ada. rasa-rasanya makin aku bicara, makin aku tak rela. bagiku tak ada gunanya mendebat isi kepala yang sudah kokoh sejak awal. bangunan dengan material terbaik itu dibangunnya, dan sekalipun aku bisa, tak ada yang bisa merobohkannya. itu keputusan yang dia buat, dan aku, tak bisa menjejak kerasnya hanya karena tak rela. itu alasan yang paling irasional menurutnya.
aku hanya bilang, untuk apa mencoba introspeksi kalau kau hanya berniat menjauhi? harusnya kita saling berbagi, cerita-cerita mana yang patut dijadikan contoh dan mana yang harus kubuang dari sini. tapi dia tak bergeming, melihatku pun tidak. ia berjalan meninggalkanku, sambil berjanji, kalau nanti dia memang merasa aku berarti, dia akan kembali kesini. memberikan sisa-sisa hari untuk dinikmati, lagi.
            tissue di kamar Danita hampir habis berserakan dan tertinggal bulir airmata itu. basah! kalau saja air yang kuteguk mampu mengalir dan bawa kehangatan. dia yang pergi, rasanya aliran dingin itu ikut menyesakkan.
Danita bilang, biar saja. mungkin dia hanya butuh waktu meyakinkan diri. -biarkan jarak membuat hatimu tergerak- dia akan kembali lagi.
tapi bagiku tidak, bagiku ini hanya salah satu alasan yang ia benarkan untuk membuat sekat dariku. entah apa alasannya, ia tak mengijinkanku menahannya meski alasanku adalah hal yang paling ia agungkan selain Tuhan yang menciptaNya- cinta.
            aku tak mengerti, mengapa harus ada ragu ketika jalinan itu sudah lama menyelami hari hati? merogoh-rogoh palung dada sekuat yang dia bisa. aku dan dia sudah seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. hingga kata “dekat” itu tak lagi mampu kuartikan. ya, tak ada kata cinta dan janji-janji gombal disana. hanya ada tawa, bergurau bersama, kadang celetukan-celetukan menggoda ia lontarkan, kadang ejekan dan cacian itu ia arahkan, tapi aku mengerti. itu salah satu caranya menunjukkan perhatian karena ia tak pandai merangkai kalimat pujian. ia hanya tau kalimat ketulusan, tapi menunjukkannya di depan wanita yang lama ia percaya bukanlah satu hal yang menyenangkan.
            ia suka bersembunyi di balik dinding persahabatan, dan aku tak cukup paham sebelum ia perlahan membuatku merasa ditinggalkan.
satu bulan, aku dan dia tentu saja tetap bertemu. sayangnya dunia tak mengijinkan kami berjarak sedikitpun, meski nyatanya hati kami terjejak. di lantai yang aku injak dia-pun bergerak di atasnya. di atap yang kujadikan tempat berteduh, ia juga bernaung disana. cerita dan senyum yang biasa lepas, kini tak lagi kutemukan arti bebas. ada dinding lagi yang membuat ruangku menjadi amat terbatas.
hanya sekat yang ia pertahankan, dekat itu tak lagi ia pikirkan. tapi aku tahu, matanya tak bisa berbohong untuk katakan ia selalu mendamba ketenangan. kenyamanan. seperti dulu, saat aku dan dia masih biasa saja kemanapun berdua. tak ada yang curiga, toh sejak dulu aku selalu berkata, kau hanya pantas jadi saudara. dan cukup! harapanmu sampai disini saja. tapi rasanya kami bahagia dengan sebutan saudara.
            tiap kali bertemu ia hanya menunduk, enggan menatapku. mungkin dengan begitu ia mampu menyembunyikan rindu.
rasanya berbeda, dan janggal, ketika dua orang yang saling berdekatan. menggaungkan kata persahabatan, persaudaraan, kini harus terdiam dalam sangkar kebohongan, kemunafikan. aku tak tahu ada apa di selaput matanya, di dalam hatinya. yang aku tahu, aku dan dia bagaikan huruf konsonan dan vocal yang saling melengkapi. dan spasi yang menyekat tiap kata-nya, itulah nyaman yang kami punya.
mungkin ia kehilangan spasi, hingga “nyaman” itu hilang di kepalanya. atau mungkin, ia mencoba menjadi satu susunan kalimat tanpa huruf vocal menggenapinya. ia berlari dari lintasannya, mencoba khianati rasa bahwa disana ada cinta. biarlah, mungkin sesekali aku harus menghormati apa yang jadi pilihannya.
            Dua bulan. situasi makin terlihat biasa. ketika saling berpapas, mata kami tak bisa bergerak lepas. jantung berdegup keras, menunduk meringkuk membungkuk, tapi kami sama-sama tahu, hati kami tak terpaut di bawah situ. mata kami menjangkau ke arah yang berlawanan, terus mengikuti bayangnya meski harus sembunyi menyembunyikan rindu yang ada.
            Danita menemukan percikan rindu itu. tapi ia memilih membiarkan kami jadi dewasa dengan spasi yang tak lagi ada. mungkin ia sejenak kabur dari rutinitasnya memberikan celah dan hela bagi manusia untuk menerkanya.
tiga bulan. aku sudah terbiasa, teramat biasa. hingga tatap aneh dari teman-teman yang menganggap kami pasangan tak terpisahkan, saudara yang saling menguatkan, kini beralih mencerca dan bertanya kenapa kami tak bersikap lebih dewasa dengan angka umur yang kami punya. hanya melempar senyum yang aku bisa.
            aku tak punya jawaban sejujurnya, seutuhnya.
jawaban itu melebur seiring jalan diam yang kami jadikan pembenaran. kami memilih jadi langit, yang tunjukkan bahwa ia masih berbahagia, meski awan, meski matahari dan bintang tak sekalipun mau terus merelakan diri jadi bagian. mereka hanya mau bergantian, dan tak seluruhnya waktu digunakan dalam kebersamaan.
            empat bulan.
            lima bulan.
            aku rindu melepas tawa di hadapnya. melirik tak perduli meski ia harus menemukan mata-ku sedang awas memperhatikannya. jalannya, tunduknya, bicaranya, semuanya. melepasnya dari nyata, sama halnya memusnahkan selasar diri untuk merasa. dan hati turut berduka cita.
dia pun begitu. sering kudapati ia melengos ketika kupergoki ia ikut menikmati tawaku. tersenyum kecut saat aku bercanda dan tak ada ia di lingkup bahagia yang ku-punya. ada separuh bagian yang janggal, dan rasanya susunan kata itu tak mampu lagi menahan diri untuk mencari vocal yang hilang. ia bukan apa-apa tanpa vocal yang menyempurnakannya. karena hanya dengan berdua maka satu kalimat mampu diterka.
            gengsi itu kubuang perlahan, demi memusnahkan ego yang telah lama mengakar. aku takut separuh bagian itu benar-benar memudar, lantas hilang dimakan abu kemunafikan.
            “aku nggak tau gimana harus ngomong ini ke kamu, tapi … boleh aku kangen kamu?” ia menoleh sigap, matanya berkata, senyumnya sudah cukup untuk menjawab seluruh Tanya yang sempat aku simpan sendiri di kepala.
            ia mengangguk. terus berkata maaf karena instrospeksi itu hanya membuatnya merasa ia tak lagi berguna, ada yang hilang, seperti bagian puzzle yang dicoba disatukan selalu secara berkala namun tak  ia temukan bagian yang tepat disana. “puzzle itu kamu, dan kamu nggak perlu izin dulu buat kangen aku”.
            di kejauhan sana, kulihat Danita bertepuk tangan. penuh kepuasan.



No comments:

Post a Comment